Catatan Kerinduan untuk Mekkah Al Mukarromah

Menjelang akhir malam yang dingin. Langit masih cukup gelap namun terangnya lampu di ruas jalan seakan menemani. Perjalanan darat dari Bandara King Abdul Aziz di Jeddah menuju tujuan nyatanya tidak terasa jauh jaraknya.  Sungguh, perasaan apakah ini ? Rasanya membuncah dalam dada. Hingga langkah ini menjejak di kota suci, Mekkah Al Mukarromah.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda “ Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga “ (Muttafaqun Alaihi)

Betapa istimewanya Islam, sebagai agama rahmatan lil’alamin yang mengatur setiap sendi kehidupan manusia, sejak ia membuka mata hingga menutupnya kembali. Begitu mulia segala rukunnya sebagai panduan manusia dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat. Shalawat dan salam tercurah kepada suri tauladan yang baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Salah satu rukun Islam adalah Haji bagi orang yang sanggup dan mampu melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Adapun umroh disebut dengan Haji Kecil. Umroh dan Haji adalah panggilan khusus dari Allah subhanallahu wa ta’ala bagi orang-orang yang dimampukan baik dari sisi harta maupun fisik. Adakalanya orang yang kita anggap mampu secara harta dan fisik namun bisa jadi panggilan Allah belum mengetuk pintu hatinya untuk mengunjungi Baitullah. Namun, ada juga yang kita anggap belum mampu secara harta dan fisik ternyata justru Allah mengundangnya langsung ke Baitullah tanpa ada hambatan berarti.  Semoga kita semua termasuk dalam golongan hamba-Nya yang dipanggil serta dimampukan secara harta dan fisik menuju Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh. Aamiin Allahumma Aamiin

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Pagi yang cerah namun cukup berangin di kota Mekkah. Hari itu, Jumat 29 Januari 2016,  para jamaah bersiap untuk pergi ke Masjidil Haram melaksanakan rukun umroh. Sebelumnya, kami jamaah Indonesia telah melakukan miqat dan berniat ihram di pesawat saat melintas Yalamlam, tempat miqat bagi penduduk Yaman dan untuk mereka yang melewatinya dari negeri lain yang ingin menunaikan ibadah haji dan umroh. Hari pertama kami sampai di Mekkah, hari itu juga saya belum bisa berumroh dikarenakan sedang datang tamu bulanan sejak sebelum keberangkatan. Rasanya hati ini berkecamuk menahan rasa yang begitu ingin segera masuk ke Masjidil Haram dan melihat Ka’bah secara langsung. Namun, seperti nasihat dari orang-orang baik yang saya temui bahwasanya tubuh ini milik Allah dan segala ketetapan adalah hak-Nya. Tidak sedikit orang yang menyarankan saya untuk minum obat penghenti haid namun berdasarkan pertimbangan pribadi dan konsultasi dokter sewaktu di Indonesia, niat itu saya urungkan. Ada keyakinan bahwa saya akan tetap bisa umroh esok hari karena ada alokasi waktu empat hari di Mekkah, Insya Allah.

Hari pertama di Mekkah berlalu dengan lancar. Alhamdulillah para jamaah, termasuk Ibu saya, sudah melaksanakan ibadah umroh pertamanya. Saat menunggu mereka melaksanakan umroh, saya dan beberapa kawan yang sama-sama sedang berhadas besar menyempatkan diri untuk jalan-jalan dari Hotel Saraya Iman, tempat kami bermalam (lokasi arah Aziziyah, dekat dengan Le Meridien Hotel, 300 meter berjalan  kaki ke Masjidil Haram) menuju pelataran masjid yang di sekelilingnya terdapat hotel dan bangunan pencakar langit Zamzam Tower, Abraj Al Bait Shopping Center. Kesan pertama melihat suasana tersebut adalah kemegahan luar biasa untuk Masjidil Haram. Masya Allah, di dalam mesjid ini ada Ka’bah. Secara logika manusia, saya hanya tinggal beberapa langkah kaki menuju kesana, nyatanya jika Allah belum berkehendak, saya belum bisa melihat Ka’bah secara langsung. La haula walaa quwwata illa billah. Setelah itu, saya pun kembali ke hotel karena pelataran Masjidil Haram sudah disterilkan hanya untuk para jamaah yang akan melaksanakan ibadah Shalat Jumat.

20160129_111010
Pelataran Masjidil Haram dilihat dari Zamzam Tower P3

‘Tidak boleh menyengaja (memaksakan diri) melakukan perjalanan kecuali ke tiga mesjid ; Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha” (Muttafaqun Alaihi)

Mujahid meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda, “ Sesungguhnya Masjidil Haram adalah tempat suci diantara tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi yang berhadap-hadapan” ( Akhbar Makkah ‘an Mujahid, Sya’b al-Iman li al-Bayhaqi)

Hari berganti. Jadwal rombongan jamaah hari ini, Sabtu, 30 Januari 2016 adalah city tour selepas shalat dzuhur dan makan siang. Para mutowif (orang yang membimbing ibadah umroh) menginformasikan juga bagi yang akan melakukan umroh kedua dipersilakan untuk membawa pakaian ihram dan miqat di Mesjid Ji’ronah, lima belas kilometer dari kota Mekkah, di penghujung city tour nanti. Menjelang dzuhur, saya bergegas untuk mandi junub karena Insya Allah, haid saya sudah selesai yang artinya saya akan berihram untuk melaksanakan umroh hari ini. Saya pun bergegas ke Masjidil Haram dan menunaikan ibadah shalat dzuhur berjamaah. Ibu dan tante saya sudah menunggu disana. Dalam perjalanan, saya sudah membayangkan, sebentar lagi saya akan melihat Ka’bah secara langsung. Allahu akbar. Namun apalah daya, ternyata siang itu Masjidil Haram telah ditutup oleh para Askar (polisi Arab) karena sudah mendekati waktu adzan. Bagi jamaah yang ingin shalat dzuhur, dipersilakan di pelataran mesjid. Saya hanya bisa menatap pintu Masjidil Haram, penglihatan saya tidak sanggup menembus apa yang ada dan terjadi di dalamnya.

Tujuan city tour pertama hari itu adalah Jabal (gunung) Tsur, yang di salah satu puncaknya terdapat Gua Tsur, tempat yang dijadikan perlindungan Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar dari kejaran kaum kafir Quraisy. Tahun 622 M, Rasulullah berniat hijrah ke Madinah untuk mencari tempat penyebaran Islam yang lebih kondusif. Namun, kaum Kafir Quraisy tidak menginginkan ajaran Rasulullah menyebar ke luar Mekkah. Di Gua Tsur yang tandus itulah, Rasulullah dan Abu Bakar berlindung selama tiga hari tiga malam. Kisah tentang pertolongan Allah terhadap Rasulullah dan para sahabat tertulis di QS. At-Taubah; 90, “La tahzan, innallaha ma’anaa, jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”.

20160130_145945
Jabal Tsur

Setelah Jabal Tsur, kami berangkat menuju Jabal Rahmah yang lokasinya tak jauh dari Padang Arafah, tempat para jamaah haji melakukan Wukuf. Berangkat dari kisah yang diyakini umat muslim bahwa saat pertamakali diturunkan ke dunia, Adam dan Hawa bertemu di Jabal Rahmah. Tidak ada ritual ibadah khusus di tempat ini, seperti juga di Jabal Tsur, karena Rasulullah tidak pernah mencontohkannya. Seperti sabdanya yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi, “ Jauhilah perbuatan baru (dalam agama) karena setiap perbuatan baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. Jabal Rahmah saat itu dipenuhi para pedagang. Tugu putih sebagai simbolis seringkali jadi ajang vandalisme pengunjung yang mendatanginya. Turun dari Jabal Rahmah, kami melanjutkan menuju kawasan Arafah, Mina, dan Muzdalifah . Saat itu suasananya sangat sepi, tentu saja karena bukan musim Haji. Terbayang saat musim Haji, tempat-tempat tersebut dipenuhi oleh para jamaah dari berbagai penjuru dunia.

20160130_154351
Jabal Rahmah
20160130_161054
Menuju Arafah
20160130_162533
Tenda Jamaah Haji di Mina dan Tempat Melempar Jumroh

Saat Ashar tiba, selanjutnya kami bertolak ke Mesjid Ji’ronah untuk miqat dan mulai berihram bagi yang hendak melaksanakan ibadah umroh kedua. Mesjid kecil ini dinamakan demikian karena merupakan nama seorang wanita yang mengabdikan diri untuk menjaga dan membersihkan mesjid tersebut. Setelah dari Mesjid Ji’ronah, kami bergegas kembali ke hotel. Namun kami sempat melintas di Jabal Nur yang di salah satu puncaknya terdapat Gua Hira. Di gua itulah pada hari Senin, 17 Ramadhan bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, Rasulullah mendapatkan wahyu pertama yaitu QS Al-Alaq 1-5. Kala Rasulullah tengah khusyuk bertafakur, Malaikat Jibril datang menghampiri dan menyampaikan “ Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptkan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya “

20160130_174403
Gua Hira di Jabal Nur, saat ini sudah banyak bangunan di dekatnya

Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk la syariika lak

Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji , nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu

Sungguh jika diresapi dan diucapkan terus berulang-ulang, kalimat talbiyah ini merupakan kalimat paling indah dari jawaban seorang manusia terhadap Pencipta yang memanggilnya. Hati siapa yang tidak gerimis mendengar kumpulan seruan manusia yang keberadaannya bagaikan setitik debu di jagad raya kepada Allah Azza Wa Jalla. Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah. Betapa indah dan manisnya panggilan Allah untuk setiap hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh.

Selepas Isya kami pun melaksanakan ibadah umroh. Ini akan jadi umroh pertama saya, ditemani oleh ibu saya dan juga jamaah lainnya yang melaksanakan umroh kedua. Saat meniti langkah demi langkah menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf, perasaan saya tidak bisa dideskripsikan, hati saya rasanya sudah bergemuruh menahan haru. Hingga di kesempatan pertama penglihatan saya padanya, Ka’bah yang selama ini hanya saya lihat melalui foto, ia ada di hadapan saya sekarang, yang selalu dikelilingi oleh ribuan orang berthawaf. Ini adalah moment of truth

Tangis saya pecah. Rasa bahagia, takjub dan haru bercampur jadi satu. Ada pesona dan energi yang sangat kuat terpancar darinya, Sesuatu yang tidak mampu saya jelaskan. Inilah Ka’bah, kiblat umat Islam di seluruh dunia. Masya Allah, Allahu akbar.

Sungguh, Ka’bah adalah bangunan buatan manusia berbentuk kubus. Namun yang jadi istimewa adalah pendiriannya langsung diperintahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih. Berbicara mengenai Ka’bah tentu tidak terlepas dari kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ibrahim adalah khalil ar-rahman (teman Allah), bapak para nabi. Nabi Ismail adalah seorang anak yang berbakti dan rela mengorbankan dirinya atas perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelihnya. Allah langsung menjawab dalam QS.Ash Shafaat 107  ‘Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar’. Suatu ujian nyata bagi keluarga Ibrahim, mereka terbukti mampu melewatinya dengan keimanan dan ketakwaan.

