Lima untuk Solitary Walks

Jika ada yang (masih) ingin saya lakukan ketika saya sudah beranjak umur, maka saya akan lantang menjawab “Solitary Walks”. Mengapa demikian ? Jawabannya sederhana. Karena Tuhan menciptakan dua kaki agar manusia berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Alasan yang memang dibuat-buat dan semua orang juga paham. Namun daripada tidur siang, lebih baik jalan-jalan. Setidaknya itu yang jadi motto saya.

Kebiasaan ‘ Solitary Walks’ ini karena saya dilahirkan dengan telapak kaki yang datar, tanpa lekukan, seperti orang kebanyakan. Konon katanya pertanda tukang jalan tak kenal lelah. Selain itu, saya merasa tertantang dengan kegemaran saya membaca peta dan arah . Padahal menurut buku ‘Why Men Don’t Listen and Why Women Can’t Read Maps ?’ , wanita lebih sulit membaca peta dan arah daripada pria. Silogisme yang bisa ditarik, Luluk  adalah pencilan dari premis tersebut atau Luluk bukan wanita {?).

Jadi, kenapa harus ‘solitary’ ? Sendirian banget nih, Luk ?. Bilang aja Jomblo, deritanya tiada akhir (kampret jadi curhat). Bukan berarti saya anti jalan bareng. Tentu saja, jalan bareng juga mengasyikkan. Dari segi keuangan juga bisa sharing cost dan ada yang bisa diminta bantuan untuk (ehm..) ambil foto gitu. Lumayan buat ganti profile picture di akun media sosial.

Jadi, saya punya lima urutan tersendiri terhadap cerita ‘Solitary Walks‘ versi saya. Inilah cuplikannya :

  1. Demi Tengkleng

Pernah dengar Tengkleng kan ? Yang jelas, itu bukan buah karena kalau buah, namanya Lengkeng. Bukan juga hewan, karena kalau hewan namanya Celeng. Menurut Wikipedia, Tengkleng adalah masakan sejenis sup dengan bahan utama daging/jeroan/tulang kambing yang berasal dari Solo. Mirip gulai tapi kuahnya lebih encer. Saat itu, saya sedang berada di Yogyakarta. Ketika berada di Stasiun Lempuyangan, ada jadwal KRD Prambanan Ekspres Jurusan Solo dengan tarif Rp 10.000. Tanpa pikir panjang, saya langsung membeli dan berangkat hari itu juga. Demi apa ? Demi Tengkleng !

Sesampainya di Stasiun Solo Balapan, sejujurnya saya tidak tahu harus kemana dan naik apa. Namun karena tingkat ke-sotoy-an saya di atas rata-rata, saya berlagak jadi penduduk lokal yang kalau ditanya “Becak, Mbak ?” langsung saya jawab “Mboten, Pak (Tidak, Pak – bahasa Jawa.red)” dan bergegas pergi. Padahal dalam hati ketar ketir juga tanpa tujuan.

Saya pun menaiki bus kota dan ikut kemana bus itu pergi hingga penumpangnya turun semua. “Mati gue, mau kemana lagi nih!” batin saya dalam hati. Saya lihat di penunjuk jalan ada arah bandara dan Kartosuro. Melihat itu, saya sadar sepertinya saya sudah menuju arah keluar kota Solo padahal harapan saya inginnya ke pusat kota saja. Tetiba saya lihat Bus Trans Solo ‘Spirit of Java’, saya pun langsung menaikinya dan bertanya” Lewat Alun-alun, Pak ?” Bapak sopir bilang “Iya, Mbak nya tinggal jalan sedikit saja”.

