Cerita tentang Pendakian ; Sebuah Solilokui

Saya cinta sekali dengan gunung. Hingga saat saya menulis ini, sudah enam bulan saya lewatkan tanpa kegiatan pendakian. Rasanya rindu memenuhi pikiran dan perasaan saya padanya. Namun, kelak nanti akan datang waktunya, saya akan kembali menjejak. Mendatangi tempat yang hampir tidak pernah membuat saya kecewa.

Setiap pendakian yang saya lakukan selalu punya cerita tersendiri. Cerita yang saya jadikan bahan refleksi untuk diri sendiri dan orang yang saya kasihi. Karena sejatinya, setiap perjalanan punya makna yang berbeda bagi setiap orang. Belajar melihat dunia luar, juga belajar melihat ke dalam diri. Satu hal yang pasti, selalu ada ruang untuk berbagi.

 

Tentang Semeru. Jumat pagi. Awal Mei 2016. Pukul 05.00.

Di tengah perjalanan menuju Mahameru dari Kalimati, saya terpisah dari teman pendakian lainnya. Betul kata orang, Mahameru itu dekat di mata, jauh di dengkul. Berlaku juga untuk puncak gunung lainnya. Saya seperti melihat asap dari Kawah Jonggring Saloka ini sudah seperti sangat dekat tapi dugaan saya salah besar. Saya sudah mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Sangat melelahkan. Pasir Mahameru begitu termasyhur dengan slogan ‘naik satu, turun tiga’. Hal itu yang menyebabkan energi terkuras habis. Rasanya saya mau menyerah. Tapi hati kecil saya berkata, “Ayolah, Luk!” . Saya berusaha menyemangati diri sendiri sambil makan sosis siap saji yang nikmatnya berkali-kali lipat saat itu. Saya memandangi apa yang ada di bawah saya sampai terkesima dibuatnya. Memandangi apa yang jauh namun terasa dekat. Mahakarya sempurna yang Tuhan ciptakan. Saya bermonolog, “Bagaimana saya bisa disini ?” kemudian pikiran saya flashback layaknya urutan pita film.

Disitu saya sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Bahwasanya saat lahir kita sendiri dan kelak mati juga sendiri. Saya takut. Mengingat usia saya dipakai buat apa lalu apa saja yang sudah saya lakukan dan lewati selama hidup. Semua yang pernah dan belum saya gapai. Keinginan dan hajat terbesar saya. Apakah semuanya itu berorientasi dunia ? Apa bekal saya untuk kehidupan nanti ? Saya termenung dan akhirnya menangis. Sepertinya saya masih diberi waktu tapi saya tidak tahu akan seperti apa akhirnya. Yang harus saya lakukan adalah terus berjalan dan berjuang.

Hitung mundur langkah kaki lemah ini sampai di ketinggian 3,676 mdpl. Saya pun ambruk. Pasir dan batu menampar muka. Perlahan saya mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ada sambil menangis sesenggukan. Di titik ekstrem kelelahan, saya sadar bahwa manusia punya batas. Begitu banyak Tuhan menjawab doa saya. Tuhan tidak memberi apa yang saya minta, melainkan apa yang saya butuhkan

20160505_082532

(Mahameru kala itu, Dokumen : Pribadi)

 

Saat di Watu Kotak, Puncak Buntu (3,362 mdpl) kemudian Puncak Kawah (3,371 mdpl) pada akhir Maret 2016

Perjalanan dari Watu Kotak menuju puncak belum habis dengan medan pendakian terjal, tanpa bonus dan bebatuan curam. Satu-satunya hal yang menguatkan hati ini adalah tersebarnya tanaman Cantigi yang saya rindukan. Betapa cantiknya dia. Cantigi yang memiliki filosofi tersendiri bagi saya. Warnanya pun indah, menyejukkan mata. Membuat saya betah lama-lama memandangnya. Cantigi menemani saya sepanjang jalur dari Watu Kotak hingga saya mencapai papan penunjuk arah yang menyatakan Puncak Buntu ke kanan, Puncak Kawah ke kiri. Saya melanjutkan ke kiri, menuju Puncak Kawah. Teman pendaki yang saya temui selama perjalanan tak henti-hentinya saling memberi semangat bahwa sedikit lagi sampai puncak. Definisi ‘sedikit lagi’ yang berbeda bagi setiap orang, sebuah usaha memberikan semangat supaya kita harus tetap melangkah dan menyelesaikan pendakian ini.

Saya termenung teringat Cantigi dan rasanya perlu bercerita khusus tentangnya. Betapa istimewanya Cantigi karena untuk menemuinya saja saya harus mendaki gunung. Betapa berharganya Cantigi karena ia tidak bisa saya miliki karena apapun di gunung tidak bisa saya bawa pulang kecuali sampah, barang bawaan dan kenangan. Cantigi (Vaccinium Varingiaufolium) adalah jenis vegetasi yang mudah terlihat di ketinggian minimum 2000-an mdpl sebagai penanda menjelang puncak gunung. Akarnya kuat mencengkeram tanah dan tebing. Ia sering menjadi pegangan pendaki ketika merangkak naik dan turun gunung. Cantigi pula yang menyediakan lantai nyaman untuk bivak serta menghasilkan buah dan pucuk daun yang bisa dimakan saat terdesak. Cantigi juga kuat menghadapi cuaca yang ekstrem dingin dan menepis panas yang menyengat. Cantigi tidak setenar Edelweiss namun justru itulah yang membuat saya jatuh cinta padanya. Cantigi begitu indah pada tempatnya. Dalam diam, Cantigi mengajarkan makna kebermanfaatan yang luas. Tanpa perlu lampu sorot dan usaha keras bahwa dirinya istimewa.