Selanjutnya Ibrahim mendapatkan perintah langsung dari Allah untuk membangun kembali Ka’bah yang sebelumnya dibangun oleh para malaikat. Saat meninggikan fondasi Ka’bah, Ibrahim mengucapkan doa dengan penuh kerendahan hati “ Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha mendengar dan Maha mengetahui seperti yang tertulis di QS. Al Baqoroh 127. Ketika bangunan semakin tinggi melewati kepala, Ibrahim mengambil sebuah batu yang cukup besar sebagai pijakan untuk meneruskan pembangunan dinding Ka’bah. Pijakan kaki tersebut dikenal dengan Maqam Ibrahim.Saat ini, Maqam Ibrahim biasa dijadikan tempat shalat. Setelah menuntaskan pembangunan Rumah tersebut, Ibrahim menemukan sebuah celah cukup lebar di salah satu dindingnya. Kemudian ia meminta Ismail untuk mencari sebongkah batu untuk menutupi celah itu dan sebagai tanda bagi manusia. Ismail pergi menuruti perintah ayahnya namun setelah lama berlalu Ismail tak kunjung datang. Ibrahim tidak tahu bahwa keterlambatan Ismail adalah kehendak Allah. Tiba-tiba, Malaikat Jibril turun membawa batu hitam yang tersimpan di Bukit Qubays saat banjir besar pada masa Nabi Nuh. Ibrahim meletakkan batu hitam di celah kosong yang dimaksud. Itulah yang kita kenal dengan Hajar Aswad. (Cerita ini disadur dari Buku The Ka’bah, penulis Fathi Fawzi Abdul Mu’thi)

Thawaf dimulai dari pilar hijau yang segaris lurus dengan Hajar Aswad. Jika tidak bisa menyentuh dan mengecup Hajar Aswad, disunnahkan melakukan lambaian tangan seraya berkata ‘Bismillahi Allahu’akbar’ kemudian berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali sambil berdoa apapun yang menjadi hajat kita. Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad (hitungan 1x putaran), membaca Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat, ‘Rabbana atiina fiddunya hasanah wafil’akhirati hasanah waqiina adzabannaar’. Tidaklah sah thawaf seseorang jika mengikuti arah jarum jam, melainkan harus berlawanan arah. Posisi Ka’bah terletak di sebelah kiri orang berthawaf. Jika dikaji dengan ilmu manusia, yang hanya setitik buih di lautan ilmu Allah, pergerakan berlawanan arah jarum jam tersebut mengikuti sunnatullah. Segala apapun di dunia ini, bahkan hingga unsur terkecil sekalipun, bertasbih kepada-Nya dengan cara yang tidak kita ketahui. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Selepas thawaf, rukun umroh selanjutnya adalah Sa’i sebanyak 7x. Sa’i mengisyaratkan perjalanan Siti Hajar, ibunda Ismail yang berikhtiar bolak balik Bukit Safa dan Marwa untuk mempertahankan hidupnya dengan mencari air untuk Ismail kecil yang menangis dan ia tinggalkan di dekat Ka’bah. Sa’i mengingatkan kita untuk terus berusaha di dunia dengan segala dinamikanya. Adakalanya dalam hidup, posisi kita sedang di atas atau di bawah. Namun, Allah berjanji dalam QS Al Insyirah 5-6 “ Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Saat kita ada di puncak Bukit Safa atau Marwa, dianalogikan ketika berada di puncak kesuksesan, kita harus tetap menghadap Ka’bah seraya berdoa kepada Allah. Ada saatnya juga kita butuh bertindak cepat dalam hidup, untuk itu disunnahkan berlari-lari kecil (raml) bagi laki-laki dan berjalan cepat bagi perempuan diantara dua pilar hijau. Hikmah Sa’i adalah sebesar apapun ikhtiar manusia, hanya Allah yang Maha menentukan. Siti Hajar tidak pernah menyangka bahwa ternyata air yang dicarinya tidak muncul diantara Safa dan Marwa melainkan justru di dekat kaki Ismail, dekat Ka’bah, yang sekarang kita kenal dengan air Zamzam. Itulah janji Allah bahwa Allah tidak akan pernah sedikitpun menelantarkan hamba-Nya dan akan memberikan rezeki yang tidak disangka-sangka di waktu dan tempat yang tidak terduga. Tugas manusia adalah berusaha dan berdoa memohon ridho-Nya. Saat ini lintasan Sa’i di Safa dan Marwa berada dalam ruangan 3 lantai dan dialasi keramik. Di setiap ujungnya, masih dipertahankan gundukan Bukit Safa dan Marwa yang sudah dipagari. Bayangkan bagaimana dulu tempat itu begitu sepi dan tandus!

‘Innashshafaa walmarwata min sya’aa’irillaah, sesungguhnya  Safa dan Marwa termasuk syiar (tanda kebesaran) Allah’ (QS Al Baqoroh 158) 

Setelah Sa’i, rukun umroh disempurnakan dengan tahalul yaitu memotong rambut minimal tiga helai. Alhamdulillah, umroh pertama saya telah selesai. Semoga Allah meridhoinya.

20160130_230533
Sa’i di Lantai 1 Masjidil Haram

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (QS Al Baqoroh 286)

Saat dini hari di hari Minggu, 31 Januari 2016, Ibu membangunkan saya untuk berangkat ke Masjidil Haram. Sesampainya disana, kami melakukan thawaf sunnah. Selepas melakukan thawaf sunnah, Ibu saya mengajak ke Hijr Ismail yang berbentuk setengah lingkaran dan dibatasi oleh tembok. Hijr Ismail termasuk bagian dalam Ka’bah dan menurut riwayat merupakan tempat dimana Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail atas perintah Allah subhanallahu wa ta’ala. Hijr Ismail merupakan salah satu tempat mustajabah untuk berdoa terutama di bawah talang emas. Kami pun berdoa di dalamnya.

Setelah dari Hijr Ismail, Ibu kembali mengajak saya ke tempat mustajabah lainnya, yakni Multazam. Multazam terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Terdapat Askar yang bersiaga diantaranya. Jamaah berkumpul dan mencoba bagaimana cara bisa bermunajat di depan Multazam. Ibu saya mengarahkan saya untuk bisa mendekati Multazam. Saya melihat usaha yang sedemikian besar dari Ibu agar kami bisa sampai Multazam. Saya menangis haru sambil menengadah ke langit Mekkah dini hari itu yang nampak begitu bercahaya. Suatu nikmat yang sangat besar di tengah keterbatasan kami, saya dan Ibu bisa sampai disini, bersama-sama melakukan ibadah umroh mencari ridho-Nya, Insya Allah.

Masih di tengah kerumunan dekat Multazam, pikiran saya pun menerawang tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya. Di hadapan saya saat itu adalah salah satu hasil karyanya atas petunjuk Allah subhanallahu wa ta’ala seperti yang tertulis dalam QS Sad 45, ‘Dan ingatlah hamba-hamba kami, Ibrahim, Ishak dan Ya’kub mempunyai karya-karya yang besar dan pengetahuan yang tinggi’. Ka’bah seperti menyimpan energi Ibrahim yang positif. Dekat dengan Ka’bah, seperti dekat dengan Nabi Ibrahim. Rasanya tenang, damai dan lembut seperti sifat Nabi Ibrahim yang dipuji Allah. Di tengah pikiran saya itu, Ibu menarik saya untuk semakin dekat dengan Multazam. Tangan saya pun menyentuh Multazam dan wajah ini bersentuhan langsung dengannya. Saya menangis memohon ampun dan meminta permohonan terbaik. Berkali-kali lagi, saya merasa ada aura terpancar begitu kuat. Kondisi yang berdesak-desakan membuat saya tidak bisa lama-lama disana. Ibu mengajak saya keluar dari kerumunan lalu tanpa berkata, beliau memeluk saya sambil menangis. Di bawah langit Mekkah, kami berdua berpelukan erat di antara kerumunan orang berthawaf, setelah bermunajat pada-Nya di sepertiga malam terakhir. Rasanya indah dan damai sekali. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ? Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Selepas shalat subuh. Ibu mengajak saya berkeliling Masjidil Haram yang sangat luas itu. Kami pergi ke lantai 2 dan lantai 3 tempat orang berthawaf. Ibu juga mengajak saya ke lantai shalat paling atas yang langsung berhadapan dengan  langit. Kami terus berkeliling sampai lelah tidak terasa. Mencoba mempelajari arah dan rute dalam Masjidil Haram. Saat di lantai 2 tempat thawaf, kami duduk di pinggiran sambil melihat langsung ke arah Kabah. Para jamaah terlihat bagaikan titik yang menyemut mengitari Baitullah. Masya Allah, sebelumnya kami adalah salah satu titik disitu. Betapa manusia sebenarnya sangat kecil dan lemah. Melihat kumpulan orang berthawaf terlihat apik dengan polanya yang seragam namun ketika berada dalam arena thawaf bisa jadi yang dialami adalah penuh dengan orang dalam kondisi yang sesak dan melelahkan. Seperti halnya kita melihat kehidupan dunia nampak menyenangkan namun saat menjalaninya begitu banyak cobaan dan ujian yang hanya bisa dilewati dengan sebaik-baiknya bekal yaitu takwa.

20160131_070604
Ka’bah dan suasana orang berthawaf dari lantai 2, Terdapat Askar (polisi Arab) yang berjaga diantara Multazam dan Hajar Aswad. Bangunan seperti kurungan di sebelah kanan adalah Maqam Ibrahim. Bangunan seperti tembok putih di sisi lain Ka’bah adalah salah satu bagian lengkungan dari Hijr Ismail. Dinding Ka’bah sebelah kiri di gambar ini adalah Rukun Yamani

Masih di hari yang sama, jadwal hari itu adalah pergi ke peternakan unta dan Masjid Hudaibiyah. Bagi yang hendak melakukan umroh lagi dipersilakan untuk miqat dan berihram dari Hudaibiyah. Di Hudaibiyah terdapat masjid tua yang tinggal puing-puingnya saja, bersebelahan dengan masjid baru tempat miqat. Di puing-puing tersebut, Rasulullah mengadakan perjanjian antara kaum muslimin dan kaum Quraisy untuk tidak saling menyerang, yang kemudian membuka peluang kaum muslimin untuk mengislamkan penduduk Mekkah. Perjanjian tersebut dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah yang ternyata dilanggar oleh kaum Quraisy, namun kaum Muslimin bisa membalasnya dengan penaklukkan Mekkah (Fathul Makkah) pada tahun 630 M.

Setelah dari Hudaibiyah, kami juga mengunjungi museum Exhibition of The Two Holy Mosque Architecture yang berisikan benda-benda bersejarah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta memuat info perkembangan kedua mesjid tersebut dari masa ke masa.

20160131_100327
Bangunan masjid baru di Hudaibiyah

Selepas dzuhur, saya kembali bersama Ibu pergi menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umroh terakhir karena keesokan harinya kami akan berangkat menuju Madinah Al Munawarroh. Sungguh, Mekkah akan sangat kami rindukan dan kami menantinya untuk bisa datang kembali. Setelah Ashar, umroh kami pun selesai. Tak cukup berkeliling Masjidil Haram di hari kemarin, kami pun melanjutkan eksplorasi Masjidil Haram di bagian lain yang belum terjamah. Untuk diketahui, saat ini tahun 2016, Masjidil Haram masih dalam proses perluasan sehingga banyak alat berat seperti crane yang tersebar. Bagi para jamaah yang sebelumnya sudah pernah datang ke Mekkah pasti akan melihat perubahan yang banyak terjadi di Masjidil Haram dan sekitarnya, seperti yang Ibu saya rasakan saat tahun 2004 menjalankan ibadah Haji, kemudian tepat setelahnya ayah saya di tahun 2005 menyusul untuk melaksanakannya juga. Beberapa pintu masjid ditutup karena perluasan. Saya belum sempat mengenal Ma’la, Masjid Kucing, Pasar Seng, seperti yang ayah saya ceritakan. Insya Allah, lima tahun lagi dari tahun 2016, perluasan Masjidil Haram ditargetkan selesai.

Hari terakhir di Mekkah pun tiba. Dini hari, Senin, 1 Februari 2016, saya, ibu, tante dan kerabat lainnya bergegas ke Masjidil Haram untuk menghabiskan sepertiga malam terakhir dilanjutkan shalat subuh berjamaah. Kami melakukan thawaf sunnah lalu setelah itu rombongan kami terpisah namun saya tetap bersama ibu. Dini hari terakhir, rasanya hati ini semakin berat meninggalkan Mekkah. Pancaran Ka’bah masih dan selalu terasa sangat kuat. Pandangan tertuju pada Hajar Aswad, batu hitam yang menjadi patokan mulainya thawaf.

