Sebuah Catatan Sejarah dari Sudut Rumah Petak Sederhana

Alkisah terdapat diskusi maha penting dalam sebuah rumah di tengah perkampungan padat Gang Peneleh di Surabaya. Diskusi yang terus mengalir layaknya debit air Sungai Kalimas yang membelah Kota Pahlawan. Begini diskusinya,

“Berapa banyak yang diambil Pemerintah Hindia Belanda dari negeri ini ?”  tanya Soekarno

Tjokroaminoto, induk semangnya menjawab, “VOC mencuri 1,800 Gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag “

Alimin menambahkan, “Petani kita yang memeras keringat harus menahan lapar hanya dengan dua setengah sen per hari”

Kemudian dilanjutkan oleh Musso, “Kita menjadi bangsa kuli diantara bangsa-bangsa“

Tjokro kembali menanggapi, “Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi kepada pemerintah “

 

Itulah salah satu diskusi yang menempa pemuda kala itu seperti dikisahkan Soekarno kepada Cindy Adams, kemudian dimuat dalam Buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ . Di meja makan rumah Gang Peneleh VII No.29-31, terdapat kediaman HOS Tjokroaminoto yang dijadikan tempat indekos para pemuda. Tjokro menularkan ilmu pergerakan modern kepada murid-muridnya. Seperti pesan darinya yang tersohor, ‘Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator’ Di rumah indekos itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya para tokoh pergerakan. Tjokro beserta sang istri, Suharsikin, menampung sekitar tiga puluh pemuda Indonesia dengan biaya ringan di rumahnya. Salah satunya adalah Soekarno yang bersekolah di Hogere Burger School (HBS) Regenstraat, Surabaya. HBS adalah sekolah lanjutan menengah untuk orang Belanda, Eropa dan elite pribumi. Kini HBS difungsikan sebagai Kantor Pos Kebon Rojo, yang berlokasi sekitar tiga ratus meter dari rumah Tjokroaminoto di Peneleh.

20171230_175403
Rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII No.29-31, Surabaya

 

Tak sulit bagi Soekarno, Musso, Alimin dan Kartosoewiryo mencari jawaban atas pertanyaan yang mengusik pikiran dan jiwa mereka akan bangsa ini. Berbagai macam perspektif mereka dapatkan dari Tjokroaminoto yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Sarekat Islam, organisasi terbesar di nusantara kala itu. Rumah Tjokroaminoto tidak pernah sepi dari tamu tokoh pergerakan dan agama.

Di rumah Tjokroaminoto itulah, Musso bertemu dengan Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet yang memiliki kegemaran akan ide sosial demokrat revolusioner. Sejak 1913, Sneevliet datang ke Indonesia dan menetap di Surabaya selama dua bulan. Dalam kurun waktu tersebut, Sneevliet sempat menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Handelsblad dan ia kerap berdiskusi di Gang Peneleh VII bersama murid-murid Tjokroaminoto, terutama dengan Musso.

Adapun para pembaru Islam seperti Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, acapkali pula datang bertamu ke rumah Tjokro. Melalui forum dakwah Ta’mirul Ghofilin yang keberadaannya dibantu oleh Mas Mansyur, Tjokro mengundang Ahmad Dahlan untuk berceramah di rumahnya.

20181104_111858[1]
Sudut Ruang Tamu di Rumah HOS Tjokroaminoto. Dari sinilah diskusi hangat tentang rupa-rupa ide kebangsaan mengalir dari berbagai sudut pandang
Setelah istrinya meninggal pada 1921, Tjokroaminoto pindah kediaman ke Kampung Plampitan yang tidak begitu jauh lokasinya dari Gang Peneleh VII. Di Plampitan pun nyatanya ia tidak bertahan lama. Lima tahun berselang, Tjokro dan keluarga berpindah ke Grobogan , Jawa Tengah. Hingga akhirnya Tjokroaminoto tutup usia kemudian dimakamkan di Yogyakarta. Rumah Tjokro di Gang Peneleh VII sempat ditempati oleh Walikota Surabaya R. Soekotjo dan Soenarjo. Kemudian pada 1996, Walikota Surabaya menetapkan rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya.

20181104_113442[1]
Rumah HOS Tjokroaminoto difungsikan sebagai Museum dalam Rangkaian Surabaya Heritage Walk oleh Pemerintah Kota Surabaya
Haji Oemar Said Tjokroaminoto adalah guru para aktivis pergerakan yang kelak menjadi pemimpin di alirannya masing-masing seperti yang disebutkan sebelumnya. Layaknya hubungan guru dan muridnya, mereka memang dekat. Akan tetapi, jika kita benar-benar menyimak kisah Soekarno, Musso, Alimin, Kartosoewiryo dan aktivis lainnya bahwasanya mereka menemukan pemikirannya dalam perjalanan hidup masing-masing.  Masa bersama Tjokroaminoto hanyalah bagian kecil saja dalam hidup mereka namun bisa jadi bagian kecil itu telah menjadi salah satu fondasi pemikiran yang mereka bawa sepanjang hidup. ‘Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murninya tauhid dan sepintar-pintarnya siasat’ menjadi wejangan tak lekang oleh waktu dari Tjokroaminoto kepada murid-muridnya.

20181104_111957[1]
Para Anak Kos di Gang Peneleh diantaranya Soekarno, Musso, Alimin, Semaun, Darsono dan Kartosoewiryo
Sejarah pun bercerita kembali bahwa Soekarno, Musso, Alimin dan Kartosoewiryo berpisah jalan dengan Tjokroaminoto. Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Musso dan Alimin menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia sedangkan Kartosoewiryo memilih bergerak melalui Darul Islam.

Para anak muda kala itu mendapatkan sosok panutan cerdas nan kharismatik dari seorang Tjokroaminoto. Tidak dapat disangkal, munculnya tokoh progresif dan ideologis negeri ini berawal dari diskusi di tiap sudut ruang dalam rumah petak sederhana milik sang Bapak Guru Bangsa.

IMG_20181105_204244_158-01[1]
JASMERAH! ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!’

Referensi :

 

Kunjungan ke Museum Rumah HOS Tjokroaminoto,  Gang Peneleh VII No.29-31, Surabaya tanggal 4 November 2018

Seri Buku Saku Tempo ; Bapak Bangsa, Tjokroaminoto, Guru Para Pendiri Bangsa. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2017

Seri Buku Tempo ; Bapak Bangsa, Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2015

Seri Buku Tempo ; Orang Kiri Indonesia,  Musso, Si Merah di Simpang Republik. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2015

Pisang Goreng Ter-enak Sedunia dan Tukang Kredit Panci Nyasar

Ini catatan perjalanan saya di tahun 2013. Lima tahun lalu.

Saya butuh pergi. Bukan hanya keinginan tapi sudah menjelma jadi kebutuhan. Saya butuh bertemu dengan orang-orang yang saya tidak kenal sebelumnya. Ke tempat yang belum pernah saya datangi dan membicarakan tentang suatu hal yang baru. Bersiap untuk apa yang sedang dan akan terjadi selanjutnya. Dan saya bersyukur bahwa ternyata saya bisa melakukannya.

Tidak berjodoh itu sederhana. Sesederhana saya berlarian mengejar Matarmaja dari Cikini dengan ojek. Hampir menerobos lampu merah yang durasinya lama, semakin mendramatisasi keadaan. Saya pun terengah-engah di depan Pintu Masuk Jalur Utara Stasiun Pasar Senen dan sesaat pesan masuk di whatsapp bahwa apa yang dikejar sudah berangkat. Baiklah.

Saya bersama Widy, Yora, Rifa dan Anis pun segera mengambil langkah selanjutnya yaitu menuju Terminal Pulogadung. Mencoba mencari peruntungan memakai bus. Sesampainya disana, hal yang selalu menyebalkan bagi saya terjadi. Ya, saya paling tidak suka dengan kelakuan para calo dan banyaknya orang di terminal yang biasa tanya-tanya dan menggiring untuk membeli tiket. Abaikan!