 

Kamis pagi. Pertengahan Juli 2016. Pukul 04.30. Menjelang Subuh di Rinjani

Angin dari sisi barat kencang bertiup, seolah membuat raga ini oleng saat melintas di punggungan gunung menuju Puncak Anjani. Jangan tanya tingkat kedinginannya, seperti menusuk tulang. Beberapa pendaki terlihat bersiap untuk mengumpulkan debu guna memenuhi syarat tayamum. Di tengah langit yang masih cenderung gelap dan perkiraan jam datangnya waktu shalat, azan subuh berkumandang dari aplikasi ponsel. Saat kelelahan menjadi-jadi, manusia diingatkan untuk kembali bersujud di permulaan pagi.

Naik gunung itu capek, lelah, panas, haus dan sebut saja semua kategori ketidaknyamanan. Kalau dipikir-pikir, untuk apa kita susah-susah mendaki ? Berjalan beberapa kilometer jauhnya, menahan bawaan yang berat, dan jauh dari rumah. ‘Sungguh kurang kerjaan’, begitu mungkin pikiran banyak orang.

Kemudian saya merenung dalam perjalanan pendakian ketika itu. Terkadang dalam menjalani hidup, menjalankan rutinitas juga melelahkan. Mengikuti ini itu dan memenuhi harapan orang lain. Keletihan mudah menggerayangi. Terlebih jika kita berharap pada orang lain yang rentan membuat kecewa, termasuk berharap pada orang terdekat sekalipun. Kemudian saya tersadar bahwa semua itu hanyalah dunia. Untuk itu, kita dianjurkan untuk tidak berharap pada manusia. Cukup berharap saja pada Maha Pembolak-balik hati manusia, sang pemilik dunia dan seisinya.

Dunia memang hakikatnya seperti itu. Melelahkan. Bahwa dunia adalah tempat menabung kelelahan untuk istirahat kelak di tempat yang lebih abadi. Pantas saja jika ada seorang kawan yang bertanya, “Kapan seorang manusia itu bisa beristirahat ? Saat ia pertamakali menginjakkan kakinya di surga” Dan pantas saja jika ada seorang bijak yang menasihati rekannya sambil berkata “ Nanti istirahatnya di surga saja ya”

Alam begitu hebat dalam mentransfer kearifannya tanpa berbicara sedikitpun. Bisa kembali ke alam adalah sebuah kenikmatan yang hakiki. Menyadarkan kembali tentang keberadaan manusia seperti setitik debu di muka bumi. Sungguh, kita ini kecil, Kawan. Sekali lagi saya katakan, esensi pendakian gunung layaknya simulasi hidup. Manusia menjalankannya, meraih cita-cita namun tidak terhindarkan dari munculnya banyak rintangan. Kita naik ke puncak tertinggi kemudian turun ke haribaan Illahi. Sebuah perjalanan mencari jati diri, sebagai persiapan untuk kembali.

IMG_9536

(We save Rinjani!,  Dokumen : Pribadi)

Dan saat itu, pemandangan dari Puncak Anjani nampak berkali-kali lipat indahnya. Paduan Danau Segara Anak dan Gunung Barujari tidak pernah gagal memukau siapapun. Dari kejauhan nampak Gunung Agung dan Gunung Tambora di arah yang berbeda. Sebuah keadaan yang tidak setiap hari bisa kita lihat, namun bisa kita kenang selalu.

 

 

 

 

Menengok Lawu

Akhir pekan di penghujung Oktober 2015, saya berkesempatan mengunjungi basecamp pendakian Gunung Lawu yaitu Cemorosewu di Kabupaten Magetan, Jawa Timur dan Cemorokandang di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jarak keduanya hanya berkisar 200 meter dibatasi oleh gapura pembatas provinsi. Situasi disana termasuk sepi untuk ukuran akhir pekan, hanya ada beberapa petugas yang berjaga. Cuaca panas menyengat ubun-ubun. Papan larangan pendakian terpasang di pintu masuk basecamp. Warung makan dan penginapan di sekitarnya pun sepi pengunjung. Hanya ada orang lalu lalang sekadarnya.

Gunung Lawu yang berada di ketinggian 3,265 mdpl memang kerap menjadi sorotan beberapa waktu belakangan ini. Tentu masih cukup segar ingatan di kepala, delapan pendaki Lawu meninggal dunia di pertengahan Oktober 2015, lima diantaranya adalah warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Diduga penyebabnya adalah kebakaran hutan yang berasal dari api unggun yang belum sepenuhnya padam.

Basecamp Cemorosewu (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorosewu (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorokandang (Dok : Pribadi)

Belum cukup musibah itu terjadi, tepat minggu lalu di tanggal 25 Oktober 2015, kebakaran hutan yang awalnya terjadi cukup masif di jalur pendakian akhirnya menjalar turun hingga pemukiman warga di Dusun Cemorosewu, Desa Ngancar, Plaosan.  Jarak kobaran api ke rumah warga terdekat sekitar 10 meter. Kepulan asap pekat sempat terlihat membumbung tinggi diatas pemukiman warga. Kobaran api juga terlihat di lereng perbukitan Lawu bagian selatan dan Jalan Raya Sarangan-Karanganyar sehingga sontak menjadi perhatian warga dan pengendara yang melintas. Tindakan cepat segera dilakukan. Dua unit mobil pemadam kebakaran (PBK) dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Magetan dikerahkan untuk menjinakkan api. PBK juga dibantu dua unit mobil pemadam dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar. Penyemprotan dilakukan dari jarak sekitar 25 meter. Api berhasil dijinakkan setelah mengerahkan delapan unit mobil tanki air yang dipasok dari PDAM Lawu Tirta dan Tanggap Bencana (Tagana) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dengan adanya bencana tersebut, warga memilih untuk mengungsi ke rumah sanak saudara. Pihak Perhutani bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) melakukan evakuasi warga ke wilayah Desa Getasanyar dan Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan.

