Catatan Kerinduan untuk Madinah Al Munawarroh

(lanjutan) 

Malam menjelang Isya di kota Nabi. Cahaya lampu berpendar semarak dari ruas jalan menemani lalu lalang penduduknya. Angin dingin yang menusuk kulit tidak menyurutkan langkah kaki ini untuk terus melangkah. Mekkah Al Mukarromah sudah lewat beratus kilometer jauhnya. Kini tibalah kami di kota jejak lahir peradaban Islam, Madinah Al Munawarroh.

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia (QS Al Anfal 74)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tiba di Yasrib pada hari Jumat, 12 Rabiul Awal tahun 13 Kenabian. Sejak hari itulah Yasrib dinamakan Madinatur Rasul yang kemudian disingkat dengan nama Madinah. Madinah adalah kota mulia karena kedatangan Nabi pembawa rahmat yang diperintahkan Allah untuk berhijrah dari Mekkah. Di kota inilah, Rasulullah membangun peradaban, menata moral, mereformasi sosial, menggerakkan ekonomi umat yang sehat dan berkeadilan demi meningkatkan kemakmuran dan memberantas kemiskinan. Rasulullah juga menumbuhkan semangat mencari ilmu dan meningkatkan keterampilan hidup segencar meningkatkan iman dan ibadah sehingga membentuk peradaban unggul. Betapa mulianya akhlak sang Nabi kekasih Allah, suri tauladan yang baik bagi seluruh umat sepanjang masa. Allah subhanallahu wa ta’ala telah mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam agar beliau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Risalah Islam yang dibawa Rasulullah diteruskan kepada generasi terbaik umat ini berupa Al Quran dan As Sunnah. Mentaati Allah yaitu dengan mentaati Al Quran dan mentaati Rasul-Nya yaitu dengan mentaati As Sunnah

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman” (QS Al Anfal 1)

20160204_100731
Bangunan Hotel dan Pusat Perbelanjaan tersebar di sekitar Masjid Nabawi
20160204_095736
Sisi Lain Kota Madinah

Sesampainya kami di Hotel Jawharot Asyima. kami bersiap pergi ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat Jama’ Takhir Isya dan Maghrib yang setelahnya akan dilanjutkan menuju Raudhah. Masjid Nabawi memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh masjid lain selain Masjidil Haram yaitu bahwa Rasulullah membeli tanah masjid dengan hartanya sendiri dan dengan tangannya yang mulia,beliau ikut serta dalam pembangunannya. Selain itu, masjid ini termasuk ke dalam firman Allah dalam QS At Taubah 108, ‘Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama lebih patut kamu shalat di dalamnya’. Shalat di Masjid Nabawi lebih baik seribu kali lipat dari shalat di tempat lain kecuali di Masjidil Haram (Muttafaqun alaihi). Seorang muslim juga tidak diperbolehkan melakukan perjalanan ke suatu tempat dalam rangka beribadah kecuali ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

20160203_171958
Tampak Depan Masjid Nabawi. Kubah Hijau adalah Makam Rasulullah shallallahu alaihi wassalam Beserta Para Sahabat
20160203_163316
Lalu Lalang Jamaah Setelah Shalat

Kesan saya terhadap Masjid Nabawi ialah masjid ini begitu cantik, mengagumkan dan modern. Kekhasan yang tidak pernah lepas ialah payung dan kubah nya yang bisa buka tutup secara otomatis.  Betapa indahnya!

Selanjutnya para jamaah diarahkan untuk menuju Raudhah. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda ‘ Antara rumahku dan mimbarku terdapat Raudhah (taman) dari taman-taman surga. Dan mimbarku, diatas telagaku’ (Muttafaqun alaihi) Pendapat mengenai hadis tersebut yaitu bahwa tempat itu kelak akan dipindahkan ke surga dan ibadah di dalamnya akan mengantarkan ke surga. Raudhah menyerupai taman-taman surga karena para malaikat, kaum mukminin dari kalangan manusia dan jin yang duduk di sana banyak melakukan dzikir dan ibadah lainnya (Ta’wil Mukhtaliful Hadis, Ibnu Qutaibah ; at-Tamhid, Ibnu Abdil Barr ; Syarh Shahih Muslim, Nawawi; Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim ; Fathul Bari). Raudhah bagian khusus akhwat hanya dibuka empat kali sehari yaitu setelah shubuh, setelah dzuhur, setelah ashar dan setelah isya sedangkan khusus ikhwan dibuka setiap saat. Tidak mengherankan bahwa untuk masuk dan beribadah di Raudhah harus antre dan bergantian dengan yang lainnya.