Kami pun menuju loket bus Jurusan Malang via Surabaya. Nama busnya Handoyo dengan tarif Rp 235.000 yang katanya bus eksekutif, dapat makan, selimut dan bantal seperti biasanya. Nyatanya setelah busnya datang dan kami sudah bayar, busnya tidak jauh berbeda dengan Bus MGI Bandung-Depok yang sering saya tumpangi. Tiga jam perjalanan ke Bandung disetarakan dengan delapan belas jam perjalanan ke Surabaya. Rasanya saya kesal bukan main namun inilah bumbu perjalanan. Nikmati saja. Apalagi setelah mendengar bahwa ada penumpang di belakang saya yang diminta membayar Rp 325.000 untuk tujuan yang sama. Sepertinya saya harus lebih bersyukur.

Perjalanan melintasi Pantai Utara Jawa ini dimulai pukul 21.00. Setiap kali melewati Pantura, saya selalu teringat dengan De Grote Postweg (Jalan Raya Pos) yang dicanangkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, H.W Daendels (1808-1811). Jalan yang membujur dari Anyer di barat dan Panarukan di ujung timur Pulau Jawa seolah menjadi saksi simpul sejarah bagaimana sang tangan besi pernah berkuasa di Indonesia.

Sopir bus malam arah Pantura hampir pasti memiliki keahlian yang sama. Dalam remangnya jalan di malam hari dan lintasan yang kadang lurus, kadang berkelok, mereka (hampir) selalu bisa menyamai rekor pembalap F1. Membuat penumpang tidak bisa tidur dan malah duduk tegang. Lintasan semakin menantang saat melewati Alas Roban di Jawa Tengah yang terkenal dengan curamnya. Bagi yang sudah biasa, tentunya akan tertidur pulas tanpa terganggu.

Kota demi kota kami lalui. Semarang, Demak, Pati, Rembang dan akhirnya kami sampai di Tuban, lewat sudah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Waktu menunjukkan pukul 10.00 lewat dan itu berarti sudah setengah hari lebih kami menempuh perjalanan ini. Badan sudah terasa pegal namun rasa itu kalah dengan antusiasme kami yang sebentar lagi akan sampai Surabaya. Terik siang itu menyambut kami di Terminal Bungurasih. Kami pun berganti bus dan dalam waktu tempuh 2 jam saja, kami tiba di Terminal Arjosari, Malang.

Malang menyambut kami dengan sejuknya udara saat itu. Kami pun bergegas menuju basecamp kenalan kami di Universitas Negeri Malang (UM) untuk beristirahat sejenak karena tepat pukul 00.00 dini hari, sudah ada jeep yang akan mengantar kita menuju Bromo. Kami juga bertemu dengan teman-teman seperjalanan yang sudah sampai lebih dahulu, mereka yang berjodoh dengan Matarmaja. Tidak masalah! Kami bersyukur karena rombongan kami, dari Jakarta, sudah lengkap dan selamat sampai  Malang.

Pak Sutikno, itu nama pengemudi jeep yang akan mengantar kami dari Malang menuju Bromo. Rute yang dilewati adalah Tumpang, Gubuk Klakah, Ngadas hingga Cemorolawang. Waktu tempuh Malang-Cemorolawang adalah 3 jam. Saya pun turun, merasakan dinginnya Bromo dan riuhnya para wisatawan serta penduduk yang ada disana. Suasana masih gelap, belum terlihat sesuatu yang berarti. Ini akan jadi kejutan. Kami pun memulai jalan kaki untuk bisa sampai ke Penanjakan, melihat matahari terbit. Sesampainya di Penanjakan, terlihat sudah lumayan banyak orang. Begitupun dengan pedagang yang menjajakan kopi, pop mie dan pisang goreng. Sambil menunggu matahari terbit, kami pun shalat subuh dan membeli pisang goreng serta kopi. Pisang goreng itu baru diangkat dari penggorengan dengan banyaknya minyak. Namun rasa dingin Bromo mengalahkan panasnya pisang goreng. Entah mengapa saat itu rasa pisang goreng menjadi berkali-kali lipat lebih lezat. Lebih nendang! Saya nobatkan pisang goreng ini adalah pisang goreng terenak se-dunia yang saya nikmati dengan keindahan matahari terbit dari Bromo. Semburat jingga pun muncul dan tirai alam ini seperti terbuka. Puncak Mahameru malu-malu terlihat. Kawah  Bromo diselimuti kabut,begitupun Gunung Batok. Lautan pasir terhampar luas. Pemandangan ini mengalahkan udara dingin yang sedari tadi menusuk. Dingin itu rasa, kalah oleh kesempurnaan alam di depan mata saya.

IMG_2212
Ini pertemuan pertama saya secara langsung_meskipun dari jauh_dengan Mahameru, tahun 2013
20130311_070840
Ilusi Foto

Mobil Four Wheel Drive yang dikendarai Pak Sutikno membawa kami ke kawah Bromo, bukit pasir dan bukit berbentuk gundukan yang lazim dikenal sebagai Bukit Teletubbies. Saya pun berbaring malas di atas hamparan pasir tersebut layaknya tempat tidur pribadi. Suasana sekeliling sepi, hanya ada derai tawa dari teman –teman seperjalanan saya. Saya terdiam, mencoba hening. Meresapi keindahan sekitar. Jeep pun melaju perlahan meninggalkan tempat yang saya sebut surga. Perjalanan ini belum selesai dan akan dimulai lagi. Ya, sekitar jam 10.00, sampailah kami di Malang dan jam 11.30 kembali berangkat menuju surga kedua dalam perjalanan ini.

 

Angkot carteran mengantar kami menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam menuju Pantai Sendang Biru. Melalui Sendang Biru lah kami akan menyebrang ke Pulau Sempu, sebuah wilayah konservasi alam yang di dalamnya ada Danau Segara Anakan dan memiliki luas 877 Ha. Kami berlayar menggunakan kapal seharga Rp 100.000 PP dimana kami akan dijemput keesokan harinya. Waktu tempuh dari dermaga hingga pulau adalah 15 menit. Kami berangkat pukul 15.00 dan memang berencana mendirikan tenda di Sempu. Sesampainya di bibir Pulau Sempu, kami memulai trekking dengan bantuan salah satu teman kami di Universitas Negeri Malang (UM) yaitu Evan.

Trek yang kami lewati untuk menuju Danau Segara Anakan berupa tanjakan dan turunan. Permukaannya licin dan penuh lumpur. Kami kesana bertepatan dengan musim hujan yang membuat lumpur semakin merajalela. Namun, disitulah seninya. Sedari awal di Sendang Biru, kami memang menyewa sepatu khusus trekking anti licin seharga Rp 10.000. Berhubung di Sempu juga tidak ada air tawar, kami membawa 2 dus air mineral 1,5 liter. Berat? Tentu saja. Maka dari itu kami menyewa porter seharga Rp 150.000 untuk membawa carrier berukuran 85 liter yang berisikan hampir 1 dus botol air 1, 5 liter. Oke, untuk bagian yang ini memang agak tidak berperikemanusiaan nampaknya. Carrier itu sangat berat sekali dan sang porter pun sudah jelas-jelas menyatakannya. Mungkin dalam hatinya bilang “ Gila ini orang, gak tau diri banget nyuruh gue bawa air berat begini “ Sadis memang dipikir-pikir. Jujur, kami merasa bersalah. Padahal masing-masing dari kami sudah membawa 1 botol air, bahkan ada yang membawa 2 botol. Namun hebatnya sang porter berjalan duluan dan kembali pun duluan. Luar biasa kekuatan manusia yang satu ini! Saking hebatnya, panci beserta tutupnya yang kami simpan dalam carrier itu sebagai peralatan masak di Sempu nanti bentuknya terkoyak, entah bagaimana bisa.