Dari Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad. Lantas Umar berkata, ‘Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu. (HR. Bukhori no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Entah ada dorongan dari mana, langkah kaki ini berjalan mendekat Hajar Aswad yang pastinya selalu dipenuhi banyak orang. Cukup lama, saya dan Ibu tertahan di kerumunan orang dekat Hajar Aswad hingga sempat terlintas dalam pikiran saya bahwa jika ini mendatangkan mudhorot alangkah lebih baiknya jika saya mundur perlahan. Hajar Aswad terlihat tinggal beberapa langkah namun semua tampak begitu jauh karena tumpukan orang di hadapan saya. Saya melihat Ibu yang selalu ada di samping saya. Ibu terlihat masih bersemangat hingga saya pun mengurungkan niat mundur perlahan itu. Sepanjang proses mendekati  Hajar Aswad, saya hanya bisa pasrah menerima fisik saya yang terdesak kesana kemari sambil memanjatkan doa. Salah satu doa yang paling saya ingat dan inginkan adalah saya minta diberikan kelembutan hati dan tutur kata yang baik seperti Nabi Ibrahim. Rasanya damai sekali untuk memintanya. Waktu terus berjalan, tanpa sadar kami semakin dekat dengan Hajar Aswad, tepat di depan Askar, sementara Hajar Aswad ada di posisi kiri. Melihat keadaan itu, saya berusaha mencari celah. Askar melihat kami yang kepayahan hingga Ibu saya meminta tolong sambil menunjuk saya pada Askar ‘Help..help..’ Hajar Aswad semakin dekat dan ada di depan saya, saya berusaha menciumnya namun kepala saya belum sepenuhnya berada dalam lubang putih yang mengelilingi Hajar Aswad. Aromanya begitu kuat dan sangat harum. Melihat itu, Ibu saya masih meminta tolong pada Askar “not yet..not yet”. Tanpa diduga, Askar menolong agar saya memasukkan kepala untuk kedua kalinya dan mencium Hajar Aswad, batu hitam kecil yang ada di tengah lubang putih tersebut. Selanjutnya, saya menarik Ibu saya untuk bisa berganti posisi namun apa daya bahwa Askar telah menghalau kami untuk menjauh. Ibu saya mengerti dan segera menarik saya keluar dari kerumunan.  Saya tahu, Ibu saya ingin mencontoh apa yang dikerjakan Rasulullah. Ibu saya yang senantiasa mengajarkan anak-anaknya untuk mengikuti petunjuk Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman hidup. Saya hampir tidak bisa berkata, hanya bisa menatap Ibu sambil menangis. Tangannya yang lembut memeluk saya, hatinya yang damai menenangkan saya, “Gak apa-apa..” ujar beliau sambil tersenyum.

Masya Allah, Allahu akbar, semua terjadi atas izin-Nya dan semoga Allah meridhoinya. Semoga Allah memberi keberkahan dan membalas setiap kebaikan dari Ibu saya dengan ganjaran berupa surga tanpa hisab. Aamiin Allahumma Aamiin.

20160201_095519
Salah satu bagian dari Masjidil Haram

Selepas merapikan barang-barang dan bersiap check out, kami kembali menuju Masjidil Haram untuk melakukan Thawaf Wada, thawaf perpisahan yang setelah itu artinya kami harus meninggalkan Mekkah. Sungguh, hati ini begitu merindu pada Baitullah. Pandangan dan langkah ini seolah tidak mau lepas dari Ka’bah dan Masjidil Haram. Setiap orang pasti begitu mendambakan untuk kembali lagi menunaikan ibadah haji dan umroh. Semoga kita semua, umat muslimin dan muslimat, dimasukkan dalam golongan umat yang terpanggil secara harta dan fisik menuju Baitullah. Al maunah biqadrin niyyah, pertolongan Allah itu datang sebanding dengan besarnya niat seseorang.

Allahummarzuqnaa ziyaarata al haramayni makkata wa madiinata. Innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir. Ya Allah, berikanlah kami rezeki untuk dapat mengunjungi dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu

Ya Allah, beri kesempatan, menjadi tamu-Mu. Bersujud di tanah suci-Mu, sebelum Izrail memanggil  (Snada – Sambut Panggilan-Nya)

 Selanjutnya perjalanan ini dilanjutkan menuju kota nabi, jejak lahir peradaban Islam, Madinah Al Munawarroh

(bersambung)

 

Tiga Bulan Tanpa Pendakian

Tsaaah..judul gue udah berasa kayak pendaki pro banget yak, yang kayanya tiap bulan mesti kudu banget mendaki! Padahal da aku mah apa atuh, cuma perempuan biasa yang kerap menahan rasa rindu yang teramat dalam pada dia, gunung yang menjulang dan seolah melambai-lambai untuk didaki. Ga tau dan ga ngerti ada apaan sih di gunung yang membuat gue mau balik dan balik lagi. Nemu jodoh di gunung juga enggak ehhhh belum kali ya? Upss..haha. Ya..ya..ya, gue emang udah kebanyakan asumsi tapi yang jelas gue gak bisa memungkiri kalo gue jatuh cinta sama gunung. Okesip!

***

Sejak akhir Agustus 2015 lalu, Prau adalah gunung terakhir dan masuk dalam kategori gunung ‘emesh’ yang gue daki. Seperti yang kita semua tau setelah Lebaran 2015, rata-rata gunung di berbagai wilayah di Indonesia ini mengalami kebakaran. Penyebabnya macem-macem, tapi memang dominannya karena faktor musim kemarau yang berkepanjangan, ditambah dengan kegiatan pendaki yang (mungkin) kurang bertanggung jawab alhasil tanah dan pepohonan di gunung jadi rentan dan rapuh, kayak hati aku #loh

Ah, yang jelas gue sedih banget lah pas tau gunung-gunung banyak kebakaran. Diantara gunung-gunung yang mengalami kebakaran itu, salah tiga diantaranya adalah tujuan gue berikutnya. Sakitnya tuh disini, men! Karena rencana hanyalah tinggal rencana, memang pada akhirnya hanya Allah SWT yang menentukan. Rasa rindu mendaki ini akhirnya harus kutahan lagi, hingga tiba waktunya.

Singkat cerita, musim hujan pun akhirnya tiba. Iya di awal Desember, kebanyakan jalur pendakian pun dibuka kembali. Alhamdulillah, penantian panjang ini akan segera berakhir. Rasa rindu ini seperti membuncah dalam dada, ibarat bom Molotov, tinggal meletus dah nih, Dhuaaarr!

 

TAPIII…

 

Ada tapinya coy, mendaki di musim hujan itu sebetulnya ga terlalu asik juga sih. Pengalaman gue ke Lawu akhir tahun 2014 lalu mudah-mudahan jadi pendakian ‘berkuah’ gue yang terakhir. Waktu ke Lawu, kuahnya kagak main-main soalnya. Hujan angin bok! Gue rasa selama gue mendaki, Lawu jadi gunung paling dingin yang pernah gue temuin deh. Tapi ya tetap, setiap pendakian selalu punya cerita. Selalu berkesan. Serius.

Maka dari itu, di akhir November gue udah ambil ancer-ancer, awal Desember mau naik kemana nih ya? Emang dasarnya orang udah kebelet, eh nemu aja gitu kelompok orang yang konkret mau naik dan tujuannya adalah salah satu gunung yang gue idam-idamkan juga. Sebut saja, gunung itu adalah Merapi!

20151205_172157[1]
Pendakian Merapi Jalur Resmi New Selo resmi dibuka per 1 Desember 2015
Seperti biasa yah, saat perjalanan menuju gunung, atau di gunung sekalipun, jangan khawatir bakal kekurangan temen. Karena temen lo akan bertambah. Suer deh! Tiba-tiba aja gitu gue naik dengan sekelompok orang yang gue juga gak kenal sebelumnya, hahaha. Kadang ada yang bilang ‘Lo gak takut diculik, Luk?’ Kayaknya orang yang mau nyulik gue juga mikir-mikir deh, stok beras bakal abis banyak soalnya 😐

Yah, kagak gitu-gitu amat juga sih, maksudnya bukan berarti gitu gue ucluk ucluk datang ke gunung mana, terus tiba-tiba nemu gerombolan pendaki dan gue dengan sok akrab nya bilang “Coy, gue gabung yak!”. Gue anaknya gak senekat itu juga kok, tetep lah gue kenalan dulu dengan teman sependakian gue. Ta’aruf dulu kita #ehm

 

Oke, balik ke Merapi.

 

Gile ye, gue kayanya terlalu terobsesi sama kisahnya Merbabu dan Merapi. Sejak pertama kali melihat Merapi dari Merbabu (catet ye, lo liatnya harus dari Merbabu #emangngapahcoba) secara utuh dengan segala kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya, gue sangat amat yakin bahwa Merapi dan Merbabu adalah kisah cinta gunung yang abadi. Roman yang tak lekang oleh waktu. Duilee..bahasa ogut.

Waktu gue lagi bengong bengong gemes di Kenteng Songo, Merbabu sambil mandangin Merapi, gue bilang ke diri sendiri kalo gue juga nanti mau bikin edisi bengong bengong gemes jilid 2 dari Pasar Bubrah atau dari sisa sisa Puncak Garuda, Merapi sambil mandangin Merbabu. Indikator kebahagiaan gue ternyata cukup sederhana, kawan! Saat di Kenteng Songo, rasanya damai dan tenteram banget. Melihat Merapi dari Merbabu dengan sangat dekat. Ada rasa yang sulit gue ungkap dengan kata-kata

Di dalam imajinasi gue, Merbabu tuh cantik, anggun dan mempesona cocok banget bersanding dengan Merapi yang gagah, rupawan dan lakik banget!. Merapi tuh gahar, ‘batuk’ dikit aja udah goyang goyang. Eh salah, maksudnya Gunung Merapi tuh jadi salah satu gunung berapi paling aktif dan berbahaya di dunia walopun dari segi ketinggian masih lebih tinggi Merbabu (saat ini ketinggian Merapi di 2,913 mdpl) Tapi yang bikin cocwiitnya tuh cuma Merbabu yang paling bisa mengerti Merapi. Dia ada untuk menyeimbangkan Merapi, begitu sebaliknya. Mereka saling melengkapi dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing (ini gue sotoy-nya parah yak, kateee siapeee lukkkk???) Ya gitu deh, intinya kisah Merbabu dan Merapi gak kalah sama kisahnya Romeo dan Juliet di ranah gunung-gunungan. Nanti gue bikin sekuelnya deh #loh

FB_IMG_1448967577608[1]
Suatu pagi yang menakjubkan dari Puncak Kenteng Songo, Gunung Merbabu (3,142 mdpl)
Perjalanan ke Merapi kali ini menurut rombongan yang gue ikutin bisa dibilang piknik. Iya, piknik ceria katanya. Merapi, walopun dibilang berbahaya, jadi salah satu favorit pendakian. Bahkan banyak pendaki yang milih tektok (tanpa ngecamp) atau sekadar daypack-an aja. Kayak rencana awal gue, tadinya gue mau tektok sama Muji, temen gue yang sebelumnya udah pernah naik Merapi. Suatu keputusan yang biasa bagi orang lain tapi cukup sotoy untuk seorang gue yang seumur-umur belum pernah naik gunung dengan cara tektok. Nah, pada akhirnya gue pun ga jadi tektok karena dapet temen nge-camp yang sama-sama mau ke Merapi juga. Yeay!

 

Pagi hari yang cukup terik, gue menelusuri perjalanan dari Solo menuju Boyolali dengan bus ¾ yang mengantar gue ke meeting point di rumah salah satu kenalan teman sependakian. Sebut saja kenalan temen gue itu namanya Mas Dodo. Mas Dodo adalah salah satu Tim SAR Merapi. Tentu masih cukup jelas ingatan kita kalau sempat ada musibah pendaki jatuh ke Kawah Merapi akibat selfie. Nah, Mas Dodo beserta tim SAR lainnya yang bahu membahu mengangkat jenazah pendaki tersebut dari kawah. Bagi Mas Dodo, mendaki Merapi tuh udah kayak minum obat. Sehari bisa minimal 2x. Pantes aje kalo Merapi dibilang piknik ceria. Setelah Ashar, gue dan 3 orang teman lainnya bersiap menuju Basecamp New Selo di jalur pendakian resmi Gunung Merapi ditemani cuaca yang cukup berawan. Mudah-mudahan gak hujan deh ya.

