Hari Ini di Depan Kelas

Senin pagi yang pernah sama dengan waktu dahulu yang pernah ada. Diawali dengan bangun pagi buta untuk bersiap mengikuti upacara bendera di sekolah. Sebuah rutinitas pembuka minggu yang baru. Namun, hari ini seakan menjadi adegan membuka kotak pandora tentang cerita mengajar beberapa tahun silam.

Sejujurnya, saya seringkali merasa tidak bisa mengajar. Tidak bisa menjadi guru. Ironis memang. Pengalaman setahun mengajar saya layaknya mitos yang kerap terdengar namun tidak ada. Ah, betulkah demikian ? gumam saya dalam hati. Rasanya saya masih menyimpan rapi untuk fase hidup yang satu itu. Fase yang nyatanya saya nobatkan menjadi salah satu fase tak terlupakan dalam hidup.

Kali ini saya mencoba mengajar lagi. Setelah sekian lama meninggalkan dunia mengajar, saya diharuskan kembali membuka catatan lama namun ternyata cukup berguna. Teknik menguasai kelas, ice breaking, lesson plan, dan istilah-istilah lainnya. Nyatanya, saya masih  belum benar-benar bisa menemukan ide “Apa yang akan saya ajarkan nanti ? “ Kali ini temanya menarik, tentang profesi saya saat ini dan saya harus menemukan cara untuk menjelaskannya. Esensi dari Kelas Inspirasi yang saya ikuti memang demikian, mengenalkan profesi kepada murid-murid SD. Saya merasa beruntung bisa bergabung lagi dengan Kelas Inspirasi di kota yang berbeda. Kali ini saya mengajar dua rombongan belajar (rombel), yaitu Kelas 2 dan Gabungan Kelas 5 & 6. Inti dari materi ajar saya adalah mengenalkan pentingnya telekomunikasi pada mereka. Ya, saya harus mengakui bahwa sebetulnya lebih banyak konten ice breaking daripada materi inti. Begitulah adanya.

Limboro, pertengahan November 2011, Empat Tahun Lalu

Pekan ini, saya resmi menjadi wali kelas 5 SDN 19 Limboro, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Mandat langsung dari Kepala Sekolah pada saya, si guru karbitan ini. Ada 18 siswa dalam kelas yang telah menunggu. Hari pertama masuk sebagai wali kelas telah sukses membuat demam panggung. Rasanya saat bertemu 18 siswa dan mengajar mereka bagaikan bertemu dengan dosen penguji skripsi. Takut dibantai dengan cecaran pertanyaan yang saya tak mampu menjawabnya. Ckckck…memang terdengar berlebihan tapi seperti itu yang terjadi.

Memang benar adanya bahwa kekuatan anak-anak tak sanggup saya tandingi. Hari pertama tidak terlalu buruk namun saya berhasil ngos-ngosan. Sungguh, mereka adalah pemacu olahraga yang baik.

Kelas Inspirasi Madiun, 7 September 2015

Hari ini di SDN Plumpungrejo 04, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, beratus mil jauhnya dari SDN 19 Limboro di Pulau Sulawesi. Saya seperti déjà vu. Saya seperti melihat Fadly, ketua kelas 5 yang menyiapkan barisan saat akan masuk kelas. Saya seperti melihat Roswati, jagoan sekolah yang seringkali ditakuti oleh teman-temannya namun sebetulnya ia sangat setia kawan. Saya seperti melihat Zul, anak laki-laki manis yang suka membantu ibunya mencuci pakaian sepulang sekolah. Saya seperti melihat Mulkiah, gadis imut nan menggemaskan yang senang menggambar dan punya cita-cita menjadi pelukis.

Saya seperti melihat mereka dan murid SDN 19 Limboro lainnya ada di hadapan saya saat ini.

Saya seperti mendengar suara mereka menyanyikan Indonesia Raya dengan nada yang lain dari biasanya, seperti ada liukan cengkok nya. Saya segera tersadar dalam lamunan karena yang paling jelas perbedaannya adalah saat ini saya tidak mendengar bahasa Mandar yang kerap mereka jadikan bahasa sehari-hari daripada bahasa Indonesia.

Nyatanya saya rindu. Teramat sangat rindu.

Saya tertegun. Empat tahun sudah sejak saya datang pertamakali kesana. Tentu murid-murid disana sudah berubah. Mereka bertumbuh menjadi semakin dewasa. Ingatan saya melayang jauh. Berharap mereka baik-baik saja, tanpa kurang suatu apapun

***

Suasana di sekitar SDN Plumpungrejo 04 sangat asri. Akses menuju ke lokasi cukup mudah. Di dekatnya terhampar sawah hijau yang lapang. Terdapat 6 rombel dari kelas 1-6. Totalnya 108 murid yang rata-rata rumahnya tidak jauh dari letak sekolahnya. Kondisi bangunan permanen. Tenaga guru sudah berkecukupan. Kabar gembiranya, prestasi di sekolah ini tidak kalah mengesankan dengan sekolah-sekolah di kota. Salah satu prestasinya adalah Juara 3 Marching Band antar SD se-Kabupaten Madiun. Hal itu membuktikan bahwa setiap murid memang memiliki keistimewaan dan bisa kita temukan di tempat tak terduga sekalipun.

Saat para relawan Kelas Inspirasi dari berbagai profesi sudah selesai mengajar di kelas, murid-murid sudah tak sabar berhamburan keluar karena ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Balon warna-warni yang telah ditempel kertas berisikan nama dan cita-cita siswa SDN Plumpungrejo 04 siap diterbangkan. Salah satu murid ada yang bertanya, samar-samar saya mendengar,

“ Nanti itu  balon cita-citanya sampai ke Allah ya “

Saya tersenyum. Ah, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka selalu bisa melontarkan pertanyaan yang apa adanya namun menantang untuk dijawab

“Memang Allah ada dimana ?” tanya salah satu diantara kami, relawan Kelas Inspirasi di SDN Plumpungrejo 04

Nang dhuwur (di-atas)” jawab murid itu lagi sambil tersenyum malu

Allah selalu ada dimanapun dan kapanpun, Nak”, ujar saya sambil berbisik pelan padanya

Dengan aba-aba, balon warna-warni itu pun membumbung tinggi menantang langit dan teriknya matahari siang itu. Membawa doa dan cita-cita dari murid-murid SDN Plumpungrejo 04.  Mereka bersorak senang melihat balon yang tadinya mereka pegang sudah semakin jauh. Langit biru siang itu sangat cantik berpadu dengan putihnya awan.

Hari ini, saya kembali membuka kotak pandora saya. Hari ini pula, saya kembali belajar lagi dari Kelas Inspirasi.

IMG_6727

Hari ini, di depan kelas.

Photo by : Eko Prasetya Nugraha (Fasilitator SDN Plumpungrejo 04, Kelas Inspirasi Madiun #3)

**Kelas Inspirasi adalah aktivitas para profesional yang bersedia iuran cuti sehari untuk mengajarkan tentang profesinya kepada murid-murid SD. Kegiatan ini telah menyebar di berbagai kota di Indonesia dan dikelola murni oleh para relawan. Untuk lebih jelasnya, sila dilihat di http://www.kelasinspirasi.org

Merindu Merbabu

Saat sepertiga malam yang cerah tanpa hujan, Kereta Api Malioboro Ekspres tujuan akhir Yogyakarta telah meninggalkan Stasiun Solo Balapan. Suasana kembali sepi dan hening. Saya berbaring di kursi peron, menunggu pagi sambil memejamkan mata. Menanti kawan seperjalanan dalam pendakian penuh kejutan. Sebut saja ia, Gunung Merbabu.