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam dan jatuh bangun karena lumpur, keahlian saya pun bertambah yaitu bergelantungan dari ranting ke ranting. Dari tepian, saya melihat bayangan hijau toska. Terdengar pula suara ombak menghempas karang. Saya menghela nafas menahan penasaran apa yang akan saya lihat sebentar lagi. Kaki saya pun terhenti, sampailah saya di Danau Segara Anakan.

Rasa lelah terbayar sudah dengan pemandangan menakjubkan depan mata.Kaki menapak di pasir halus, degradasi warna air dari hijau toska ke biru, tebing serta laguna yang melingkupi danau dan karang yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Saya tidak peduli, langsung berjalan mendekati danau. Saya merasa seperti Tom Hanks dalam film Cast Away.

IMG_2611
Semacam ‘Lost Island’

Kami pun mendirikan tenda dan memasak air persiapan makan malam. Yang mendirikan tenda tidak hanya kami melainkan juga ada beberapa tenda lainnya. Setelah memakan bekal yang kami bawa, kami pun membuat api sambil menghangatkan diri dan bercerita. Evan banyak bercerita tentang Sempu dimana dulu Sempu sekarang berbeda dengan Sempu yang dulu. Publikasi keindahan Sempu dan Segara Anakan sudah tersohor sehingga menimbulkan dua sisi mata uang. Satu sisi Sempu jadi tidak seindah dulu, bahkan Evan berkata dulu masih terlihat banyak biota laut di danau. Jalan menuju Sempu pun tidak seperti sekarang yang bahkan lebih parah jika hujan turun. Dahulu jalanannya masih berupa rumput. Keanekaragaman hayati dan hewani pun masih terpelihara dengan baik, ada jenis macan kumbang, monyet serta burung. Namun, jika kita jeli, bukankah taraf hidup masyarakat di sekitarnya meningkat seiring dengan potensi pariwisata? Geliat perekonomian masyarakat di Sendang Biru yang dominan berprofesi sebagai nelayan menjadi semakin maju. Lagi, kenyataan ironi. Ada gula, ada semut. Siapa yang mau kehilangan kesempatan untuk bisa menambah kesejahteraan dari peluang ekonomi yang timbul ? Meskipun ada eksternalitas negatif yang bisa merusak lingkungan. Tentunya peran dari pemerintah setempat sangatlah diperlukan untuk mengatur semua ini.

Pembicaraan pun semakin meluas dengan cerita tentang karakteristik orang dari golongan darah, tempat wisata lainnya di Indonesia dan cerita ngalor ngidul lainnya. Sambil mendengarkan teman-teman dengan serunya bercerita, saya berbaring telentang menatap langit. Saya melihat banyak gugusan bintang. Gemerlap bintang berpadu dengan angin malam serta suara ombak laut selatan menghempas karang. Saya merasa seperti ada dalam planetarium raksasa namun untuk yang ini Tuhan lah yang langsung melukisnya. Pemandangan seperti ini pula mengingatkan saya di lapangan luas depan rumah selama saya tinggal setahun di Desa Limboro, Majene, Sulawesi Barat. Dimana di  atas langitnya sering saya jumpai gugusan bintang dan saya menikmatinya bersama murid-murid saya. Akankah saat ini saya sedang menatap bintang yang sama dengan mereka ? Saya larut dalam pikiran seraya perlahan memejamkan mata. Sesekali saya kembali mengosongkan pikiran, asyik dengan diri sendiri. Tidak ingin berpikir apapun. Hanya ingin membawa kebahagiaan ini meresap ke hati saya. Malam itu menjadi malam dimana saya bisa tidur ternyenyak selama perjalanan ini.

Saya terbangun di atas alas dalam tenda yang basah. Ternyata semalam hujan cukup deras. Saya hanya bermodalkan kantong tidur untuk membungkus diri. Setelah sarapan, beres-beres dan mengumpulkan sampah, kami mengabadikan lagi keindahan semua ini dalam kamera. Setelah itu, jam 7 lewat kami mulai perjalanan lagi untuk segera kembali ke Sendang Biru. Menurut saya, perjalanan pulang sedikit lebih menantang dibanding saat datang karena pengaruh hujan tadi malam membuat jalanan berkali-kali lipat lumpurnya.  Untungnya, bawaan kami jadi lebih sedikit tapi kami tetap harus bertanggung jawab dengan sampah yang kami hasilkan. Sampah yang kami kumpulkan dalam kantong plastik transparan besar itu harus kami bawa lagi hingga Sendang Biru.

Sepanjang perjalanan kami tertawa-tawa, beberapa diantara kami ada yang terpeleset dan sepatunya tenggelam dalam lumpur. Bentuk kami sudah tidak karuan. Kotor dimana-mana. Salah satu teman bernama Anis dengan tampilannya yang mendukung dikenai tugas membawa kantong plastik sampah. Melihat itu kami tertawa. Apalagi saat Anis membawa panci yang sudah terkoyak dan menawarkan pada pengunjung yang baru akan menuju Danau Segara Anakan, gayanya sudah mirip tukang kredit panci yang nyasar di tengah hutan. Pengunjung yang baru datang itu seperti terheran melihat tampilan kami yang kotor penuh lumpur dari atas sampai bawah. Hmmm…belum tahu aja mereka, ujar saya dalam hati sambil tertawa geli.

Akhirnya, kami sampai di tepian Sempu dalam waktu tempuh yang konsisten saat kami datang yaitu 2 jam. Hal ini juga tidak terlepas dari bantuan Evan yang memandu kami. Seringkali saya dengar cerita bahwa ada saja yang berjalan hingga 5 jam untuk sampai ke danau. Selanjutnya kami menunggu kapal untuk pulang ke Sendang Biru. Sampai di Sendang Biru, angkot yang akan membawa kami ke Malang juga sudah menunggu. Es degan yang dingin menutup cerita kami di Sempu yang setelahnya angkot yang kami naiki perlahan menjauhi Sendang Biru menuju Malang.

IMG_2575
Posisi Terbang
20130312_080453
The Squad!

Perjalanan ini pun hampir sampai di ujungnya. Sesampainya di Malang, kami bergegas untuk kembali berangkat lagi menuju Stasiun Malang Kota Lama. Mengejar Matarmaja keberangkatan ke Pasar Senen pukul 14.57. Untuk kali ini, saya ingin berjodoh dengan Matarmaja. Keinginan saya pun terkabulkan, Cerita tertinggal kereta tidak berlaku saat itu, malah Matarmaja terlambat datang 1 jam. Kami beruntung telah memesan Matarmaja jauh-jauh hari dengan tarif Rp 51.000 karena sebenarnya mulai 1 Maret 2013, Matarmaja sudah tidak bertarif segitu melainkan sudah mencapai Rp 100.000an lebih, saya kurang tahu persisnya. Karena sekarang KA Ekonomi sudah ditambahkan AC. Jadi, kami menikmati Matarmaja seharga Rp 100.000an lebih dengan hanya Rp 51.000 saja. Pukul 16.00, Matarmaja perlahan meninggalkan Malang. Stasiun demi stasiun terlewati, Blitar, Kediri, Madiun, Solo, Semarang, Pekalongan, Tegal, Brebes, Cirebon dan sampailah kami di tujuan akhir, Stasiun Pasar Senen. Lantas, usai sudah perjalanan ini. Keinginan saya terkabul dan saya mau katakan bahwa jodoh itu juga sederhana. Sesederhana saya bisa sampai ke Bromo dan Sempu, sesuai dengan apa yang saya inginkan.

