Cerita tentang Pendakian ; Sebuah Solilokui

Saya cinta sekali dengan gunung. Hingga saat saya menulis ini, sudah enam bulan saya lewatkan tanpa kegiatan pendakian. Rasanya rindu memenuhi pikiran dan perasaan saya padanya. Namun, kelak nanti akan datang waktunya, saya akan kembali menjejak. Mendatangi tempat yang hampir tidak pernah membuat saya kecewa.

Setiap pendakian yang saya lakukan selalu punya cerita tersendiri. Cerita yang saya jadikan bahan refleksi untuk diri sendiri dan orang yang saya kasihi. Karena sejatinya, setiap perjalanan punya makna yang berbeda bagi setiap orang. Belajar melihat dunia luar, juga belajar melihat ke dalam diri. Satu hal yang pasti, selalu ada ruang untuk berbagi.

 

Tentang Semeru. Jumat pagi. Awal Mei 2016. Pukul 05.00.

Di tengah perjalanan menuju Mahameru dari Kalimati, saya terpisah dari teman pendakian lainnya. Betul kata orang, Mahameru itu dekat di mata, jauh di dengkul. Berlaku juga untuk puncak gunung lainnya. Saya seperti melihat asap dari Kawah Jonggring Saloka ini sudah seperti sangat dekat tapi dugaan saya salah besar. Saya sudah mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Sangat melelahkan. Pasir Mahameru begitu termasyhur dengan slogan ‘naik satu, turun tiga’. Hal itu yang menyebabkan energi terkuras habis. Rasanya saya mau menyerah. Tapi hati kecil saya berkata, “Ayolah, Luk!” . Saya berusaha menyemangati diri sendiri sambil makan sosis siap saji yang nikmatnya berkali-kali lipat saat itu. Saya memandangi apa yang ada di bawah saya sampai terkesima dibuatnya. Memandangi apa yang jauh namun terasa dekat. Mahakarya sempurna yang Tuhan ciptakan. Saya bermonolog, “Bagaimana saya bisa disini ?” kemudian pikiran saya flashback layaknya urutan pita film.

Disitu saya sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Bahwasanya saat lahir kita sendiri dan kelak mati juga sendiri. Saya takut. Mengingat usia saya dipakai buat apa lalu apa saja yang sudah saya lakukan dan lewati selama hidup. Semua yang pernah dan belum saya gapai. Keinginan dan hajat terbesar saya. Apakah semuanya itu berorientasi dunia ? Apa bekal saya untuk kehidupan nanti ? Saya termenung dan akhirnya menangis. Sepertinya saya masih diberi waktu tapi saya tidak tahu akan seperti apa akhirnya. Yang harus saya lakukan adalah terus berjalan dan berjuang.

Hitung mundur langkah kaki lemah ini sampai di ketinggian 3,676 mdpl. Saya pun ambruk. Pasir dan batu menampar muka. Perlahan saya mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ada sambil menangis sesenggukan. Di titik ekstrem kelelahan, saya sadar bahwa manusia punya batas. Begitu banyak Tuhan menjawab doa saya. Tuhan tidak memberi apa yang saya minta, melainkan apa yang saya butuhkan

20160505_082532

(Mahameru kala itu, Dokumen : Pribadi)

 

Saat di Watu Kotak, Puncak Buntu (3,362 mdpl) kemudian Puncak Kawah (3,371 mdpl) pada akhir Maret 2016

Perjalanan dari Watu Kotak menuju puncak belum habis dengan medan pendakian terjal, tanpa bonus dan bebatuan curam. Satu-satunya hal yang menguatkan hati ini adalah tersebarnya tanaman Cantigi yang saya rindukan. Betapa cantiknya dia. Cantigi yang memiliki filosofi tersendiri bagi saya. Warnanya pun indah, menyejukkan mata. Membuat saya betah lama-lama memandangnya. Cantigi menemani saya sepanjang jalur dari Watu Kotak hingga saya mencapai papan penunjuk arah yang menyatakan Puncak Buntu ke kanan, Puncak Kawah ke kiri. Saya melanjutkan ke kiri, menuju Puncak Kawah. Teman pendaki yang saya temui selama perjalanan tak henti-hentinya saling memberi semangat bahwa sedikit lagi sampai puncak. Definisi ‘sedikit lagi’ yang berbeda bagi setiap orang, sebuah usaha memberikan semangat supaya kita harus tetap melangkah dan menyelesaikan pendakian ini.