Gunung bertipe strato ini terletak di wilayah Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang dan Kota Salatiga di Jawa Tengah. Berasal dari kata ‘meru’ (gunung) dan ‘abu’ (abu) yang berada pada ketinggian 3,142 mdpl. Ada 4 jalur pendakian yang lazim dilewati yaitu Thekelan, Cunthel, Wekas dan Selo. Kali ini, saya beserta teman-teman akan mendaki lewat Selo di Kabupaten Boyolali yang terkenal dengan pemandangan Sabana yang luar biasa indahnya.

Di tengah perjalanan menuju basecamp Selo, saya dihadapkan pada dua gunung yang bersanding dengan serasi. Mereka adalah Merbabu di sisi kanan dan Merapi di sisi kiri.  Bagi saya, Merbabu dan Merapi itu saling melengkapi. Jika diibaratkan, Merapi adalah laki-laki yang berani dan gagah perkasa sedangkan Merbabu adalah perempuan anggun dan memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Mereka seperti sudah ditakdirkan untuk bersama.

**

Setelah berbelanja keperluan logistik pendakian di Pasar Cepogo, kami pun bergegas menuju basecamp Selo untuk kembali berkemas dan melakukan registrasi. Pendakian pun dimulai sekitar pukul 10.30 WIB ditemani cuaca cerah. Dari gapura bertuliskan ‘Jalur Pendakian Selo’, semuanya dimulai dengan melangkah.

Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1-Dok Malang menghabiskan waktu sekitar 1 jam dengan ritme jalan santai. Medannya masih bersahabat namun kabut tipis mulai menyelimuti. Vegetasi hutannya masih didominasi dengan pohon-pohon tinggi. Selanjutnya, Pos 1 menuju Pos 2-Pandean yang juga memakan waktu sekitar 1 jam. Ada beberapa titik yang konturnya sudah mulai menanjak daripada ketika menuju Pos 1. Saat perjalanan menuju Pos 3-Watutulis, kabut mulai tebal lalu turun hujan rintik. Ketika sampai di Watutulis, kami pun berteduh sebentar di bawah flysheet yang kami bentangkan sementara sambil menunggu hujan reda.

Saat pendakian saya menuju Gunung Lawu di akhir 2014 silam, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Cantigi, pohon kerdil yang melindungi pendaki gunung. Namun, keberadaannya kalah tersohor dari Edelweiss, sang bunga abadi. Daun Cantigi merah bersinar, cantik, dan merona ketika disinari matahari. Membuat siapapun pasti ingin mengabadikannya lewat lensa dan pandangannya. Saat perjalanan menuju Pos 3, mulai banyak Cantigi bertebaran. Kejutan pertama di Watutulis,  Cantigi tumbuh dilatarbelakangi Merapi yang nampak sangat dekat. Perpaduan yang elok. Kabut perlahan menghilang. Hujan sudah selesai rupanya. Kami harus melanjutkan perjalanan karena sebentar lagi akan sampai pada tahap yang sebenar-benarnya mendaki.

**

Perjalanan Pos 3 menuju Pos 4-Sabana 1 ditempuh dalam waktu sekitar 45- 60 menit dengan medan yang menguras tenaga. Berhubung hujan baru saja reda, tanah yang diinjak pun agak licin dan diperlukan kehati-hatian saat mencari pijakan. Kabut tipis muncul kembali dan menemani pendakian kami hingga sampai pada Sabana 1. Sesampainya di Sabana 1, kami pun mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam. Menu sop ayam, ayam kecap, tahu, tempe dan sambal yang disantap setelah mendaki menjadi menu paling nikmat sepanjang perjalanan ini.

Saat jam menunjukkan pukul 17.30, langit mulai berubah warna. Saya tertegun dan segera berlari ke suatu titik dimana saya melihat semburat jingga bermunculan, berpadu dengan gumpalan awan dan senja di ufuk barat, segaris dengan Puncak Merapi. Masya Allah! Lukisan Tuhan Maha Sempurna. Di tengah perpaduan warna di langit nan luas, sosok Merapi terhampar sangat jelas , tegak berdiri menghunjam bumi. Setelah momen matahari terbenam paling indah di Pantai Ndana, Rote Ndao yang sukses membuat saya menangis terharu selanjutnya ada momen matahari terbenam paling indah di Gunung Merbabu yang sukses membuat saya merasakan déjà vu dengan semua keindahan yang Tuhan ciptakan tanpa cela.

IMG_7285

Dini hari pukul 03.00, kami pun terbangun dari istirahat singkat namun berkualitas di Sabana 1. Kami akan lanjutkan perjalanan ini sampai puncak. Di tengah kegelapan, suasana begitu ramai dengan para pendaki lain yang akan melakukan hal yang sama. Setelah mengisi energi dengan mie instan, madu dan roti, kami segera melangkah menjauhi tenda menuju puncak.

Gunung Merbabu memiliki tujuh puncak yaitu Puncak 1-Watu Gubug, Puncak 2-Pemancar,Puncak 3-Geger Sapi, Puncak 4-Syarif, Puncak 5-Ondo Rante,Puncak 6-Kenteng Songo dan Puncak 7-Trianggulasi. Namun kami hanya akan mendatangi Puncak Kenteng Songo dan Puncak Trianggulasi sebagai puncak tertinggi Gunung Merbabu di ketinggian 3,142 mdpl.

Perjalanan dari Sabana 1 menuju Pos 5-Sabana 2 memakan waktu sekitar 60 menit dengan medan mendaki namun saat turun mendekati Sabana 2 ada jalan landai sebagai bonus. Selanjutnya dari Sabana 2 menuju Puncak Kenteng Songo memakan waktu sekitar 45-60 menit, medan terus menerus mendaki , hampir tidak ada jalan landai. Tanah pijakan cukup licin sehingga harus berhati-hati. Dibalik semua kesulitan itu, saat kepala menoleh ke belakang, kejutan muncul lagi. Lampu-lampu dari rumah penduduk di Kabupaten Boyolali sangat cantik dari kejauhan. Tanpa sadar, diri ini sudah berada di ketinggian lebih dari 3000 mdpl. Saat mendongakkan kepala ke atas, hati ini berdesir. Gugusan bintang menghiasi langit malam. Saya tercekat dan memandang ke arah yang sama untuk waktu yang lama.

Look at the stars, look how they shine for you

And everything you do, and they were all yellow

Your skin, oh yeah your skin and bones

Turn into something beautiful

Tonight, you know I love you so 

You know I love you so (Coldplay – Yellow)

**

Sayup-sayup suara muadzin terdengar mengagungkan asma-Nya, menyeru umat muslim menunaikan Shalat Subuh. Saat itu pula kaki ini sudah mencapai Puncak Kenteng Songo. Matahari mulai menampakkan wujudnya. Tirai alam ini tersibak perlahan. Benarkah ini yang ada di depan saya sekarang? Lagi-lagi ada dia, pasangan hidup Merbabu yang menjulang megah tanpa ampun. Pantas saja Merapi masih tetap berdiri tegak meskipun seringkali ia memuntahkan material vulkanik. Itu pasti karena Merapi jatuh cinta pada keindahan dan keanggunan Merbabu, sama seperti yang saya rasakan.

IMG_7408

Masih di Puncak Kenteng Songo, samudera awan meliputi hamparan langit. Cantigi dan Edelweiss bertebaran, berpadu dengan sabana yang rumputnya melambai tertiup angin. Dari kejauhan muncul puncak pertama saya dengan malu-malu di balik mentari, sebutlah ia Hargo Dumilah, ketinggian 3,265 mdpl di Gunung Lawu dengan bentuknya yang memanjang. Masya Allah! Saya pernah ada disana, ditemani sahabat paling setia selama pendakian bernama hujan dan saya tidak menyesal pernah melewatinya.