**Ditulis di Depok, pada suatu malam di tahun 2013

Menengok Lawu

Akhir pekan di penghujung Oktober 2015, saya berkesempatan mengunjungi basecamp pendakian Gunung Lawu yaitu Cemorosewu di Kabupaten Magetan, Jawa Timur dan Cemorokandang di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jarak keduanya hanya berkisar 200 meter dibatasi oleh gapura pembatas provinsi. Situasi disana termasuk sepi untuk ukuran akhir pekan, hanya ada beberapa petugas yang berjaga. Cuaca panas menyengat ubun-ubun. Papan larangan pendakian terpasang di pintu masuk basecamp. Warung makan dan penginapan di sekitarnya pun sepi pengunjung. Hanya ada orang lalu lalang sekadarnya.

Gunung Lawu yang berada di ketinggian 3,265 mdpl memang kerap menjadi sorotan beberapa waktu belakangan ini. Tentu masih cukup segar ingatan di kepala, delapan pendaki Lawu meninggal dunia di pertengahan Oktober 2015, lima diantaranya adalah warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Diduga penyebabnya adalah kebakaran hutan yang berasal dari api unggun yang belum sepenuhnya padam.

Basecamp Cemorosewu (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorosewu (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorokandang (Dok : Pribadi)

Belum cukup musibah itu terjadi, tepat minggu lalu di tanggal 25 Oktober 2015, kebakaran hutan yang awalnya terjadi cukup masif di jalur pendakian akhirnya menjalar turun hingga pemukiman warga di Dusun Cemorosewu, Desa Ngancar, Plaosan.  Jarak kobaran api ke rumah warga terdekat sekitar 10 meter. Kepulan asap pekat sempat terlihat membumbung tinggi diatas pemukiman warga. Kobaran api juga terlihat di lereng perbukitan Lawu bagian selatan dan Jalan Raya Sarangan-Karanganyar sehingga sontak menjadi perhatian warga dan pengendara yang melintas. Tindakan cepat segera dilakukan. Dua unit mobil pemadam kebakaran (PBK) dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Magetan dikerahkan untuk menjinakkan api. PBK juga dibantu dua unit mobil pemadam dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar. Penyemprotan dilakukan dari jarak sekitar 25 meter. Api berhasil dijinakkan setelah mengerahkan delapan unit mobil tanki air yang dipasok dari PDAM Lawu Tirta dan Tanggap Bencana (Tagana) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dengan adanya bencana tersebut, warga memilih untuk mengungsi ke rumah sanak saudara. Pihak Perhutani bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) melakukan evakuasi warga ke wilayah Desa Getasanyar dan Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan.

Api menjalar ke pemukiman warga di Cemorosewu (Dok : Akun Path Pipink Rivia)
Api menjalar ke pemukiman warga di Cemorosewu (Dok : Akun Path Pipink Rivia)

Bencana ini tidak hanya membuat manusia panik, habitat satwa di Gunung Lawu pun ikut turun gunung. Petugas Perhutani bersama komunitas Anak Gunung Lawu (AGL) berhasil mengevakuasi kera liar sewaktu menyisir titik api di perbatasan Cemorosewu dan Cemorokandang. Selain itu, ditemukan pula jejak macan Lawu yang tertinggal di sekitar petak 73, populasi babi hutan dan menjangan di hutan Gunung Lawu. Temuan hewan lainnya yaitu harimau kumbang juga sempat menggegerkan warga. Populasi Jalak Lawu juga mendapat perhatian khusus walaupun hingga saat ini belum ditemukan adanya Jalak Lawu yang terbakar ataupun mati. Diperkirakan burung yang dilindungi dan disakralkan warga setempat itu sudah bermigrasi ke hutan bagian utara.

Gunung Lawu bertipe stratovolcano dan berstatus gunung api ‘istirahat’. Menurut Wikipedia, Lawu diperkirakan terakhir meletus pada tanggal 28 November 1885. Fenomena kebakaran hutan yang terjadi tahun ini di Lawu dipercaya sebagai siklus ‘bersih-bersih’ 18 tahun. Kebakaran hebat di Lawu terjadi terakhir kali di tahun 1997 sebelum kembali lagi seperti pada tahun 2015 ini. Seperti yang dikutip di Radar Lawu, Kepala Resor Polisi Hutan Sarangan, Kholil menjelaskan bahwa daun cemara dan pinus, yang merupakan vegetasi di Lawu, terus berjatuhan dan mengering. Secara ilmiah, daun dua jenis pohon tersebut sulit hancur dalam jangka waktu 7-10 tahun dan tidak lantas menjadi kompos lalu bersatu dengan tanah meskipun sudah berguguran bertahun-tahun. Tumpukan daun kering tersebut mudah terbakar saat musim kemarau. Selain itu didukung pula dengan tiupan angin dan hawa panas sehingga membuat api cepat sekali menjalar. Kandungan minyak juga terdapat pada dedaunan pohon cemara dan pinus yang menjadi faktor pendukung api menyala bertambah ganas. Api merambat melalui celah-celah bebatuan yang banyak terdapat di selatan Gunung Lawu. Petugas pemadaman mengaku kesulitan untuk memadamkan api yang berada di celah bebatuan karena sulit terjangkau. Total luas hutan yang terbakar mencapai sekitar 160 Ha dari total 1,116 Ha.

 

Pucuk Gunung Lawu yang terlihat di Jalan Raya Sarangan-Plaosan, Magetan. Terlihat kepulan asap tipis yang tersamarkan oleh awan (Dok : Pribadi)
Pucuk Gunung Lawu yang terlihat di Jalan Raya Sarangan-Plaosan, Magetan. Terlihat kepulan asap tipis yang tersamarkan oleh awan (Dok : Pribadi)

Saat ini, sudah lebih dari dua minggu berlalu, tak ada lagi api besar berkobar di area Gunung Lawu seperti sebelumnya. Yang tertinggal sekarang hanya hamparan abu dan pohon cemara serta pinus kering. Kepulan asap memang masih terlihat tetapi dipastikan sudah tidak berbahaya. Namun, sisa kebakaran membuat dataran itu menjadi kawasan panas. Warga setempat mulai mengevakuasi pipa jaringan air bersih yang meleleh karena panas. Mereka juga membuat pipa darurat secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih menggantikan pipa yang meleleh. Pihak Perhutani, TNI, POLRI, warga dan relawan masih terus mengawasi pergerakan api yang mungkin terjadi.

Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)

 

Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorosewu (Dok : Pribadi)

 Bagi saya, Lawu adalah gunung spesial. Pendakian pertama saya di Pulau Jawa akhir tahun 2014 silam tentu meninggalkan kesan mendalam. Kondisi Lawu yang saya lihat sekarang ini sangat kontras dengan Lawu saat 27-28 Desember 2014. Pendakian saya kala itu ditemani hujan angin tiada henti. Kabut dan cuaca dingin yang menusuk menjadi kawan perjalanan. Hal itu sungguh menjadi pengalaman tak terlupakan. Alam memang memiliki cara sendiri untuk mendidik manusia. Jika nanti sudah tiba waktunya, G Baca lebih lanjut

Merindu Merbabu

Saat sepertiga malam yang cerah tanpa hujan, Kereta Api Malioboro Ekspres tujuan akhir Yogyakarta telah meninggalkan Stasiun Solo Balapan. Suasana kembali sepi dan hening. Saya berbaring di kursi peron, menunggu pagi sambil memejamkan mata. Menanti kawan seperjalanan dalam pendakian penuh kejutan. Sebut saja ia, Gunung Merbabu.

Gunung bertipe strato ini terletak di wilayah Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang dan Kota Salatiga di Jawa Tengah. Berasal dari kata ‘meru’ (gunung) dan ‘abu’ (abu) yang berada pada ketinggian 3,142 mdpl. Ada 4 jalur pendakian yang lazim dilewati yaitu Thekelan, Cunthel, Wekas dan Selo. Kali ini, saya beserta teman-teman akan mendaki lewat Selo di Kabupaten Boyolali yang terkenal dengan pemandangan Sabana yang luar biasa indahnya.