Api menjalar ke pemukiman warga di Cemorosewu (Dok : Akun Path Pipink Rivia)
Api menjalar ke pemukiman warga di Cemorosewu (Dok : Akun Path Pipink Rivia)

Bencana ini tidak hanya membuat manusia panik, habitat satwa di Gunung Lawu pun ikut turun gunung. Petugas Perhutani bersama komunitas Anak Gunung Lawu (AGL) berhasil mengevakuasi kera liar sewaktu menyisir titik api di perbatasan Cemorosewu dan Cemorokandang. Selain itu, ditemukan pula jejak macan Lawu yang tertinggal di sekitar petak 73, populasi babi hutan dan menjangan di hutan Gunung Lawu. Temuan hewan lainnya yaitu harimau kumbang juga sempat menggegerkan warga. Populasi Jalak Lawu juga mendapat perhatian khusus walaupun hingga saat ini belum ditemukan adanya Jalak Lawu yang terbakar ataupun mati. Diperkirakan burung yang dilindungi dan disakralkan warga setempat itu sudah bermigrasi ke hutan bagian utara.

Gunung Lawu bertipe stratovolcano dan berstatus gunung api ‘istirahat’. Menurut Wikipedia, Lawu diperkirakan terakhir meletus pada tanggal 28 November 1885. Fenomena kebakaran hutan yang terjadi tahun ini di Lawu dipercaya sebagai siklus ‘bersih-bersih’ 18 tahun. Kebakaran hebat di Lawu terjadi terakhir kali di tahun 1997 sebelum kembali lagi seperti pada tahun 2015 ini. Seperti yang dikutip di Radar Lawu, Kepala Resor Polisi Hutan Sarangan, Kholil menjelaskan bahwa daun cemara dan pinus, yang merupakan vegetasi di Lawu, terus berjatuhan dan mengering. Secara ilmiah, daun dua jenis pohon tersebut sulit hancur dalam jangka waktu 7-10 tahun dan tidak lantas menjadi kompos lalu bersatu dengan tanah meskipun sudah berguguran bertahun-tahun. Tumpukan daun kering tersebut mudah terbakar saat musim kemarau. Selain itu didukung pula dengan tiupan angin dan hawa panas sehingga membuat api cepat sekali menjalar. Kandungan minyak juga terdapat pada dedaunan pohon cemara dan pinus yang menjadi faktor pendukung api menyala bertambah ganas. Api merambat melalui celah-celah bebatuan yang banyak terdapat di selatan Gunung Lawu. Petugas pemadaman mengaku kesulitan untuk memadamkan api yang berada di celah bebatuan karena sulit terjangkau. Total luas hutan yang terbakar mencapai sekitar 160 Ha dari total 1,116 Ha.

 

Pucuk Gunung Lawu yang terlihat di Jalan Raya Sarangan-Plaosan, Magetan. Terlihat kepulan asap tipis yang tersamarkan oleh awan (Dok : Pribadi)
Pucuk Gunung Lawu yang terlihat di Jalan Raya Sarangan-Plaosan, Magetan. Terlihat kepulan asap tipis yang tersamarkan oleh awan (Dok : Pribadi)

Saat ini, sudah lebih dari dua minggu berlalu, tak ada lagi api besar berkobar di area Gunung Lawu seperti sebelumnya. Yang tertinggal sekarang hanya hamparan abu dan pohon cemara serta pinus kering. Kepulan asap memang masih terlihat tetapi dipastikan sudah tidak berbahaya. Namun, sisa kebakaran membuat dataran itu menjadi kawasan panas. Warga setempat mulai mengevakuasi pipa jaringan air bersih yang meleleh karena panas. Mereka juga membuat pipa darurat secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih menggantikan pipa yang meleleh. Pihak Perhutani, TNI, POLRI, warga dan relawan masih terus mengawasi pergerakan api yang mungkin terjadi.

Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)

 

Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorosewu (Dok : Pribadi)

 Bagi saya, Lawu adalah gunung spesial. Pendakian pertama saya di Pulau Jawa akhir tahun 2014 silam tentu meninggalkan kesan mendalam. Kondisi Lawu yang saya lihat sekarang ini sangat kontras dengan Lawu saat 27-28 Desember 2014. Pendakian saya kala itu ditemani hujan angin tiada henti. Kabut dan cuaca dingin yang menusuk menjadi kawan perjalanan. Hal itu sungguh menjadi pengalaman tak terlupakan. Alam memang memiliki cara sendiri untuk mendidik manusia. Jika nanti sudah tiba waktunya, G Baca lebih lanjut

Merindu Merbabu

Saat sepertiga malam yang cerah tanpa hujan, Kereta Api Malioboro Ekspres tujuan akhir Yogyakarta telah meninggalkan Stasiun Solo Balapan. Suasana kembali sepi dan hening. Saya berbaring di kursi peron, menunggu pagi sambil memejamkan mata. Menanti kawan seperjalanan dalam pendakian penuh kejutan. Sebut saja ia, Gunung Merbabu.

Gunung bertipe strato ini terletak di wilayah Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang dan Kota Salatiga di Jawa Tengah. Berasal dari kata ‘meru’ (gunung) dan ‘abu’ (abu) yang berada pada ketinggian 3,142 mdpl. Ada 4 jalur pendakian yang lazim dilewati yaitu Thekelan, Cunthel, Wekas dan Selo. Kali ini, saya beserta teman-teman akan mendaki lewat Selo di Kabupaten Boyolali yang terkenal dengan pemandangan Sabana yang luar biasa indahnya.

Di tengah perjalanan menuju basecamp Selo, saya dihadapkan pada dua gunung yang bersanding dengan serasi. Mereka adalah Merbabu di sisi kanan dan Merapi di sisi kiri.  Bagi saya, Merbabu dan Merapi itu saling melengkapi. Jika diibaratkan, Merapi adalah laki-laki yang berani dan gagah perkasa sedangkan Merbabu adalah perempuan anggun dan memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Mereka seperti sudah ditakdirkan untuk bersama.

**

Setelah berbelanja keperluan logistik pendakian di Pasar Cepogo, kami pun bergegas menuju basecamp Selo untuk kembali berkemas dan melakukan registrasi. Pendakian pun dimulai sekitar pukul 10.30 WIB ditemani cuaca cerah. Dari gapura bertuliskan ‘Jalur Pendakian Selo’, semuanya dimulai dengan melangkah.

Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1-Dok Malang menghabiskan waktu sekitar 1 jam dengan ritme jalan santai. Medannya masih bersahabat namun kabut tipis mulai menyelimuti. Vegetasi hutannya masih didominasi dengan pohon-pohon tinggi. Selanjutnya, Pos 1 menuju Pos 2-Pandean yang juga memakan waktu sekitar 1 jam. Ada beberapa titik yang konturnya sudah mulai menanjak daripada ketika menuju Pos 1. Saat perjalanan menuju Pos 3-Watutulis, kabut mulai tebal lalu turun hujan rintik. Ketika sampai di Watutulis, kami pun berteduh sebentar di bawah flysheet yang kami bentangkan sementara sambil menunggu hujan reda.

Saat pendakian saya menuju Gunung Lawu di akhir 2014 silam, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Cantigi, pohon kerdil yang melindungi pendaki gunung. Namun, keberadaannya kalah tersohor dari Edelweiss, sang bunga abadi. Daun Cantigi merah bersinar, cantik, dan merona ketika disinari matahari. Membuat siapapun pasti ingin mengabadikannya lewat lensa dan pandangannya. Saat perjalanan menuju Pos 3, mulai banyak Cantigi bertebaran. Kejutan pertama di Watutulis,  Cantigi tumbuh dilatarbelakangi Merapi yang nampak sangat dekat. Perpaduan yang elok. Kabut perlahan menghilang. Hujan sudah selesai rupanya. Kami harus melanjutkan perjalanan karena sebentar lagi akan sampai pada tahap yang sebenar-benarnya mendaki.

**

Perjalanan Pos 3 menuju Pos 4-Sabana 1 ditempuh dalam waktu sekitar 45- 60 menit dengan medan yang menguras tenaga. Berhubung hujan baru saja reda, tanah yang diinjak pun agak licin dan diperlukan kehati-hatian saat mencari pijakan. Kabut tipis muncul kembali dan menemani pendakian kami hingga sampai pada Sabana 1. Sesampainya di Sabana 1, kami pun mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam. Menu sop ayam, ayam kecap, tahu, tempe dan sambal yang disantap setelah mendaki menjadi menu paling nikmat sepanjang perjalanan ini.

Saat jam menunjukkan pukul 17.30, langit mulai berubah warna. Saya tertegun dan segera berlari ke suatu titik dimana saya melihat semburat jingga bermunculan, berpadu dengan gumpalan awan dan senja di ufuk barat, segaris dengan Puncak Merapi. Masya Allah! Lukisan Tuhan Maha Sempurna. Di tengah perpaduan warna di langit nan luas, sosok Merapi terhampar sangat jelas , tegak berdiri menghunjam bumi. Setelah momen matahari terbenam paling indah di Pantai Ndana, Rote Ndao yang sukses membuat saya menangis terharu selanjutnya ada momen matahari terbenam paling indah di Gunung Merbabu yang sukses membuat saya merasakan déjà vu dengan semua keindahan yang Tuhan ciptakan tanpa cela.

IMG_7285

Dini hari pukul 03.00, kami pun terbangun dari istirahat singkat namun berkualitas di Sabana 1. Kami akan lanjutkan perjalanan ini sampai puncak. Di tengah kegelapan, suasana begitu ramai dengan para pendaki lain yang akan melakukan hal yang sama. Setelah mengisi energi dengan mie instan, madu dan roti, kami segera melangkah menjauhi tenda menuju puncak.

Gunung Merbabu memiliki tujuh puncak yaitu Puncak 1-Watu Gubug, Puncak 2-Pemancar,Puncak 3-Geger Sapi, Puncak 4-Syarif, Puncak 5-Ondo Rante,Puncak 6-Kenteng Songo dan Puncak 7-Trianggulasi. Namun kami hanya akan mendatangi Puncak Kenteng Songo dan Puncak Trianggulasi sebagai puncak tertinggi Gunung Merbabu di ketinggian 3,142 mdpl.

Perjalanan dari Sabana 1 menuju Pos 5-Sabana 2 memakan waktu sekitar 60 menit dengan medan mendaki namun saat turun mendekati Sabana 2 ada jalan landai sebagai bonus. Selanjutnya dari Sabana 2 menuju Puncak Kenteng Songo memakan waktu sekitar 45-60 menit, medan terus menerus mendaki , hampir tidak ada jalan landai. Tanah pijakan cukup licin sehingga harus berhati-hati. Dibalik semua kesulitan itu, saat kepala menoleh ke belakang, kejutan muncul lagi. Lampu-lampu dari rumah penduduk di Kabupaten Boyolali sangat cantik dari kejauhan. Tanpa sadar, diri ini sudah berada di ketinggian lebih dari 3000 mdpl. Saat mendongakkan kepala ke atas, hati ini berdesir. Gugusan bintang menghiasi langit malam. Saya tercekat dan memandang ke arah yang sama untuk waktu yang lama.

Look at the stars, look how they shine for you

And everything you do, and they were all yellow

Your skin, oh yeah your skin and bones

Turn into something beautiful

Tonight, you know I love you so 

You know I love you so (Coldplay – Yellow)

**

Sayup-sayup suara muadzin terdengar mengagungkan asma-Nya, menyeru umat muslim menunaikan Shalat Subuh. Saat itu pula kaki ini sudah mencapai Puncak Kenteng Songo. Matahari mulai menampakkan wujudnya. Tirai alam ini tersibak perlahan. Benarkah ini yang ada di depan saya sekarang? Lagi-lagi ada dia, pasangan hidup Merbabu yang menjulang megah tanpa ampun. Pantas saja Merapi masih tetap berdiri tegak meskipun seringkali ia memuntahkan material vulkanik. Itu pasti karena Merapi jatuh cinta pada keindahan dan keanggunan Merbabu, sama seperti yang saya rasakan.

