Sebuah Catatan Sejarah dari Sudut Rumah Petak Sederhana

Alkisah terdapat diskusi maha penting dalam sebuah rumah di tengah perkampungan padat di Surabaya. Diskusi yang terus mengalir layaknya debit air Sungai Kalimas yang membelah Kota Pahlawan. Begini diskusinya,

“Berapa banyak yang diambil Pemerintah Hindia Belanda dari negeri ini ?”  tanya Soekarno.

Tjokroaminoto, induk semangnya menjawab, “VOC mencuri 1,800 Gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag “

Alimin menambahkan, “Petani kita yang memeras keringat harus menahan lapar hanya dengan dua setengah sen per hari”

Kemudian dilanjutkan oleh Musso, “Kita menjadi bangsa kuli diantara bangsa-bangsa“

Tjokroaminoto kembali menanggapi, “Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi kepada pemerintah “

Itulah salah satu diskusi yang menempa pemuda kala itu seperti dikisahkan Soekarno kepada Cindy Adams, kemudian dimuat dalam buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’  Tjokroaminoto menularkan ilmu pergerakan modern kepada murid-muridnya. Seperti pesan darinya yang tersohor, ‘Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator’ .

Raden Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur pada 16 Agustus 1882. Dia merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara. Ayahnya bernama R.M Tjokroamiseno, seorang pejabat pemerintah pada saat itu. Sementara kakeknya, R.M Adipati Tjokronegoro merupakan seorang terpandang di daerahnya yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Ponorogo. Tjokroaminoto adalah salah satu pemimpin organisasi Serikat Islam (SI) yang merupakan organisasi pertama di Indonesia kala itu. Pemerintah Belanda memberikan gelar pada Tjokroaminoto sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota atau dalam bahasa Belanda disebut ‘De Ongekroonde van Jawa’ . Sejarah mencatat, Tjokroaminoto adalah orang Indonesia pertama yang menolak untuk tunduk pada pemerintahan Belanda saat itu. Tjokroaminoto adalah tokoh yang dijuluki sebagai salah satu pelopor pergerakan di Indonesia sekaligus sebagai guru bagi para pemimpin besar Indonesia.

Tjokroaminoto berpindah ke Surabaya pada bulan September 1907. Di Surabaya, Tjokro beserta keluarganya bertempat tinggal di Gang Peneleh VII / 29-31 bersama istrinya, Soeharsikin, dan lima anaknya, Oetari, Oetarjo Anwar, Harsono, Islamiyah, dan Sujud Ahmad. Di rumah indekos itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya para tokoh pergerakan. Tjokro menampung sekitar tiga puluh pemuda Indonesia dengan biaya ringan di rumahnyaa. Dengan beban sewa 11 gulden per bulan, setiap penghuni kos mendapatkan makanan dua kali sehari. Bagi mereka yang ingin menggunakan listrik akan dibebankan tarif tambahan. Sebagai ibu kos, Soeharsikin memasang aturan yang ketat. Inilah pendidikan karakter yang diberikan “Rumah Tjokro” kepada para penghuni kos :

  1. Makan malam jam sembilan dan barang siapa yang datang terlambat tidak dapat makan
  2. Anak sekolah sudah harus ada di kamarnya jam 10 malam
  3. Anak sekolah harus bangun jam empat pagi untuk belajar
  4. Main-main dengan anak gadis dilarang

Harsono Tjokroaminoto dalam bukunya Menelusuri Jejak Ayahku menceritakan bahwa sang ayah memang sengaja memilih rumah yang sempit dan tidak mewah. Dia ingin mendidik anak-anaknya supaya menjadi pribadi yang sederhana, paham arti perjuangan, dan merasakan penderitaan rakyat kecil. Inilah pendidikan nasionalisme yang secara tidak langsung Tjokroaminoto wariskan kepada penghuni kos.

20171230_175403
Rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII No.29-31, Surabaya

Salah satu penghuni kos adalah Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno pergi ke Surabaya karena titah sang ayah, Raden Soekemi Sosrodihardjo.  Soekemi merupakan seorang guru yang dipekerjakan oleh Kementerian Pendidikan Kolonial Belanda. Soekemi sangat sadar betapa pentingnya pendidikan formal masa itu. Sang ayah berencana menyekolahkan Soekarno ke Hogere Burger School (HBS) di Surabaya. HBS adalah sekolah lanjutan menengah untuk orang Belanda, Eropa dan elite pribumi. Kini HBS difungsikan sebagai Kantor Pos Kebon Rojo, yang berlokasi sekitar tiga ratus meter dari rumah Tjokroaminoto di Peneleh. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu dari kurikulum Belanda, Soekemi tidak ingin anaknya berpikir selayaknya orang Barat. Karena itulah, ia menitipkan Soekarno kepada Tjokroaminoto.