Di tengah perjalanan menuju basecamp Selo, saya dihadapkan pada dua gunung yang bersanding dengan serasi. Mereka adalah Merbabu di sisi kanan dan Merapi di sisi kiri.  Bagi saya, Merbabu dan Merapi itu saling melengkapi. Jika diibaratkan, Merapi adalah laki-laki yang berani dan gagah perkasa sedangkan Merbabu adalah perempuan anggun dan memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Mereka seperti sudah ditakdirkan untuk bersama.

**

Setelah berbelanja keperluan logistik pendakian di Pasar Cepogo, kami pun bergegas menuju basecamp Selo untuk kembali berkemas dan melakukan registrasi. Pendakian pun dimulai sekitar pukul 10.30 WIB ditemani cuaca cerah. Dari gapura bertuliskan ‘Jalur Pendakian Selo’, semuanya dimulai dengan melangkah.

Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1-Dok Malang menghabiskan waktu sekitar 1 jam dengan ritme jalan santai. Medannya masih bersahabat namun kabut tipis mulai menyelimuti. Vegetasi hutannya masih didominasi dengan pohon-pohon tinggi. Selanjutnya, Pos 1 menuju Pos 2-Pandean yang juga memakan waktu sekitar 1 jam. Ada beberapa titik yang konturnya sudah mulai menanjak daripada ketika menuju Pos 1. Saat perjalanan menuju Pos 3-Watutulis, kabut mulai tebal lalu turun hujan rintik. Ketika sampai di Watutulis, kami pun berteduh sebentar di bawah flysheet yang kami bentangkan sementara sambil menunggu hujan reda.

Saat pendakian saya menuju Gunung Lawu di akhir 2014 silam, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Cantigi, pohon kerdil yang melindungi pendaki gunung. Namun, keberadaannya kalah tersohor dari Edelweiss, sang bunga abadi. Daun Cantigi merah bersinar, cantik, dan merona ketika disinari matahari. Membuat siapapun pasti ingin mengabadikannya lewat lensa dan pandangannya. Saat perjalanan menuju Pos 3, mulai banyak Cantigi bertebaran. Kejutan pertama di Watutulis,  Cantigi tumbuh dilatarbelakangi Merapi yang nampak sangat dekat. Perpaduan yang elok. Kabut perlahan menghilang. Hujan sudah selesai rupanya. Kami harus melanjutkan perjalanan karena sebentar lagi akan sampai pada tahap yang sebenar-benarnya mendaki.

**

Perjalanan Pos 3 menuju Pos 4-Sabana 1 ditempuh dalam waktu sekitar 45- 60 menit dengan medan yang menguras tenaga. Berhubung hujan baru saja reda, tanah yang diinjak pun agak licin dan diperlukan kehati-hatian saat mencari pijakan. Kabut tipis muncul kembali dan menemani pendakian kami hingga sampai pada Sabana 1. Sesampainya di Sabana 1, kami pun mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam. Menu sop ayam, ayam kecap, tahu, tempe dan sambal yang disantap setelah mendaki menjadi menu paling nikmat sepanjang perjalanan ini.

Saat jam menunjukkan pukul 17.30, langit mulai berubah warna. Saya tertegun dan segera berlari ke suatu titik dimana saya melihat semburat jingga bermunculan, berpadu dengan gumpalan awan dan senja di ufuk barat, segaris dengan Puncak Merapi. Masya Allah! Lukisan Tuhan Maha Sempurna. Di tengah perpaduan warna di langit nan luas, sosok Merapi terhampar sangat jelas , tegak berdiri menghunjam bumi. Setelah momen matahari terbenam paling indah di Pantai Ndana, Rote Ndao yang sukses membuat saya menangis terharu selanjutnya ada momen matahari terbenam paling indah di Gunung Merbabu yang sukses membuat saya merasakan déjà vu dengan semua keindahan yang Tuhan ciptakan tanpa cela.

IMG_7285

Dini hari pukul 03.00, kami pun terbangun dari istirahat singkat namun berkualitas di Sabana 1. Kami akan lanjutkan perjalanan ini sampai puncak. Di tengah kegelapan, suasana begitu ramai dengan para pendaki lain yang akan melakukan hal yang sama. Setelah mengisi energi dengan mie instan, madu dan roti, kami segera melangkah menjauhi tenda menuju puncak.

Gunung Merbabu memiliki tujuh puncak yaitu Puncak 1-Watu Gubug, Puncak 2-Pemancar,Puncak 3-Geger Sapi, Puncak 4-Syarif, Puncak 5-Ondo Rante,Puncak 6-Kenteng Songo dan Puncak 7-Trianggulasi. Namun kami hanya akan mendatangi Puncak Kenteng Songo dan Puncak Trianggulasi sebagai puncak tertinggi Gunung Merbabu di ketinggian 3,142 mdpl.

Perjalanan dari Sabana 1 menuju Pos 5-Sabana 2 memakan waktu sekitar 60 menit dengan medan mendaki namun saat turun mendekati Sabana 2 ada jalan landai sebagai bonus. Selanjutnya dari Sabana 2 menuju Puncak Kenteng Songo memakan waktu sekitar 45-60 menit, medan terus menerus mendaki , hampir tidak ada jalan landai. Tanah pijakan cukup licin sehingga harus berhati-hati. Dibalik semua kesulitan itu, saat kepala menoleh ke belakang, kejutan muncul lagi. Lampu-lampu dari rumah penduduk di Kabupaten Boyolali sangat cantik dari kejauhan. Tanpa sadar, diri ini sudah berada di ketinggian lebih dari 3000 mdpl. Saat mendongakkan kepala ke atas, hati ini berdesir. Gugusan bintang menghiasi langit malam. Saya tercekat dan memandang ke arah yang sama untuk waktu yang lama.

Look at the stars, look how they shine for you

And everything you do, and they were all yellow

Your skin, oh yeah your skin and bones

Turn into something beautiful

Tonight, you know I love you so 

You know I love you so (Coldplay – Yellow)

**

Sayup-sayup suara muadzin terdengar mengagungkan asma-Nya, menyeru umat muslim menunaikan Shalat Subuh. Saat itu pula kaki ini sudah mencapai Puncak Kenteng Songo. Matahari mulai menampakkan wujudnya. Tirai alam ini tersibak perlahan. Benarkah ini yang ada di depan saya sekarang? Lagi-lagi ada dia, pasangan hidup Merbabu yang menjulang megah tanpa ampun. Pantas saja Merapi masih tetap berdiri tegak meskipun seringkali ia memuntahkan material vulkanik. Itu pasti karena Merapi jatuh cinta pada keindahan dan keanggunan Merbabu, sama seperti yang saya rasakan.

IMG_7408

Masih di Puncak Kenteng Songo, samudera awan meliputi hamparan langit. Cantigi dan Edelweiss bertebaran, berpadu dengan sabana yang rumputnya melambai tertiup angin. Dari kejauhan muncul puncak pertama saya dengan malu-malu di balik mentari, sebutlah ia Hargo Dumilah, ketinggian 3,265 mdpl di Gunung Lawu dengan bentuknya yang memanjang. Masya Allah! Saya pernah ada disana, ditemani sahabat paling setia selama pendakian bernama hujan dan saya tidak menyesal pernah melewatinya.

IMG_7413

Perjalanan dilanjutkan menuju Puncak Trianggulasi dengan jarak yang sudah tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan, dari samping terlihat Puncak Syarif dan Puncak Pemancar. Kejutan belum berakhir. Di Puncak Trianggulasi, terlihat dari kejauhan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang berdampingan. Lebih dekat lagi, ada Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Melihat semua ini, bagaimana mungkin para pendaki tidak menobatkan Merbabu sebagai salah satu gunung dengan pemandangan terindah di puncaknya ?