20160201_224952
Antrean Jamaah Akhwat untuk Memasuki Raudah
20160203_210552
Menuju Raudhah
20160203_210607
Langit-langit Raudhah
1454587681474
Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu

Akhirnya tiba giliran kami untuk memasuki Raudhah. Alhamdulillah, walaupun kondisi penuh namun Ibu dan saya masih tetap bisa menunaikan shalat sunnah dua rakaat dan bermunajat pada-Nya. Selama di Raudhah, segalanya terasa begitu indah dan damai. Senyum merekah, fisik terasa kuat, rasa kantuk hilang, hati terasa tenang dan gembira. Terlintas di pikiran sambil menggumam, Ya Allah, begitu indahnya semua yang saya rasakan dan lihat ini, benarkah ini masih di dunia ? bagaimana nanti di surga-Mu ? Masya Allah, Allahu akbar. Akal manusia tidak sanggup menandingi ilmu-Nya. Seperti tertulis di QS Fatir 35 ‘ Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya, di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.’ Diriwayatkan Al Baihaqi, Rasulullah bersabda ‘ Di surga tidak ada kepenatan. Semua urusan menyenangkan ‘  Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.

Di sisi kiri Raudhah, terdapat makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, makam Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan makam Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Disyariatkan bagi yang mengunjungi Madinah untuk menziarahi makam Nabi dan kedua sahabatnya sambil mengucapkan salam kepadanya. Assalamualaikaa Yaa Rasulullah, Assalamualaikaa Yaa Abu Bakar, Assalamualaikaa Yaa Umar bin Khattab.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan padanya (QS Al Ahzab 56)

Hari Rabu, 3 Februari 2016 adalah jadwal city tour. Tujuan pertama adalah Masjid Quba, masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah saat berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Dari Sahl bin Hunaif, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda “ Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka baginya pahala umroh” (HR. an-Nasai no.699, Ibnu Majah no.1412, Ahmad 3487, Hakim 312). Setelah menunaikan shalat sunnah dua rakaat di Masjid Quba, kami bertolak ke Jabal Uhud, tempat terjadinya Perang Uhud antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy. Di hadapan Jabal Uhud, terdapat makam para syuhada yang gugur diantaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, Mush’ab bin Umair, Abdullah bin Amr bin Haram, Amrbin Al-Jumuh, Sa’ad bin Ar-Rabi’, Kharijah bin Zaid, An-Nu’man bin Malik, Abduh bin Al Hashas dan yang lainnya. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Aamiin Allahumma Aamiin.

Saat berziarah, disunnahkan untuk mengucapkan salam dan berdoa. Seorang muslim wajib mengikuti sunnah dan tidak melanggarnya dengan melakukan bid’ah yang dapat mencelakakannya karena telah keluar dari sunnah Rasulullah.

20160203_092333
Masjid Quba
20160203_105458
Makam Para Syuhada di Jabal Uhud. Tidak diketahui secara pasti kuburan para syuhada kecuali kuburan Hamzah, paman Rasul dan anak saudara perempuannya, Abdullah bin Jahsy

Setelah dari Jabal Uhud, kami sempat mampir ke Bukit Kurma jika mungkin diantara jamaah mau membeli kurma untuk buah tangan keluarga di Indonesia. Di tengah perjalanan kembali ke hotel, kami melintas di depan Masjid Qiblatain, masjid dengan dua arah kiblat. Pada permulaan Islam, kaum muslimin melakukan shalat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) di Palestina. Pada tahun 2 Hijriah hari Senin bulan Rajab, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sedang shalat dzuhur dengan menghadap ke arah Baitul Maqdis, turun wahyu Allah dalam QS Al Baqoroh 144  ‘Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah tidak sekali-kali lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Sesampainya di hotel, kami pun segera bersiap kembali untuk shalat di Masjid Nabawi dan kembali menuju Raudhah pada malamnya. Ibu saya juga mengajak untuk menjelajah Masjid Nabawi secara keseluruhan dari pintu 1 sampai pintu 39.  Kami juga melintas Ba’qi yang merupakan pekuburan penduduk Madinah. Disanalah para sahabat, istri-istri Rasulullah, para tabi’in , para ulama dan para sahabat Nabi dimakamkan.

20160203_165145
Gerbang Pemakaman Ba’qi
20160203_205438
Terbukanya Kubah Masjid Nabawi
20160203_210547
Tertutupnya Payung Masjid Nabawi

Hari Kamis, 4 Februari 2016, hari terakhir di Madinah. Itu artinya sebentar lagi kami akan kembali ke Indonesia, pulang ke rumah bertemu dengan keluarga dan kembali menjalani rutinitas seperti sediakala. Rasanya memori akan Mekkah dan Madinah masih terus terngiang-ngiang dan seakan tak mau hilang.

Selepas shalat dhuha, Ibu saya mengajak kembali ke Raudhah untuk terakhir kalinya. Setelah dari Raudhah, kami mengeksplorasi perbelanjaan yang mengelilingi Mesjid Nabawi. Tidak lama kemudian, kami harus segera kembali ke hotel untuk bersiap check out, berangkat menuju Jeddah.

Layaknya kota besar yang sibuk, Jeddah begitu gemerlap dan modern. Kami sampai di malam hari selepas isya sehingga kami hanya melintas Masjid Terapung dan Laut Merah serta sempat mampir di Al Balad yang dikenal sebagai pusat belanja di Jeddah.