Akhirnya, saya pun sampai di area Alun-alun, dekat Kraton Surakarta. Dari situ, kaki saya melangkah ke Pasar Klewer lalu ke Galabo, tempat kuliner khas Solo. Namun,Galabo memang tidak seramai jika malam hari. Sepanjang saya jalan, pedagang Tengkleng berhamburan depan mata. Sebenarnya saya tidak tahu yang mana yang paling direkomendasikan karena bagi saya sulit membedakan mana makanan yang enak dan sangat enak. Saya pun mencoba Tengkleng Solo Bu Edi, yang letaknya persis depan Pasar Klewer. Tempatnya sangat sederhana. Belakangan saya tahu, ternyata Tengkleng Bu Edi adalah salah satu yang paling direkomendasikan oleh penikmat kuliner. Ibarat pencarian jodoh, akhirnya bertemu juga dengan apa yang dicari (ini bukan curhat)

  1. Hiruk Pikuk di Bangla Road

Pekerjaan paling enak di seluruh dunia adalah jalan-jalan, apalagi gratis. Kira-kira apakah pekerjaan tersebut ? jadilah pemandu wisata alias tour guide niscaya Anda akan merasakan kenikmatan tersebut. Bermodalkan ke-sotoy-an dan keinginan untuk bisa jalan-jalan gratis, saya pun menerima tantangan menjadi tour guide ke Phuket di negara Gajah Putih pertengahan 2011. Untungnya, perjalanan ini lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Saya pun masih bisa untuk memiliki ‘me time’ dengan melakukan ‘solitary walks’ ke Bangla Road, Pantai Patong, Jungceylon Mall dan sekitaran hostel tempat saya menginap.

Bangla Road sebenarnya adalah nama sebuah jalan yang dilalui kendaraan namun sekitar pukul 17.00 waktu setempat jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor. Kawasan ini pun berubah menjadi kawasan paling happening di area Patong. Sekadar info, keadaan Patong hampir mirip Kuta di Bali. Ramai dengan turis asing dan kehidupan malamnya.

Saya, seorang bocah culun berkerudung,  dengan cuek jalan kaki di sepanjang Bangla Road sambil melihat keadaan sekitar. Para ladyboy beraksi dengan kostumnya yang aduhai dan parasnya yang cantik. Dentuman musik dan kerlap kerlip lampu disko kanan kiri membuat bising. Banyak pedagang makanan ringan aneh di pinggir jalan. Iya, aneh. Cumi, ikan pari, jangkrik dan serangga yang entah apa namanya diperjualbelikan. Beberapa jajanan yang logis di pikiran saya adalah es krim, buah potong dan Mango Sticky Rice yang kalau diterjemahkan Nasi Ketan Mangga (?).

Saya pun mencari tempat yang nyaman dekat trotoar buat sekadar menghabiskan si ketan mangga itu. Rasanya masih bisa diterima lidah. Saya pun menikmatinya sambil melihat hiruk pikuk di depan mata. Di seberang saya ada Billboard Signs GO GO Bars bertuliskan Phuket’s Famous Suzy’s Wong Group dan di bawahnya ada pemuda-pemuda berkumpul dan tertawa dengan para ladyboy. Mereka terlihat menikmati sekali. Tidak jauh dari tempat saya nongkrong ada penjual kaos Thailand bertuliskan Patong Beach. Sepasang turis bule menghampirinya dan melakukan tawar menawar harga. Hingga akhirnya , bule itu membeli dua kaos. Pedagang itu sepertinya  senang karena dagangannya laku.

Esoknya, saya kembali melewati Bangla Road di siang hari. Keadaannya sangat berbeda ketika di waktu malam. Layaknya jalan biasa yang dilewati banyak kendaraan. Yang buka antara lain toko oleh-oleh dan ada pedagang buah potong, es krim dan Mango Sticky Rice. Sementara para ladyboy dan pekerja di bar mungkin masih beristirahat untuk jadwal kerjanya nanti malam guna menghidupkan Bangla Road sebagai Phuket Nightlife

  1. Sudut Kota Kenangan

Dan Bandung bagiku

Bukan Cuma urusan wilayah belaka

Lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan,

Yang bersamaku ketika sunyi (Dan Bandung, The Panas Dalam)

Kalau menurut Anies Baswedan, setiap sudut kota Jogja itu romantis, namun tidak demikian menurut Luluk Aulianisa. Salah ? Tentu tidak. Karena setiap orang pasti memiliki latar belakang tempat dimana ia tinggal dan tumbuh berkembang. Seiring berjalannya waktu, setiap tempat menjadi saksi suatu kejadian atau pengalaman yang membuat kita tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Bagi saya, Bandung adalah alasannya.