IMG_7526

Matahari mulai meninggi. Kami bergegas untuk turun kembali menuju Sabana 1. Seolah tidak rela dengan perpisahan ini, saya berjalan pelan, menikmati apa yang ada di hadapan saya. Hanya bisa berdecak kagum dan tersenyum. Memandang penuh arti. Rasanya damai sekali. Berat hati meninggalkannya, seolah tidak mau berpisah untuk waktu yang lama.

IMG_7572

So she said what’ s the problem baby ? What’s the problem I don’t know.

Well, maybe I’m in love. Think about it everytime. I think about it. Can’t stop think about it

How much longer it will take to cure this ? Just to cure because I can’t ignore that if it’s love

Makes me wanna turn around and face me but I don’t know nothing but love (Counting Crows – Accidentally in Love)

**

Sesampainya di Sabana 1, kami pun segera memasak dan membereskan tenda. Setelah mengisi energi untuk turun gunung, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Kabut mulai turun lagi diselingi hujan rintik. Tanah pijakan semakin licin. Perlu ekstra hati-hati karena kami akan menuruninya, bisa-bisa malah tergelincir. Perjalanan turun ini memakan waktu sekitar 2,5 jam.  Pukul 13.00, kami sudah sampai lagi di Gapura Jalur Pendakian Selo dengan selamat, tidak kurang suatu apapun.

Terima kasih untuk keluarga Merbabu, Masdan,Vici, Oki, Ojan, Yoga, Wisnu, Hilmi, Rahmat, Ryan, Aden, Laily, Mpit, Ismi, Diah, Muji, Risa, Ade dan Yupi. Betapa menyenangkannya memiliki teman naik gunung yang hebat!

Terima kasih untuk orang tua juara satu seluruh dunia yang selalu menjadi inspirasi untuk segala hal. Mereka yang selalu memberikan kebebasan pada anak-anaknya berpetualang di alam raya ini. Ma..Pa, skor Merbabu kita sama ya, we have been there, done that, at the different time  🙂

Yang terakhir namun paling utama adalah ucapan terima kasih dan rasa syukur mendalam pada Sang Maha Pencipta. Tiada daya dan upaya selain dari-Nya, diizinkanlah raga dan jiwa yang lemah ini untuk melakukan perjalanan, melihat dengan mata sendiri dan mengambil hikmah untuk segala penciptaan-Nya.

Saat kaki menjejak puncak-puncak tertinggi, semakin nyata pula bahwa manusia begitu kecil dibandingkan alam raya ini. Sangat kecil. Tidak pantas untuk berbangga diri. Sungguh, ini tidak hanya perjalanan fisik melainkan juga perjalanan hati. Sekali lagi, berkali-kali lagi, Terima kasih Ya Rabb

Dalam perjalanan pulang, kembali menuju Stasiun Solo Balapan, saya menatap Merapi dan Merbabu yang semakin jauh dari pandangan. Saya berjanji, suatu hari nanti akan saya kunjungi Puncak Merapi, untuk menyampaikan rasa cinta Merbabu padanya.

And I don’t want the world to see me

Cause I don’t think that they’d understand

When everything’s made to be broken

I just want you to know who I am (Goo Goo Dolls – Iris)

Lima untuk Solitary Walks

Jika ada yang (masih) ingin saya lakukan ketika saya sudah beranjak umur, maka saya akan lantang menjawab “Solitary Walks”. Mengapa demikian ? Jawabannya sederhana. Karena Tuhan menciptakan dua kaki agar manusia berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Alasan yang memang dibuat-buat dan semua orang juga paham. Namun daripada tidur siang, lebih baik jalan-jalan. Setidaknya itu yang jadi motto saya.

Kebiasaan ‘ Solitary Walks’ ini karena saya dilahirkan dengan telapak kaki yang datar, tanpa lekukan, seperti orang kebanyakan. Konon katanya pertanda tukang jalan tak kenal lelah. Selain itu, saya merasa tertantang dengan kegemaran saya membaca peta dan arah . Padahal menurut buku ‘Why Men Don’t Listen and Why Women Can’t Read Maps ?’ , wanita lebih sulit membaca peta dan arah daripada pria. Silogisme yang bisa ditarik, Luluk  adalah pencilan dari premis tersebut atau Luluk bukan wanita {?).

Jadi, kenapa harus ‘solitary’ ? Sendirian banget nih, Luk ?. Bilang aja Jomblo, deritanya tiada akhir (kampret jadi curhat). Bukan berarti saya anti jalan bareng. Tentu saja, jalan bareng juga mengasyikkan. Dari segi keuangan juga bisa sharing cost dan ada yang bisa diminta bantuan untuk (ehm..) ambil foto gitu. Lumayan buat ganti profile picture di akun media sosial.

Jadi, saya punya lima urutan tersendiri terhadap cerita ‘Solitary Walks‘ versi saya. Inilah cuplikannya :

  1. Demi Tengkleng

Pernah dengar Tengkleng kan ? Yang jelas, itu bukan buah karena kalau buah, namanya Lengkeng. Bukan juga hewan, karena kalau hewan namanya Celeng. Menurut Wikipedia, Tengkleng adalah masakan sejenis sup dengan bahan utama daging/jeroan/tulang kambing yang berasal dari Solo. Mirip gulai tapi kuahnya lebih encer. Saat itu, saya sedang berada di Yogyakarta. Ketika berada di Stasiun Lempuyangan, ada jadwal KRD Prambanan Ekspres Jurusan Solo dengan tarif Rp 10.000. Tanpa pikir panjang, saya langsung membeli dan berangkat hari itu juga. Demi apa ? Demi Tengkleng !

Sesampainya di Stasiun Solo Balapan, sejujurnya saya tidak tahu harus kemana dan naik apa. Namun karena tingkat ke-sotoy-an saya di atas rata-rata, saya berlagak jadi penduduk lokal yang kalau ditanya “Becak, Mbak ?” langsung saya jawab “Mboten, Pak (Tidak, Pak – bahasa Jawa.red)” dan bergegas pergi. Padahal dalam hati ketar ketir juga tanpa tujuan.

Saya pun menaiki bus kota dan ikut kemana bus itu pergi hingga penumpangnya turun semua. “Mati gue, mau kemana lagi nih!” batin saya dalam hati. Saya lihat di penunjuk jalan ada arah bandara dan Kartosuro. Melihat itu, saya sadar sepertinya saya sudah menuju arah keluar kota Solo padahal harapan saya inginnya ke pusat kota saja. Tetiba saya lihat Bus Trans Solo ‘Spirit of Java’, saya pun langsung menaikinya dan bertanya” Lewat Alun-alun, Pak ?” Bapak sopir bilang “Iya, Mbak nya tinggal jalan sedikit saja”.

Akhirnya, saya pun sampai di area Alun-alun, dekat Kraton Surakarta. Dari situ, kaki saya melangkah ke Pasar Klewer lalu ke Galabo, tempat kuliner khas Solo. Namun,Galabo memang tidak seramai jika malam hari. Sepanjang saya jalan, pedagang Tengkleng berhamburan depan mata. Sebenarnya saya tidak tahu yang mana yang paling direkomendasikan karena bagi saya sulit membedakan mana makanan yang enak dan sangat enak. Saya pun mencoba Tengkleng Solo Bu Edi, yang letaknya persis depan Pasar Klewer. Tempatnya sangat sederhana. Belakangan saya tahu, ternyata Tengkleng Bu Edi adalah salah satu yang paling direkomendasikan oleh penikmat kuliner. Ibarat pencarian jodoh, akhirnya bertemu juga dengan apa yang dicari (ini bukan curhat)

  1. Hiruk Pikuk di Bangla Road

Pekerjaan paling enak di seluruh dunia adalah jalan-jalan, apalagi gratis. Kira-kira apakah pekerjaan tersebut ? jadilah pemandu wisata alias tour guide niscaya Anda akan merasakan kenikmatan tersebut. Bermodalkan ke-sotoy-an dan keinginan untuk bisa jalan-jalan gratis, saya pun menerima tantangan menjadi tour guide ke Phuket di negara Gajah Putih pertengahan 2011. Untungnya, perjalanan ini lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Saya pun masih bisa untuk memiliki ‘me time’ dengan melakukan ‘solitary walks’ ke Bangla Road, Pantai Patong, Jungceylon Mall dan sekitaran hostel tempat saya menginap.