Perjalanan sembilan hari mengunjungi dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah akhirnya tiba di penghujungnya. Perjalanan yang tidak hanya melibatkan fisik dan harta, melainkan juga hati. Saya mencoba menyimpulkan dengan versi saya yang fakir ilmu ini terhadap ‘benang merah’ dari dua kota suci tersebut. Bahwa di Mekkah seperti saat kita menjalankan Hablum Minallah (hubungan dengan Sang Pencipta) dimana tauhid seorang muslim diuji dan diperlihatkan keesaan Allah subhanallahu wa ta’ala, meneladani kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beserta keluarganya yang lembut, sabar dan ikhlas menerima dan menjalankan segala perintah-Nya, sedangkan di Madinah seperti saat kita menjalankan Hablum Minnanaas (hubungan dengan sesama manusia) dimana terdapat suri tauladan yang baik sepanjang masa yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang menerjemahkan keindahan Islam dalam hubungan sesama manusia, mendidik pribadi berbudi pekerti tinggi, menata sendi masyarakat beradab dan berbudaya karena sejatinya manusia diturunkan ke dunia ini untuk berjihad di jalan-Nya, mengikuti petunjuk Al Quran dan As Sunnah agar selamat di dunia dan akhirat

Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. Ikutilah agama nenek moyangmu (Ibrahim). Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan begitu pula dalam Al Quran ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu, Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong (QS Al Hajj 78)

‘Ya Allah, panggil kami menjadi tamu-Mu untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh, untuk menziarahi kota suci-Mu, Mekkah dan Madinah..’

Subhanallah walhamdulillah walaailahaillallah wallahuakbar

(selesai)

 

 

 

 

 

Catatan Kerinduan untuk Mekkah Al Mukarromah

Menjelang akhir malam yang dingin. Langit masih cukup gelap namun terangnya lampu di ruas jalan seakan menemani. Perjalanan darat dari Bandara King Abdul Aziz di Jeddah menuju tujuan nyatanya tidak terasa jauh jaraknya.  Sungguh, perasaan apakah ini ? Rasanya membuncah dalam dada. Hingga langkah ini menjejak di kota suci, Mekkah Al Mukarromah.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda “ Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga “ (Muttafaqun Alaihi)

Betapa istimewanya Islam, sebagai agama rahmatan lil’alamin yang mengatur setiap sendi kehidupan manusia, sejak ia membuka mata hingga menutupnya kembali. Begitu mulia segala rukunnya sebagai panduan manusia dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat. Shalawat dan salam tercurah kepada suri tauladan yang baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Salah satu rukun Islam adalah Haji bagi orang yang sanggup dan mampu melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Adapun umroh disebut dengan Haji Kecil. Umroh dan Haji adalah panggilan khusus dari Allah subhanallahu wa ta’ala bagi orang-orang yang dimampukan baik dari sisi harta maupun fisik. Adakalanya orang yang kita anggap mampu secara harta dan fisik namun bisa jadi panggilan Allah belum mengetuk pintu hatinya untuk mengunjungi Baitullah. Namun, ada juga yang kita anggap belum mampu secara harta dan fisik ternyata justru Allah mengundangnya langsung ke Baitullah tanpa ada hambatan berarti.  Semoga kita semua termasuk dalam golongan hamba-Nya yang dipanggil serta dimampukan secara harta dan fisik menuju Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh. Aamiin Allahumma Aamiin

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Pagi yang cerah namun cukup berangin di kota Mekkah. Hari itu, Jumat 29 Januari 2016,  para jamaah bersiap untuk pergi ke Masjidil Haram melaksanakan rukun umroh. Sebelumnya, kami jamaah Indonesia telah melakukan miqat dan berniat ihram di pesawat saat melintas Yalamlam, tempat miqat bagi penduduk Yaman dan untuk mereka yang melewatinya dari negeri lain yang ingin menunaikan ibadah haji dan umroh. Hari pertama kami sampai di Mekkah, hari itu juga saya belum bisa berumroh dikarenakan sedang datang tamu bulanan sejak sebelum keberangkatan. Rasanya hati ini berkecamuk menahan rasa yang begitu ingin segera masuk ke Masjidil Haram dan melihat Ka’bah secara langsung. Namun, seperti nasihat dari orang-orang baik yang saya temui bahwasanya tubuh ini milik Allah dan segala ketetapan adalah hak-Nya. Tidak sedikit orang yang menyarankan saya untuk minum obat penghenti haid namun berdasarkan pertimbangan pribadi dan konsultasi dokter sewaktu di Indonesia, niat itu saya urungkan. Ada keyakinan bahwa saya akan tetap bisa umroh esok hari karena ada alokasi waktu empat hari di Mekkah, Insya Allah.