IMG_7408

Masih di Puncak Kenteng Songo, samudera awan meliputi hamparan langit. Cantigi dan Edelweiss bertebaran, berpadu dengan sabana yang rumputnya melambai tertiup angin. Dari kejauhan muncul puncak pertama saya dengan malu-malu di balik mentari, sebutlah ia Hargo Dumilah, ketinggian 3,265 mdpl di Gunung Lawu dengan bentuknya yang memanjang. Masya Allah! Saya pernah ada disana, ditemani sahabat paling setia selama pendakian bernama hujan dan saya tidak menyesal pernah melewatinya.

IMG_7413

Perjalanan dilanjutkan menuju Puncak Trianggulasi dengan jarak yang sudah tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan, dari samping terlihat Puncak Syarif dan Puncak Pemancar. Kejutan belum berakhir. Di Puncak Trianggulasi, terlihat dari kejauhan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang berdampingan. Lebih dekat lagi, ada Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Melihat semua ini, bagaimana mungkin para pendaki tidak menobatkan Merbabu sebagai salah satu gunung dengan pemandangan terindah di puncaknya ?

IMG_7526

Matahari mulai meninggi. Kami bergegas untuk turun kembali menuju Sabana 1. Seolah tidak rela dengan perpisahan ini, saya berjalan pelan, menikmati apa yang ada di hadapan saya. Hanya bisa berdecak kagum dan tersenyum. Memandang penuh arti. Rasanya damai sekali. Berat hati meninggalkannya, seolah tidak mau berpisah untuk waktu yang lama.

IMG_7572

So she said what’ s the problem baby ? What’s the problem I don’t know.

Well, maybe I’m in love. Think about it everytime. I think about it. Can’t stop think about it

How much longer it will take to cure this ? Just to cure because I can’t ignore that if it’s love

Makes me wanna turn around and face me but I don’t know nothing but love (Counting Crows – Accidentally in Love)

**

Sesampainya di Sabana 1, kami pun segera memasak dan membereskan tenda. Setelah mengisi energi untuk turun gunung, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Kabut mulai turun lagi diselingi hujan rintik. Tanah pijakan semakin licin. Perlu ekstra hati-hati karena kami akan menuruninya, bisa-bisa malah tergelincir. Perjalanan turun ini memakan waktu sekitar 2,5 jam.  Pukul 13.00, kami sudah sampai lagi di Gapura Jalur Pendakian Selo dengan selamat, tidak kurang suatu apapun.

Terima kasih untuk keluarga Merbabu, Masdan,Vici, Oki, Ojan, Yoga, Wisnu, Hilmi, Rahmat, Ryan, Aden, Laily, Mpit, Ismi, Diah, Muji, Risa, Ade dan Yupi. Betapa menyenangkannya memiliki teman naik gunung yang hebat!

Terima kasih untuk orang tua juara satu seluruh dunia yang selalu menjadi inspirasi untuk segala hal. Mereka yang selalu memberikan kebebasan pada anak-anaknya berpetualang di alam raya ini. Ma..Pa, skor Merbabu kita sama ya, we have been there, done that, at the different time  🙂

Yang terakhir namun paling utama adalah ucapan terima kasih dan rasa syukur mendalam pada Sang Maha Pencipta. Tiada daya dan upaya selain dari-Nya, diizinkanlah raga dan jiwa yang lemah ini untuk melakukan perjalanan, melihat dengan mata sendiri dan mengambil hikmah untuk segala penciptaan-Nya.

Saat kaki menjejak puncak-puncak tertinggi, semakin nyata pula bahwa manusia begitu kecil dibandingkan alam raya ini. Sangat kecil. Tidak pantas untuk berbangga diri. Sungguh, ini tidak hanya perjalanan fisik melainkan juga perjalanan hati. Sekali lagi, berkali-kali lagi, Terima kasih Ya Rabb

Dalam perjalanan pulang, kembali menuju Stasiun Solo Balapan, saya menatap Merapi dan Merbabu yang semakin jauh dari pandangan. Saya berjanji, suatu hari nanti akan saya kunjungi Puncak Merapi, untuk menyampaikan rasa cinta Merbabu padanya.

And I don’t want the world to see me

Cause I don’t think that they’d understand

When everything’s made to be broken

I just want you to know who I am (Goo Goo Dolls – Iris)

Menuju Puncak Pertama

“ Aku mau triple summit ke Merbabu, Merapi dan Lawu, Insya Allah Desember” kata Masdan, salah satu teman kuliah saya via pesan Whatsapp sebulan lalu. Saya membalas pesannya dengan cepat.

“ Ikut dong ke Lawu, kebetulan dekat dengan Madiun, tempatku sekarang “

“ Oke, dari sekarang rutin jogging dan minum vitamin C ya “

Saya pun mengiyakan dan malah jadi bertanya ke diri sendiri dalam hati “ Yakin nih gue mau ke Lawu ? ”

Sekapur Sirih

Gunung Lawu yang berketinggian 3265 mdpl terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Lawu adalah gunung api yang sudah lama tidak aktif. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang mengeluarkan belerang dan uap air. Tipikal vegetasinya rapat dan puncaknya tererosi. Ada dua jalur yang lazim dilewati oleh para pendaki yaitu Cemorosewu (Jawa Timur) dan Cemorokandang (Jawa Tengah).  Jalur Cemorosewu memakan waktu lebih singkat sekitar 6-7 jam daripada jalur Cemorokandang yang memakan waktu sekitar 8-9 jam untuk sampai ke Hargo Dumilah, puncak tertinggi Lawu. Namun, jalur Cemorosewu memang lebih vertikal daripada jalur Cemorokandang yang lebih landai. Ada satu jalur lagi yaitu Candi Cetho namun jalur ini tidak terlalu banyak dilewati oleh para pendaki.