IMG_7413

Perjalanan dilanjutkan menuju Puncak Trianggulasi dengan jarak yang sudah tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan, dari samping terlihat Puncak Syarif dan Puncak Pemancar. Kejutan belum berakhir. Di Puncak Trianggulasi, terlihat dari kejauhan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang berdampingan. Lebih dekat lagi, ada Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Melihat semua ini, bagaimana mungkin para pendaki tidak menobatkan Merbabu sebagai salah satu gunung dengan pemandangan terindah di puncaknya ?

IMG_7526

Matahari mulai meninggi. Kami bergegas untuk turun kembali menuju Sabana 1. Seolah tidak rela dengan perpisahan ini, saya berjalan pelan, menikmati apa yang ada di hadapan saya. Hanya bisa berdecak kagum dan tersenyum. Memandang penuh arti. Rasanya damai sekali. Berat hati meninggalkannya, seolah tidak mau berpisah untuk waktu yang lama.

IMG_7572

So she said what’ s the problem baby ? What’s the problem I don’t know.

Well, maybe I’m in love. Think about it everytime. I think about it. Can’t stop think about it

How much longer it will take to cure this ? Just to cure because I can’t ignore that if it’s love

Makes me wanna turn around and face me but I don’t know nothing but love (Counting Crows – Accidentally in Love)

**

Sesampainya di Sabana 1, kami pun segera memasak dan membereskan tenda. Setelah mengisi energi untuk turun gunung, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Kabut mulai turun lagi diselingi hujan rintik. Tanah pijakan semakin licin. Perlu ekstra hati-hati karena kami akan menuruninya, bisa-bisa malah tergelincir. Perjalanan turun ini memakan waktu sekitar 2,5 jam.  Pukul 13.00, kami sudah sampai lagi di Gapura Jalur Pendakian Selo dengan selamat, tidak kurang suatu apapun.

Terima kasih untuk keluarga Merbabu, Masdan,Vici, Oki, Ojan, Yoga, Wisnu, Hilmi, Rahmat, Ryan, Aden, Laily, Mpit, Ismi, Diah, Muji, Risa, Ade dan Yupi. Betapa menyenangkannya memiliki teman naik gunung yang hebat!

Terima kasih untuk orang tua juara satu seluruh dunia yang selalu menjadi inspirasi untuk segala hal. Mereka yang selalu memberikan kebebasan pada anak-anaknya berpetualang di alam raya ini. Ma..Pa, skor Merbabu kita sama ya, we have been there, done that, at the different time  🙂

Yang terakhir namun paling utama adalah ucapan terima kasih dan rasa syukur mendalam pada Sang Maha Pencipta. Tiada daya dan upaya selain dari-Nya, diizinkanlah raga dan jiwa yang lemah ini untuk melakukan perjalanan, melihat dengan mata sendiri dan mengambil hikmah untuk segala penciptaan-Nya.

Saat kaki menjejak puncak-puncak tertinggi, semakin nyata pula bahwa manusia begitu kecil dibandingkan alam raya ini. Sangat kecil. Tidak pantas untuk berbangga diri. Sungguh, ini tidak hanya perjalanan fisik melainkan juga perjalanan hati. Sekali lagi, berkali-kali lagi, Terima kasih Ya Rabb

Dalam perjalanan pulang, kembali menuju Stasiun Solo Balapan, saya menatap Merapi dan Merbabu yang semakin jauh dari pandangan. Saya berjanji, suatu hari nanti akan saya kunjungi Puncak Merapi, untuk menyampaikan rasa cinta Merbabu padanya.

And I don’t want the world to see me

Cause I don’t think that they’d understand

When everything’s made to be broken

I just want you to know who I am (Goo Goo Dolls – Iris)

Menuju Puncak Pertama

“ Aku mau triple summit ke Merbabu, Merapi dan Lawu, Insya Allah Desember” kata Masdan, salah satu teman kuliah saya via pesan Whatsapp sebulan lalu. Saya membalas pesannya dengan cepat.

“ Ikut dong ke Lawu, kebetulan dekat dengan Madiun, tempatku sekarang “

“ Oke, dari sekarang rutin jogging dan minum vitamin C ya “

Saya pun mengiyakan dan malah jadi bertanya ke diri sendiri dalam hati “ Yakin nih gue mau ke Lawu ? ”

Sekapur Sirih

Gunung Lawu yang berketinggian 3265 mdpl terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Lawu adalah gunung api yang sudah lama tidak aktif. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang mengeluarkan belerang dan uap air. Tipikal vegetasinya rapat dan puncaknya tererosi. Ada dua jalur yang lazim dilewati oleh para pendaki yaitu Cemorosewu (Jawa Timur) dan Cemorokandang (Jawa Tengah).  Jalur Cemorosewu memakan waktu lebih singkat sekitar 6-7 jam daripada jalur Cemorokandang yang memakan waktu sekitar 8-9 jam untuk sampai ke Hargo Dumilah, puncak tertinggi Lawu. Namun, jalur Cemorosewu memang lebih vertikal daripada jalur Cemorokandang yang lebih landai. Ada satu jalur lagi yaitu Candi Cetho namun jalur ini tidak terlalu banyak dilewati oleh para pendaki.

Sudah sejak lama, Gunung Lawu diyakini sebagai gunung keramat yang sering dijadikan tempat spiritual para tokoh dan negarawan seperti Soekarno, Soeharto, Gusdur hingga SBY. Gunung Lawu dipercayai memiliki sejarah dan mistik yang tinggi. Masyarakat Jawa sangat percaya mitos bahwa puncak Lawu dahulu merupakan kerajaan pertama berdiri di pulau Jawa dan memiliki dunia gaib yang misterius.

Namun demikian, Lawu adalah salah satu gunung favorit para pendaki dan menjadi salah satu dari ketujuh puncak tertinggi di Pulau Jawa. Lawu banyak dikunjungi oleh pendaki terutama saat Malam 1 Syuro yang dianggap sebagai malam keramat. Maka dari itu, banyak warung yang buka saat pendakian ke Lawu, bahkan ada Warung Mbok Yem yang berada di Hargo Dalem dengan ketinggian 3171 mdpl

Perjalanan Dimulai

Masdan, Oki, Reza, Ichsan, Muji, Chorni dan saya berkumpul di Warung Bu Sardi, basecamp Cemorosewu untuk berkemas dan menyiapkan perbekalan untuk mendaki. Sedari siang, hujan sudah mengguyur kawasan Cemorosewu dan sekitarnya. Ya, kami sadar betul bahwa waktu mendaki kami bertepatan dengan musim penghujan. Namun itu tidak menyurutkan niat kami untuk mendaki Lawu. Setelah semuanya siap, kami berangkat sekitar pukul 18.45. Target kami bisa beristirahat di Hargo Dalem dan dilanjutkan besok pagi sudah summit attack. Dari Gapura Cemorosewu, semuanya dimulai dengan melangkah.

Lawu adalah pendakian pertama saya di Pulau Jawa. Sejujurnya saya belum pernah naik gunung yang benar-benar gunung. Namun demikian, pengalaman saya tinggal di Desa Limboro, Majene, Sulawesi yang berlokasi di tengah perbukitan dan gunung mengharuskan saya harus terbiasa berjalan dan mendaki meskipun dengan ketinggian masih  dibawah 3000-an mdpl. Kali ini, saya dihadapkan dengan Lawu yang ketinggiannya di atas 3000-an mdpl. Saya niatkan ini dengan kebaikan, tidak ada maksud aneh-aneh bahkan jahat sekalipun. Saya bersyukur masih punya kawan yang bisa berkumpul dan mengajak saya naik gunung.

