Sebuah Catatan Sejarah dari Sudut Rumah Petak Sederhana

Alkisah terdapat diskusi maha penting dalam sebuah rumah di tengah perkampungan padat Gang Peneleh di Surabaya. Diskusi yang terus mengalir layaknya debit air Sungai Kalimas yang membelah Kota Pahlawan. Begini diskusinya,

“Berapa banyak yang diambil Pemerintah Hindia Belanda dari negeri ini ?”  tanya Soekarno

Tjokroaminoto, induk semangnya menjawab, “VOC mencuri 1,800 Gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag “

Alimin menambahkan, “Petani kita yang memeras keringat harus menahan lapar hanya dengan dua setengah sen per hari”

Kemudian dilanjutkan oleh Musso, “Kita menjadi bangsa kuli diantara bangsa-bangsa“

Tjokro kembali menanggapi, “Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi kepada pemerintah “

 

Itulah salah satu diskusi yang menempa pemuda kala itu seperti dikisahkan Soekarno kepada Cindy Adams, kemudian dimuat dalam Buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ . Di meja makan rumah Gang Peneleh VII No.29-31, terdapat kediaman HOS Tjokroaminoto yang dijadikan tempat indekos para pemuda. Tjokro menularkan ilmu pergerakan modern kepada murid-muridnya. Seperti pesan darinya yang tersohor, ‘Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator’ Di rumah indekos itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya para tokoh pergerakan. Tjokro beserta sang istri, Suharsikin, menampung sekitar tiga puluh pemuda Indonesia dengan biaya ringan di rumahnya. Salah satunya adalah Soekarno yang bersekolah di Hogere Burger School (HBS) Regenstraat, Surabaya. HBS adalah sekolah lanjutan menengah untuk orang Belanda, Eropa dan elite pribumi. Kini HBS difungsikan sebagai Kantor Pos Kebon Rojo, yang berlokasi sekitar tiga ratus meter dari rumah Tjokroaminoto di Peneleh.

20171230_175403
Rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII No.29-31, Surabaya

 

Tak sulit bagi Soekarno, Musso, Alimin dan Kartosoewiryo mencari jawaban atas pertanyaan yang mengusik pikiran dan jiwa mereka akan bangsa ini. Berbagai macam perspektif mereka dapatkan dari Tjokroaminoto yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Sarekat Islam, organisasi terbesar di nusantara kala itu. Rumah Tjokroaminoto tidak pernah sepi dari tamu tokoh pergerakan dan agama.

Di rumah Tjokroaminoto itulah, Musso bertemu dengan Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet yang memiliki kegemaran akan ide sosial demokrat revolusioner. Sejak 1913, Sneevliet datang ke Indonesia dan menetap di Surabaya selama dua bulan. Dalam kurun waktu tersebut, Sneevliet sempat menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Handelsblad dan ia kerap berdiskusi di Gang Peneleh VII bersama murid-murid Tjokroaminoto, terutama dengan Musso.

Adapun para pembaru Islam seperti Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, acapkali pula datang bertamu ke rumah Tjokro. Melalui forum dakwah Ta’mirul Ghofilin yang keberadaannya dibantu oleh Mas Mansyur, Tjokro mengundang Ahmad Dahlan untuk berceramah di rumahnya.

20181104_111858[1]
Sudut Ruang Tamu di Rumah HOS Tjokroaminoto. Dari sinilah diskusi hangat tentang rupa-rupa ide kebangsaan mengalir dari berbagai sudut pandang
Setelah istrinya meninggal pada 1921, Tjokroaminoto pindah kediaman ke Kampung Plampitan yang tidak begitu jauh lokasinya dari Gang Peneleh VII. Di Plampitan pun nyatanya ia tidak bertahan lama. Lima tahun berselang, Tjokro dan keluarga berpindah ke Grobogan , Jawa Tengah. Hingga akhirnya Tjokroaminoto tutup usia kemudian dimakamkan di Yogyakarta. Rumah Tjokro di Gang Peneleh VII sempat ditempati oleh Walikota Surabaya R. Soekotjo dan Soenarjo. Kemudian pada 1996, Walikota Surabaya menetapkan rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya.

20181104_113442[1]
Rumah HOS Tjokroaminoto difungsikan sebagai Museum dalam Rangkaian Surabaya Heritage Walk oleh Pemerintah Kota Surabaya
Haji Oemar Said Tjokroaminoto adalah guru para aktivis pergerakan yang kelak menjadi pemimpin di alirannya masing-masing seperti yang disebutkan sebelumnya. Layaknya hubungan guru dan muridnya, mereka memang dekat. Akan tetapi, jika kita benar-benar menyimak kisah Soekarno, Musso, Alimin, Kartosoewiryo dan aktivis lainnya bahwasanya mereka menemukan pemikirannya dalam perjalanan hidup masing-masing.  Masa bersama Tjokroaminoto hanyalah bagian kecil saja dalam hidup mereka namun bisa jadi bagian kecil itu telah menjadi salah satu fondasi pemikiran yang mereka bawa sepanjang hidup. ‘Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murninya tauhid dan sepintar-pintarnya siasat’ menjadi wejangan tak lekang oleh waktu dari Tjokroaminoto kepada murid-muridnya.

20181104_111957[1]
Para Anak Kos di Gang Peneleh diantaranya Soekarno, Musso, Alimin, Semaun, Darsono dan Kartosoewiryo
Sejarah pun bercerita kembali bahwa Soekarno, Musso, Alimin dan Kartosoewiryo berpisah jalan dengan Tjokroaminoto. Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Musso dan Alimin menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia sedangkan Kartosoewiryo memilih bergerak melalui Darul Islam.

Para anak muda kala itu mendapatkan sosok panutan cerdas nan kharismatik dari seorang Tjokroaminoto. Tidak dapat disangkal, munculnya tokoh progresif dan ideologis negeri ini berawal dari diskusi di tiap sudut ruang dalam rumah petak sederhana milik sang Bapak Guru Bangsa.

IMG_20181105_204244_158-01[1]
JASMERAH! ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!’

Referensi :

 

Kunjungan ke Museum Rumah HOS Tjokroaminoto,  Gang Peneleh VII No.29-31, Surabaya tanggal 4 November 2018

Seri Buku Saku Tempo ; Bapak Bangsa, Tjokroaminoto, Guru Para Pendiri Bangsa. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2017

Seri Buku Tempo ; Bapak Bangsa, Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2015

Seri Buku Tempo ; Orang Kiri Indonesia,  Musso, Si Merah di Simpang Republik. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2015

2 pemikiran pada “Sebuah Catatan Sejarah dari Sudut Rumah Petak Sederhana

  1. Wahh mantapp banget mbk, tulisanya juga begitu mengalir bak kembali lagi ke dalam ruang waktu zaman pahlawan dahulu.

    Sukses dah saya berharap semoga tulisan yang ringan dan renyah ini bisa masuk podium juara 3 besar 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s