Bangla Road sebenarnya adalah nama sebuah jalan yang dilalui kendaraan namun sekitar pukul 17.00 waktu setempat jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor. Kawasan ini pun berubah menjadi kawasan paling happening di area Patong. Sekadar info, keadaan Patong hampir mirip Kuta di Bali. Ramai dengan turis asing dan kehidupan malamnya.

Saya, seorang bocah culun berkerudung,  dengan cuek jalan kaki di sepanjang Bangla Road sambil melihat keadaan sekitar. Para ladyboy beraksi dengan kostumnya yang aduhai dan parasnya yang cantik. Dentuman musik dan kerlap kerlip lampu disko kanan kiri membuat bising. Banyak pedagang makanan ringan aneh di pinggir jalan. Iya, aneh. Cumi, ikan pari, jangkrik dan serangga yang entah apa namanya diperjualbelikan. Beberapa jajanan yang logis di pikiran saya adalah es krim, buah potong dan Mango Sticky Rice yang kalau diterjemahkan Nasi Ketan Mangga (?).

Saya pun mencari tempat yang nyaman dekat trotoar buat sekadar menghabiskan si ketan mangga itu. Rasanya masih bisa diterima lidah. Saya pun menikmatinya sambil melihat hiruk pikuk di depan mata. Di seberang saya ada Billboard Signs GO GO Bars bertuliskan Phuket’s Famous Suzy’s Wong Group dan di bawahnya ada pemuda-pemuda berkumpul dan tertawa dengan para ladyboy. Mereka terlihat menikmati sekali. Tidak jauh dari tempat saya nongkrong ada penjual kaos Thailand bertuliskan Patong Beach. Sepasang turis bule menghampirinya dan melakukan tawar menawar harga. Hingga akhirnya , bule itu membeli dua kaos. Pedagang itu sepertinya  senang karena dagangannya laku.

Esoknya, saya kembali melewati Bangla Road di siang hari. Keadaannya sangat berbeda ketika di waktu malam. Layaknya jalan biasa yang dilewati banyak kendaraan. Yang buka antara lain toko oleh-oleh dan ada pedagang buah potong, es krim dan Mango Sticky Rice. Sementara para ladyboy dan pekerja di bar mungkin masih beristirahat untuk jadwal kerjanya nanti malam guna menghidupkan Bangla Road sebagai Phuket Nightlife

  1. Sudut Kota Kenangan

Dan Bandung bagiku

Bukan Cuma urusan wilayah belaka

Lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan,

Yang bersamaku ketika sunyi (Dan Bandung, The Panas Dalam)

Kalau menurut Anies Baswedan, setiap sudut kota Jogja itu romantis, namun tidak demikian menurut Luluk Aulianisa. Salah ? Tentu tidak. Karena setiap orang pasti memiliki latar belakang tempat dimana ia tinggal dan tumbuh berkembang. Seiring berjalannya waktu, setiap tempat menjadi saksi suatu kejadian atau pengalaman yang membuat kita tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Bagi saya, Bandung adalah alasannya.

Banyak yang mengira saya orang Bandung yang berarti saya adalah orang Sunda. Padahal keluarga besar saya tidak ada yang di Bandung. Dari kecil, saya belum pernah merasakan berlebaran di Bandung. Saya tidak bisa bahasa Sunda halus dan sopan, malah lebih lancar Bahasa Sunda ala terminal. Dari SD sampai SMA, pelajaran Bahasa Sunda adalah pelajaran paling menakutkan setelah Matematika. Kesimpulannya, saya bukan orang Sunda namun saya ingin disebut sebagai orang Bandung.

Lantas, mengapa saya begitu mencintai Bandung ? Ya, itu tadi seperti kata The Panas Dalam. Melibatkan perasaan. Titik

Saat itu, saya melintas di Jembatan Pasupati, dibonceng Ibu saya naik motor dalam perjalanan menuju Sukajadi. Saya, saat itu adalah seorang mahasiswi yang kuliah di Depok dan sedang pulang ke rumah orangtuanya di Bandung. Saya pun berkata

Ma, makasih ya karena kita tinggal di Bandung, untung aja Papa kerjanya di Bandung, jadi aku dari kecil udah tinggal disini(oke, emang saat itu gue merasa sangat sentimentil. cih)

Solitary walks di Bandung adalah hal yang sering saya lakukan. Rutenya adalah ke tempat sekolah saya dulu. Mungkin teman sekolah saya tidak banyak yang tahu bahwa saya sering berkunjung ke TK, SD, SMP dan SMA dalam agenda solitary walks saya ini. Yang paling sering adalah melewati SMP di bilangan Jalan Sumatera. Saya berjalan dari mulai turun angkot Kalapa-Dago di Jl. Belitung, melewati Taman Lalu Lintas lalu belok ke Jalan Sumatera. Saya teringat dahulu saat masih berseragam putih biru, saya selalu lewat jalan ini dan lebih sering berlari-lari karena takut kesiangan. Atau saya teringat saat jam belajar habis, saya dulu suka numpang baca Majalah Bobo (tapi gak beli) di tukang majalah depan sekolah (iya, saat SMP saya masih suka baca Bobo, di saat teman-teman saya sudah baca Gadis atau Kawanku).

Saya pun berhenti sejenak sambil jajan lumpia basah atau milkshake Aa Dea yang sudah dikenal dari jaman masih sekolah di tahun 2004. Sekarang semuanya sudah berubah, lebih tertata dan rapi. Namun, saya masih suka melihat diri saya sendiri sedang berlari atau sekadar ketawa ketiwi dengan teman di depan sekolah. Ah, lucu sekali masa-masa itu!

  1. Korban Video Klip

Pernah lihat video klip Andra and The Backbone dengan judul ‘Hitamku’ ?

Saya ingat betul bahwasanya video klip ini muncul di media saat saya berkuliah di Depok sekitar tahun 2008. Dibintangi Donny Alamsyah, seorang aktor laga yang membintangi Film The Raid, dan berlatar belakang di Kawasan Kota Tua, Jakarta.

Ketika melihat latar belakang tempat video klip tersebut, saya langsung penasaran karena tempatnya yang oldies. Saat itu, memang saya belum pernah tahu dan belum pernah mengunjungi Kawasan Kota Tua. Berbekal pengetahuan yang kurang memadai tersebut, saya pun berkelana sendiri dari Stasiun UI menggunakan KRL Ekonomi Jabodetabek dengan harga Rp 2.000 saja. Ya, bagi saya saat itu, naik kereta Ekonomi AC  dengan harga Rp 6.000 sangat mahal untuk mahasiswa kere tapi (sok) gaya macam saya.

Dengan waktu tempuh 45 menit, saya pun tiba di Stasiun Jakarta Kota. Hawa Kota Tua sudah mulai terasa di stasiun yang terkenal juga dengan nama Stasiun Beos tersebut. Saya pun beranjak keluar. Saya lihat ada Museum Bank Mandiri dan di sebelahnya ada Museum Bank Indonesia. Saya pun kegirangan karena sepertinya tujuan saya sudah dekat. Saya pun kembali jalan. Banyak gedung tua yang saya temui. Sampai akhirnya, saya sampai di taman Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. ‘Oh, jadi ini Kawasan Kota Tua yang sering jadi tempat syuting itu..” batin saya. Tidak jauh dari saya ada pasangan yang sedang photo shoot dengan wedding costume. Propertinya pun ada mobil tua yang terkesan mewah. Jadi selain syuting video klip, tempat ini juga jadi syuting film atau foto pre-wedding.