Sudah sejak lama, Gunung Lawu diyakini sebagai gunung keramat yang sering dijadikan tempat spiritual para tokoh dan negarawan seperti Soekarno, Soeharto, Gusdur hingga SBY. Gunung Lawu dipercayai memiliki sejarah dan mistik yang tinggi. Masyarakat Jawa sangat percaya mitos bahwa puncak Lawu dahulu merupakan kerajaan pertama berdiri di pulau Jawa dan memiliki dunia gaib yang misterius.

Namun demikian, Lawu adalah salah satu gunung favorit para pendaki dan menjadi salah satu dari ketujuh puncak tertinggi di Pulau Jawa. Lawu banyak dikunjungi oleh pendaki terutama saat Malam 1 Syuro yang dianggap sebagai malam keramat. Maka dari itu, banyak warung yang buka saat pendakian ke Lawu, bahkan ada Warung Mbok Yem yang berada di Hargo Dalem dengan ketinggian 3171 mdpl

Perjalanan Dimulai

Masdan, Oki, Reza, Ichsan, Muji, Chorni dan saya berkumpul di Warung Bu Sardi, basecamp Cemorosewu untuk berkemas dan menyiapkan perbekalan untuk mendaki. Sedari siang, hujan sudah mengguyur kawasan Cemorosewu dan sekitarnya. Ya, kami sadar betul bahwa waktu mendaki kami bertepatan dengan musim penghujan. Namun itu tidak menyurutkan niat kami untuk mendaki Lawu. Setelah semuanya siap, kami berangkat sekitar pukul 18.45. Target kami bisa beristirahat di Hargo Dalem dan dilanjutkan besok pagi sudah summit attack. Dari Gapura Cemorosewu, semuanya dimulai dengan melangkah.

Lawu adalah pendakian pertama saya di Pulau Jawa. Sejujurnya saya belum pernah naik gunung yang benar-benar gunung. Namun demikian, pengalaman saya tinggal di Desa Limboro, Majene, Sulawesi yang berlokasi di tengah perbukitan dan gunung mengharuskan saya harus terbiasa berjalan dan mendaki meskipun dengan ketinggian masih  dibawah 3000-an mdpl. Kali ini, saya dihadapkan dengan Lawu yang ketinggiannya di atas 3000-an mdpl. Saya niatkan ini dengan kebaikan, tidak ada maksud aneh-aneh bahkan jahat sekalipun. Saya bersyukur masih punya kawan yang bisa berkumpul dan mengajak saya naik gunung.

Perjalanan dari basecamp Cemorosewu menuju Pos 1 kami tempuh dalam waktu 1 jam dengan medan yang masih cukup ramah.  Hanya 10 menit saja kami beristirahat di pos ini. Perjalanan pun dimulai lagi menuju Pos 2 sekitar pukul 20.00. Ketika menuju Pos 2 , saya mulai mencium bau belerang namun memang tidak terlalu kentara. Jalannya berbatu besar-besar dan sudah lumayan tersusun rapi. Namun treknya sudah tidak ada ‘bonus’ lagi. Terus vertikal  dan mendaki. Pendaki yang belum pernah naik gunung sebelumnya sudah mulai akan merasakan ngos-ngosan jika tidak membiasakan menjaga fisik sebelumnya. Ditambah dengan hujan yang semakin deras. Cuaca sangat dingin. Kondisi seperti itu yang harus kita jalani dengan terus melangkah. Jika banyak diam, justru dingin akan lebih sangat terasa menusuk.

Kondisi kesehatan salah satu kawan yaitu Chorni ternyata tidak terlalu fit. Sementara ini masih di tengah perjalanan menuju Pos 2. Sudah hampir 1 jam kami belum sampai. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan rombongan pendaki yang mau turun. Salah satu diantara mereka berkata “ Kalau cuacanya begini terus, jangan dipaksakan, ini udah ada yang dievakuasi “ katanya sambil menunjuk kawan di belakangnya yang sedang menggendong pendaki lain. Glek. Saya menelan ludah dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya bisa ? . Saya cepat-cepat menghapus pikiran negatif. Kami pun berterima kasih atas sarannya dan kembali melanjutkan perjalanan.

Masih di tengah perjalanan menuju Pos 2, Masdan pun bicara

Kalau jalan kita begini terus, kita gak akan nyampe. Gini aja, aku sama Oki duluan. Kami dirikan tenda, masak air anget buat kalian biar bisa langsung istirahat. Reza di depan, Muji di belakang. Tadi katanya di Pos 2 rame, banyak orang, ga ada tempat. Jadi kayanya kita akan buka tenda di perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3. Atau semoga aja di Pos 3. Kalian panggil namaku yang kenceng, kalo aku gak bales kalian jalan terus sampai kita ketemu”

***

Kami melepas kepergian Masdan dan Oki yang segera bergegas. Saya lihat Chorni sangat berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk melangkah. Trek sudah tanpa ampun. Pos 2 belum terlihat batang hidungnya. Meskipun sudah pakai jas hujan, celana saya basah membuat udara dingin mudah sekali menghantam. Akhirnya sampailah kami di Pos 2 yang sudah seperti pasar kaget di kegelapan malam karena saking banyaknya orang yang berkumpul. Total waktu tempuh kami adalah 2,5 jam dari Pos 1 ke Pos 2. Melihat situasi yang sangat ramai oleh tenda, kami sangat yakin bahwa Masdan dan Oki tidak akan mendirikan di Pos 2. Kesimpulan itu yang mengharuskan kami agar terus berjalan menuju Pos 3.

Pukul 23.00 kami bergegas ke Pos 3. Perjalanan masih harus dilanjutkan meskipun rasa kantuk dan capek menyerang. Sepanjang perjalanan,  beberapa kali kami berteriak memanggil nama Masdan, tidak ada jawaban balasan, tenggelam pula oleh suara hujan. Chorni sudah sangat pucat, Reza dan Ichsan pun sempat memejamkan mata untuk tidur. Begitupun Muji yang sangat berusaha untuk bisa mendaki. Salut untuknya karena sehari sebelum ke Lawu, dia menempuh Merapi.