 

Sampai di Basecamp, kondisinya lumayan rame dengan para pendaki lainnya. Ternyata ada sekelompok rombongan mahasiswa dari Tiongkok yang sedang mengikuti pertukaran pelajar di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Mereka udah keliatan siap mendaki dengan bermodalkan jas hujan dan stelan kayak mau ke mall. Wah, kece abis deh pokoknya. Beda sama gue yang rempong dengan keril. Mereka melakukan pendakian ditemani oleh dua pemandu lokal.

Selepas Maghrib, pendakian ke Merapi pun dimulai. Dalam hati, gue excited banget. Gimana engga? Akhirnya gue balik mendaki lagi setelah tiga bulan tanpa pendakian! Uyeaaah… Padahal H-2 sempat tersiar kabar kalo Merapi ditutup lagi. Wah, patah hati berkeping-keping kan gue..hiks. Tapi ternyata beritanya masih simpang siur dan jalur pendakian resmi dibuka kok. Alhamdulillah…Mudahkan perjalanan ini, Ya Allah.

***

Trek dari gerbang tulisan New Selo yang segede gaban (berasa kayak Hollywood nya Boyolali) sampai Pintu Rimba lumayan masih bersahabat. Jalanannya udah naik sih tapi masih halus dan aman terkendali, malah ada bagian yang udah di cor. Tapi kenapa oh kenapa gue udah ngos ngosan??? Lemah amat yak gue..haha. Gini ini nih kalo udah kelamaan gak naik. Hmm..tapi masih dalam ambang batas kendali lah ya.

Selanjutnya dari Pintu Rimba ke Pos 1, treknya mulai asoy. Batu-batu gede gitu. Istilah dengkul ketemu muka berlaku disini. Gue perhatikan di rombongan gue kayanya gue yang paling lambat deh, hehehe. Gue sih menganut peribahasa alon alon asal kelakon (padahal bilang aja lelet!). Liat ke belakang..wowww..siluet Merbabu keliatan (dikit). Ihiy, gue pun semangat ’45 lagi! Hai Merbabu, melihat kamu sedikit saja aku sudah bahagia :’)

***

Akhirnya sekitar 1 jam mendaki, nemu juga Pos 1. Coba diatur dulu napasnya, sodara sodarah! Kalo yang pernah gue baca dari sebuah blog pendakian, misalkan lo mau upgrade kemampuan mendaki, coba lo jalan 20 menit tanpa henti saat mendaki. Lah gueee? 5 menit aje gue udah mpot-mpotan. Tapi karena udah cinta mendaki ya akhirnya aku terima kamu apa adanyaaa.

Lanjut ke Pos 2, treknya tambah uasssoyyy. Gue udah leuleus alias letoy. Gerimis kecil menemani perjalanan. Ya Allah, jangan hujan plis jangan Ya Allah, gue berdoa dalam hati. Di sepanjang pendakian ini gue merasa hausnya gak habis habis. Ibarat kata, gue ini udah kayak selang air. Minumnya gak terkontrol padahal harusnya minumnya asal membasahi kerongkongan aja. Yang konyol pas lewatin trek trek bebatuan, dengan mudahnya gue berhalusinasi bahwa batu batu itu kayanya dikuahin enak banget yaaa! Berasa bakso kali ye, dikasih pangsit dan tahu terus ditambahin sambel dan cuka biar agak asem seger gitu. Wuidihh mantep amattt! Aseli nelangsa banget dah bayangin yang gini-gini di gunung, rasanya kayak pungguk merindukan bulan, cinta bertepuk sebelah tangan *nangis kejer* Tapi untung gue masih sadar, batunya cuma gue liatin doang dengan tatapan nanar dan penuh harap. Ogut udah ngecesss banget Bosss!

20151206_061840[1]
Trial Trekking Pole, hasilnya hiking gear test approved terutama di trek pasir. Biasanya pake ranting pohon nemu di jalan. Sila disesuaikan dengan medan perangnya kakak 🙂
Pos 2 pun terlewati, Jarum jam menunjukkan pukul 21.00. Kami pun masih melanjutkan mendaki. Niatnya kami akan nge-camp di Pos 2 atasnya dikit tapi ga sampe Pasar Bubrah. Lazim diketahui kalo tempat biasa para pendaki Merapi untuk buka tenda adalah di Pasar Bubrah yang arealnya luas banget tapi udah ga ada vegetasi, malah adanya batu dan pasir bertebaran. Jadi sebelum menggelar tenda di Pasar Bubrah, kerja bakti dulu deh ya minggir-minggirin lapak tenda dari batu supaya pas tidur ga kena benda tajam yang menusuk hati eh badan. Sakiit kak..sakiiit!

***

Setelah tenda berdiri dengan kokoh dan urusan ganjel perut pake roti udah kelar, malam itu kami terlelap. Rintik hujan sudah tiada digantikan dengan langit malam berhiaskan bintang. Duh, apa cuma gue ya yang kangen banget sama momen kayak gini ? Keeseokan harinya, saat buka tenda ternyata tenda-tenda lain sudah ada menemani tenda kami. Wah, ternyata isi tenda itu adalah rombongan mahasiswa Tiongkok yang kita temui di basecamp. Pas kami lagi mau manasin air di kompor, mereka keliatan tertarik banget dan ngomong-ngomong gitu pake bahasa yang gue juga ga ngerti. Lucu gitu ngeliat mereka excited sama kompor gunung kayak belum pernah liat . Padahal tuh kompor bisa jadi ‘Made in China’, asal dari negara mereka, hehehe.

20151206_055045[1]
Setiap pendakian selalu ketemu teman baru. Kali ini teman mahasiswa dari Tiongkok. Lham kenal eaa qaqaaa ^^
Menjelang waktunya matahari terbit, cuaca cukup berawan di pagi yang baru. Kita masih di Merapi (yaiyalah, masa tiba-tiba pindah ke Merbabu -_-) dan lanjutkah kita ke puncak? Perlu diketahui bahwa sebenarnya pendakian Merapi disarankan hanya sampai Pasar Bubrah karena pendakian ke puncak dianggap berbahaya dan risiko tanggung sendiri.

Tapi ya tapii teuteup ye kaki jalan terussss. Dari tempat nge-camp sekitar 10-15 menit jalan ke Pasar Bubrah yang ternyata juga sudah cukup ramai juga oleh tenda pendaki. Mulai Pasar Bubrah, trek sudah batu dan pasir tanpa vegetasi. Saat mendaki pastikan berpijak di batu yang kuat, jangan yang rapuh karena selain membahayakan diri sendiri, hal tersebut juga membahayakan orang lain yang ada di belakang kita. Pasar Bubrah atau dikenal sebagai Pasar Setan konon katanya adalah tempat mistis tempat setan-setan berkumpul (katanya sih gitu..) dan disitu harusnya kita sudah bisa melihat Merbabu dengan utuh. Sayangnya karena kabut dan awan tebal, Merbabu gak keliatan. Hiks…

20151206_065835[1]
Camera..Rolling…ACTION! Menuju Puncak Merapi dari Pasar Bubrah
Setelah total 1 jam mendaki, Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Puncak Merapi. Gue dan teman-teman nongkrong di pinggir kawah sambil buka daypack yang isinya makanan. Sampe puncak gini,yang gue pengenin cuma duduk, memandang sekitar, selonjorin kaki sambil ngunyah sosis So Nice. Rasanya nikmat dan indah banget apalagi kalau kamu ada di sampingku *ngomong sama batu* Tapi pagi itu nyatanya ada yang kurang. Dia yang sangat kunanti hadir tapi tidak kunjung menampakkan diri. Hingga aku sudah berada di puncak, ia tetap tak mau hadir. Entah karena ia malu atau dia cemburu aku sedang bersama pasangannya. Hai Merbabu, kemana kamu ? Aku disini bersama Merapi, untuk melihatmu kembali dari dekat tapi kamu ga ada. Aku hampa tanpamu. Patah hati.

Gais, nampaknya gue telah terserang akut virus Sayap-sayap Patah nya Kahlil Gibran deh 😐

20151206_074916[1]
Makan Sosis dulu Kak, biar setrong!
20151206_083616[1]
“Eh, fotoin gue dong, ala-ala candid ya, pura-puranya lagi mendaki gitu ” #gagalpaham
 

Lagi asik-asiknya bengong-bengong gemes, gak taunya beberapa teman pada ngilang. Ternyata oh ternyata, satu persatu pada lanjut ke bagian reruntuhannya Puncak Garuda. Perlu diketahui kalo Puncak Garuda nya Merapi tuh udah hilang karena erupsi tahun 2010. Yang tersisa tinggal Puncak Tusuk Gigi yang kalo pendaki ada nekat kesitu sama aja kayak dia lagi ikut taruhan menggadaikan nyawa. Sejujurnya, gue ga pengen-pengen banget ke Puncak Garuda, apalagi ke Puncak Tusuk Gigi. Ngeliat bentukannya aja gue udah ngilu. Tapi kok gue jadi penasaran juga..hahaha. Akhirnya gue pun nyusul yang lain.

 

20151206_091855[1]
Yang runcing itu Puncak Tusuk Gigi. Cuma orang yang nekat dan punya nyawa sembilan kaliii yang berani kesana. Safety first, guys!
Setiap pijakan kaki, sampingnya udah kawah. Saat itu gue bahkan ga bisa ngeliat isi kawahnya apaan. Jarak pandang terbatas karena kabut tebal. Gue semakin bergidik ngeri. Melongok ke kawah berasa kayak mau disedot ke dunia lain, macam white hole.Batas antara hidup dan mati seperti sangat dekat. Gue teringat dulu bokap nyokap gue juga pernah ke Merapi di era tahun 80an. Bahkan kata bokap, dulu nyokap tuh turun ke kawah sambil duduk-duduk karena kawah Merapi yang dulu berbeda dengan sekarang.  Erupsi membuat Merapi banyak berubah.

mtf_ikAua_242.jpg[1]
Reruntuhan Puncak Garuda. Samping kiri ada Kawah Merapi
Akhirnya kami pun sampai ke reruntuhan Puncak Garuda. Duh, gue gak berani petakilan kesana kemari deh. Seperti yang gue bilang, NGERI gak abis-abis. Udah cukup tau aja deh tapi kalo diajakin lagi ke Merapi, mana bisa gue nolak ? #laaahh

 

mtf_ikAua_260.jpg[1]
Foto dulu gaissss..cekrek!
***

Setelah hari beranjak siang, kami pun turun gunung. Alhamdulillah, turun gunung menuju Pasar Bubrah bisa main perosotan, asal pastikan aja sepatunya bisa di rem *lo kira naik motor, Luk?* Iya jadi gak kayak gue, pas lagi main perosotan, eh ga bisa ngerem terus kesandung batu dan akhirnya jatoh sampe dengan gaya muter 3600.. Sakitnya sih ga seberapa tapi malunya itu loh, aku kan anaknya pemalu *kemudian dilempar tenda*

20151206_101931[1]
Jalur Perosotan di Pasar Bubrah
Setelah sampai kembali ke tempat nge-camp, kami pun beres-beres, makan siang dan kembali melanjutkan perjalanan. Total pendakian dari basecamp sampai puncak menghabiskan total 4-5 jam dengan jarak kurang lebih 3,4 km. Untuk perjalanan turun, kurang lebih memakan waktu sekitar 2-3 jam. Menjelang Ashar, kami pun sampai kembali di basecamp. Pendakian Merapi kali ini selesai tanpa kurang suatu apapun. Alhamdulillah, masih diberikan keselamatan dan kesehatan.

Jadi, nampaknya Merapi adalah pendakian terakhir di 2015 nih. Kembali menimbun rindu lagi terhadap gunung-gunung. Hingga waktunya tiba. Sabar ya, Luluk 🙂

Ah, Merapi! Kamu gunung yang gagah, pasangan hidup Merbabu. Menakjubkan sekaligus menakutkan. Suatu hari nanti kita ketemu lagi ya.

IMG_7408
Sekali lagi, Merapi dari Merbabu. Gak pernah bosen :’)

Merapi itu hidup. Kepercayaan itulah yang diyakini oleh Almarhum Mbah Maridjan beserta rakyatnya.

