Pisang Goreng Ter-enak Sedunia dan Tukang Kredit Panci Nyasar

Ini catatan perjalanan saya di tahun 2013. Lima tahun lalu.

Saya butuh pergi. Bukan hanya keinginan tapi sudah menjelma jadi kebutuhan. Saya butuh bertemu dengan orang-orang yang saya tidak kenal sebelumnya. Ke tempat yang belum pernah saya datangi dan membicarakan tentang suatu hal yang baru. Bersiap untuk apa yang sedang dan akan terjadi selanjutnya. Dan saya bersyukur bahwa ternyata saya bisa melakukannya.

Tidak berjodoh itu sederhana. Sesederhana saya berlarian mengejar Matarmaja dari Cikini dengan ojek. Hampir menerobos lampu merah yang durasinya lama, semakin mendramatisasi keadaan. Saya pun terengah-engah di depan Pintu Masuk Jalur Utara Stasiun Pasar Senen dan sesaat pesan masuk di whatsapp bahwa apa yang dikejar sudah berangkat. Baiklah.

Saya bersama Widy, Yora, Rifa dan Anis pun segera mengambil langkah selanjutnya yaitu menuju Terminal Pulogadung. Mencoba mencari peruntungan memakai bus. Sesampainya disana, hal yang selalu menyebalkan bagi saya terjadi. Ya, saya paling tidak suka dengan kelakuan para calo dan banyaknya orang di terminal yang biasa tanya-tanya dan menggiring untuk membeli tiket. Abaikan!

Kami pun menuju loket bus Jurusan Malang via Surabaya. Nama busnya Handoyo dengan tarif Rp 235.000 yang katanya bus eksekutif, dapat makan, selimut dan bantal seperti biasanya. Nyatanya setelah busnya datang dan kami sudah bayar, busnya tidak jauh berbeda dengan Bus MGI Bandung-Depok yang sering saya tumpangi. Tiga jam perjalanan ke Bandung disetarakan dengan delapan belas jam perjalanan ke Surabaya. Rasanya saya kesal bukan main namun inilah bumbu perjalanan. Nikmati saja. Apalagi setelah mendengar bahwa ada penumpang di belakang saya yang diminta membayar Rp 325.000 untuk tujuan yang sama. Sepertinya saya harus lebih bersyukur.

Perjalanan melintasi Pantai Utara Jawa ini dimulai pukul 21.00. Setiap kali melewati Pantura, saya selalu teringat dengan De Grote Postweg (Jalan Raya Pos) yang dicanangkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, H.W Daendels (1808-1811). Jalan yang membujur dari Anyer di barat dan Panarukan di ujung timur Pulau Jawa seolah menjadi saksi simpul sejarah bagaimana sang tangan besi pernah berkuasa di Indonesia.

Sopir bus malam arah Pantura hampir pasti memiliki keahlian yang sama. Dalam remangnya jalan di malam hari dan lintasan yang kadang lurus, kadang berkelok, mereka (hampir) selalu bisa menyamai rekor pembalap F1. Membuat penumpang tidak bisa tidur dan malah duduk tegang. Lintasan semakin menantang saat melewati Alas Roban di Jawa Tengah yang terkenal dengan curamnya. Bagi yang sudah biasa, tentunya akan tertidur pulas tanpa terganggu.

Kota demi kota kami lalui. Semarang, Demak, Pati, Rembang dan akhirnya kami sampai di Tuban, lewat sudah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Waktu menunjukkan pukul 10.00 lewat dan itu berarti sudah setengah hari lebih kami menempuh perjalanan ini. Badan sudah terasa pegal namun rasa itu kalah dengan antusiasme kami yang sebentar lagi akan sampai Surabaya. Terik siang itu menyambut kami di Terminal Bungurasih. Kami pun berganti bus dan dalam waktu tempuh 2 jam saja, kami tiba di Terminal Arjosari, Malang.

Malang menyambut kami dengan sejuknya udara saat itu. Kami pun bergegas menuju basecamp kenalan kami di Universitas Negeri Malang (UM) untuk beristirahat sejenak karena tepat pukul 00.00 dini hari, sudah ada jeep yang akan mengantar kita menuju Bromo. Kami juga bertemu dengan teman-teman seperjalanan yang sudah sampai lebih dahulu, mereka yang berjodoh dengan Matarmaja. Tidak masalah! Kami bersyukur karena rombongan kami, dari Jakarta, sudah lengkap dan selamat sampai  Malang.