Sedangkan saya ? Ya, saya pun sudah sangat lelah dan kedinginan. Di tengah kegelapan, saya berdoa meminta kekuatan pada-Nya.Asupan energi berupa madu pun saya lahap. Ayo, Luk.. Ini belum Pos 3, Luk! Belum seberapa! Lawu punya 5 pos! Lirik lagu Aku Bisa, AFI Junior pun saya nyanyikan dalam hati “ Aku bisa, aku pasti bisa, ku harus terus berusaha “ Lagu favorit saat di pelatihan dan penempatan Indonesia Mengajar dulu.

Sekitar 1,5 jam, akhirnya kami sampai di Pos 3 dan langsung bertemu dengan Masdan serta Oki. Mereka sudah mendirikan 2 tenda. Saya, Chorni dan Muji pun segera masuk tenda dan beres-beres. Sebelum tidur, kami sempat makan Indomie dan susu jahe. Suatu perpaduan yang istimewa di ketinggian 2800 mdpl. Sebelum tidur, Masdan berpesan bahwa kita akan summit attack pukul 04.00. Masih ada Pos 4, Pos 5 dan Hargo Dalem sebelum sampai Hargo Dumilah. Tiba waktunya agar kami benar-benar beristirahat karena kami sudah menempuh lebih dari setengah perjalanan.

Hawa Dingin Menusuk

Jarum jam menunjukkan pukul 03.00, saya membuka mata namun sebetulnya saya tidak benar-benar tidur sejak pukul 01.30 dari briefing terakhir. Di saat itulah, saya benar-benar merasakan kedinginan yang hebat. Belum pernah saya rasakan seperti ini sebelumnya. Hujan mengguyur tenda dengan derasnya. Saya merasa seperti ada aliran air dalam sleeping bag yang membungkus badan dan itu membuat kedinginan yang rasanya seperti perih. Saya terduduk , mencoba mencari cara untuk mengurangi dingin ini. Tangan saya sudah mati rasa. Saya melihat Chorni dan Muji seperti tidak bermasalah kedinginan seperti saya.

“Chor..Ji..kalian gak kedinginan  ? “ tanya saya perlahan.

Mereka hanya jawab dengan seadanya. Saya pun terdiam lagi. Rasa perih itu terus menyerang . Saya buka sarung tangan dan kaos kaki. Semakin mati rasa. Saya merasakan sakit di bawah tenggorokan seperti dihantam benda keras. Saya meraba pelan bagian leher dan merasa sangat lemah.  Sempat terbersit di saat seperti itu “ Apakah ini akhir hidup gue ? “ Saya tidak bisa menjawab, terus mengucap nama-Nya.

Saya mengumpulkan kekuatan untuk keluar tenda, saya rasa saya harus memaksa diri untuk bergerak. Saya mengajak Chorni keluar, menemani saya untuk buang air kecil. Dinginnya luar biasa ketika di luar tenda. Saya dan Chorni melangkah pelan, bergegas kembali masuk tenda. Di dalam, saya paksakan untuk tidur. Saya mendekatkan diri ke teman-teman saya, menutup ritsleting sleeping bag dan memaksa untuk memejamkan mata.

***

Samar-samar saya mendengar suara Masdan, “Mau ikut muncak ga? Tapi kita tidak akan dapat sunrise, di atas kabut, hujan gak berhenti “ Saya terbangun pukul 06.00. Saya tahu bahwa rencana kami meleset untuk summit attack pukul 04.00. Di luar sudah terang namun hujan masih terus turun. Saya bersyukur, ternyata saya masih hidup dan saya sedang tidak mimpi.

“ Aku gak ikut, Mas” kata Chorni di sebelah saya

Saya langsung tersadar bahwa saya harus berusaha lagi untuk sampai puncak.

“Ji, ke puncak! Yuk !  Kita udah sampe sini.. Chor kamu baik-baik ya, istirahat aja” kata saya. Muji mengangguk dan segera bersiap. Chorni pun kembali berbaring.

Perjalanan pun dimulai lagi. Dari Pos 3, kami melangkah menuju Pos 4. Sayang, Chorni tidak bisa bergabung. Namun jika pilihan itu lebih baik untuk Chorni, kami mempersilakannya.

Alasan yang Menguatkan

Memang waktu paling baik untuk mendaki adalah malam hari karena selain para pendaki bisa mengatur waktu untuk bisa sampai ke puncak saat matahari terbit. Alasan lainnya adalah kalau malam tidak terlalu terlihat medan jalur pendakian yang kadang membuat putus asa. Tentu saja kalimat terakhir adalah kalimat subjektif. Dikarenakan sudah terang, saya melihat jelas bagaimana kami mendaki dan trek dari Pos 3 ke Pos 4 yang –lagi-lagi- tidak ada ‘bonus’ dan terus mendaki. Kalau begini, lebih baik saya tidak lihat trek vertikal pendakian daripada terlalu jelas seperti itu. Kabut begitu tebal terutama di sisi kanan kami berjalan. Jalurnya sudah mulai menyempit. Terlihat cantigi dan edelweiss banyak tersebar. Rupanya begitu cantik dan menyejukkan mata.  Akhirnya kami sampai di Pos 4 dengan waktu tempuh 1 jam. Sedikit lagi, ujar saya dalam hati. Kami hanya lewat, tidak menunggu lama-lama untuk bergegas ke Pos 5

Perjalanan Pos 4 ke Pos 5 adalah perjalanan antar pos paling singkat yaitu 30 menit saja. Di Pos 5 dengan ketinggian 3117 mdpl, ada 2 warung. Kami pun beristirahat sebentar untuk makan gorengan dan minum susu jahe. Di warung itu, ada rombongan pendaki yang juga sedang beristirahat. Saya sempat bertanya pada penjual warung itu

 “Mas, itu anaknya di bawa naik ? Umur berapa ? ” tanya saya sambil menunjuk bocah kecil yang sedang menggambar dengan asyiknya di bawah meja tempat menjajakan gorengan  tanpa merasa kedinginan “

Iya Mbak, ini masih sekolah PAUD, umur 5 tahun. Sering kok kalo lagi libur ikut naik ke atas. Kadang digendong, kadang jalan sendiri. Kalau saya bawa barang dagangan, biasanya 5 jam naiknya ” kata Mas Penjual Warung di Pos 5 dengan lancar.