 

Menengok Lawu

Akhir pekan di penghujung Oktober 2015, saya berkesempatan mengunjungi basecamp pendakian Gunung Lawu yaitu Cemorosewu di Kabupaten Magetan, Jawa Timur dan Cemorokandang di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jarak keduanya hanya berkisar 200 meter dibatasi oleh gapura pembatas provinsi. Situasi disana termasuk sepi untuk ukuran akhir pekan, hanya ada beberapa petugas yang berjaga. Cuaca panas menyengat ubun-ubun. Papan larangan pendakian terpasang di pintu masuk basecamp. Warung makan dan penginapan di sekitarnya pun sepi pengunjung. Hanya ada orang lalu lalang sekadarnya.

Gunung Lawu yang berada di ketinggian 3,265 mdpl memang kerap menjadi sorotan beberapa waktu belakangan ini. Tentu masih cukup segar ingatan di kepala, delapan pendaki Lawu meninggal dunia di pertengahan Oktober 2015, lima diantaranya adalah warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Diduga penyebabnya adalah kebakaran hutan yang berasal dari api unggun yang belum sepenuhnya padam.

Basecamp Cemorosewu (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorosewu (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorokandang (Dok : Pribadi)

Belum cukup musibah itu terjadi, tepat minggu lalu di tanggal 25 Oktober 2015, kebakaran hutan yang awalnya terjadi cukup masif di jalur pendakian akhirnya menjalar turun hingga pemukiman warga di Dusun Cemorosewu, Desa Ngancar, Plaosan.  Jarak kobaran api ke rumah warga terdekat sekitar 10 meter. Kepulan asap pekat sempat terlihat membumbung tinggi diatas pemukiman warga. Kobaran api juga terlihat di lereng perbukitan Lawu bagian selatan dan Jalan Raya Sarangan-Karanganyar sehingga sontak menjadi perhatian warga dan pengendara yang melintas. Tindakan cepat segera dilakukan. Dua unit mobil pemadam kebakaran (PBK) dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Magetan dikerahkan untuk menjinakkan api. PBK juga dibantu dua unit mobil pemadam dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar. Penyemprotan dilakukan dari jarak sekitar 25 meter. Api berhasil dijinakkan setelah mengerahkan delapan unit mobil tanki air yang dipasok dari PDAM Lawu Tirta dan Tanggap Bencana (Tagana) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dengan adanya bencana tersebut, warga memilih untuk mengungsi ke rumah sanak saudara. Pihak Perhutani bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) melakukan evakuasi warga ke wilayah Desa Getasanyar dan Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan.

Api menjalar ke pemukiman warga di Cemorosewu (Dok : Akun Path Pipink Rivia)
Api menjalar ke pemukiman warga di Cemorosewu (Dok : Akun Path Pipink Rivia)

Bencana ini tidak hanya membuat manusia panik, habitat satwa di Gunung Lawu pun ikut turun gunung. Petugas Perhutani bersama komunitas Anak Gunung Lawu (AGL) berhasil mengevakuasi kera liar sewaktu menyisir titik api di perbatasan Cemorosewu dan Cemorokandang. Selain itu, ditemukan pula jejak macan Lawu yang tertinggal di sekitar petak 73, populasi babi hutan dan menjangan di hutan Gunung Lawu. Temuan hewan lainnya yaitu harimau kumbang juga sempat menggegerkan warga. Populasi Jalak Lawu juga mendapat perhatian khusus walaupun hingga saat ini belum ditemukan adanya Jalak Lawu yang terbakar ataupun mati. Diperkirakan burung yang dilindungi dan disakralkan warga setempat itu sudah bermigrasi ke hutan bagian utara.

Gunung Lawu bertipe stratovolcano dan berstatus gunung api ‘istirahat’. Menurut Wikipedia, Lawu diperkirakan terakhir meletus pada tanggal 28 November 1885. Fenomena kebakaran hutan yang terjadi tahun ini di Lawu dipercaya sebagai siklus ‘bersih-bersih’ 18 tahun. Kebakaran hebat di Lawu terjadi terakhir kali di tahun 1997 sebelum kembali lagi seperti pada tahun 2015 ini. Seperti yang dikutip di Radar Lawu, Kepala Resor Polisi Hutan Sarangan, Kholil menjelaskan bahwa daun cemara dan pinus, yang merupakan vegetasi di Lawu, terus berjatuhan dan mengering. Secara ilmiah, daun dua jenis pohon tersebut sulit hancur dalam jangka waktu 7-10 tahun dan tidak lantas menjadi kompos lalu bersatu dengan tanah meskipun sudah berguguran bertahun-tahun. Tumpukan daun kering tersebut mudah terbakar saat musim kemarau. Selain itu didukung pula dengan tiupan angin dan hawa panas sehingga membuat api cepat sekali menjalar. Kandungan minyak juga terdapat pada dedaunan pohon cemara dan pinus yang menjadi faktor pendukung api menyala bertambah ganas. Api merambat melalui celah-celah bebatuan yang banyak terdapat di selatan Gunung Lawu. Petugas pemadaman mengaku kesulitan untuk memadamkan api yang berada di celah bebatuan karena sulit terjangkau. Total luas hutan yang terbakar mencapai sekitar 160 Ha dari total 1,116 Ha.

 

Pucuk Gunung Lawu yang terlihat di Jalan Raya Sarangan-Plaosan, Magetan. Terlihat kepulan asap tipis yang tersamarkan oleh awan (Dok : Pribadi)
Pucuk Gunung Lawu yang terlihat di Jalan Raya Sarangan-Plaosan, Magetan. Terlihat kepulan asap tipis yang tersamarkan oleh awan (Dok : Pribadi)

Saat ini, sudah lebih dari dua minggu berlalu, tak ada lagi api besar berkobar di area Gunung Lawu seperti sebelumnya. Yang tertinggal sekarang hanya hamparan abu dan pohon cemara serta pinus kering. Kepulan asap memang masih terlihat tetapi dipastikan sudah tidak berbahaya. Namun, sisa kebakaran membuat dataran itu menjadi kawasan panas. Warga setempat mulai mengevakuasi pipa jaringan air bersih yang meleleh karena panas. Mereka juga membuat pipa darurat secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih menggantikan pipa yang meleleh. Pihak Perhutani, TNI, POLRI, warga dan relawan masih terus mengawasi pergerakan api yang mungkin terjadi.

Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)

 

Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorosewu (Dok : Pribadi)

 Bagi saya, Lawu adalah gunung spesial. Pendakian pertama saya di Pulau Jawa akhir tahun 2014 silam tentu meninggalkan kesan mendalam. Kondisi Lawu yang saya lihat sekarang ini sangat kontras dengan Lawu saat 27-28 Desember 2014. Pendakian saya kala itu ditemani hujan angin tiada henti. Kabut dan cuaca dingin yang menusuk menjadi kawan perjalanan. Hal itu sungguh menjadi pengalaman tak terlupakan. Alam memang memiliki cara sendiri untuk mendidik manusia. Jika nanti sudah tiba waktunya, G Baca lebih lanjut

Hari Ini di Depan Kelas

Senin pagi yang pernah sama dengan waktu dahulu yang pernah ada. Diawali dengan bangun pagi buta untuk bersiap mengikuti upacara bendera di sekolah. Sebuah rutinitas pembuka minggu yang baru. Namun, hari ini seakan menjadi adegan membuka kotak pandora tentang cerita mengajar beberapa tahun silam.

Sejujurnya, saya seringkali merasa tidak bisa mengajar. Tidak bisa menjadi guru. Ironis memang. Pengalaman setahun mengajar saya layaknya mitos yang kerap terdengar namun tidak ada. Ah, betulkah demikian ? gumam saya dalam hati. Rasanya saya masih menyimpan rapi untuk fase hidup yang satu itu. Fase yang nyatanya saya nobatkan menjadi salah satu fase tak terlupakan dalam hidup.

Kali ini saya mencoba mengajar lagi. Setelah sekian lama meninggalkan dunia mengajar, saya diharuskan kembali membuka catatan lama namun ternyata cukup berguna. Teknik menguasai kelas, ice breaking, lesson plan, dan istilah-istilah lainnya. Nyatanya, saya masih  belum benar-benar bisa menemukan ide “Apa yang akan saya ajarkan nanti ? “ Kali ini temanya menarik, tentang profesi saya saat ini dan saya harus menemukan cara untuk menjelaskannya. Esensi dari Kelas Inspirasi yang saya ikuti memang demikian, mengenalkan profesi kepada murid-murid SD. Saya merasa beruntung bisa bergabung lagi dengan Kelas Inspirasi di kota yang berbeda. Kali ini saya mengajar dua rombongan belajar (rombel), yaitu Kelas 2 dan Gabungan Kelas 5 & 6. Inti dari materi ajar saya adalah mengenalkan pentingnya telekomunikasi pada mereka. Ya, saya harus mengakui bahwa sebetulnya lebih banyak konten ice breaking daripada materi inti. Begitulah adanya.

Limboro, pertengahan November 2011, Empat Tahun Lalu

Pekan ini, saya resmi menjadi wali kelas 5 SDN 19 Limboro, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Mandat langsung dari Kepala Sekolah pada saya, si guru karbitan ini. Ada 18 siswa dalam kelas yang telah menunggu. Hari pertama masuk sebagai wali kelas telah sukses membuat demam panggung. Rasanya saat bertemu 18 siswa dan mengajar mereka bagaikan bertemu dengan dosen penguji skripsi. Takut dibantai dengan cecaran pertanyaan yang saya tak mampu menjawabnya. Ckckck…memang terdengar berlebihan tapi seperti itu yang terjadi.

Memang benar adanya bahwa kekuatan anak-anak tak sanggup saya tandingi. Hari pertama tidak terlalu buruk namun saya berhasil ngos-ngosan. Sungguh, mereka adalah pemacu olahraga yang baik.

Kelas Inspirasi Madiun, 7 September 2015

Hari ini di SDN Plumpungrejo 04, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, beratus mil jauhnya dari SDN 19 Limboro di Pulau Sulawesi. Saya seperti déjà vu. Saya seperti melihat Fadly, ketua kelas 5 yang menyiapkan barisan saat akan masuk kelas. Saya seperti melihat Roswati, jagoan sekolah yang seringkali ditakuti oleh teman-temannya namun sebetulnya ia sangat setia kawan. Saya seperti melihat Zul, anak laki-laki manis yang suka membantu ibunya mencuci pakaian sepulang sekolah. Saya seperti melihat Mulkiah, gadis imut nan menggemaskan yang senang menggambar dan punya cita-cita menjadi pelukis.

Saya seperti melihat mereka dan murid SDN 19 Limboro lainnya ada di hadapan saya saat ini.

Saya seperti mendengar suara mereka menyanyikan Indonesia Raya dengan nada yang lain dari biasanya, seperti ada liukan cengkok nya. Saya segera tersadar dalam lamunan karena yang paling jelas perbedaannya adalah saat ini saya tidak mendengar bahasa Mandar yang kerap mereka jadikan bahasa sehari-hari daripada bahasa Indonesia.

Nyatanya saya rindu. Teramat sangat rindu.

Saya tertegun. Empat tahun sudah sejak saya datang pertamakali kesana. Tentu murid-murid disana sudah berubah. Mereka bertumbuh menjadi semakin dewasa. Ingatan saya melayang jauh. Berharap mereka baik-baik saja, tanpa kurang suatu apapun

***

Suasana di sekitar SDN Plumpungrejo 04 sangat asri. Akses menuju ke lokasi cukup mudah. Di dekatnya terhampar sawah hijau yang lapang. Terdapat 6 rombel dari kelas 1-6. Totalnya 108 murid yang rata-rata rumahnya tidak jauh dari letak sekolahnya. Kondisi bangunan permanen. Tenaga guru sudah berkecukupan. Kabar gembiranya, prestasi di sekolah ini tidak kalah mengesankan dengan sekolah-sekolah di kota. Salah satu prestasinya adalah Juara 3 Marching Band antar SD se-Kabupaten Madiun. Hal itu membuktikan bahwa setiap murid memang memiliki keistimewaan dan bisa kita temukan di tempat tak terduga sekalipun.