Perjalanan dari basecamp Cemorosewu menuju Pos 1 kami tempuh dalam waktu 1 jam dengan medan yang masih cukup ramah.  Hanya 10 menit saja kami beristirahat di pos ini. Perjalanan pun dimulai lagi menuju Pos 2 sekitar pukul 20.00. Ketika menuju Pos 2 , saya mulai mencium bau belerang namun memang tidak terlalu kentara. Jalannya berbatu besar-besar dan sudah lumayan tersusun rapi. Namun treknya sudah tidak ada ‘bonus’ lagi. Terus vertikal  dan mendaki. Pendaki yang belum pernah naik gunung sebelumnya sudah mulai akan merasakan ngos-ngosan jika tidak membiasakan menjaga fisik sebelumnya. Ditambah dengan hujan yang semakin deras. Cuaca sangat dingin. Kondisi seperti itu yang harus kita jalani dengan terus melangkah. Jika banyak diam, justru dingin akan lebih sangat terasa menusuk.

Kondisi kesehatan salah satu kawan yaitu Chorni ternyata tidak terlalu fit. Sementara ini masih di tengah perjalanan menuju Pos 2. Sudah hampir 1 jam kami belum sampai. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan rombongan pendaki yang mau turun. Salah satu diantara mereka berkata “ Kalau cuacanya begini terus, jangan dipaksakan, ini udah ada yang dievakuasi “ katanya sambil menunjuk kawan di belakangnya yang sedang menggendong pendaki lain. Glek. Saya menelan ludah dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya bisa ? . Saya cepat-cepat menghapus pikiran negatif. Kami pun berterima kasih atas sarannya dan kembali melanjutkan perjalanan.

Masih di tengah perjalanan menuju Pos 2, Masdan pun bicara

Kalau jalan kita begini terus, kita gak akan nyampe. Gini aja, aku sama Oki duluan. Kami dirikan tenda, masak air anget buat kalian biar bisa langsung istirahat. Reza di depan, Muji di belakang. Tadi katanya di Pos 2 rame, banyak orang, ga ada tempat. Jadi kayanya kita akan buka tenda di perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3. Atau semoga aja di Pos 3. Kalian panggil namaku yang kenceng, kalo aku gak bales kalian jalan terus sampai kita ketemu”

***

Kami melepas kepergian Masdan dan Oki yang segera bergegas. Saya lihat Chorni sangat berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk melangkah. Trek sudah tanpa ampun. Pos 2 belum terlihat batang hidungnya. Meskipun sudah pakai jas hujan, celana saya basah membuat udara dingin mudah sekali menghantam. Akhirnya sampailah kami di Pos 2 yang sudah seperti pasar kaget di kegelapan malam karena saking banyaknya orang yang berkumpul. Total waktu tempuh kami adalah 2,5 jam dari Pos 1 ke Pos 2. Melihat situasi yang sangat ramai oleh tenda, kami sangat yakin bahwa Masdan dan Oki tidak akan mendirikan di Pos 2. Kesimpulan itu yang mengharuskan kami agar terus berjalan menuju Pos 3.

Pukul 23.00 kami bergegas ke Pos 3. Perjalanan masih harus dilanjutkan meskipun rasa kantuk dan capek menyerang. Sepanjang perjalanan,  beberapa kali kami berteriak memanggil nama Masdan, tidak ada jawaban balasan, tenggelam pula oleh suara hujan. Chorni sudah sangat pucat, Reza dan Ichsan pun sempat memejamkan mata untuk tidur. Begitupun Muji yang sangat berusaha untuk bisa mendaki. Salut untuknya karena sehari sebelum ke Lawu, dia menempuh Merapi.

Sedangkan saya ? Ya, saya pun sudah sangat lelah dan kedinginan. Di tengah kegelapan, saya berdoa meminta kekuatan pada-Nya.Asupan energi berupa madu pun saya lahap. Ayo, Luk.. Ini belum Pos 3, Luk! Belum seberapa! Lawu punya 5 pos! Lirik lagu Aku Bisa, AFI Junior pun saya nyanyikan dalam hati “ Aku bisa, aku pasti bisa, ku harus terus berusaha “ Lagu favorit saat di pelatihan dan penempatan Indonesia Mengajar dulu.

Sekitar 1,5 jam, akhirnya kami sampai di Pos 3 dan langsung bertemu dengan Masdan serta Oki. Mereka sudah mendirikan 2 tenda. Saya, Chorni dan Muji pun segera masuk tenda dan beres-beres. Sebelum tidur, kami sempat makan Indomie dan susu jahe. Suatu perpaduan yang istimewa di ketinggian 2800 mdpl. Sebelum tidur, Masdan berpesan bahwa kita akan summit attack pukul 04.00. Masih ada Pos 4, Pos 5 dan Hargo Dalem sebelum sampai Hargo Dumilah. Tiba waktunya agar kami benar-benar beristirahat karena kami sudah menempuh lebih dari setengah perjalanan.

Hawa Dingin Menusuk

Jarum jam menunjukkan pukul 03.00, saya membuka mata namun sebetulnya saya tidak benar-benar tidur sejak pukul 01.30 dari briefing terakhir. Di saat itulah, saya benar-benar merasakan kedinginan yang hebat. Belum pernah saya rasakan seperti ini sebelumnya. Hujan mengguyur tenda dengan derasnya. Saya merasa seperti ada aliran air dalam sleeping bag yang membungkus badan dan itu membuat kedinginan yang rasanya seperti perih. Saya terduduk , mencoba mencari cara untuk mengurangi dingin ini. Tangan saya sudah mati rasa. Saya melihat Chorni dan Muji seperti tidak bermasalah kedinginan seperti saya.

“Chor..Ji..kalian gak kedinginan  ? “ tanya saya perlahan.

Mereka hanya jawab dengan seadanya. Saya pun terdiam lagi. Rasa perih itu terus menyerang . Saya buka sarung tangan dan kaos kaki. Semakin mati rasa. Saya merasakan sakit di bawah tenggorokan seperti dihantam benda keras. Saya meraba pelan bagian leher dan merasa sangat lemah.  Sempat terbersit di saat seperti itu “ Apakah ini akhir hidup gue ? “ Saya tidak bisa menjawab, terus mengucap nama-Nya.

Saya mengumpulkan kekuatan untuk keluar tenda, saya rasa saya harus memaksa diri untuk bergerak. Saya mengajak Chorni keluar, menemani saya untuk buang air kecil. Dinginnya luar biasa ketika di luar tenda. Saya dan Chorni melangkah pelan, bergegas kembali masuk tenda. Di dalam, saya paksakan untuk tidur. Saya mendekatkan diri ke teman-teman saya, menutup ritsleting sleeping bag dan memaksa untuk memejamkan mata.

***

Samar-samar saya mendengar suara Masdan, “Mau ikut muncak ga? Tapi kita tidak akan dapat sunrise, di atas kabut, hujan gak berhenti “ Saya terbangun pukul 06.00. Saya tahu bahwa rencana kami meleset untuk summit attack pukul 04.00. Di luar sudah terang namun hujan masih terus turun. Saya bersyukur, ternyata saya masih hidup dan saya sedang tidak mimpi.

“ Aku gak ikut, Mas” kata Chorni di sebelah saya

Saya langsung tersadar bahwa saya harus berusaha lagi untuk sampai puncak.

“Ji, ke puncak! Yuk !  Kita udah sampe sini.. Chor kamu baik-baik ya, istirahat aja” kata saya. Muji mengangguk dan segera bersiap. Chorni pun kembali berbaring.

Perjalanan pun dimulai lagi. Dari Pos 3, kami melangkah menuju Pos 4. Sayang, Chorni tidak bisa bergabung. Namun jika pilihan itu lebih baik untuk Chorni, kami mempersilakannya.