Saya pun duduk di tengah taman sambil memperhatikan orang lalu lalang. Ada odong-odong dan banyak tukang makanan. Area taman tersebut memang dikelilingi oleh museum. Selain Museum Fatahillah, ada juga Museum Tektil dan Keramik serta Museum Wayang. Saya pun melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya menemukan lagi salah satu spot dimana Donny Alamsyah sedang berlari, yaitu di depan Gedung Kerta Niaga, gedung ini dahulu bekas perkantoran. Selain itu, ditemukan juga spot syuting lainnya yaitu di seberang Jembatan Kota Intan. Di dekat situ, saya temukan juga Hotel Batavia, yang berarsitektur kolonial, warisan pemerintahan Belanda.

Rasa penasaran saya pun terjawab. Akhirnya, saya menemukan tempat yang saya cari. Saya pun lebih gencar mencari info sejarah tentang Kawasan Kota Tua karena rasa penasaran saya yang lain adalah tentang peradaban kawasan tersebut di zaman kolonial. Sejak tahun 2008, bisa dibilang saya semakin sering mengunjungi Kota Tua dan merekomendasikan kepada teman-teman sebagai wisata rakyat murah meriah

1. Tidak Bertanya, Nemu di Jalan

Awal 2011, saya pergi mengunjungi Singapura untuk pertamakalinya dengan titel semi-backpacker. Mengapa begitu ? Karena dari total 4 hari, hanya 2 hari saya bersama dengan saudara. Dua hari tersisa saya pergi keliling kota dan kembali pulang ke Jakarta sendiri. Ragu ? Justru itu yang saya tunggu.

Saat saudara saya sudah pulang duluan, saya pun memulai petualangan ‘Solitary Walks’ ini. Dengan bermodalkan peta dan EZ Link pinjaman, saya pun keluar hostel di pagi hari yang tidak jauh dari di MRT Bugis dengan penuh percaya diri. Sebenarnya, saya lebih menyukai ke tempat wisata sejarah daripada wisata belanja. Hari sebelumnya, saya sudah mengunjungi Orchard, Suntec City Mall dengan Dancing Fountain, Botanical Garden dan Sentosa Island.  Tujuan solitary walks saya kali ini adalah ingin melihat Singapura dari sisi lain dan tentunya low budget trip.

Tujuan pertama, saya mengunjungi  Sultan Mosque dan Malay Heritage Centre di Kampung Arab (Arab Street/Kampong Glam) yang kebetulan paling dekat dengan hostel saya. Tentunya sambil icip-icip Roti Prata dan Teh Tarik. Saya pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan MRT. Saya turun di MRT City Hall. Saya sengaja jalan untuk merekam keadaan sekitar. Ya, saya menyusuri Boat Quay, Raffless Landing Site, dan Asian Civilization Museum. Saya melihat lanskap Singapura tempo dulu, saat negeri ini dibangun. Saya pun melanjutkan perjalanan menuju Merlion Park. Di seberang saya melihat Marina Bay Sands, Esplanade dan Singapore Flyer.

Setelah itu, saya mengunjungi Esplanade dan melihat pertunjukan tarian yang kebetulan sedang tampil saat itu. Matahari semakin naik, saya juga menyempatkan diri minum Es Kachang di Makan Sutra Hawker Centre dengan pemandangan Central Business District nya Singapura.

Selanjutnya, saya kembali naik MRT menuju China Town. Semarak merah muncul saat saya tiba di kawasan ini. Tempat yang saya kunjungi disini yaitu Kuil Thian Hock Keng, Sri Mariamman Temple dan tentunya Food Centre di sepanjang area tersebut. Untuk menambah energi, saya beli Thai Coconut yang sebenarnya dalam bahasa Indonesia adalah Es Kelapa Muda. Percaya sama saya, paling enak Es Kelamud di negeri sendiri daripada di negeri orang lain!

Saat itu sore hari, saya menunaikan shalat Ashar di mesjid yang (akhirnya) saya temukan dekat China Town. Sebetulnya saya sudah sangat capek dan haus. Persediaan air sudah menipis. Beli minum 1 botol Aqua 600 ml di 7Eleven seharga Rp 8.000-an jika di kurs rupiah (Tahun 2011). Sungguh menyiksa bagi orang model jet pump (baca : senang minum air putih) macam saya.

Saya pun bergegas ke Mustafa Centre karena menurut saya di tempat inilah tempat beli minum yang paling murah. Selain itu, bagi para penggemar coklat Hershey’s, saya pun lebih merekomendasikan beli disini daripada di tempat lain karena jatuhnya lebih terjangkau. Hari sudah mulai gelap. Rasa lapar melanda. Karena saya sudah niat mau irit, saya bawa kering tempe dan abon di tas. Saya pun hanya beli nasi seharga 1 SGD di Restoran India. Tadinya tidak boleh, namun saya tawar dengan sok bicara Singlish.” Please laaa..Only rice..white rice, please “ Mungkin kata si India “ Dasar Melayu kere, masak cuma beli nasi putih doang “ Saya pun segera mencari spot dekat Mustafa Centre dimana saya bisa membuka kering tempe dan abon simpanan. He he he…

Selesai makan, saya bengong sesaat. Mengingat hari ini sudah kemana saja. Ternyata saya sudah keliling jauh juga. Saya menyadari bahwa ternyata kaki saya agak sakit. Tapi karena saya tipikal orang yang gak mau rugi waktu dan tempat dan mencoba untuk bisa mengandalkan diri sendiri. Saya pun kembali berjalan dengan tujuan….kemana aja boleeehh

Tetiba saja saya mendapat ide untuk nongkrong di Clarke Quay. Tapi tentu saja saya tidak nongkrong di kafe atau pub nya karena mahal. Saya hanya duduk di pinggiran sambil melihat atraksi orang yang teriak-teriak karena naik Gmax, reverse bungy yang katanya memacu adrenalin.

Akhirnya saya berniat pulang ke hostel. Saya pun naik MRT. Saat di MRT, saya merasa agak janggal karena rute yang saya ambil seharusnya bukan demikian. Saya lihat yang terdekat bisa menuju Little India. Sebetulnya ini sudah dekat dengan Mustafa Centre yang sebelumnya sudah saya datangi. Saya juga bingung kenapa saya pilih turun di Little India padahal kaki sudah gempor setengah mati. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Saya seperti tidak tahu arah dan tidak bisa mikir karena capek. Sesaat ketika saya keluar MRT Little India, saya lihat ada semacam pawai di sepanjang Serangoon Road. Saya jadi kembali semangat. Saya juga sempat mengunjungi Sri Veeramakaliamman Temple, Tekka Market dan mampir shalat di Mesjid Abdool Gafoor. Setelah itu, saya pulang menuju hostel dengan menggunakan bus.

Perjalanan kali ini sungguh puas dan menyenangkan karena saya menemukan banyak hal. Adakalanya saya tersesat, namun justru itu membawa saya untuk menemukan hal yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Menurut saya, itulah esensi perjalanan yang sesungguhnya. Yang menarik, dalam sehari itu, saya pergi ke tempat yang berbeda. Multi etnis dan kepercayaan. Bahagianya, saya masih bisa menemukan tempat dimana saya bisa menunaikan shalat dan tempat dimana saya masih (Insya Allah) bisa makan halal yang enak.

*****

Sungguh menyenangkan jika kita masih diberikan kesehatan dan rezeki untuk berjalan-jalan dan melihat dunia. Jalan sendiri dan bersama-sama tentunya ada kekurangan dan kelebihannya. Tapi bagi yang belum pernah “Solitary Walks”, silakan mencoba sewaktu-waktu. Siapa tahu cocok dan ketagihan! (LA)

I get pleasure from my solitary walks