Saat para relawan Kelas Inspirasi dari berbagai profesi sudah selesai mengajar di kelas, murid-murid sudah tak sabar berhamburan keluar karena ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Balon warna-warni yang telah ditempel kertas berisikan nama dan cita-cita siswa SDN Plumpungrejo 04 siap diterbangkan. Salah satu murid ada yang bertanya, samar-samar saya mendengar,

“ Nanti itu  balon cita-citanya sampai ke Allah ya “

Saya tersenyum. Ah, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka selalu bisa melontarkan pertanyaan yang apa adanya namun menantang untuk dijawab

“Memang Allah ada dimana ?” tanya salah satu diantara kami, relawan Kelas Inspirasi di SDN Plumpungrejo 04

Nang dhuwur (di-atas)” jawab murid itu lagi sambil tersenyum malu

Allah selalu ada dimanapun dan kapanpun, Nak”, ujar saya sambil berbisik pelan padanya

Dengan aba-aba, balon warna-warni itu pun membumbung tinggi menantang langit dan teriknya matahari siang itu. Membawa doa dan cita-cita dari murid-murid SDN Plumpungrejo 04.  Mereka bersorak senang melihat balon yang tadinya mereka pegang sudah semakin jauh. Langit biru siang itu sangat cantik berpadu dengan putihnya awan.

Hari ini, saya kembali membuka kotak pandora saya. Hari ini pula, saya kembali belajar lagi dari Kelas Inspirasi.

IMG_6727

Hari ini, di depan kelas.

Photo by : Eko Prasetya Nugraha (Fasilitator SDN Plumpungrejo 04, Kelas Inspirasi Madiun #3)

**Kelas Inspirasi adalah aktivitas para profesional yang bersedia iuran cuti sehari untuk mengajarkan tentang profesinya kepada murid-murid SD. Kegiatan ini telah menyebar di berbagai kota di Indonesia dan dikelola murni oleh para relawan. Untuk lebih jelasnya, sila dilihat di http://www.kelasinspirasi.org

Merindu Merbabu

Saat sepertiga malam yang cerah tanpa hujan, Kereta Api Malioboro Ekspres tujuan akhir Yogyakarta telah meninggalkan Stasiun Solo Balapan. Suasana kembali sepi dan hening. Saya berbaring di kursi peron, menunggu pagi sambil memejamkan mata. Menanti kawan seperjalanan dalam pendakian penuh kejutan. Sebut saja ia, Gunung Merbabu.

Gunung bertipe strato ini terletak di wilayah Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang dan Kota Salatiga di Jawa Tengah. Berasal dari kata ‘meru’ (gunung) dan ‘abu’ (abu) yang berada pada ketinggian 3,142 mdpl. Ada 4 jalur pendakian yang lazim dilewati yaitu Thekelan, Cunthel, Wekas dan Selo. Kali ini, saya beserta teman-teman akan mendaki lewat Selo di Kabupaten Boyolali yang terkenal dengan pemandangan Sabana yang luar biasa indahnya.

Di tengah perjalanan menuju basecamp Selo, saya dihadapkan pada dua gunung yang bersanding dengan serasi. Mereka adalah Merbabu di sisi kanan dan Merapi di sisi kiri.  Bagi saya, Merbabu dan Merapi itu saling melengkapi. Jika diibaratkan, Merapi adalah laki-laki yang berani dan gagah perkasa sedangkan Merbabu adalah perempuan anggun dan memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Mereka seperti sudah ditakdirkan untuk bersama.

**

Setelah berbelanja keperluan logistik pendakian di Pasar Cepogo, kami pun bergegas menuju basecamp Selo untuk kembali berkemas dan melakukan registrasi. Pendakian pun dimulai sekitar pukul 10.30 WIB ditemani cuaca cerah. Dari gapura bertuliskan ‘Jalur Pendakian Selo’, semuanya dimulai dengan melangkah.

Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1-Dok Malang menghabiskan waktu sekitar 1 jam dengan ritme jalan santai. Medannya masih bersahabat namun kabut tipis mulai menyelimuti. Vegetasi hutannya masih didominasi dengan pohon-pohon tinggi. Selanjutnya, Pos 1 menuju Pos 2-Pandean yang juga memakan waktu sekitar 1 jam. Ada beberapa titik yang konturnya sudah mulai menanjak daripada ketika menuju Pos 1. Saat perjalanan menuju Pos 3-Watutulis, kabut mulai tebal lalu turun hujan rintik. Ketika sampai di Watutulis, kami pun berteduh sebentar di bawah flysheet yang kami bentangkan sementara sambil menunggu hujan reda.

Saat pendakian saya menuju Gunung Lawu di akhir 2014 silam, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Cantigi, pohon kerdil yang melindungi pendaki gunung. Namun, keberadaannya kalah tersohor dari Edelweiss, sang bunga abadi. Daun Cantigi merah bersinar, cantik, dan merona ketika disinari matahari. Membuat siapapun pasti ingin mengabadikannya lewat lensa dan pandangannya. Saat perjalanan menuju Pos 3, mulai banyak Cantigi bertebaran. Kejutan pertama di Watutulis,  Cantigi tumbuh dilatarbelakangi Merapi yang nampak sangat dekat. Perpaduan yang elok. Kabut perlahan menghilang. Hujan sudah selesai rupanya. Kami harus melanjutkan perjalanan karena sebentar lagi akan sampai pada tahap yang sebenar-benarnya mendaki.

**

Perjalanan Pos 3 menuju Pos 4-Sabana 1 ditempuh dalam waktu sekitar 45- 60 menit dengan medan yang menguras tenaga. Berhubung hujan baru saja reda, tanah yang diinjak pun agak licin dan diperlukan kehati-hatian saat mencari pijakan. Kabut tipis muncul kembali dan menemani pendakian kami hingga sampai pada Sabana 1. Sesampainya di Sabana 1, kami pun mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam. Menu sop ayam, ayam kecap, tahu, tempe dan sambal yang disantap setelah mendaki menjadi menu paling nikmat sepanjang perjalanan ini.

Saat jam menunjukkan pukul 17.30, langit mulai berubah warna. Saya tertegun dan segera berlari ke suatu titik dimana saya melihat semburat jingga bermunculan, berpadu dengan gumpalan awan dan senja di ufuk barat, segaris dengan Puncak Merapi. Masya Allah! Lukisan Tuhan Maha Sempurna. Di tengah perpaduan warna di langit nan luas, sosok Merapi terhampar sangat jelas , tegak berdiri menghunjam bumi. Setelah momen matahari terbenam paling indah di Pantai Ndana, Rote Ndao yang sukses membuat saya menangis terharu selanjutnya ada momen matahari terbenam paling indah di Gunung Merbabu yang sukses membuat saya merasakan déjà vu dengan semua keindahan yang Tuhan ciptakan tanpa cela.

IMG_7285

Dini hari pukul 03.00, kami pun terbangun dari istirahat singkat namun berkualitas di Sabana 1. Kami akan lanjutkan perjalanan ini sampai puncak. Di tengah kegelapan, suasana begitu ramai dengan para pendaki lain yang akan melakukan hal yang sama. Setelah mengisi energi dengan mie instan, madu dan roti, kami segera melangkah menjauhi tenda menuju puncak.

Gunung Merbabu memiliki tujuh puncak yaitu Puncak 1-Watu Gubug, Puncak 2-Pemancar,Puncak 3-Geger Sapi, Puncak 4-Syarif, Puncak 5-Ondo Rante,Puncak 6-Kenteng Songo dan Puncak 7-Trianggulasi. Namun kami hanya akan mendatangi Puncak Kenteng Songo dan Puncak Trianggulasi sebagai puncak tertinggi Gunung Merbabu di ketinggian 3,142 mdpl.

Perjalanan dari Sabana 1 menuju Pos 5-Sabana 2 memakan waktu sekitar 60 menit dengan medan mendaki namun saat turun mendekati Sabana 2 ada jalan landai sebagai bonus. Selanjutnya dari Sabana 2 menuju Puncak Kenteng Songo memakan waktu sekitar 45-60 menit, medan terus menerus mendaki , hampir tidak ada jalan landai. Tanah pijakan cukup licin sehingga harus berhati-hati. Dibalik semua kesulitan itu, saat kepala menoleh ke belakang, kejutan muncul lagi. Lampu-lampu dari rumah penduduk di Kabupaten Boyolali sangat cantik dari kejauhan. Tanpa sadar, diri ini sudah berada di ketinggian lebih dari 3000 mdpl. Saat mendongakkan kepala ke atas, hati ini berdesir. Gugusan bintang menghiasi langit malam. Saya tercekat dan memandang ke arah yang sama untuk waktu yang lama.

Look at the stars, look how they shine for you

And everything you do, and they were all yellow

Your skin, oh yeah your skin and bones

Turn into something beautiful

Tonight, you know I love you so 

You know I love you so (Coldplay – Yellow)

**

Sayup-sayup suara muadzin terdengar mengagungkan asma-Nya, menyeru umat muslim menunaikan Shalat Subuh. Saat itu pula kaki ini sudah mencapai Puncak Kenteng Songo. Matahari mulai menampakkan wujudnya. Tirai alam ini tersibak perlahan. Benarkah ini yang ada di depan saya sekarang? Lagi-lagi ada dia, pasangan hidup Merbabu yang menjulang megah tanpa ampun. Pantas saja Merapi masih tetap berdiri tegak meskipun seringkali ia memuntahkan material vulkanik. Itu pasti karena Merapi jatuh cinta pada keindahan dan keanggunan Merbabu, sama seperti yang saya rasakan.

IMG_7408

Masih di Puncak Kenteng Songo, samudera awan meliputi hamparan langit. Cantigi dan Edelweiss bertebaran, berpadu dengan sabana yang rumputnya melambai tertiup angin. Dari kejauhan muncul puncak pertama saya dengan malu-malu di balik mentari, sebutlah ia Hargo Dumilah, ketinggian 3,265 mdpl di Gunung Lawu dengan bentuknya yang memanjang. Masya Allah! Saya pernah ada disana, ditemani sahabat paling setia selama pendakian bernama hujan dan saya tidak menyesal pernah melewatinya.

IMG_7413

Perjalanan dilanjutkan menuju Puncak Trianggulasi dengan jarak yang sudah tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan, dari samping terlihat Puncak Syarif dan Puncak Pemancar. Kejutan belum berakhir. Di Puncak Trianggulasi, terlihat dari kejauhan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang berdampingan. Lebih dekat lagi, ada Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Melihat semua ini, bagaimana mungkin para pendaki tidak menobatkan Merbabu sebagai salah satu gunung dengan pemandangan terindah di puncaknya ?

IMG_7526

Matahari mulai meninggi. Kami bergegas untuk turun kembali menuju Sabana 1. Seolah tidak rela dengan perpisahan ini, saya berjalan pelan, menikmati apa yang ada di hadapan saya. Hanya bisa berdecak kagum dan tersenyum. Memandang penuh arti. Rasanya damai sekali. Berat hati meninggalkannya, seolah tidak mau berpisah untuk waktu yang lama.

IMG_7572

So she said what’ s the problem baby ? What’s the problem I don’t know.

Well, maybe I’m in love. Think about it everytime. I think about it. Can’t stop think about it

How much longer it will take to cure this ? Just to cure because I can’t ignore that if it’s love

Makes me wanna turn around and face me but I don’t know nothing but love (Counting Crows – Accidentally in Love)

**

Sesampainya di Sabana 1, kami pun segera memasak dan membereskan tenda. Setelah mengisi energi untuk turun gunung, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Kabut mulai turun lagi diselingi hujan rintik. Tanah pijakan semakin licin. Perlu ekstra hati-hati karena kami akan menuruninya, bisa-bisa malah tergelincir. Perjalanan turun ini memakan waktu sekitar 2,5 jam.  Pukul 13.00, kami sudah sampai lagi di Gapura Jalur Pendakian Selo dengan selamat, tidak kurang suatu apapun.

Terima kasih untuk keluarga Merbabu, Masdan,Vici, Oki, Ojan, Yoga, Wisnu, Hilmi, Rahmat, Ryan, Aden, Laily, Mpit, Ismi, Diah, Muji, Risa, Ade dan Yupi. Betapa menyenangkannya memiliki teman naik gunung yang hebat!