Banyak yang mengira saya orang Bandung yang berarti saya adalah orang Sunda. Padahal keluarga besar saya tidak ada yang di Bandung. Dari kecil, saya belum pernah merasakan berlebaran di Bandung. Saya tidak bisa bahasa Sunda halus dan sopan, malah lebih lancar Bahasa Sunda ala terminal. Dari SD sampai SMA, pelajaran Bahasa Sunda adalah pelajaran paling menakutkan setelah Matematika. Kesimpulannya, saya bukan orang Sunda namun saya ingin disebut sebagai orang Bandung.

Lantas, mengapa saya begitu mencintai Bandung ? Ya, itu tadi seperti kata The Panas Dalam. Melibatkan perasaan. Titik

Saat itu, saya melintas di Jembatan Pasupati, dibonceng Ibu saya naik motor dalam perjalanan menuju Sukajadi. Saya, saat itu adalah seorang mahasiswi yang kuliah di Depok dan sedang pulang ke rumah orangtuanya di Bandung. Saya pun berkata

Ma, makasih ya karena kita tinggal di Bandung, untung aja Papa kerjanya di Bandung, jadi aku dari kecil udah tinggal disini(oke, emang saat itu gue merasa sangat sentimentil. cih)

Solitary walks di Bandung adalah hal yang sering saya lakukan. Rutenya adalah ke tempat sekolah saya dulu. Mungkin teman sekolah saya tidak banyak yang tahu bahwa saya sering berkunjung ke TK, SD, SMP dan SMA dalam agenda solitary walks saya ini. Yang paling sering adalah melewati SMP di bilangan Jalan Sumatera. Saya berjalan dari mulai turun angkot Kalapa-Dago di Jl. Belitung, melewati Taman Lalu Lintas lalu belok ke Jalan Sumatera. Saya teringat dahulu saat masih berseragam putih biru, saya selalu lewat jalan ini dan lebih sering berlari-lari karena takut kesiangan. Atau saya teringat saat jam belajar habis, saya dulu suka numpang baca Majalah Bobo (tapi gak beli) di tukang majalah depan sekolah (iya, saat SMP saya masih suka baca Bobo, di saat teman-teman saya sudah baca Gadis atau Kawanku).

Saya pun berhenti sejenak sambil jajan lumpia basah atau milkshake Aa Dea yang sudah dikenal dari jaman masih sekolah di tahun 2004. Sekarang semuanya sudah berubah, lebih tertata dan rapi. Namun, saya masih suka melihat diri saya sendiri sedang berlari atau sekadar ketawa ketiwi dengan teman di depan sekolah. Ah, lucu sekali masa-masa itu!

  1. Korban Video Klip

Pernah lihat video klip Andra and The Backbone dengan judul ‘Hitamku’ ?

Saya ingat betul bahwasanya video klip ini muncul di media saat saya berkuliah di Depok sekitar tahun 2008. Dibintangi Donny Alamsyah, seorang aktor laga yang membintangi Film The Raid, dan berlatar belakang di Kawasan Kota Tua, Jakarta.

Ketika melihat latar belakang tempat video klip tersebut, saya langsung penasaran karena tempatnya yang oldies. Saat itu, memang saya belum pernah tahu dan belum pernah mengunjungi Kawasan Kota Tua. Berbekal pengetahuan yang kurang memadai tersebut, saya pun berkelana sendiri dari Stasiun UI menggunakan KRL Ekonomi Jabodetabek dengan harga Rp 2.000 saja. Ya, bagi saya saat itu, naik kereta Ekonomi AC  dengan harga Rp 6.000 sangat mahal untuk mahasiswa kere tapi (sok) gaya macam saya.