“Tjokro adalah pemimpin politik dari orang Jawa,” kata Soekemi memperkenalkan Tjokroaminoto kepada anaknya, sebagaimana dikutip dari buku karya Cindy Adams berjudul “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat”.

Tak sulit bagi Soekarno, Musso, Alimin dan Kartosoewiryo mencari jawaban atas pertanyaan yang mengusik pikiran dan jiwa mereka akan bangsa ini. Berbagai macam perspektif dan rupa-rupa bacaan dari ‘ujung kiri’ hingga ujung kanan mereka dapatkan dari Tjokroaminoto yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Sarekat Islam, organisasi terbesar di nusantara kala itu. Rumah Tjokroaminoto tidak pernah sepi dari tamu tokoh pergerakan dan agama.  Di rumah itulah, Musso bertemu dengan Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet yang memiliki kegemaran akan ide sosial demokrat revolusioner. Sejak 1913, Sneevliet datang ke Indonesia dan menetap di Surabaya selama dua bulan. Dalam kurun waktu tersebut, Sneevliet sempat menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Handelsblad dan ia kerap berdiskusi di Gang Peneleh VII bersama murid-murid Tjokroaminoto, terutama dengan Musso. Adapun para pembaru Islam seperti Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, acapkali pula datang bertamu ke rumah Tjokro. Melalui forum dakwah Ta’mirul Ghofilin yang keberadaannya dibantu oleh Mas Mansyur, Tjokro mengundang Ahmad Dahlan untuk berceramah di rumahnya.

Dari rumah HOS Tjokroaminoto, diskusi hangat tentang ide kebangsaan mengalir dari berbagai sudut pandang. Setelah istrinya meninggal pada 1921, Tjokroaminoto pindah kediaman ke Kampung Plampitan yang tidak begitu jauh lokasinya dari Gang Peneleh VII. Di Plampitan pun nyatanya ia tidak bertahan lama. Lima tahun berselang, Tjokro dan keluarga berpindah ke Grobogan , Jawa Tengah. Hingga akhirnya Tjokroaminoto tutup usia kemudian dimakamkan di Yogyakarta. Rumah Tjokro di Gang Peneleh VII sempat ditempati oleh Walikota Surabaya R. Soekotjo dan Soenarjo. Kemudian pada 1996, Walikota Surabaya menetapkan rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya.

 

20181104_113442[1]
Rumah HOS Tjokroaminoto difungsikan sebagai Museum dalam Rangkaian Surabaya Heritage Walk oleh Pemerintah Kota Surabaya

Rumah HOS Tjokroaminoto difungsikan sebagai museum sejak 2017 dalam Rangkaian Surabaya Heritage Walk oleh Pemerintah Kota Surabaya. Rumah itu terbilang sederhana dengan nuansa khas Jawa. Bagian depan terdapat pagar setinggi satu meter dilengkapi empat pilar dari kayu yang menyokong bagian atap. Dindingnya dicat warna putih, berpadu dengan lantai rumah berwarna kuning kecokelatan bercampur merah marun. Menjelajah lebih dalam, pengunjung akan menemukan ruang tamu dengan empat buah kursi kuno berbahan jati serta meja pelengkap yang tersusun rapi di sebelah kanan ruangan. Semua perabotan di sini juga tampak begitu sederhana. Sebagian merupakan asli peninggalan dari keluarga Tjokroaminoto semasa hidup, lainnya didatangkan dari tempat lain yang dicari bentuknya semirip mungkin dengan aslinya. Terdapat rak peralatan rumah tangga yang juga terbuat dari kayu jati, berada di dekat kursi tamu dan berhimpit dengan tembok. Di bagian atas rak, ada lima foto kuno, yang semuanya memperlihatkan aktifitas Tjokroaminoto semasa aktif di Sarikat Islam. Hampir tiap dinding rumah ini dihiasi foto dan tulisan yang menceritakan sejarah perjalanan hidup dan perjuangan Tjokroaminoto. Semuanya dijelaskan dengan rapi berdasarkan tahun kejadian. Di bagian belakang, pengunjung akan melihat kumpulan foto anak-anak muda yang pernah indekos di situ. Ada foto Soekarno, Musso, Semaun, dan Kartosuwiryo. Uniknya, ada sebuah kamar yang menyatu dengan bagian atap. Konon itulah kamar tidur Soekarno. Selain sebagai ruang tidur, disitulah dulu Tjokroaminoto sering mengajar murid-muridnya. Rumah ini menyimpan ribuan kisah perjuangan anak-anak muda yang menjadi muridnya dan kelak bermetamorfosis menjadi orang penting di negeri ini.