Hari pertama di Mekkah berlalu dengan lancar. Alhamdulillah para jamaah, termasuk Ibu saya, sudah melaksanakan ibadah umroh pertamanya. Saat menunggu mereka melaksanakan umroh, saya dan beberapa kawan yang sama-sama sedang berhadas besar menyempatkan diri untuk jalan-jalan dari Hotel Saraya Iman, tempat kami bermalam (lokasi arah Aziziyah, dekat dengan Le Meridien Hotel, 300 meter berjalan  kaki ke Masjidil Haram) menuju pelataran masjid yang di sekelilingnya terdapat hotel dan bangunan pencakar langit Zamzam Tower, Abraj Al Bait Shopping Center. Kesan pertama melihat suasana tersebut adalah kemegahan luar biasa untuk Masjidil Haram. Masya Allah, di dalam mesjid ini ada Ka’bah. Secara logika manusia, saya hanya tinggal beberapa langkah kaki menuju kesana, nyatanya jika Allah belum berkehendak, saya belum bisa melihat Ka’bah secara langsung. La haula walaa quwwata illa billah. Setelah itu, saya pun kembali ke hotel karena pelataran Masjidil Haram sudah disterilkan hanya untuk para jamaah yang akan melaksanakan ibadah Shalat Jumat.

20160129_111010
Pelataran Masjidil Haram dilihat dari Zamzam Tower P3

‘Tidak boleh menyengaja (memaksakan diri) melakukan perjalanan kecuali ke tiga mesjid ; Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha” (Muttafaqun Alaihi)

Mujahid meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda, “ Sesungguhnya Masjidil Haram adalah tempat suci diantara tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi yang berhadap-hadapan” ( Akhbar Makkah ‘an Mujahid, Sya’b al-Iman li al-Bayhaqi)

Hari berganti. Jadwal rombongan jamaah hari ini, Sabtu, 30 Januari 2016 adalah city tour selepas shalat dzuhur dan makan siang. Para mutowif (orang yang membimbing ibadah umroh) menginformasikan juga bagi yang akan melakukan umroh kedua dipersilakan untuk membawa pakaian ihram dan miqat di Mesjid Ji’ronah, lima belas kilometer dari kota Mekkah, di penghujung city tour nanti. Menjelang dzuhur, saya bergegas untuk mandi junub karena Insya Allah, haid saya sudah selesai yang artinya saya akan berihram untuk melaksanakan umroh hari ini. Saya pun bergegas ke Masjidil Haram dan menunaikan ibadah shalat dzuhur berjamaah. Ibu dan tante saya sudah menunggu disana. Dalam perjalanan, saya sudah membayangkan, sebentar lagi saya akan melihat Ka’bah secara langsung. Allahu akbar. Namun apalah daya, ternyata siang itu Masjidil Haram telah ditutup oleh para Askar (polisi Arab) karena sudah mendekati waktu adzan. Bagi jamaah yang ingin shalat dzuhur, dipersilakan di pelataran mesjid. Saya hanya bisa menatap pintu Masjidil Haram, penglihatan saya tidak sanggup menembus apa yang ada dan terjadi di dalamnya.

Tujuan city tour pertama hari itu adalah Jabal (gunung) Tsur, yang di salah satu puncaknya terdapat Gua Tsur, tempat yang dijadikan perlindungan Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar dari kejaran kaum kafir Quraisy. Tahun 622 M, Rasulullah berniat hijrah ke Madinah untuk mencari tempat penyebaran Islam yang lebih kondusif. Namun, kaum Kafir Quraisy tidak menginginkan ajaran Rasulullah menyebar ke luar Mekkah. Di Gua Tsur yang tandus itulah, Rasulullah dan Abu Bakar berlindung selama tiga hari tiga malam. Kisah tentang pertolongan Allah terhadap Rasulullah dan para sahabat tertulis di QS. At-Taubah; 90, “La tahzan, innallaha ma’anaa, jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”.

20160130_145945
Jabal Tsur

Setelah Jabal Tsur, kami berangkat menuju Jabal Rahmah yang lokasinya tak jauh dari Padang Arafah, tempat para jamaah haji melakukan Wukuf. Berangkat dari kisah yang diyakini umat muslim bahwa saat pertamakali diturunkan ke dunia, Adam dan Hawa bertemu di Jabal Rahmah. Tidak ada ritual ibadah khusus di tempat ini, seperti juga di Jabal Tsur, karena Rasulullah tidak pernah mencontohkannya. Seperti sabdanya yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi, “ Jauhilah perbuatan baru (dalam agama) karena setiap perbuatan baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. Jabal Rahmah saat itu dipenuhi para pedagang. Tugu putih sebagai simbolis seringkali jadi ajang vandalisme pengunjung yang mendatanginya. Turun dari Jabal Rahmah, kami melanjutkan menuju kawasan Arafah, Mina, dan Muzdalifah . Saat itu suasananya sangat sepi, tentu saja karena bukan musim Haji. Terbayang saat musim Haji, tempat-tempat tersebut dipenuhi oleh para jamaah dari berbagai penjuru dunia.