Dengan waktu tempuh 45 menit, saya pun tiba di Stasiun Jakarta Kota. Hawa Kota Tua sudah mulai terasa di stasiun yang terkenal juga dengan nama Stasiun Beos tersebut. Saya pun beranjak keluar. Saya lihat ada Museum Bank Mandiri dan di sebelahnya ada Museum Bank Indonesia. Saya pun kegirangan karena sepertinya tujuan saya sudah dekat. Saya pun kembali jalan. Banyak gedung tua yang saya temui. Sampai akhirnya, saya sampai di taman Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. ‘Oh, jadi ini Kawasan Kota Tua yang sering jadi tempat syuting itu..” batin saya. Tidak jauh dari saya ada pasangan yang sedang photo shoot dengan wedding costume. Propertinya pun ada mobil tua yang terkesan mewah. Jadi selain syuting video klip, tempat ini juga jadi syuting film atau foto pre-wedding.

Saya pun duduk di tengah taman sambil memperhatikan orang lalu lalang. Ada odong-odong dan banyak tukang makanan. Area taman tersebut memang dikelilingi oleh museum. Selain Museum Fatahillah, ada juga Museum Tektil dan Keramik serta Museum Wayang. Saya pun melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya menemukan lagi salah satu spot dimana Donny Alamsyah sedang berlari, yaitu di depan Gedung Kerta Niaga, gedung ini dahulu bekas perkantoran. Selain itu, ditemukan juga spot syuting lainnya yaitu di seberang Jembatan Kota Intan. Di dekat situ, saya temukan juga Hotel Batavia, yang berarsitektur kolonial, warisan pemerintahan Belanda.

Rasa penasaran saya pun terjawab. Akhirnya, saya menemukan tempat yang saya cari. Saya pun lebih gencar mencari info sejarah tentang Kawasan Kota Tua karena rasa penasaran saya yang lain adalah tentang peradaban kawasan tersebut di zaman kolonial. Sejak tahun 2008, bisa dibilang saya semakin sering mengunjungi Kota Tua dan merekomendasikan kepada teman-teman sebagai wisata rakyat murah meriah

1. Tidak Bertanya, Nemu di Jalan

Awal 2011, saya pergi mengunjungi Singapura untuk pertamakalinya dengan titel semi-backpacker. Mengapa begitu ? Karena dari total 4 hari, hanya 2 hari saya bersama dengan saudara. Dua hari tersisa saya pergi keliling kota dan kembali pulang ke Jakarta sendiri. Ragu ? Justru itu yang saya tunggu.

Saat saudara saya sudah pulang duluan, saya pun memulai petualangan ‘Solitary Walks’ ini. Dengan bermodalkan peta dan EZ Link pinjaman, saya pun keluar hostel di pagi hari yang tidak jauh dari di MRT Bugis dengan penuh percaya diri. Sebenarnya, saya lebih menyukai ke tempat wisata sejarah daripada wisata belanja. Hari sebelumnya, saya sudah mengunjungi Orchard, Suntec City Mall dengan Dancing Fountain, Botanical Garden dan Sentosa Island.  Tujuan solitary walks saya kali ini adalah ingin melihat Singapura dari sisi lain dan tentunya low budget trip.

Tujuan pertama, saya mengunjungi  Sultan Mosque dan Malay Heritage Centre di Kampung Arab (Arab Street/Kampong Glam) yang kebetulan paling dekat dengan hostel saya. Tentunya sambil icip-icip Roti Prata dan Teh Tarik. Saya pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan MRT. Saya turun di MRT City Hall. Saya sengaja jalan untuk merekam keadaan sekitar. Ya, saya menyusuri Boat Quay, Raffless Landing Site, dan Asian Civilization Museum. Saya melihat lanskap Singapura tempo dulu, saat negeri ini dibangun. Saya pun melanjutkan perjalanan menuju Merlion Park. Di seberang saya melihat Marina Bay Sands, Esplanade dan Singapore Flyer.

Setelah itu, saya mengunjungi Esplanade dan melihat pertunjukan tarian yang kebetulan sedang tampil saat itu. Matahari semakin naik, saya juga menyempatkan diri minum Es Kachang di Makan Sutra Hawker Centre dengan pemandangan Central Business District nya Singapura.

Selanjutnya, saya kembali naik MRT menuju China Town. Semarak merah muncul saat saya tiba di kawasan ini. Tempat yang saya kunjungi disini yaitu Kuil Thian Hock Keng, Sri Mariamman Temple dan tentunya Food Centre di sepanjang area tersebut. Untuk menambah energi, saya beli Thai Coconut yang sebenarnya dalam bahasa Indonesia adalah Es Kelapa Muda. Percaya sama saya, paling enak Es Kelamud di negeri sendiri daripada di negeri orang lain!