Pak Sutikno, itu nama pengemudi jeep yang akan mengantar kami dari Malang menuju Bromo. Rute yang dilewati adalah Tumpang, Gubuk Klakah, Ngadas hingga Cemorolawang. Waktu tempuh Malang-Cemorolawang adalah 3 jam. Saya pun turun, merasakan dinginnya Bromo dan riuhnya para wisatawan serta penduduk yang ada disana. Suasana masih gelap, belum terlihat sesuatu yang berarti. Ini akan jadi kejutan. Kami pun memulai jalan kaki untuk bisa sampai ke Penanjakan, melihat matahari terbit. Sesampainya di Penanjakan, terlihat sudah lumayan banyak orang. Begitupun dengan pedagang yang menjajakan kopi, pop mie dan pisang goreng. Sambil menunggu matahari terbit, kami pun shalat subuh dan membeli pisang goreng serta kopi. Pisang goreng itu baru diangkat dari penggorengan dengan banyaknya minyak. Namun rasa dingin Bromo mengalahkan panasnya pisang goreng. Entah mengapa saat itu rasa pisang goreng menjadi berkali-kali lipat lebih lezat. Lebih nendang! Saya nobatkan pisang goreng ini adalah pisang goreng terenak se-dunia yang saya nikmati dengan keindahan matahari terbit dari Bromo. Semburat jingga pun muncul dan tirai alam ini seperti terbuka. Puncak Mahameru malu-malu terlihat. Kawah  Bromo diselimuti kabut,begitupun Gunung Batok. Lautan pasir terhampar luas. Pemandangan ini mengalahkan udara dingin yang sedari tadi menusuk. Dingin itu rasa, kalah oleh kesempurnaan alam di depan mata saya.

IMG_2212
Ini pertemuan pertama saya secara langsung_meskipun dari jauh_dengan Mahameru, tahun 2013
20130311_070840
Ilusi Foto

Mobil Four Wheel Drive yang dikendarai Pak Sutikno membawa kami ke kawah Bromo, bukit pasir dan bukit berbentuk gundukan yang lazim dikenal sebagai Bukit Teletubbies. Saya pun berbaring malas di atas hamparan pasir tersebut layaknya tempat tidur pribadi. Suasana sekeliling sepi, hanya ada derai tawa dari teman –teman seperjalanan saya. Saya terdiam, mencoba hening. Meresapi keindahan sekitar. Jeep pun melaju perlahan meninggalkan tempat yang saya sebut surga. Perjalanan ini belum selesai dan akan dimulai lagi. Ya, sekitar jam 10.00, sampailah kami di Malang dan jam 11.30 kembali berangkat menuju surga kedua dalam perjalanan ini.

 

Angkot carteran mengantar kami menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam menuju Pantai Sendang Biru. Melalui Sendang Biru lah kami akan menyebrang ke Pulau Sempu, sebuah wilayah konservasi alam yang di dalamnya ada Danau Segara Anakan dan memiliki luas 877 Ha. Kami berlayar menggunakan kapal seharga Rp 100.000 PP dimana kami akan dijemput keesokan harinya. Waktu tempuh dari dermaga hingga pulau adalah 15 menit. Kami berangkat pukul 15.00 dan memang berencana mendirikan tenda di Sempu. Sesampainya di bibir Pulau Sempu, kami memulai trekking dengan bantuan salah satu teman kami di Universitas Negeri Malang (UM) yaitu Evan.