20160130_154351
Jabal Rahmah
20160130_161054
Menuju Arafah
20160130_162533
Tenda Jamaah Haji di Mina dan Tempat Melempar Jumroh

Saat Ashar tiba, selanjutnya kami bertolak ke Mesjid Ji’ronah untuk miqat dan mulai berihram bagi yang hendak melaksanakan ibadah umroh kedua. Mesjid kecil ini dinamakan demikian karena merupakan nama seorang wanita yang mengabdikan diri untuk menjaga dan membersihkan mesjid tersebut. Setelah dari Mesjid Ji’ronah, kami bergegas kembali ke hotel. Namun kami sempat melintas di Jabal Nur yang di salah satu puncaknya terdapat Gua Hira. Di gua itulah pada hari Senin, 17 Ramadhan bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, Rasulullah mendapatkan wahyu pertama yaitu QS Al-Alaq 1-5. Kala Rasulullah tengah khusyuk bertafakur, Malaikat Jibril datang menghampiri dan menyampaikan “ Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptkan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya “

20160130_174403
Gua Hira di Jabal Nur, saat ini sudah banyak bangunan di dekatnya

Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk la syariika lak

Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji , nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu

Sungguh jika diresapi dan diucapkan terus berulang-ulang, kalimat talbiyah ini merupakan kalimat paling indah dari jawaban seorang manusia terhadap Pencipta yang memanggilnya. Hati siapa yang tidak gerimis mendengar kumpulan seruan manusia yang keberadaannya bagaikan setitik debu di jagad raya kepada Allah Azza Wa Jalla. Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah. Betapa indah dan manisnya panggilan Allah untuk setiap hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh.

Selepas Isya kami pun melaksanakan ibadah umroh. Ini akan jadi umroh pertama saya, ditemani oleh ibu saya dan juga jamaah lainnya yang melaksanakan umroh kedua. Saat meniti langkah demi langkah menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf, perasaan saya tidak bisa dideskripsikan, hati saya rasanya sudah bergemuruh menahan haru. Hingga di kesempatan pertama penglihatan saya padanya, Ka’bah yang selama ini hanya saya lihat melalui foto, ia ada di hadapan saya sekarang, yang selalu dikelilingi oleh ribuan orang berthawaf. Ini adalah moment of truth

Tangis saya pecah. Rasa bahagia, takjub dan haru bercampur jadi satu. Ada pesona dan energi yang sangat kuat terpancar darinya, Sesuatu yang tidak mampu saya jelaskan. Inilah Ka’bah, kiblat umat Islam di seluruh dunia. Masya Allah, Allahu akbar.

Sungguh, Ka’bah adalah bangunan buatan manusia berbentuk kubus. Namun yang jadi istimewa adalah pendiriannya langsung diperintahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih. Berbicara mengenai Ka’bah tentu tidak terlepas dari kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ibrahim adalah khalil ar-rahman (teman Allah), bapak para nabi. Nabi Ismail adalah seorang anak yang berbakti dan rela mengorbankan dirinya atas perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelihnya. Allah langsung menjawab dalam QS.Ash Shafaat 107  ‘Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar’. Suatu ujian nyata bagi keluarga Ibrahim, mereka terbukti mampu melewatinya dengan keimanan dan ketakwaan.

Selanjutnya Ibrahim mendapatkan perintah langsung dari Allah untuk membangun kembali Ka’bah yang sebelumnya dibangun oleh para malaikat. Saat meninggikan fondasi Ka’bah, Ibrahim mengucapkan doa dengan penuh kerendahan hati “ Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha mendengar dan Maha mengetahui seperti yang tertulis di QS. Al Baqoroh 127. Ketika bangunan semakin tinggi melewati kepala, Ibrahim mengambil sebuah batu yang cukup besar sebagai pijakan untuk meneruskan pembangunan dinding Ka’bah. Pijakan kaki tersebut dikenal dengan Maqam Ibrahim.Saat ini, Maqam Ibrahim biasa dijadikan tempat shalat. Setelah menuntaskan pembangunan Rumah tersebut, Ibrahim menemukan sebuah celah cukup lebar di salah satu dindingnya. Kemudian ia meminta Ismail untuk mencari sebongkah batu untuk menutupi celah itu dan sebagai tanda bagi manusia. Ismail pergi menuruti perintah ayahnya namun setelah lama berlalu Ismail tak kunjung datang. Ibrahim tidak tahu bahwa keterlambatan Ismail adalah kehendak Allah. Tiba-tiba, Malaikat Jibril turun membawa batu hitam yang tersimpan di Bukit Qubays saat banjir besar pada masa Nabi Nuh. Ibrahim meletakkan batu hitam di celah kosong yang dimaksud. Itulah yang kita kenal dengan Hajar Aswad. (Cerita ini disadur dari Buku The Ka’bah, penulis Fathi Fawzi Abdul Mu’thi)