Terima kasih untuk orang tua juara satu seluruh dunia yang selalu menjadi inspirasi untuk segala hal. Mereka yang selalu memberikan kebebasan pada anak-anaknya berpetualang di alam raya ini. Ma..Pa, skor Merbabu kita sama ya, we have been there, done that, at the different time  🙂

Yang terakhir namun paling utama adalah ucapan terima kasih dan rasa syukur mendalam pada Sang Maha Pencipta. Tiada daya dan upaya selain dari-Nya, diizinkanlah raga dan jiwa yang lemah ini untuk melakukan perjalanan, melihat dengan mata sendiri dan mengambil hikmah untuk segala penciptaan-Nya.

Saat kaki menjejak puncak-puncak tertinggi, semakin nyata pula bahwa manusia begitu kecil dibandingkan alam raya ini. Sangat kecil. Tidak pantas untuk berbangga diri. Sungguh, ini tidak hanya perjalanan fisik melainkan juga perjalanan hati. Sekali lagi, berkali-kali lagi, Terima kasih Ya Rabb

Dalam perjalanan pulang, kembali menuju Stasiun Solo Balapan, saya menatap Merapi dan Merbabu yang semakin jauh dari pandangan. Saya berjanji, suatu hari nanti akan saya kunjungi Puncak Merapi, untuk menyampaikan rasa cinta Merbabu padanya.

And I don’t want the world to see me

Cause I don’t think that they’d understand

When everything’s made to be broken

I just want you to know who I am (Goo Goo Dolls – Iris)

Menuju Puncak Pertama

“ Aku mau triple summit ke Merbabu, Merapi dan Lawu, Insya Allah Desember” kata Masdan, salah satu teman kuliah saya via pesan Whatsapp sebulan lalu. Saya membalas pesannya dengan cepat.

“ Ikut dong ke Lawu, kebetulan dekat dengan Madiun, tempatku sekarang “

“ Oke, dari sekarang rutin jogging dan minum vitamin C ya “

Saya pun mengiyakan dan malah jadi bertanya ke diri sendiri dalam hati “ Yakin nih gue mau ke Lawu ? ”

Sekapur Sirih

Gunung Lawu yang berketinggian 3265 mdpl terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Lawu adalah gunung api yang sudah lama tidak aktif. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang mengeluarkan belerang dan uap air. Tipikal vegetasinya rapat dan puncaknya tererosi. Ada dua jalur yang lazim dilewati oleh para pendaki yaitu Cemorosewu (Jawa Timur) dan Cemorokandang (Jawa Tengah).  Jalur Cemorosewu memakan waktu lebih singkat sekitar 6-7 jam daripada jalur Cemorokandang yang memakan waktu sekitar 8-9 jam untuk sampai ke Hargo Dumilah, puncak tertinggi Lawu. Namun, jalur Cemorosewu memang lebih vertikal daripada jalur Cemorokandang yang lebih landai. Ada satu jalur lagi yaitu Candi Cetho namun jalur ini tidak terlalu banyak dilewati oleh para pendaki.

Sudah sejak lama, Gunung Lawu diyakini sebagai gunung keramat yang sering dijadikan tempat spiritual para tokoh dan negarawan seperti Soekarno, Soeharto, Gusdur hingga SBY. Gunung Lawu dipercayai memiliki sejarah dan mistik yang tinggi. Masyarakat Jawa sangat percaya mitos bahwa puncak Lawu dahulu merupakan kerajaan pertama berdiri di pulau Jawa dan memiliki dunia gaib yang misterius.

Namun demikian, Lawu adalah salah satu gunung favorit para pendaki dan menjadi salah satu dari ketujuh puncak tertinggi di Pulau Jawa. Lawu banyak dikunjungi oleh pendaki terutama saat Malam 1 Syuro yang dianggap sebagai malam keramat. Maka dari itu, banyak warung yang buka saat pendakian ke Lawu, bahkan ada Warung Mbok Yem yang berada di Hargo Dalem dengan ketinggian 3171 mdpl

Perjalanan Dimulai

Masdan, Oki, Reza, Ichsan, Muji, Chorni dan saya berkumpul di Warung Bu Sardi, basecamp Cemorosewu untuk berkemas dan menyiapkan perbekalan untuk mendaki. Sedari siang, hujan sudah mengguyur kawasan Cemorosewu dan sekitarnya. Ya, kami sadar betul bahwa waktu mendaki kami bertepatan dengan musim penghujan. Namun itu tidak menyurutkan niat kami untuk mendaki Lawu. Setelah semuanya siap, kami berangkat sekitar pukul 18.45. Target kami bisa beristirahat di Hargo Dalem dan dilanjutkan besok pagi sudah summit attack. Dari Gapura Cemorosewu, semuanya dimulai dengan melangkah.

Lawu adalah pendakian pertama saya di Pulau Jawa. Sejujurnya saya belum pernah naik gunung yang benar-benar gunung. Namun demikian, pengalaman saya tinggal di Desa Limboro, Majene, Sulawesi yang berlokasi di tengah perbukitan dan gunung mengharuskan saya harus terbiasa berjalan dan mendaki meskipun dengan ketinggian masih  dibawah 3000-an mdpl. Kali ini, saya dihadapkan dengan Lawu yang ketinggiannya di atas 3000-an mdpl. Saya niatkan ini dengan kebaikan, tidak ada maksud aneh-aneh bahkan jahat sekalipun. Saya bersyukur masih punya kawan yang bisa berkumpul dan mengajak saya naik gunung.

Perjalanan dari basecamp Cemorosewu menuju Pos 1 kami tempuh dalam waktu 1 jam dengan medan yang masih cukup ramah.  Hanya 10 menit saja kami beristirahat di pos ini. Perjalanan pun dimulai lagi menuju Pos 2 sekitar pukul 20.00. Ketika menuju Pos 2 , saya mulai mencium bau belerang namun memang tidak terlalu kentara. Jalannya berbatu besar-besar dan sudah lumayan tersusun rapi. Namun treknya sudah tidak ada ‘bonus’ lagi. Terus vertikal  dan mendaki. Pendaki yang belum pernah naik gunung sebelumnya sudah mulai akan merasakan ngos-ngosan jika tidak membiasakan menjaga fisik sebelumnya. Ditambah dengan hujan yang semakin deras. Cuaca sangat dingin. Kondisi seperti itu yang harus kita jalani dengan terus melangkah. Jika banyak diam, justru dingin akan lebih sangat terasa menusuk.

Kondisi kesehatan salah satu kawan yaitu Chorni ternyata tidak terlalu fit. Sementara ini masih di tengah perjalanan menuju Pos 2. Sudah hampir 1 jam kami belum sampai. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan rombongan pendaki yang mau turun. Salah satu diantara mereka berkata “ Kalau cuacanya begini terus, jangan dipaksakan, ini udah ada yang dievakuasi “ katanya sambil menunjuk kawan di belakangnya yang sedang menggendong pendaki lain. Glek. Saya menelan ludah dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya bisa ? . Saya cepat-cepat menghapus pikiran negatif. Kami pun berterima kasih atas sarannya dan kembali melanjutkan perjalanan.

Masih di tengah perjalanan menuju Pos 2, Masdan pun bicara

Kalau jalan kita begini terus, kita gak akan nyampe. Gini aja, aku sama Oki duluan. Kami dirikan tenda, masak air anget buat kalian biar bisa langsung istirahat. Reza di depan, Muji di belakang. Tadi katanya di Pos 2 rame, banyak orang, ga ada tempat. Jadi kayanya kita akan buka tenda di perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3. Atau semoga aja di Pos 3. Kalian panggil namaku yang kenceng, kalo aku gak bales kalian jalan terus sampai kita ketemu”

***

Kami melepas kepergian Masdan dan Oki yang segera bergegas. Saya lihat Chorni sangat berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk melangkah. Trek sudah tanpa ampun. Pos 2 belum terlihat batang hidungnya. Meskipun sudah pakai jas hujan, celana saya basah membuat udara dingin mudah sekali menghantam. Akhirnya sampailah kami di Pos 2 yang sudah seperti pasar kaget di kegelapan malam karena saking banyaknya orang yang berkumpul. Total waktu tempuh kami adalah 2,5 jam dari Pos 1 ke Pos 2. Melihat situasi yang sangat ramai oleh tenda, kami sangat yakin bahwa Masdan dan Oki tidak akan mendirikan di Pos 2. Kesimpulan itu yang mengharuskan kami agar terus berjalan menuju Pos 3.

Pukul 23.00 kami bergegas ke Pos 3. Perjalanan masih harus dilanjutkan meskipun rasa kantuk dan capek menyerang. Sepanjang perjalanan,  beberapa kali kami berteriak memanggil nama Masdan, tidak ada jawaban balasan, tenggelam pula oleh suara hujan. Chorni sudah sangat pucat, Reza dan Ichsan pun sempat memejamkan mata untuk tidur. Begitupun Muji yang sangat berusaha untuk bisa mendaki. Salut untuknya karena sehari sebelum ke Lawu, dia menempuh Merapi.

Sedangkan saya ? Ya, saya pun sudah sangat lelah dan kedinginan. Di tengah kegelapan, saya berdoa meminta kekuatan pada-Nya.Asupan energi berupa madu pun saya lahap. Ayo, Luk.. Ini belum Pos 3, Luk! Belum seberapa! Lawu punya 5 pos! Lirik lagu Aku Bisa, AFI Junior pun saya nyanyikan dalam hati “ Aku bisa, aku pasti bisa, ku harus terus berusaha “ Lagu favorit saat di pelatihan dan penempatan Indonesia Mengajar dulu.

Sekitar 1,5 jam, akhirnya kami sampai di Pos 3 dan langsung bertemu dengan Masdan serta Oki. Mereka sudah mendirikan 2 tenda. Saya, Chorni dan Muji pun segera masuk tenda dan beres-beres. Sebelum tidur, kami sempat makan Indomie dan susu jahe. Suatu perpaduan yang istimewa di ketinggian 2800 mdpl. Sebelum tidur, Masdan berpesan bahwa kita akan summit attack pukul 04.00. Masih ada Pos 4, Pos 5 dan Hargo Dalem sebelum sampai Hargo Dumilah. Tiba waktunya agar kami benar-benar beristirahat karena kami sudah menempuh lebih dari setengah perjalanan.

Hawa Dingin Menusuk

Jarum jam menunjukkan pukul 03.00, saya membuka mata namun sebetulnya saya tidak benar-benar tidur sejak pukul 01.30 dari briefing terakhir. Di saat itulah, saya benar-benar merasakan kedinginan yang hebat. Belum pernah saya rasakan seperti ini sebelumnya. Hujan mengguyur tenda dengan derasnya. Saya merasa seperti ada aliran air dalam sleeping bag yang membungkus badan dan itu membuat kedinginan yang rasanya seperti perih. Saya terduduk , mencoba mencari cara untuk mengurangi dingin ini. Tangan saya sudah mati rasa. Saya melihat Chorni dan Muji seperti tidak bermasalah kedinginan seperti saya.

“Chor..Ji..kalian gak kedinginan  ? “ tanya saya perlahan.

Mereka hanya jawab dengan seadanya. Saya pun terdiam lagi. Rasa perih itu terus menyerang . Saya buka sarung tangan dan kaos kaki. Semakin mati rasa. Saya merasakan sakit di bawah tenggorokan seperti dihantam benda keras. Saya meraba pelan bagian leher dan merasa sangat lemah.  Sempat terbersit di saat seperti itu “ Apakah ini akhir hidup gue ? “ Saya tidak bisa menjawab, terus mengucap nama-Nya.

Saya mengumpulkan kekuatan untuk keluar tenda, saya rasa saya harus memaksa diri untuk bergerak. Saya mengajak Chorni keluar, menemani saya untuk buang air kecil. Dinginnya luar biasa ketika di luar tenda. Saya dan Chorni melangkah pelan, bergegas kembali masuk tenda. Di dalam, saya paksakan untuk tidur. Saya mendekatkan diri ke teman-teman saya, menutup ritsleting sleeping bag dan memaksa untuk memejamkan mata.