Saat itu sore hari, saya menunaikan shalat Ashar di mesjid yang (akhirnya) saya temukan dekat China Town. Sebetulnya saya sudah sangat capek dan haus. Persediaan air sudah menipis. Beli minum 1 botol Aqua 600 ml di 7Eleven seharga Rp 8.000-an jika di kurs rupiah (Tahun 2011). Sungguh menyiksa bagi orang model jet pump (baca : senang minum air putih) macam saya.

Saya pun bergegas ke Mustafa Centre karena menurut saya di tempat inilah tempat beli minum yang paling murah. Selain itu, bagi para penggemar coklat Hershey’s, saya pun lebih merekomendasikan beli disini daripada di tempat lain karena jatuhnya lebih terjangkau. Hari sudah mulai gelap. Rasa lapar melanda. Karena saya sudah niat mau irit, saya bawa kering tempe dan abon di tas. Saya pun hanya beli nasi seharga 1 SGD di Restoran India. Tadinya tidak boleh, namun saya tawar dengan sok bicara Singlish.” Please laaa..Only rice..white rice, please “ Mungkin kata si India “ Dasar Melayu kere, masak cuma beli nasi putih doang “ Saya pun segera mencari spot dekat Mustafa Centre dimana saya bisa membuka kering tempe dan abon simpanan. He he he…

Selesai makan, saya bengong sesaat. Mengingat hari ini sudah kemana saja. Ternyata saya sudah keliling jauh juga. Saya menyadari bahwa ternyata kaki saya agak sakit. Tapi karena saya tipikal orang yang gak mau rugi waktu dan tempat dan mencoba untuk bisa mengandalkan diri sendiri. Saya pun kembali berjalan dengan tujuan….kemana aja boleeehh

Tetiba saja saya mendapat ide untuk nongkrong di Clarke Quay. Tapi tentu saja saya tidak nongkrong di kafe atau pub nya karena mahal. Saya hanya duduk di pinggiran sambil melihat atraksi orang yang teriak-teriak karena naik Gmax, reverse bungy yang katanya memacu adrenalin.

Akhirnya saya berniat pulang ke hostel. Saya pun naik MRT. Saat di MRT, saya merasa agak janggal karena rute yang saya ambil seharusnya bukan demikian. Saya lihat yang terdekat bisa menuju Little India. Sebetulnya ini sudah dekat dengan Mustafa Centre yang sebelumnya sudah saya datangi. Saya juga bingung kenapa saya pilih turun di Little India padahal kaki sudah gempor setengah mati. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Saya seperti tidak tahu arah dan tidak bisa mikir karena capek. Sesaat ketika saya keluar MRT Little India, saya lihat ada semacam pawai di sepanjang Serangoon Road. Saya jadi kembali semangat. Saya juga sempat mengunjungi Sri Veeramakaliamman Temple, Tekka Market dan mampir shalat di Mesjid Abdool Gafoor. Setelah itu, saya pulang menuju hostel dengan menggunakan bus.

Perjalanan kali ini sungguh puas dan menyenangkan karena saya menemukan banyak hal. Adakalanya saya tersesat, namun justru itu membawa saya untuk menemukan hal yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Menurut saya, itulah esensi perjalanan yang sesungguhnya. Yang menarik, dalam sehari itu, saya pergi ke tempat yang berbeda. Multi etnis dan kepercayaan. Bahagianya, saya masih bisa menemukan tempat dimana saya bisa menunaikan shalat dan tempat dimana saya masih (Insya Allah) bisa makan halal yang enak.

*****

Sungguh menyenangkan jika kita masih diberikan kesehatan dan rezeki untuk berjalan-jalan dan melihat dunia. Jalan sendiri dan bersama-sama tentunya ada kekurangan dan kelebihannya. Tapi bagi yang belum pernah “Solitary Walks”, silakan mencoba sewaktu-waktu. Siapa tahu cocok dan ketagihan! (LA)

I get pleasure from my solitary walks