Thawaf dimulai dari pilar hijau yang segaris lurus dengan Hajar Aswad. Jika tidak bisa menyentuh dan mengecup Hajar Aswad, disunnahkan melakukan lambaian tangan seraya berkata ‘Bismillahi Allahu’akbar’ kemudian berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali sambil berdoa apapun yang menjadi hajat kita. Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad (hitungan 1x putaran), membaca Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat, ‘Rabbana atiina fiddunya hasanah wafil’akhirati hasanah waqiina adzabannaar’. Tidaklah sah thawaf seseorang jika mengikuti arah jarum jam, melainkan harus berlawanan arah. Posisi Ka’bah terletak di sebelah kiri orang berthawaf. Jika dikaji dengan ilmu manusia, yang hanya setitik buih di lautan ilmu Allah, pergerakan berlawanan arah jarum jam tersebut mengikuti sunnatullah. Segala apapun di dunia ini, bahkan hingga unsur terkecil sekalipun, bertasbih kepada-Nya dengan cara yang tidak kita ketahui. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Selepas thawaf, rukun umroh selanjutnya adalah Sa’i sebanyak 7x. Sa’i mengisyaratkan perjalanan Siti Hajar, ibunda Ismail yang berikhtiar bolak balik Bukit Safa dan Marwa untuk mempertahankan hidupnya dengan mencari air untuk Ismail kecil yang menangis dan ia tinggalkan di dekat Ka’bah. Sa’i mengingatkan kita untuk terus berusaha di dunia dengan segala dinamikanya. Adakalanya dalam hidup, posisi kita sedang di atas atau di bawah. Namun, Allah berjanji dalam QS Al Insyirah 5-6 “ Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Saat kita ada di puncak Bukit Safa atau Marwa, dianalogikan ketika berada di puncak kesuksesan, kita harus tetap menghadap Ka’bah seraya berdoa kepada Allah. Ada saatnya juga kita butuh bertindak cepat dalam hidup, untuk itu disunnahkan berlari-lari kecil (raml) bagi laki-laki dan berjalan cepat bagi perempuan diantara dua pilar hijau. Hikmah Sa’i adalah sebesar apapun ikhtiar manusia, hanya Allah yang Maha menentukan. Siti Hajar tidak pernah menyangka bahwa ternyata air yang dicarinya tidak muncul diantara Safa dan Marwa melainkan justru di dekat kaki Ismail, dekat Ka’bah, yang sekarang kita kenal dengan air Zamzam. Itulah janji Allah bahwa Allah tidak akan pernah sedikitpun menelantarkan hamba-Nya dan akan memberikan rezeki yang tidak disangka-sangka di waktu dan tempat yang tidak terduga. Tugas manusia adalah berusaha dan berdoa memohon ridho-Nya. Saat ini lintasan Sa’i di Safa dan Marwa berada dalam ruangan 3 lantai dan dialasi keramik. Di setiap ujungnya, masih dipertahankan gundukan Bukit Safa dan Marwa yang sudah dipagari. Bayangkan bagaimana dulu tempat itu begitu sepi dan tandus!

‘Innashshafaa walmarwata min sya’aa’irillaah, sesungguhnya  Safa dan Marwa termasuk syiar (tanda kebesaran) Allah’ (QS Al Baqoroh 158) 

Setelah Sa’i, rukun umroh disempurnakan dengan tahalul yaitu memotong rambut minimal tiga helai. Alhamdulillah, umroh pertama saya telah selesai. Semoga Allah meridhoinya.

20160130_230533
Sa’i di Lantai 1 Masjidil Haram

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (QS Al Baqoroh 286)

Saat dini hari di hari Minggu, 31 Januari 2016, Ibu membangunkan saya untuk berangkat ke Masjidil Haram. Sesampainya disana, kami melakukan thawaf sunnah. Selepas melakukan thawaf sunnah, Ibu saya mengajak ke Hijr Ismail yang berbentuk setengah lingkaran dan dibatasi oleh tembok. Hijr Ismail termasuk bagian dalam Ka’bah dan menurut riwayat merupakan tempat dimana Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail atas perintah Allah subhanallahu wa ta’ala. Hijr Ismail merupakan salah satu tempat mustajabah untuk berdoa terutama di bawah talang emas. Kami pun berdoa di dalamnya.

Setelah dari Hijr Ismail, Ibu kembali mengajak saya ke tempat mustajabah lainnya, yakni Multazam. Multazam terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Terdapat Askar yang bersiaga diantaranya. Jamaah berkumpul dan mencoba bagaimana cara bisa bermunajat di depan Multazam. Ibu saya mengarahkan saya untuk bisa mendekati Multazam. Saya melihat usaha yang sedemikian besar dari Ibu agar kami bisa sampai Multazam. Saya menangis haru sambil menengadah ke langit Mekkah dini hari itu yang nampak begitu bercahaya. Suatu nikmat yang sangat besar di tengah keterbatasan kami, saya dan Ibu bisa sampai disini, bersama-sama melakukan ibadah umroh mencari ridho-Nya, Insya Allah.