Tjokroaminoto adalah guru para aktivis pergerakan yang kelak menjadi pemimpin di alirannya masing-masing seperti yang disebutkan sebelumnya. Layaknya hubungan guru dan muridnya, mereka memang dekat. Akan tetapi, jika kita benar-benar menyimak kisah Soekarno, Musso, Alimin, Kartosoewiryo dan aktivis lainnya bahwasanya mereka menemukan pemikirannya dalam perjalanan hidup masing-masing.  Masa bersama Tjokroaminoto hanyalah bagian kecil saja dalam hidup mereka namun bisa jadi bagian kecil itu telah menjadi salah satu fondasi pemikiran yang mereka bawa sepanjang hidup. ‘Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murninya tauhid dan sepintar-pintarnya siasat’ menjadi wejangan tak lekang oleh waktu dari Tjokroaminoto kepada murid-muridnya, para anak kos di Gang Peneleh

20181104_111957[1]
Para Anak Kos di Gang Peneleh diantaranya Soekarno, Musso, Alimin, Semaun, Darsono dan Kartosoewiryo
Surabaya yang dijuluki sebagai kota pahlawan tentu memiliki tempat bersejarah. Dibalik kemerdekaan bangsa Indonesia terdapat banyak kisah yang menceritakan pengorbanan jiwa dan raga para tokoh yang membela tanah air dari penjajah. . Sejarah pun bercerita kembali bahwa Soekarno, Musso, Alimin dan Kartosoewiryo berpisah jalan dengan Tjokroaminoto. Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Musso dan Alimin menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia sedangkan Kartosoewiryo memilih bergerak melalui Darul Islam. Tjokro merupakan seorang demokratis sejati. Dia memang guru yang tentunya memiliki corak berpikir khas. Namun, ia tidak memaksa seluruh muridnya memiliki paham yang sama. Kendati berada satu atap, dididik oleh satu guru, menyantap hidangan yang sama, para pemuda penghuni kos Peneleh tidak semuanya satu haluan di masa datang. Soekarno bahkan kelak menyetujui hukuman mati kepada rekan sekamarnya, Kartosuwiryo karena dianggap melakukan pemberontakan terhadap pemerintah resmi. Soekarno pun kerap bersitegang dengan Musso.

Para anak muda kala itu mendapatkan sosok panutan cerdas nan kharismatik dari seorang Tjokroaminoto. Semangat Tjokroaminoto begitu besar mempengaruhi bangsa Indonesia untuk tidak tunduk kepada pemerintahan kolonial. Penampilannya yang rapi menunjukkan sebuah kesetaraan bahwa rakyat jelata harus sejajar dengan bangsawan. Memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, memiliki jiwa yang besar, semangat yang besar dan cita-cita yang besar.  Tidak dapat disangkal, munculnya tokoh progresif dan ideologis negeri ini berawal dari diskusi di tiap sudut ruang dalam rumah petak sederhana milik sang Bapak Guru Bangsa.

Seperti ungkapan kekaguman Soekarno pada gurunya, ia berkata,

 “ Pak Tjokro mengajariku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak.”

-Luluk Aulianisa-

Daftar Pustaka :

Kunjungan ke Museum Rumah HOS Tjokroaminoto,  Gang Peneleh VII No.29-31, Surabaya tanggal 4 November 2018

Seri Buku Saku Tempo ; Bapak Bangsa, Tjokroaminoto, Guru Para Pendiri Bangsa. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2017

Seri Buku Tempo ; Bapak Bangsa, Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2015

Seri Buku Tempo ; Orang Kiri Indonesia,  Musso, Si Merah di Simpang Republik. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2015

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/10/27/rumah-h-o-s-tjokroaminoto-sebagai-salah-satu-aset-sejarah-di-indonesia

https://surabaya.liputan6.com/read/4154951/melihat-rumah-hos-tjokroaminoto-di-surabaya-tempat-sukarno-belajar

https://travelingyuk.com/museum-hos-tjokroaminoto-surabaya/227827

Cerita Tentang HOS Tjokroaminoto dan Rasa Malu Soekarno

Rumah HOS Tjokroaminoto yang Kini Menjadi Museum Khusus

https://jatim.idntimes.com/news/indonesia/vanny-rahman/seatap-di-rumah-peneleh-kisah-soekarno-dan-sang-guru-tjokro/3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s