Trek yang kami lewati untuk menuju Danau Segara Anakan berupa tanjakan dan turunan. Permukaannya licin dan penuh lumpur. Kami kesana bertepatan dengan musim hujan yang membuat lumpur semakin merajalela. Namun, disitulah seninya. Sedari awal di Sendang Biru, kami memang menyewa sepatu khusus trekking anti licin seharga Rp 10.000. Berhubung di Sempu juga tidak ada air tawar, kami membawa 2 dus air mineral 1,5 liter. Berat? Tentu saja. Maka dari itu kami menyewa porter seharga Rp 150.000 untuk membawa carrier berukuran 85 liter yang berisikan hampir 1 dus botol air 1, 5 liter. Oke, untuk bagian yang ini memang agak tidak berperikemanusiaan nampaknya. Carrier itu sangat berat sekali dan sang porter pun sudah jelas-jelas menyatakannya. Mungkin dalam hatinya bilang “ Gila ini orang, gak tau diri banget nyuruh gue bawa air berat begini “ Sadis memang dipikir-pikir. Jujur, kami merasa bersalah. Padahal masing-masing dari kami sudah membawa 1 botol air, bahkan ada yang membawa 2 botol. Namun hebatnya sang porter berjalan duluan dan kembali pun duluan. Luar biasa kekuatan manusia yang satu ini! Saking hebatnya, panci beserta tutupnya yang kami simpan dalam carrier itu sebagai peralatan masak di Sempu nanti bentuknya terkoyak, entah bagaimana bisa.

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam dan jatuh bangun karena lumpur, keahlian saya pun bertambah yaitu bergelantungan dari ranting ke ranting. Dari tepian, saya melihat bayangan hijau toska. Terdengar pula suara ombak menghempas karang. Saya menghela nafas menahan penasaran apa yang akan saya lihat sebentar lagi. Kaki saya pun terhenti, sampailah saya di Danau Segara Anakan.

Rasa lelah terbayar sudah dengan pemandangan menakjubkan depan mata.Kaki menapak di pasir halus, degradasi warna air dari hijau toska ke biru, tebing serta laguna yang melingkupi danau dan karang yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Saya tidak peduli, langsung berjalan mendekati danau. Saya merasa seperti Tom Hanks dalam film Cast Away.

IMG_2611
Semacam ‘Lost Island’

Kami pun mendirikan tenda dan memasak air persiapan makan malam. Yang mendirikan tenda tidak hanya kami melainkan juga ada beberapa tenda lainnya. Setelah memakan bekal yang kami bawa, kami pun membuat api sambil menghangatkan diri dan bercerita. Evan banyak bercerita tentang Sempu dimana dulu Sempu sekarang berbeda dengan Sempu yang dulu. Publikasi keindahan Sempu dan Segara Anakan sudah tersohor sehingga menimbulkan dua sisi mata uang. Satu sisi Sempu jadi tidak seindah dulu, bahkan Evan berkata dulu masih terlihat banyak biota laut di danau. Jalan menuju Sempu pun tidak seperti sekarang yang bahkan lebih parah jika hujan turun. Dahulu jalanannya masih berupa rumput. Keanekaragaman hayati dan hewani pun masih terpelihara dengan baik, ada jenis macan kumbang, monyet serta burung. Namun, jika kita jeli, bukankah taraf hidup masyarakat di sekitarnya meningkat seiring dengan potensi pariwisata? Geliat perekonomian masyarakat di Sendang Biru yang dominan berprofesi sebagai nelayan menjadi semakin maju. Lagi, kenyataan ironi. Ada gula, ada semut. Siapa yang mau kehilangan kesempatan untuk bisa menambah kesejahteraan dari peluang ekonomi yang timbul ? Meskipun ada eksternalitas negatif yang bisa merusak lingkungan. Tentunya peran dari pemerintah setempat sangatlah diperlukan untuk mengatur semua ini.

Pembicaraan pun semakin meluas dengan cerita tentang karakteristik orang dari golongan darah, tempat wisata lainnya di Indonesia dan cerita ngalor ngidul lainnya. Sambil mendengarkan teman-teman dengan serunya bercerita, saya berbaring telentang menatap langit. Saya melihat banyak gugusan bintang. Gemerlap bintang berpadu dengan angin malam serta suara ombak laut selatan menghempas karang. Saya merasa seperti ada dalam planetarium raksasa namun untuk yang ini Tuhan lah yang langsung melukisnya. Pemandangan seperti ini pula mengingatkan saya di lapangan luas depan rumah selama saya tinggal setahun di Desa Limboro, Majene, Sulawesi Barat. Dimana di  atas langitnya sering saya jumpai gugusan bintang dan saya menikmatinya bersama murid-murid saya. Akankah saat ini saya sedang menatap bintang yang sama dengan mereka ? Saya larut dalam pikiran seraya perlahan memejamkan mata. Sesekali saya kembali mengosongkan pikiran, asyik dengan diri sendiri. Tidak ingin berpikir apapun. Hanya ingin membawa kebahagiaan ini meresap ke hati saya. Malam itu menjadi malam dimana saya bisa tidur ternyenyak selama perjalanan ini.