Masih di tengah kerumunan dekat Multazam, pikiran saya pun menerawang tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya. Di hadapan saya saat itu adalah salah satu hasil karyanya atas petunjuk Allah subhanallahu wa ta’ala seperti yang tertulis dalam QS Sad 45, ‘Dan ingatlah hamba-hamba kami, Ibrahim, Ishak dan Ya’kub mempunyai karya-karya yang besar dan pengetahuan yang tinggi’. Ka’bah seperti menyimpan energi Ibrahim yang positif. Dekat dengan Ka’bah, seperti dekat dengan Nabi Ibrahim. Rasanya tenang, damai dan lembut seperti sifat Nabi Ibrahim yang dipuji Allah. Di tengah pikiran saya itu, Ibu menarik saya untuk semakin dekat dengan Multazam. Tangan saya pun menyentuh Multazam dan wajah ini bersentuhan langsung dengannya. Saya menangis memohon ampun dan meminta permohonan terbaik. Berkali-kali lagi, saya merasa ada aura terpancar begitu kuat. Kondisi yang berdesak-desakan membuat saya tidak bisa lama-lama disana. Ibu mengajak saya keluar dari kerumunan lalu tanpa berkata, beliau memeluk saya sambil menangis. Di bawah langit Mekkah, kami berdua berpelukan erat di antara kerumunan orang berthawaf, setelah bermunajat pada-Nya di sepertiga malam terakhir. Rasanya indah dan damai sekali. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ? Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Selepas shalat subuh. Ibu mengajak saya berkeliling Masjidil Haram yang sangat luas itu. Kami pergi ke lantai 2 dan lantai 3 tempat orang berthawaf. Ibu juga mengajak saya ke lantai shalat paling atas yang langsung berhadapan dengan  langit. Kami terus berkeliling sampai lelah tidak terasa. Mencoba mempelajari arah dan rute dalam Masjidil Haram. Saat di lantai 2 tempat thawaf, kami duduk di pinggiran sambil melihat langsung ke arah Kabah. Para jamaah terlihat bagaikan titik yang menyemut mengitari Baitullah. Masya Allah, sebelumnya kami adalah salah satu titik disitu. Betapa manusia sebenarnya sangat kecil dan lemah. Melihat kumpulan orang berthawaf terlihat apik dengan polanya yang seragam namun ketika berada dalam arena thawaf bisa jadi yang dialami adalah penuh dengan orang dalam kondisi yang sesak dan melelahkan. Seperti halnya kita melihat kehidupan dunia nampak menyenangkan namun saat menjalaninya begitu banyak cobaan dan ujian yang hanya bisa dilewati dengan sebaik-baiknya bekal yaitu takwa.

20160131_070604
Ka’bah dan suasana orang berthawaf dari lantai 2, Terdapat Askar (polisi Arab) yang berjaga diantara Multazam dan Hajar Aswad. Bangunan seperti kurungan di sebelah kanan adalah Maqam Ibrahim. Bangunan seperti tembok putih di sisi lain Ka’bah adalah salah satu bagian lengkungan dari Hijr Ismail. Dinding Ka’bah sebelah kiri di gambar ini adalah Rukun Yamani

Masih di hari yang sama, jadwal hari itu adalah pergi ke peternakan unta dan Masjid Hudaibiyah. Bagi yang hendak melakukan umroh lagi dipersilakan untuk miqat dan berihram dari Hudaibiyah. Di Hudaibiyah terdapat masjid tua yang tinggal puing-puingnya saja, bersebelahan dengan masjid baru tempat miqat. Di puing-puing tersebut, Rasulullah mengadakan perjanjian antara kaum muslimin dan kaum Quraisy untuk tidak saling menyerang, yang kemudian membuka peluang kaum muslimin untuk mengislamkan penduduk Mekkah. Perjanjian tersebut dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah yang ternyata dilanggar oleh kaum Quraisy, namun kaum Muslimin bisa membalasnya dengan penaklukkan Mekkah (Fathul Makkah) pada tahun 630 M.

Setelah dari Hudaibiyah, kami juga mengunjungi museum Exhibition of The Two Holy Mosque Architecture yang berisikan benda-benda bersejarah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta memuat info perkembangan kedua mesjid tersebut dari masa ke masa.

20160131_100327
Bangunan masjid baru di Hudaibiyah

Selepas dzuhur, saya kembali bersama Ibu pergi menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umroh terakhir karena keesokan harinya kami akan berangkat menuju Madinah Al Munawarroh. Sungguh, Mekkah akan sangat kami rindukan dan kami menantinya untuk bisa datang kembali. Setelah Ashar, umroh kami pun selesai. Tak cukup berkeliling Masjidil Haram di hari kemarin, kami pun melanjutkan eksplorasi Masjidil Haram di bagian lain yang belum terjamah. Untuk diketahui, saat ini tahun 2016, Masjidil Haram masih dalam proses perluasan sehingga banyak alat berat seperti crane yang tersebar. Bagi para jamaah yang sebelumnya sudah pernah datang ke Mekkah pasti akan melihat perubahan yang banyak terjadi di Masjidil Haram dan sekitarnya, seperti yang Ibu saya rasakan saat tahun 2004 menjalankan ibadah Haji, kemudian tepat setelahnya ayah saya di tahun 2005 menyusul untuk melaksanakannya juga. Beberapa pintu masjid ditutup karena perluasan. Saya belum sempat mengenal Ma’la, Masjid Kucing, Pasar Seng, seperti yang ayah saya ceritakan. Insya Allah, lima tahun lagi dari tahun 2016, perluasan Masjidil Haram ditargetkan selesai.