Saya pun bengong kagum. Luar biasa. Berarti apa yang saya jalani ini biasa bagi mereka, tidak ada apa-apanya. Saya merasa terpecut semangat kembali. Kata para pendaki lainnya, jalur Pos 5 ke Puncak sudah tidak banyak mendaki. Kami temukan juga ada petilasan di dekat Sendang Drajad, salah satu tempat yang dianggap keramat. Di dekat situ pun ada warung juga. Kami tidak perlu khawatir dengan urusan perut selepas kami nanti turun dari puncak.

Selanjutnya kami segera bergegas sementara di atas angin semakin kencang dan hujan mengguyur lebat. Saya melangkah sambil bermonolog. Ada dua alasan yang menguatkan saya dalam menempuh perjalanan ini.  Sekitar tiga puluh tahun lalu, ayah dan ibu saya pernah lewat jalur ini, menuju Hargo Dumilah. Saya tahu saya akan kuat juga untuk bisa seperti mereka. Itu alasan pertama yang menjadi inspirasi saya. Saya membayangkan mereka sewaktu muda menempuh apa yang saya tempuh sekarang. Seberat-beratnya medan yang ada, semua bisa dilewati. Alasan kedua yang menguatkan saya, di perjalanan menuju Puncak Lawu ini, saya seperti melihat murid-murid sewaktu di Majene menyemangati saya. Teringat ketika kami pergi ke Gunung Tibung yang menjadi batas Kabupaten Majene dan Polewali Mandar, saya sudah capek luar biasa namun tidak demikian dengan murid-murid. Ingatan saya kembali ke dua tahun lalu. “Ibu Luluk capek ? Mau istirahat, Bu ? “ tanya mereka sambil lihat saya yang sedang mengatur nafas. Saya tersenyum sendiri. Dua alasan yang menguatkan, membuat saya terus melaju.

Puncak Pertama

Kami sampai di dua persimpangan. Ternyata ada jalan pintas menuju Hargo Dumilah dengan jarak tempuh lebih sebentar dan tidak perlu melewati Hargo Dalem. Namun memang  medannya menanjak lagi. Kami memutuskan untuk lewat situ. Kata orang cukup dengan 10 menit saja. Sedikit lagi sampai puncak, tekad saya dalam hati.

Masya Allah, Allahu akbar! Pelan-pelan, seperti hitung mundur, akhirnya saya sampai di tempat tujuan. Di ketinggian 3265 mdpl, tugu Hargo Dumilah berdiri gagah. Saya lepaskan jas hujan dan saya rasakan angin kencang di Puncak Lawu. Saya terduduk dan meraba tanahnya. Saya tidak bisa lihat pemandangan di bawah kecuali kabut. Saya tidak bisa merasakan apapun kecuali hawa dingin menusuk persendian. Air mata saya menetes, bercampur dengan air hujan. Suatu perasaan yang sulit saya deskripsikan. Lawu terasa sangat spesial dengan segala ceritanya. Dia puncak pertama saya. Selalu ada kesan untuk cinta pertama.

Perjalanan Pulang

Tidak lama kami ada di Hargo Dumilah karena kami mau sarapan dulu sebelum kembali ke Pos 3. Tentu saja sarapan pecel di ketinggian lebih dari 3000 mdpl dan setelah mencapai puncak menjadi sensasi tersendiri. Setelah makan, kami bergegas turun menuju Pos 3 untuk menghampiri Chorni dan kembali membereskan segala sesuatunya untuk bersiap turun kembali ke basecamp Cemorosewu.

Sekitar pukul  11.30 kami meninggalkan Pos 3. Sepanjang jalan turun, saya bertemu dengan banyak orang yang mau mendaki. Lawu memang benar-benar menjadi salah satu tujuan favorit. Meskipun hujan deras dan tidak berhenti sejak kemarin, jalur pendakian tidak pernah sepi. Kami menempuh perjalanan turun dengan waktu kurang lebih 3 jam.

Akhirnya perjalanan ini terselesaikan. Perjalanan bersama yang pastinya punya makna berbeda bagi tiap pendakinya. Salut untuk teman saya, Masdan yang merampungkan Triple Summit (Merbabu, Merapi, Lawu) dalam waktu 3 hari berturut-turut tanpa jeda. Sesungguhnya saya semakin yakin bahwa jika kita berkeinginan kuat, kita pasti bisa untuk mendapatkannya, termasuk mendapatkan puncak yang kita tuju.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih untuk Masdan, Oki, Reza, Ichsan, Muji dan Chorni yang telah menemani dan membantu pendakian kali ini.

Terima kasih untuk orang tua dan murid-murid saya di Limboro, Majene yang menjadi inspirasi saya untuk melawan rasa capek dan putus asa

Terima kasih pada sahabat sejati yang selalu menemani pendakian kami ini, tiada lain dia adalah hujan yang tidak pernah berhenti

Terima kasih untuk Allah SWT yang mengizinkan saya untuk mengalami semua ini. Alhamdulillah, tidak kurang suatu apapun

Sampai ketemu di puncak-puncak selanjutnya

*Pagi ini di Madiun, tanggal 29 Desember 2014, saya bergegas ke kantor diantar oleh ayah saya dengan menggunakan motor. Di tengah perjalanan, dari kejauhan saya melihat Gunung Lawu menjulang kokoh. Ada kuncup puncak yang terlihat lebih tinggi di atasnya. Saya yakin itu Hargo Dumilah. Ada perasaan yang berbeda saat saya melihatnya. Saya tersenyum dan berkata dalam hati, saya pernah ada disana.

2014-12-29 08.39.52