Alasan yang Menguatkan

Memang waktu paling baik untuk mendaki adalah malam hari karena selain para pendaki bisa mengatur waktu untuk bisa sampai ke puncak saat matahari terbit. Alasan lainnya adalah kalau malam tidak terlalu terlihat medan jalur pendakian yang kadang membuat putus asa. Tentu saja kalimat terakhir adalah kalimat subjektif. Dikarenakan sudah terang, saya melihat jelas bagaimana kami mendaki dan trek dari Pos 3 ke Pos 4 yang –lagi-lagi- tidak ada ‘bonus’ dan terus mendaki. Kalau begini, lebih baik saya tidak lihat trek vertikal pendakian daripada terlalu jelas seperti itu. Kabut begitu tebal terutama di sisi kanan kami berjalan. Jalurnya sudah mulai menyempit. Terlihat cantigi dan edelweiss banyak tersebar. Rupanya begitu cantik dan menyejukkan mata.  Akhirnya kami sampai di Pos 4 dengan waktu tempuh 1 jam. Sedikit lagi, ujar saya dalam hati. Kami hanya lewat, tidak menunggu lama-lama untuk bergegas ke Pos 5

Perjalanan Pos 4 ke Pos 5 adalah perjalanan antar pos paling singkat yaitu 30 menit saja. Di Pos 5 dengan ketinggian 3117 mdpl, ada 2 warung. Kami pun beristirahat sebentar untuk makan gorengan dan minum susu jahe. Di warung itu, ada rombongan pendaki yang juga sedang beristirahat. Saya sempat bertanya pada penjual warung itu

 “Mas, itu anaknya di bawa naik ? Umur berapa ? ” tanya saya sambil menunjuk bocah kecil yang sedang menggambar dengan asyiknya di bawah meja tempat menjajakan gorengan  tanpa merasa kedinginan “

Iya Mbak, ini masih sekolah PAUD, umur 5 tahun. Sering kok kalo lagi libur ikut naik ke atas. Kadang digendong, kadang jalan sendiri. Kalau saya bawa barang dagangan, biasanya 5 jam naiknya ” kata Mas Penjual Warung di Pos 5 dengan lancar.

Saya pun bengong kagum. Luar biasa. Berarti apa yang saya jalani ini biasa bagi mereka, tidak ada apa-apanya. Saya merasa terpecut semangat kembali. Kata para pendaki lainnya, jalur Pos 5 ke Puncak sudah tidak banyak mendaki. Kami temukan juga ada petilasan di dekat Sendang Drajad, salah satu tempat yang dianggap keramat. Di dekat situ pun ada warung juga. Kami tidak perlu khawatir dengan urusan perut selepas kami nanti turun dari puncak.

Selanjutnya kami segera bergegas sementara di atas angin semakin kencang dan hujan mengguyur lebat. Saya melangkah sambil bermonolog. Ada dua alasan yang menguatkan saya dalam menempuh perjalanan ini.  Sekitar tiga puluh tahun lalu, ayah dan ibu saya pernah lewat jalur ini, menuju Hargo Dumilah. Saya tahu saya akan kuat juga untuk bisa seperti mereka. Itu alasan pertama yang menjadi inspirasi saya. Saya membayangkan mereka sewaktu muda menempuh apa yang saya tempuh sekarang. Seberat-beratnya medan yang ada, semua bisa dilewati. Alasan kedua yang menguatkan saya, di perjalanan menuju Puncak Lawu ini, saya seperti melihat murid-murid sewaktu di Majene menyemangati saya. Teringat ketika kami pergi ke Gunung Tibung yang menjadi batas Kabupaten Majene dan Polewali Mandar, saya sudah capek luar biasa namun tidak demikian dengan murid-murid. Ingatan saya kembali ke dua tahun lalu. “Ibu Luluk capek ? Mau istirahat, Bu ? “ tanya mereka sambil lihat saya yang sedang mengatur nafas. Saya tersenyum sendiri. Dua alasan yang menguatkan, membuat saya terus melaju.

Puncak Pertama

Kami sampai di dua persimpangan. Ternyata ada jalan pintas menuju Hargo Dumilah dengan jarak tempuh lebih sebentar dan tidak perlu melewati Hargo Dalem. Namun memang  medannya menanjak lagi. Kami memutuskan untuk lewat situ. Kata orang cukup dengan 10 menit saja. Sedikit lagi sampai puncak, tekad saya dalam hati.

Masya Allah, Allahu akbar! Pelan-pelan, seperti hitung mundur, akhirnya saya sampai di tempat tujuan. Di ketinggian 3265 mdpl, tugu Hargo Dumilah berdiri gagah. Saya lepaskan jas hujan dan saya rasakan angin kencang di Puncak Lawu. Saya terduduk dan meraba tanahnya. Saya tidak bisa lihat pemandangan di bawah kecuali kabut. Saya tidak bisa merasakan apapun kecuali hawa dingin menusuk persendian. Air mata saya menetes, bercampur dengan air hujan. Suatu perasaan yang sulit saya deskripsikan. Lawu terasa sangat spesial dengan segala ceritanya. Dia puncak pertama saya. Selalu ada kesan untuk cinta pertama.

Perjalanan Pulang

Tidak lama kami ada di Hargo Dumilah karena kami mau sarapan dulu sebelum kembali ke Pos 3. Tentu saja sarapan pecel di ketinggian lebih dari 3000 mdpl dan setelah mencapai puncak menjadi sensasi tersendiri. Setelah makan, kami bergegas turun menuju Pos 3 untuk menghampiri Chorni dan kembali membereskan segala sesuatunya untuk bersiap turun kembali ke basecamp Cemorosewu.

Sekitar pukul  11.30 kami meninggalkan Pos 3. Sepanjang jalan turun, saya bertemu dengan banyak orang yang mau mendaki. Lawu memang benar-benar menjadi salah satu tujuan favorit. Meskipun hujan deras dan tidak berhenti sejak kemarin, jalur pendakian tidak pernah sepi. Kami menempuh perjalanan turun dengan waktu kurang lebih 3 jam.

Akhirnya perjalanan ini terselesaikan. Perjalanan bersama yang pastinya punya makna berbeda bagi tiap pendakinya. Salut untuk teman saya, Masdan yang merampungkan Triple Summit (Merbabu, Merapi, Lawu) dalam waktu 3 hari berturut-turut tanpa jeda. Sesungguhnya saya semakin yakin bahwa jika kita berkeinginan kuat, kita pasti bisa untuk mendapatkannya, termasuk mendapatkan puncak yang kita tuju.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih untuk Masdan, Oki, Reza, Ichsan, Muji dan Chorni yang telah menemani dan membantu pendakian kali ini.

Terima kasih untuk orang tua dan murid-murid saya di Limboro, Majene yang menjadi inspirasi saya untuk melawan rasa capek dan putus asa

Terima kasih pada sahabat sejati yang selalu menemani pendakian kami ini, tiada lain dia adalah hujan yang tidak pernah berhenti

Terima kasih untuk Allah SWT yang mengizinkan saya untuk mengalami semua ini. Alhamdulillah, tidak kurang suatu apapun

Sampai ketemu di puncak-puncak selanjutnya

*Pagi ini di Madiun, tanggal 29 Desember 2014, saya bergegas ke kantor diantar oleh ayah saya dengan menggunakan motor. Di tengah perjalanan, dari kejauhan saya melihat Gunung Lawu menjulang kokoh. Ada kuncup puncak yang terlihat lebih tinggi di atasnya. Saya yakin itu Hargo Dumilah. Ada perasaan yang berbeda saat saya melihatnya. Saya tersenyum dan berkata dalam hati, saya pernah ada disana.

2014-12-29 08.39.52

Membuka Kotak Pandora

Pesan singkat dari Awe, salah satu kawan dalam Grup WhatsApp Pengajar Muda Angkatan 3 siang itu di tanggal 24 November 2014  berhasil membuat saya tergugah. Di tengah hari saat saya sedang berkutat dengan laptop untuk urusan kantor membuat saya menghentikan pekerjaan sementara dan langsung terdiam. Ingatan saya kembali ke tiga tahun silam di tahun 2011.