Hari terakhir di Mekkah pun tiba. Dini hari, Senin, 1 Februari 2016, saya, ibu, tante dan kerabat lainnya bergegas ke Masjidil Haram untuk menghabiskan sepertiga malam terakhir dilanjutkan shalat subuh berjamaah. Kami melakukan thawaf sunnah lalu setelah itu rombongan kami terpisah namun saya tetap bersama ibu. Dini hari terakhir, rasanya hati ini semakin berat meninggalkan Mekkah. Pancaran Ka’bah masih dan selalu terasa sangat kuat. Pandangan tertuju pada Hajar Aswad, batu hitam yang menjadi patokan mulainya thawaf.

Dari Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad. Lantas Umar berkata, ‘Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu. (HR. Bukhori no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Entah ada dorongan dari mana, langkah kaki ini berjalan mendekat Hajar Aswad yang pastinya selalu dipenuhi banyak orang. Cukup lama, saya dan Ibu tertahan di kerumunan orang dekat Hajar Aswad hingga sempat terlintas dalam pikiran saya bahwa jika ini mendatangkan mudhorot alangkah lebih baiknya jika saya mundur perlahan. Hajar Aswad terlihat tinggal beberapa langkah namun semua tampak begitu jauh karena tumpukan orang di hadapan saya. Saya melihat Ibu yang selalu ada di samping saya. Ibu terlihat masih bersemangat hingga saya pun mengurungkan niat mundur perlahan itu. Sepanjang proses mendekati  Hajar Aswad, saya hanya bisa pasrah menerima fisik saya yang terdesak kesana kemari sambil memanjatkan doa. Salah satu doa yang paling saya ingat dan inginkan adalah saya minta diberikan kelembutan hati dan tutur kata yang baik seperti Nabi Ibrahim. Rasanya damai sekali untuk memintanya. Waktu terus berjalan, tanpa sadar kami semakin dekat dengan Hajar Aswad, tepat di depan Askar, sementara Hajar Aswad ada di posisi kiri. Melihat keadaan itu, saya berusaha mencari celah. Askar melihat kami yang kepayahan hingga Ibu saya meminta tolong sambil menunjuk saya pada Askar ‘Help..help..’ Hajar Aswad semakin dekat dan ada di depan saya, saya berusaha menciumnya namun kepala saya belum sepenuhnya berada dalam lubang putih yang mengelilingi Hajar Aswad. Aromanya begitu kuat dan sangat harum. Melihat itu, Ibu saya masih meminta tolong pada Askar “not yet..not yet”. Tanpa diduga, Askar menolong agar saya memasukkan kepala untuk kedua kalinya dan mencium Hajar Aswad, batu hitam kecil yang ada di tengah lubang putih tersebut. Selanjutnya, saya menarik Ibu saya untuk bisa berganti posisi namun apa daya bahwa Askar telah menghalau kami untuk menjauh. Ibu saya mengerti dan segera menarik saya keluar dari kerumunan.  Saya tahu, Ibu saya ingin mencontoh apa yang dikerjakan Rasulullah. Ibu saya yang senantiasa mengajarkan anak-anaknya untuk mengikuti petunjuk Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman hidup. Saya hampir tidak bisa berkata, hanya bisa menatap Ibu sambil menangis. Tangannya yang lembut memeluk saya, hatinya yang damai menenangkan saya, “Gak apa-apa..” ujar beliau sambil tersenyum.

Masya Allah, Allahu akbar, semua terjadi atas izin-Nya dan semoga Allah meridhoinya. Semoga Allah memberi keberkahan dan membalas setiap kebaikan dari Ibu saya dengan ganjaran berupa surga tanpa hisab. Aamiin Allahumma Aamiin.

20160201_095519
Salah satu bagian dari Masjidil Haram

Selepas merapikan barang-barang dan bersiap check out, kami kembali menuju Masjidil Haram untuk melakukan Thawaf Wada, thawaf perpisahan yang setelah itu artinya kami harus meninggalkan Mekkah. Sungguh, hati ini begitu merindu pada Baitullah. Pandangan dan langkah ini seolah tidak mau lepas dari Ka’bah dan Masjidil Haram. Setiap orang pasti begitu mendambakan untuk kembali lagi menunaikan ibadah haji dan umroh. Semoga kita semua, umat muslimin dan muslimat, dimasukkan dalam golongan umat yang terpanggil secara harta dan fisik menuju Baitullah. Al maunah biqadrin niyyah, pertolongan Allah itu datang sebanding dengan besarnya niat seseorang.

Allahummarzuqnaa ziyaarata al haramayni makkata wa madiinata. Innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir. Ya Allah, berikanlah kami rezeki untuk dapat mengunjungi dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu

Ya Allah, beri kesempatan, menjadi tamu-Mu. Bersujud di tanah suci-Mu, sebelum Izrail memanggil  (Snada – Sambut Panggilan-Nya)

 Selanjutnya perjalanan ini dilanjutkan menuju kota nabi, jejak lahir peradaban Islam, Madinah Al Munawarroh

(bersambung)