Saya termenung teringat Cantigi dan rasanya perlu bercerita khusus tentangnya. Betapa istimewanya Cantigi karena untuk menemuinya saja saya harus mendaki gunung. Betapa berharganya Cantigi karena ia tidak bisa saya miliki karena apapun di gunung tidak bisa saya bawa pulang kecuali sampah, barang bawaan dan kenangan. Cantigi (Vaccinium Varingiaufolium) adalah jenis vegetasi yang mudah terlihat di ketinggian minimum 2000-an mdpl sebagai penanda menjelang puncak gunung. Akarnya kuat mencengkeram tanah dan tebing. Ia sering menjadi pegangan pendaki ketika merangkak naik dan turun gunung. Cantigi pula yang menyediakan lantai nyaman untuk bivak serta menghasilkan buah dan pucuk daun yang bisa dimakan saat terdesak. Cantigi juga kuat menghadapi cuaca yang ekstrem dingin dan menepis panas yang menyengat. Cantigi tidak setenar Edelweiss namun justru itulah yang membuat saya jatuh cinta padanya. Cantigi begitu indah pada tempatnya. Dalam diam, Cantigi mengajarkan makna kebermanfaatan yang luas. Tanpa perlu lampu sorot dan usaha keras bahwa dirinya istimewa.

 

Kamis pagi. Pertengahan Juli 2016. Pukul 04.30. Menjelang Subuh di Rinjani

Angin dari sisi barat kencang bertiup, seolah membuat raga ini oleng saat melintas di punggungan gunung menuju Puncak Anjani. Jangan tanya tingkat kedinginannya, seperti menusuk tulang. Beberapa pendaki terlihat bersiap untuk mengumpulkan debu guna memenuhi syarat tayamum. Di tengah langit yang masih cenderung gelap dan perkiraan jam datangnya waktu shalat, azan subuh berkumandang dari aplikasi ponsel. Saat kelelahan menjadi-jadi, manusia diingatkan untuk kembali bersujud di permulaan pagi.

Naik gunung itu capek, lelah, panas, haus dan sebut saja semua kategori ketidaknyamanan. Kalau dipikir-pikir, untuk apa kita susah-susah mendaki ? Berjalan beberapa kilometer jauhnya, menahan bawaan yang berat, dan jauh dari rumah. ‘Sungguh kurang kerjaan’, begitu mungkin pikiran banyak orang.

Kemudian saya merenung dalam perjalanan pendakian ketika itu. Terkadang dalam menjalani hidup, menjalankan rutinitas juga melelahkan. Mengikuti ini itu dan memenuhi harapan orang lain. Keletihan mudah menggerayangi. Terlebih jika kita berharap pada orang lain yang rentan membuat kecewa, termasuk berharap pada orang terdekat sekalipun. Kemudian saya tersadar bahwa semua itu hanyalah dunia. Untuk itu, kita dianjurkan untuk tidak berharap pada manusia. Cukup berharap saja pada Maha Pembolak-balik hati manusia, sang pemilik dunia dan seisinya.

Dunia memang hakikatnya seperti itu. Melelahkan. Bahwa dunia adalah tempat menabung kelelahan untuk istirahat kelak di tempat yang lebih abadi. Pantas saja jika ada seorang kawan yang bertanya, “Kapan seorang manusia itu bisa beristirahat ? Saat ia pertamakali menginjakkan kakinya di surga” Dan pantas saja jika ada seorang bijak yang menasihati rekannya sambil berkata “ Nanti istirahatnya di surga saja ya”

Alam begitu hebat dalam mentransfer kearifannya tanpa berbicara sedikitpun. Bisa kembali ke alam adalah sebuah kenikmatan yang hakiki. Menyadarkan kembali tentang keberadaan manusia seperti setitik debu di muka bumi. Sungguh, kita ini kecil, Kawan. Sekali lagi saya katakan, esensi pendakian gunung layaknya simulasi hidup. Manusia menjalankannya, meraih cita-cita namun tidak terhindarkan dari munculnya banyak rintangan. Kita naik ke puncak tertinggi kemudian turun ke haribaan Illahi. Sebuah perjalanan mencari jati diri, sebagai persiapan untuk kembali.

IMG_9536

(We save Rinjani!,  Dokumen : Pribadi)

Dan saat itu, pemandangan dari Puncak Anjani nampak berkali-kali lipat indahnya. Paduan Danau Segara Anak dan Gunung Barujari tidak pernah gagal memukau siapapun. Dari kejauhan nampak Gunung Agung dan Gunung Tambora di arah yang berbeda. Sebuah keadaan yang tidak setiap hari bisa kita lihat, namun bisa kita kenang selalu.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s