Ajakan Awe sebetulnya sederhana dan mudah untuk dilakukan kapanpun. Ia mengajak untuk mengirimkan surat yang berisi cerita dan kabar terbaru untuk dikirimkan pada guru di SD penempatan kami  terdahulu saat masih bertugas menjadi Pengajar Muda (PM). Surat tersebut cukup di kirim via surel kepada teman-teman PM yang saat ini sedang bertugas.

Saat itu juga saya tersadar bahwa esok harinya adalah tanggal 25 November 2014 dimana tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Guru. Hari dimana sebelum saya menjadi PM tidak pernah terpikirkan. Tiga tahun lalu, saya coba kenalkan hari itu di hadapan para guru dan murid di SDN 19 Limboro, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Tidak ada perayaan yang mewah melainkan cukup dengan upacara peringatan dan pembacaan puisi dari murid untuk gurunya. Sejak hari itu, saya semakin memiliki keyakinan  penuh bahwa sosok guru tidak hanya ada di pendidikan formal semata, melainkan selalu ada guru di setiap sendi kehidupan seorang manusia.

Saya merenung dan sesekali tersenyum kecil. Jari tangan dan pikiran saya tergerak untuk membuka kotak pandora yang rapi tersimpan di memori laptop dan memori otak. Akhirnya, saya kembali membukanya setelah sekian lama. Ya, kumpulan foto yang menceritakan tentang perjalanan setahun  yang menakjubkan dan pastinya takkan terulang lagi. Tiga tahun sudah terlewati saat saya pertamakali datang ke Limboro. Bukanlah waktu yang singkat. Begitu banyak hal yang terjadi. Berpindah, bertemu banyak orang dan menjalankan kesempatan baru yang sedang dan telah saya jalani. Sementara saya luput satu hal bahwasanya apa yang menjadikan saya seperti sekarang tentunya adalah doa dari orang-orang yang saya cintai, termasuk orang baik yang saya temukan di perjalanan saat saya belajar menjadi seorang guru.

Tangan saya meraih telepon genggam dan mencari kontak keluarga saya di Limboro, yang bisa saya hubungi. Hasilnya seperti apa yang sudah bisa ditebak. Tidak setiap saat saya bisa menghubungi mereka karena ketiadaan jaringan ponsel di desa. Saya pun menghela nafas panjang dan terkenang gelak tawa murid-murid yang jauh disana.

Saya kembali ke pekerjaan dan menyelesaikannya untuk segera beralih ke hal lain. Ya, saya akan meluangkan waktu kembali untuk menyapa keluarga saya. Orang-orang yang pernah singgah di hati dan saya tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Momen membuka kotak pandora hari itu mengingatkan saya bahwa meskipun hanya ada sedikit kabar yang dibagikan namun hal tersebut adalah satu bentuk terima kasih dan apresiasi bahwa selalu ada orang-orang yang menjadi guru terbaik sepanjang hidup kita.

Selamat hari guru untuk guru-guru hebat di SDN 19 Limboro, Majene 🙂

Selamat hari guru untuk semua orang yang pernah wara wiri di kehidupan saya. Dari mereka saya banyak belajar, tanpa mereka sadari 

(LA)

Lima untuk Solitary Walks

Jika ada yang (masih) ingin saya lakukan ketika saya sudah beranjak umur, maka saya akan lantang menjawab “Solitary Walks”. Mengapa demikian ? Jawabannya sederhana. Karena Tuhan menciptakan dua kaki agar manusia berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Alasan yang memang dibuat-buat dan semua orang juga paham. Namun daripada tidur siang, lebih baik jalan-jalan. Setidaknya itu yang jadi motto saya.

Kebiasaan ‘ Solitary Walks’ ini karena saya dilahirkan dengan telapak kaki yang datar, tanpa lekukan, seperti orang kebanyakan. Konon katanya pertanda tukang jalan tak kenal lelah. Selain itu, saya merasa tertantang dengan kegemaran saya membaca peta dan arah . Padahal menurut buku ‘Why Men Don’t Listen and Why Women Can’t Read Maps ?’ , wanita lebih sulit membaca peta dan arah daripada pria. Silogisme yang bisa ditarik, Luluk  adalah pencilan dari premis tersebut atau Luluk bukan wanita {?).

Jadi, kenapa harus ‘solitary’ ? Sendirian banget nih, Luk ?. Bilang aja Jomblo, deritanya tiada akhir (kampret jadi curhat). Bukan berarti saya anti jalan bareng. Tentu saja, jalan bareng juga mengasyikkan. Dari segi keuangan juga bisa sharing cost dan ada yang bisa diminta bantuan untuk (ehm..) ambil foto gitu. Lumayan buat ganti profile picture di akun media sosial.

Jadi, saya punya lima urutan tersendiri terhadap cerita ‘Solitary Walks‘ versi saya. Inilah cuplikannya :

  1. Demi Tengkleng

Pernah dengar Tengkleng kan ? Yang jelas, itu bukan buah karena kalau buah, namanya Lengkeng. Bukan juga hewan, karena kalau hewan namanya Celeng. Menurut Wikipedia, Tengkleng adalah masakan sejenis sup dengan bahan utama daging/jeroan/tulang kambing yang berasal dari Solo. Mirip gulai tapi kuahnya lebih encer. Saat itu, saya sedang berada di Yogyakarta. Ketika berada di Stasiun Lempuyangan, ada jadwal KRD Prambanan Ekspres Jurusan Solo dengan tarif Rp 10.000. Tanpa pikir panjang, saya langsung membeli dan berangkat hari itu juga. Demi apa ? Demi Tengkleng !

Sesampainya di Stasiun Solo Balapan, sejujurnya saya tidak tahu harus kemana dan naik apa. Namun karena tingkat ke-sotoy-an saya di atas rata-rata, saya berlagak jadi penduduk lokal yang kalau ditanya “Becak, Mbak ?” langsung saya jawab “Mboten, Pak (Tidak, Pak – bahasa Jawa.red)” dan bergegas pergi. Padahal dalam hati ketar ketir juga tanpa tujuan.

Saya pun menaiki bus kota dan ikut kemana bus itu pergi hingga penumpangnya turun semua. “Mati gue, mau kemana lagi nih!” batin saya dalam hati. Saya lihat di penunjuk jalan ada arah bandara dan Kartosuro. Melihat itu, saya sadar sepertinya saya sudah menuju arah keluar kota Solo padahal harapan saya inginnya ke pusat kota saja. Tetiba saya lihat Bus Trans Solo ‘Spirit of Java’, saya pun langsung menaikinya dan bertanya” Lewat Alun-alun, Pak ?” Bapak sopir bilang “Iya, Mbak nya tinggal jalan sedikit saja”.

Akhirnya, saya pun sampai di area Alun-alun, dekat Kraton Surakarta. Dari situ, kaki saya melangkah ke Pasar Klewer lalu ke Galabo, tempat kuliner khas Solo. Namun,Galabo memang tidak seramai jika malam hari. Sepanjang saya jalan, pedagang Tengkleng berhamburan depan mata. Sebenarnya saya tidak tahu yang mana yang paling direkomendasikan karena bagi saya sulit membedakan mana makanan yang enak dan sangat enak. Saya pun mencoba Tengkleng Solo Bu Edi, yang letaknya persis depan Pasar Klewer. Tempatnya sangat sederhana. Belakangan saya tahu, ternyata Tengkleng Bu Edi adalah salah satu yang paling direkomendasikan oleh penikmat kuliner. Ibarat pencarian jodoh, akhirnya bertemu juga dengan apa yang dicari (ini bukan curhat)

  1. Hiruk Pikuk di Bangla Road

Pekerjaan paling enak di seluruh dunia adalah jalan-jalan, apalagi gratis. Kira-kira apakah pekerjaan tersebut ? jadilah pemandu wisata alias tour guide niscaya Anda akan merasakan kenikmatan tersebut. Bermodalkan ke-sotoy-an dan keinginan untuk bisa jalan-jalan gratis, saya pun menerima tantangan menjadi tour guide ke Phuket di negara Gajah Putih pertengahan 2011. Untungnya, perjalanan ini lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Saya pun masih bisa untuk memiliki ‘me time’ dengan melakukan ‘solitary walks’ ke Bangla Road, Pantai Patong, Jungceylon Mall dan sekitaran hostel tempat saya menginap.