***

Samar-samar saya mendengar suara Masdan, “Mau ikut muncak ga? Tapi kita tidak akan dapat sunrise, di atas kabut, hujan gak berhenti “ Saya terbangun pukul 06.00. Saya tahu bahwa rencana kami meleset untuk summit attack pukul 04.00. Di luar sudah terang namun hujan masih terus turun. Saya bersyukur, ternyata saya masih hidup dan saya sedang tidak mimpi.

“ Aku gak ikut, Mas” kata Chorni di sebelah saya

Saya langsung tersadar bahwa saya harus berusaha lagi untuk sampai puncak.

“Ji, ke puncak! Yuk !  Kita udah sampe sini.. Chor kamu baik-baik ya, istirahat aja” kata saya. Muji mengangguk dan segera bersiap. Chorni pun kembali berbaring.

Perjalanan pun dimulai lagi. Dari Pos 3, kami melangkah menuju Pos 4. Sayang, Chorni tidak bisa bergabung. Namun jika pilihan itu lebih baik untuk Chorni, kami mempersilakannya.

Alasan yang Menguatkan

Memang waktu paling baik untuk mendaki adalah malam hari karena selain para pendaki bisa mengatur waktu untuk bisa sampai ke puncak saat matahari terbit. Alasan lainnya adalah kalau malam tidak terlalu terlihat medan jalur pendakian yang kadang membuat putus asa. Tentu saja kalimat terakhir adalah kalimat subjektif. Dikarenakan sudah terang, saya melihat jelas bagaimana kami mendaki dan trek dari Pos 3 ke Pos 4 yang –lagi-lagi- tidak ada ‘bonus’ dan terus mendaki. Kalau begini, lebih baik saya tidak lihat trek vertikal pendakian daripada terlalu jelas seperti itu. Kabut begitu tebal terutama di sisi kanan kami berjalan. Jalurnya sudah mulai menyempit. Terlihat cantigi dan edelweiss banyak tersebar. Rupanya begitu cantik dan menyejukkan mata.  Akhirnya kami sampai di Pos 4 dengan waktu tempuh 1 jam. Sedikit lagi, ujar saya dalam hati. Kami hanya lewat, tidak menunggu lama-lama untuk bergegas ke Pos 5

Perjalanan Pos 4 ke Pos 5 adalah perjalanan antar pos paling singkat yaitu 30 menit saja. Di Pos 5 dengan ketinggian 3117 mdpl, ada 2 warung. Kami pun beristirahat sebentar untuk makan gorengan dan minum susu jahe. Di warung itu, ada rombongan pendaki yang juga sedang beristirahat. Saya sempat bertanya pada penjual warung itu

 “Mas, itu anaknya di bawa naik ? Umur berapa ? ” tanya saya sambil menunjuk bocah kecil yang sedang menggambar dengan asyiknya di bawah meja tempat menjajakan gorengan  tanpa merasa kedinginan “

Iya Mbak, ini masih sekolah PAUD, umur 5 tahun. Sering kok kalo lagi libur ikut naik ke atas. Kadang digendong, kadang jalan sendiri. Kalau saya bawa barang dagangan, biasanya 5 jam naiknya ” kata Mas Penjual Warung di Pos 5 dengan lancar.

Saya pun bengong kagum. Luar biasa. Berarti apa yang saya jalani ini biasa bagi mereka, tidak ada apa-apanya. Saya merasa terpecut semangat kembali. Kata para pendaki lainnya, jalur Pos 5 ke Puncak sudah tidak banyak mendaki. Kami temukan juga ada petilasan di dekat Sendang Drajad, salah satu tempat yang dianggap keramat. Di dekat situ pun ada warung juga. Kami tidak perlu khawatir dengan urusan perut selepas kami nanti turun dari puncak.

Selanjutnya kami segera bergegas sementara di atas angin semakin kencang dan hujan mengguyur lebat. Saya melangkah sambil bermonolog. Ada dua alasan yang menguatkan saya dalam menempuh perjalanan ini.  Sekitar tiga puluh tahun lalu, ayah dan ibu saya pernah lewat jalur ini, menuju Hargo Dumilah. Saya tahu saya akan kuat juga untuk bisa seperti mereka. Itu alasan pertama yang menjadi inspirasi saya. Saya membayangkan mereka sewaktu muda menempuh apa yang saya tempuh sekarang. Seberat-beratnya medan yang ada, semua bisa dilewati. Alasan kedua yang menguatkan saya, di perjalanan menuju Puncak Lawu ini, saya seperti melihat murid-murid sewaktu di Majene menyemangati saya. Teringat ketika kami pergi ke Gunung Tibung yang menjadi batas Kabupaten Majene dan Polewali Mandar, saya sudah capek luar biasa namun tidak demikian dengan murid-murid. Ingatan saya kembali ke dua tahun lalu. “Ibu Luluk capek ? Mau istirahat, Bu ? “ tanya mereka sambil lihat saya yang sedang mengatur nafas. Saya tersenyum sendiri. Dua alasan yang menguatkan, membuat saya terus melaju.

Puncak Pertama

Kami sampai di dua persimpangan. Ternyata ada jalan pintas menuju Hargo Dumilah dengan jarak tempuh lebih sebentar dan tidak perlu melewati Hargo Dalem. Namun memang  medannya menanjak lagi. Kami memutuskan untuk lewat situ. Kata orang cukup dengan 10 menit saja. Sedikit lagi sampai puncak, tekad saya dalam hati.

Masya Allah, Allahu akbar! Pelan-pelan, seperti hitung mundur, akhirnya saya sampai di tempat tujuan. Di ketinggian 3265 mdpl, tugu Hargo Dumilah berdiri gagah. Saya lepaskan jas hujan dan saya rasakan angin kencang di Puncak Lawu. Saya terduduk dan meraba tanahnya. Saya tidak bisa lihat pemandangan di bawah kecuali kabut. Saya tidak bisa merasakan apapun kecuali hawa dingin menusuk persendian. Air mata saya menetes, bercampur dengan air hujan. Suatu perasaan yang sulit saya deskripsikan. Lawu terasa sangat spesial dengan segala ceritanya. Dia puncak pertama saya. Selalu ada kesan untuk cinta pertama.

Perjalanan Pulang

Tidak lama kami ada di Hargo Dumilah karena kami mau sarapan dulu sebelum kembali ke Pos 3. Tentu saja sarapan pecel di ketinggian lebih dari 3000 mdpl dan setelah mencapai puncak menjadi sensasi tersendiri. Setelah makan, kami bergegas turun menuju Pos 3 untuk menghampiri Chorni dan kembali membereskan segala sesuatunya untuk bersiap turun kembali ke basecamp Cemorosewu.

Sekitar pukul  11.30 kami meninggalkan Pos 3. Sepanjang jalan turun, saya bertemu dengan banyak orang yang mau mendaki. Lawu memang benar-benar menjadi salah satu tujuan favorit. Meskipun hujan deras dan tidak berhenti sejak kemarin, jalur pendakian tidak pernah sepi. Kami menempuh perjalanan turun dengan waktu kurang lebih 3 jam.

Akhirnya perjalanan ini terselesaikan. Perjalanan bersama yang pastinya punya makna berbeda bagi tiap pendakinya. Salut untuk teman saya, Masdan yang merampungkan Triple Summit (Merbabu, Merapi, Lawu) dalam waktu 3 hari berturut-turut tanpa jeda. Sesungguhnya saya semakin yakin bahwa jika kita berkeinginan kuat, kita pasti bisa untuk mendapatkannya, termasuk mendapatkan puncak yang kita tuju.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih untuk Masdan, Oki, Reza, Ichsan, Muji dan Chorni yang telah menemani dan membantu pendakian kali ini.

Terima kasih untuk orang tua dan murid-murid saya di Limboro, Majene yang menjadi inspirasi saya untuk melawan rasa capek dan putus asa

Terima kasih pada sahabat sejati yang selalu menemani pendakian kami ini, tiada lain dia adalah hujan yang tidak pernah berhenti

Terima kasih untuk Allah SWT yang mengizinkan saya untuk mengalami semua ini. Alhamdulillah, tidak kurang suatu apapun

Sampai ketemu di puncak-puncak selanjutnya

*Pagi ini di Madiun, tanggal 29 Desember 2014, saya bergegas ke kantor diantar oleh ayah saya dengan menggunakan motor. Di tengah perjalanan, dari kejauhan saya melihat Gunung Lawu menjulang kokoh. Ada kuncup puncak yang terlihat lebih tinggi di atasnya. Saya yakin itu Hargo Dumilah. Ada perasaan yang berbeda saat saya melihatnya. Saya tersenyum dan berkata dalam hati, saya pernah ada disana.

2014-12-29 08.39.52

Membuka Kotak Pandora

Pesan singkat dari Awe, salah satu kawan dalam Grup WhatsApp Pengajar Muda Angkatan 3 siang itu di tanggal 24 November 2014  berhasil membuat saya tergugah. Di tengah hari saat saya sedang berkutat dengan laptop untuk urusan kantor membuat saya menghentikan pekerjaan sementara dan langsung terdiam. Ingatan saya kembali ke tiga tahun silam di tahun 2011.

Ajakan Awe sebetulnya sederhana dan mudah untuk dilakukan kapanpun. Ia mengajak untuk mengirimkan surat yang berisi cerita dan kabar terbaru untuk dikirimkan pada guru di SD penempatan kami  terdahulu saat masih bertugas menjadi Pengajar Muda (PM). Surat tersebut cukup di kirim via surel kepada teman-teman PM yang saat ini sedang bertugas.

Saat itu juga saya tersadar bahwa esok harinya adalah tanggal 25 November 2014 dimana tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Guru. Hari dimana sebelum saya menjadi PM tidak pernah terpikirkan. Tiga tahun lalu, saya coba kenalkan hari itu di hadapan para guru dan murid di SDN 19 Limboro, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Tidak ada perayaan yang mewah melainkan cukup dengan upacara peringatan dan pembacaan puisi dari murid untuk gurunya. Sejak hari itu, saya semakin memiliki keyakinan  penuh bahwa sosok guru tidak hanya ada di pendidikan formal semata, melainkan selalu ada guru di setiap sendi kehidupan seorang manusia.

Saya merenung dan sesekali tersenyum kecil. Jari tangan dan pikiran saya tergerak untuk membuka kotak pandora yang rapi tersimpan di memori laptop dan memori otak. Akhirnya, saya kembali membukanya setelah sekian lama. Ya, kumpulan foto yang menceritakan tentang perjalanan setahun  yang menakjubkan dan pastinya takkan terulang lagi. Tiga tahun sudah terlewati saat saya pertamakali datang ke Limboro. Bukanlah waktu yang singkat. Begitu banyak hal yang terjadi. Berpindah, bertemu banyak orang dan menjalankan kesempatan baru yang sedang dan telah saya jalani. Sementara saya luput satu hal bahwasanya apa yang menjadikan saya seperti sekarang tentunya adalah doa dari orang-orang yang saya cintai, termasuk orang baik yang saya temukan di perjalanan saat saya belajar menjadi seorang guru.

Tangan saya meraih telepon genggam dan mencari kontak keluarga saya di Limboro, yang bisa saya hubungi. Hasilnya seperti apa yang sudah bisa ditebak. Tidak setiap saat saya bisa menghubungi mereka karena ketiadaan jaringan ponsel di desa. Saya pun menghela nafas panjang dan terkenang gelak tawa murid-murid yang jauh disana.

Saya kembali ke pekerjaan dan menyelesaikannya untuk segera beralih ke hal lain. Ya, saya akan meluangkan waktu kembali untuk menyapa keluarga saya. Orang-orang yang pernah singgah di hati dan saya tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Momen membuka kotak pandora hari itu mengingatkan saya bahwa meskipun hanya ada sedikit kabar yang dibagikan namun hal tersebut adalah satu bentuk terima kasih dan apresiasi bahwa selalu ada orang-orang yang menjadi guru terbaik sepanjang hidup kita.

Selamat hari guru untuk guru-guru hebat di SDN 19 Limboro, Majene 🙂

Selamat hari guru untuk semua orang yang pernah wara wiri di kehidupan saya. Dari mereka saya banyak belajar, tanpa mereka sadari 

(LA)