Saya terbangun di atas alas dalam tenda yang basah. Ternyata semalam hujan cukup deras. Saya hanya bermodalkan kantong tidur untuk membungkus diri. Setelah sarapan, beres-beres dan mengumpulkan sampah, kami mengabadikan lagi keindahan semua ini dalam kamera. Setelah itu, jam 7 lewat kami mulai perjalanan lagi untuk segera kembali ke Sendang Biru. Menurut saya, perjalanan pulang sedikit lebih menantang dibanding saat datang karena pengaruh hujan tadi malam membuat jalanan berkali-kali lipat lumpurnya.  Untungnya, bawaan kami jadi lebih sedikit tapi kami tetap harus bertanggung jawab dengan sampah yang kami hasilkan. Sampah yang kami kumpulkan dalam kantong plastik transparan besar itu harus kami bawa lagi hingga Sendang Biru.

Sepanjang perjalanan kami tertawa-tawa, beberapa diantara kami ada yang terpeleset dan sepatunya tenggelam dalam lumpur. Bentuk kami sudah tidak karuan. Kotor dimana-mana. Salah satu teman bernama Anis dengan tampilannya yang mendukung dikenai tugas membawa kantong plastik sampah. Melihat itu kami tertawa. Apalagi saat Anis membawa panci yang sudah terkoyak dan menawarkan pada pengunjung yang baru akan menuju Danau Segara Anakan, gayanya sudah mirip tukang kredit panci yang nyasar di tengah hutan. Pengunjung yang baru datang itu seperti terheran melihat tampilan kami yang kotor penuh lumpur dari atas sampai bawah. Hmmm…belum tahu aja mereka, ujar saya dalam hati sambil tertawa geli.

Akhirnya, kami sampai di tepian Sempu dalam waktu tempuh yang konsisten saat kami datang yaitu 2 jam. Hal ini juga tidak terlepas dari bantuan Evan yang memandu kami. Seringkali saya dengar cerita bahwa ada saja yang berjalan hingga 5 jam untuk sampai ke danau. Selanjutnya kami menunggu kapal untuk pulang ke Sendang Biru. Sampai di Sendang Biru, angkot yang akan membawa kami ke Malang juga sudah menunggu. Es degan yang dingin menutup cerita kami di Sempu yang setelahnya angkot yang kami naiki perlahan menjauhi Sendang Biru menuju Malang.

IMG_2575
Posisi Terbang
20130312_080453
The Squad!

Perjalanan ini pun hampir sampai di ujungnya. Sesampainya di Malang, kami bergegas untuk kembali berangkat lagi menuju Stasiun Malang Kota Lama. Mengejar Matarmaja keberangkatan ke Pasar Senen pukul 14.57. Untuk kali ini, saya ingin berjodoh dengan Matarmaja. Keinginan saya pun terkabulkan, Cerita tertinggal kereta tidak berlaku saat itu, malah Matarmaja terlambat datang 1 jam. Kami beruntung telah memesan Matarmaja jauh-jauh hari dengan tarif Rp 51.000 karena sebenarnya mulai 1 Maret 2013, Matarmaja sudah tidak bertarif segitu melainkan sudah mencapai Rp 100.000an lebih, saya kurang tahu persisnya. Karena sekarang KA Ekonomi sudah ditambahkan AC. Jadi, kami menikmati Matarmaja seharga Rp 100.000an lebih dengan hanya Rp 51.000 saja. Pukul 16.00, Matarmaja perlahan meninggalkan Malang. Stasiun demi stasiun terlewati, Blitar, Kediri, Madiun, Solo, Semarang, Pekalongan, Tegal, Brebes, Cirebon dan sampailah kami di tujuan akhir, Stasiun Pasar Senen. Lantas, usai sudah perjalanan ini. Keinginan saya terkabul dan saya mau katakan bahwa jodoh itu juga sederhana. Sesederhana saya bisa sampai ke Bromo dan Sempu, sesuai dengan apa yang saya inginkan.

**Ditulis di Depok, pada suatu malam di tahun 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s