Bangla Road sebenarnya adalah nama sebuah jalan yang dilalui kendaraan namun sekitar pukul 17.00 waktu setempat jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor. Kawasan ini pun berubah menjadi kawasan paling happening di area Patong. Sekadar info, keadaan Patong hampir mirip Kuta di Bali. Ramai dengan turis asing dan kehidupan malamnya.

Saya, seorang bocah culun berkerudung,  dengan cuek jalan kaki di sepanjang Bangla Road sambil melihat keadaan sekitar. Para ladyboy beraksi dengan kostumnya yang aduhai dan parasnya yang cantik. Dentuman musik dan kerlap kerlip lampu disko kanan kiri membuat bising. Banyak pedagang makanan ringan aneh di pinggir jalan. Iya, aneh. Cumi, ikan pari, jangkrik dan serangga yang entah apa namanya diperjualbelikan. Beberapa jajanan yang logis di pikiran saya adalah es krim, buah potong dan Mango Sticky Rice yang kalau diterjemahkan Nasi Ketan Mangga (?).

Saya pun mencari tempat yang nyaman dekat trotoar buat sekadar menghabiskan si ketan mangga itu. Rasanya masih bisa diterima lidah. Saya pun menikmatinya sambil melihat hiruk pikuk di depan mata. Di seberang saya ada Billboard Signs GO GO Bars bertuliskan Phuket’s Famous Suzy’s Wong Group dan di bawahnya ada pemuda-pemuda berkumpul dan tertawa dengan para ladyboy. Mereka terlihat menikmati sekali. Tidak jauh dari tempat saya nongkrong ada penjual kaos Thailand bertuliskan Patong Beach. Sepasang turis bule menghampirinya dan melakukan tawar menawar harga. Hingga akhirnya , bule itu membeli dua kaos. Pedagang itu sepertinya  senang karena dagangannya laku.

Esoknya, saya kembali melewati Bangla Road di siang hari. Keadaannya sangat berbeda ketika di waktu malam. Layaknya jalan biasa yang dilewati banyak kendaraan. Yang buka antara lain toko oleh-oleh dan ada pedagang buah potong, es krim dan Mango Sticky Rice. Sementara para ladyboy dan pekerja di bar mungkin masih beristirahat untuk jadwal kerjanya nanti malam guna menghidupkan Bangla Road sebagai Phuket Nightlife

  1. Sudut Kota Kenangan

Dan Bandung bagiku

Bukan Cuma urusan wilayah belaka

Lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan,

Yang bersamaku ketika sunyi (Dan Bandung, The Panas Dalam)

Kalau menurut Anies Baswedan, setiap sudut kota Jogja itu romantis, namun tidak demikian menurut Luluk Aulianisa. Salah ? Tentu tidak. Karena setiap orang pasti memiliki latar belakang tempat dimana ia tinggal dan tumbuh berkembang. Seiring berjalannya waktu, setiap tempat menjadi saksi suatu kejadian atau pengalaman yang membuat kita tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Bagi saya, Bandung adalah alasannya.

Banyak yang mengira saya orang Bandung yang berarti saya adalah orang Sunda. Padahal keluarga besar saya tidak ada yang di Bandung. Dari kecil, saya belum pernah merasakan berlebaran di Bandung. Saya tidak bisa bahasa Sunda halus dan sopan, malah lebih lancar Bahasa Sunda ala terminal. Dari SD sampai SMA, pelajaran Bahasa Sunda adalah pelajaran paling menakutkan setelah Matematika. Kesimpulannya, saya bukan orang Sunda namun saya ingin disebut sebagai orang Bandung.

Lantas, mengapa saya begitu mencintai Bandung ? Ya, itu tadi seperti kata The Panas Dalam. Melibatkan perasaan. Titik

Saat itu, saya melintas di Jembatan Pasupati, dibonceng Ibu saya naik motor dalam perjalanan menuju Sukajadi. Saya, saat itu adalah seorang mahasiswi yang kuliah di Depok dan sedang pulang ke rumah orangtuanya di Bandung. Saya pun berkata

Ma, makasih ya karena kita tinggal di Bandung, untung aja Papa kerjanya di Bandung, jadi aku dari kecil udah tinggal disini(oke, emang saat itu gue merasa sangat sentimentil. cih)

Solitary walks di Bandung adalah hal yang sering saya lakukan. Rutenya adalah ke tempat sekolah saya dulu. Mungkin teman sekolah saya tidak banyak yang tahu bahwa saya sering berkunjung ke TK, SD, SMP dan SMA dalam agenda solitary walks saya ini. Yang paling sering adalah melewati SMP di bilangan Jalan Sumatera. Saya berjalan dari mulai turun angkot Kalapa-Dago di Jl. Belitung, melewati Taman Lalu Lintas lalu belok ke Jalan Sumatera. Saya teringat dahulu saat masih berseragam putih biru, saya selalu lewat jalan ini dan lebih sering berlari-lari karena takut kesiangan. Atau saya teringat saat jam belajar habis, saya dulu suka numpang baca Majalah Bobo (tapi gak beli) di tukang majalah depan sekolah (iya, saat SMP saya masih suka baca Bobo, di saat teman-teman saya sudah baca Gadis atau Kawanku).

Saya pun berhenti sejenak sambil jajan lumpia basah atau milkshake Aa Dea yang sudah dikenal dari jaman masih sekolah di tahun 2004. Sekarang semuanya sudah berubah, lebih tertata dan rapi. Namun, saya masih suka melihat diri saya sendiri sedang berlari atau sekadar ketawa ketiwi dengan teman di depan sekolah. Ah, lucu sekali masa-masa itu!

  1. Korban Video Klip

Pernah lihat video klip Andra and The Backbone dengan judul ‘Hitamku’ ?

Saya ingat betul bahwasanya video klip ini muncul di media saat saya berkuliah di Depok sekitar tahun 2008. Dibintangi Donny Alamsyah, seorang aktor laga yang membintangi Film The Raid, dan berlatar belakang di Kawasan Kota Tua, Jakarta.

Ketika melihat latar belakang tempat video klip tersebut, saya langsung penasaran karena tempatnya yang oldies. Saat itu, memang saya belum pernah tahu dan belum pernah mengunjungi Kawasan Kota Tua. Berbekal pengetahuan yang kurang memadai tersebut, saya pun berkelana sendiri dari Stasiun UI menggunakan KRL Ekonomi Jabodetabek dengan harga Rp 2.000 saja. Ya, bagi saya saat itu, naik kereta Ekonomi AC  dengan harga Rp 6.000 sangat mahal untuk mahasiswa kere tapi (sok) gaya macam saya.

Dengan waktu tempuh 45 menit, saya pun tiba di Stasiun Jakarta Kota. Hawa Kota Tua sudah mulai terasa di stasiun yang terkenal juga dengan nama Stasiun Beos tersebut. Saya pun beranjak keluar. Saya lihat ada Museum Bank Mandiri dan di sebelahnya ada Museum Bank Indonesia. Saya pun kegirangan karena sepertinya tujuan saya sudah dekat. Saya pun kembali jalan. Banyak gedung tua yang saya temui. Sampai akhirnya, saya sampai di taman Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. ‘Oh, jadi ini Kawasan Kota Tua yang sering jadi tempat syuting itu..” batin saya. Tidak jauh dari saya ada pasangan yang sedang photo shoot dengan wedding costume. Propertinya pun ada mobil tua yang terkesan mewah. Jadi selain syuting video klip, tempat ini juga jadi syuting film atau foto pre-wedding.

Saya pun duduk di tengah taman sambil memperhatikan orang lalu lalang. Ada odong-odong dan banyak tukang makanan. Area taman tersebut memang dikelilingi oleh museum. Selain Museum Fatahillah, ada juga Museum Tektil dan Keramik serta Museum Wayang. Saya pun melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya menemukan lagi salah satu spot dimana Donny Alamsyah sedang berlari, yaitu di depan Gedung Kerta Niaga, gedung ini dahulu bekas perkantoran. Selain itu, ditemukan juga spot syuting lainnya yaitu di seberang Jembatan Kota Intan. Di dekat situ, saya temukan juga Hotel Batavia, yang berarsitektur kolonial, warisan pemerintahan Belanda.

Rasa penasaran saya pun terjawab. Akhirnya, saya menemukan tempat yang saya cari. Saya pun lebih gencar mencari info sejarah tentang Kawasan Kota Tua karena rasa penasaran saya yang lain adalah tentang peradaban kawasan tersebut di zaman kolonial. Sejak tahun 2008, bisa dibilang saya semakin sering mengunjungi Kota Tua dan merekomendasikan kepada teman-teman sebagai wisata rakyat murah meriah

1. Tidak Bertanya, Nemu di Jalan

Awal 2011, saya pergi mengunjungi Singapura untuk pertamakalinya dengan titel semi-backpacker. Mengapa begitu ? Karena dari total 4 hari, hanya 2 hari saya bersama dengan saudara. Dua hari tersisa saya pergi keliling kota dan kembali pulang ke Jakarta sendiri. Ragu ? Justru itu yang saya tunggu.

Saat saudara saya sudah pulang duluan, saya pun memulai petualangan ‘Solitary Walks’ ini. Dengan bermodalkan peta dan EZ Link pinjaman, saya pun keluar hostel di pagi hari yang tidak jauh dari di MRT Bugis dengan penuh percaya diri. Sebenarnya, saya lebih menyukai ke tempat wisata sejarah daripada wisata belanja. Hari sebelumnya, saya sudah mengunjungi Orchard, Suntec City Mall dengan Dancing Fountain, Botanical Garden dan Sentosa Island.  Tujuan solitary walks saya kali ini adalah ingin melihat Singapura dari sisi lain dan tentunya low budget trip.

Tujuan pertama, saya mengunjungi  Sultan Mosque dan Malay Heritage Centre di Kampung Arab (Arab Street/Kampong Glam) yang kebetulan paling dekat dengan hostel saya. Tentunya sambil icip-icip Roti Prata dan Teh Tarik. Saya pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan MRT. Saya turun di MRT City Hall. Saya sengaja jalan untuk merekam keadaan sekitar. Ya, saya menyusuri Boat Quay, Raffless Landing Site, dan Asian Civilization Museum. Saya melihat lanskap Singapura tempo dulu, saat negeri ini dibangun. Saya pun melanjutkan perjalanan menuju Merlion Park. Di seberang saya melihat Marina Bay Sands, Esplanade dan Singapore Flyer.

Setelah itu, saya mengunjungi Esplanade dan melihat pertunjukan tarian yang kebetulan sedang tampil saat itu. Matahari semakin naik, saya juga menyempatkan diri minum Es Kachang di Makan Sutra Hawker Centre dengan pemandangan Central Business District nya Singapura.

Selanjutnya, saya kembali naik MRT menuju China Town. Semarak merah muncul saat saya tiba di kawasan ini. Tempat yang saya kunjungi disini yaitu Kuil Thian Hock Keng, Sri Mariamman Temple dan tentunya Food Centre di sepanjang area tersebut. Untuk menambah energi, saya beli Thai Coconut yang sebenarnya dalam bahasa Indonesia adalah Es Kelapa Muda. Percaya sama saya, paling enak Es Kelamud di negeri sendiri daripada di negeri orang lain!

Saat itu sore hari, saya menunaikan shalat Ashar di mesjid yang (akhirnya) saya temukan dekat China Town. Sebetulnya saya sudah sangat capek dan haus. Persediaan air sudah menipis. Beli minum 1 botol Aqua 600 ml di 7Eleven seharga Rp 8.000-an jika di kurs rupiah (Tahun 2011). Sungguh menyiksa bagi orang model jet pump (baca : senang minum air putih) macam saya.

Saya pun bergegas ke Mustafa Centre karena menurut saya di tempat inilah tempat beli minum yang paling murah. Selain itu, bagi para penggemar coklat Hershey’s, saya pun lebih merekomendasikan beli disini daripada di tempat lain karena jatuhnya lebih terjangkau. Hari sudah mulai gelap. Rasa lapar melanda. Karena saya sudah niat mau irit, saya bawa kering tempe dan abon di tas. Saya pun hanya beli nasi seharga 1 SGD di Restoran India. Tadinya tidak boleh, namun saya tawar dengan sok bicara Singlish.” Please laaa..Only rice..white rice, please “ Mungkin kata si India “ Dasar Melayu kere, masak cuma beli nasi putih doang “ Saya pun segera mencari spot dekat Mustafa Centre dimana saya bisa membuka kering tempe dan abon simpanan. He he he…

Selesai makan, saya bengong sesaat. Mengingat hari ini sudah kemana saja. Ternyata saya sudah keliling jauh juga. Saya menyadari bahwa ternyata kaki saya agak sakit. Tapi karena saya tipikal orang yang gak mau rugi waktu dan tempat dan mencoba untuk bisa mengandalkan diri sendiri. Saya pun kembali berjalan dengan tujuan….kemana aja boleeehh

Tetiba saja saya mendapat ide untuk nongkrong di Clarke Quay. Tapi tentu saja saya tidak nongkrong di kafe atau pub nya karena mahal. Saya hanya duduk di pinggiran sambil melihat atraksi orang yang teriak-teriak karena naik Gmax, reverse bungy yang katanya memacu adrenalin.

Akhirnya saya berniat pulang ke hostel. Saya pun naik MRT. Saat di MRT, saya merasa agak janggal karena rute yang saya ambil seharusnya bukan demikian. Saya lihat yang terdekat bisa menuju Little India. Sebetulnya ini sudah dekat dengan Mustafa Centre yang sebelumnya sudah saya datangi. Saya juga bingung kenapa saya pilih turun di Little India padahal kaki sudah gempor setengah mati. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Saya seperti tidak tahu arah dan tidak bisa mikir karena capek. Sesaat ketika saya keluar MRT Little India, saya lihat ada semacam pawai di sepanjang Serangoon Road. Saya jadi kembali semangat. Saya juga sempat mengunjungi Sri Veeramakaliamman Temple, Tekka Market dan mampir shalat di Mesjid Abdool Gafoor. Setelah itu, saya pulang menuju hostel dengan menggunakan bus.

Perjalanan kali ini sungguh puas dan menyenangkan karena saya menemukan banyak hal. Adakalanya saya tersesat, namun justru itu membawa saya untuk menemukan hal yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Menurut saya, itulah esensi perjalanan yang sesungguhnya. Yang menarik, dalam sehari itu, saya pergi ke tempat yang berbeda. Multi etnis dan kepercayaan. Bahagianya, saya masih bisa menemukan tempat dimana saya bisa menunaikan shalat dan tempat dimana saya masih (Insya Allah) bisa makan halal yang enak.

*****

Sungguh menyenangkan jika kita masih diberikan kesehatan dan rezeki untuk berjalan-jalan dan melihat dunia. Jalan sendiri dan bersama-sama tentunya ada kekurangan dan kelebihannya. Tapi bagi yang belum pernah “Solitary Walks”, silakan mencoba sewaktu-waktu. Siapa tahu cocok dan ketagihan! (LA)

I get pleasure from my solitary walks