Namanya Nayla

Limboro 2012,  empat tahun yang lalu.

Sore hari yang sejuk di sebuah desa yang terletak di Sulawesi Barat. Sebutlah ia Limboro Rambu-rambu. Sejauh mata memandang dari tempatku berdiri saat itu , terdapat lapangan sepak bola yang luas, dipadupadankan dengan bukit hijau dan langit biru. Dari kejauhan kulihat seorang gadis lebih muda dariku, yang selanjutnya kuanggap sebagai adik, datang ke rumah Bapak Kepala Dusun alias rumah tempat tinggalku untuk sementara selama setahun periode mengajarku di desa itu.

Saat itu aku sedang bermain bersama anak-anak. Ya,hanya dengan berkumpul bersama sambil bercerita tentang apapun, kami sangat bahagia. Ada saja yang mereka ceritakan, dari mulai cerita tentang sekolah hingga cerita hantu sekalipun yang tersohor di desa kami.

Gadis muda itu masuk ke dalam rumah sambil tersenyum  manis. Belakangan kutahu bahwa Nayla, nama gadis itu, adalah kakak dari Mujib, salah satu muridku di kelas 5 SDN 19 Limboro. Nayla menyapaku hangat. Kami pun bercerita tentang banyak hal

Saat itu yang kutahu bahwa Nayla ingin melanjutkan kuliah namun ada hal yang mengganjal hatinya terkait biaya. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun silam dan ibunya yang berjuang membesarkan enam  anaknya dengan cara berdagang.

Mendengar ceritanya, aku pahami bahwa Nayla adalah salah satu anak Limboro yang berkemauan untuk berprestasi dan melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Aku kagum pada semangatnya. Melihat keadaan itu, aku mencoba untuk memotivasinya bahwa ada jalan keluar untuk masalah biaya kuliah.

Ketika aku berkuliah di Universitas Indonesia, salah satu dosen Makroekonomi pernah berkata di depan kelas. Kata-kata yang kuingat hingga saat ini, “ Jangan pernah berpikir bahwa sekolah itu harus bayar “ Hal itulah yang aku coba sampaikan pada Nayla. Dia terlihat ragu tetapi kucoba yakinkan bahwa ia tetap harus berjuang. Langkah pertama yang jelas harus ia lakukan adalah memastikan hendak lanjut kuliah dimana dan fakultas apa

Masih teringat jelas juga dalam cerita Nayla padaku bahwa ia ingin melanjutkan studi Ilmu Hubungan Internasional. Untuk lokasi kuliah, ia memilih tempat kuliah yang juga berada di provinsi yang sama. Di Majene, ada salah satu perguruan tinggi yang saat itu posisinya sedang berproses menjadi universitas negeri, namanya Universitas Sulawesi Barat atau yang disingkat menjadi Unsulbar. Pilihan telah ditetapkan. Saatnya Nayla bekerja keras untuk meraih impiannya. Untuk kesulitan biaya, ada salah satu jalan yang bisa dicoba yaitu mencari beasiswa. Namun, kembali lagi bahwa Nayla harus mengikuti dulu tes masuk perguruan tinggi dan mendapatkan fakultas yang diinginkannya. Hari itu setelah kami bercerita panjang lebar, aku membekali Nayla dengan kumpulan soal yang bisa ia kerjakan sebagai latihan untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi.

 

Semoga kamu berhasil, Dek

***

Beberapa waktu lamanya aku sangat jarang bertemu Nayla. Aku tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Mungkin ini karena kesibukanku ataupun kesibukannya yang barangkali lebih sering berada di Majene, sekitar 45 km jauhnya dari desa kami. Ya, saat itu memang lebih baik Nayla berada di Majene untuk mendapatkan akses informasi yang lebih banyak dikarenakan desa kami, Limboro, adalah desa yang tidak terdapat sinyal operator telekomunikasi sehingga kami lebih sering terlambat menerima info apa yang terjadi di kota.

Hingga suatu hari saat aku sedang mengajar di kelas, kudapatkan berita bahwa kakaknya Nayla meninggal di Majene karena sakit. Pantas saja tidak kulihat Mujib, adiknya Nayla yang kuajar di kelas 5. Ia juga tidak datang ke sekolah. Aku bergumam, barangkali selama ini Nayla di Majene untuk menjaga kakaknya mengingat ibunya sibuk untuk berdagang. Ah, rasanya aku ingin segera ke Majene untuk menemui Nayla.

Tiba di akhir pekan dimana aku bisa pergi ke kota. Aku datang menghampiri kediamannya bersama temanku sesama pengajar bernama Ipeh. Saat itulah aku kembali bertemu Nayla. Kulihat ia begitu lelah, entah apa yang sedang dipikirkannya. Aku coba menghiburnya dan memeluknya erat, layaknya adikku sendiri.

Hari demi hari berganti. Tiba saatnya aku harus pergi meninggalkan Desa Limboro dan kembali ke tempat asalku di Jawa. Yang aku tahu saat itu Nayla belum bisa ikut tes masuk perguruan tinggi. Entah bagaimana kabar Nayla, hilang begitu saja bagaikan mitos. Menurut keluarganya, Nayla lebih sering tinggal di Majene. Hingga detik-detik terakhir aku meninggalkan Majene, aku tidak bertemu dengannya.

Nayla, semoga kamu baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun

 

Hari ini, 4 Juni 2016

Secara tidak disengaja, aku melihat berita di salah satu media sosial. Masya Allah, ternyata ada cerita tentang Nayla yang hampir sudah tidak kudengar lagi kabarnya. Begitu kubuka tautan berita resmi dari portal Universitas Sulawesi Barat itu, aku membacanya dengan seksama. Jujur, aku sempat terkejut dengan kabarnya. Gadis yang kukenal itu telah mencapai mimpi yang ia idam-idamkan selama ini. Nayla lulus di  Jurusan Ilmu Hubungan Internasional  FISIP Universitas Sulawesi Barat dengan predikat cumlaude dan tentunya menjadi wisudawan terbaik di sela-sela kesibukannya berorganisasi sebagai Ketua Himpunan. Aku yakin perjalanan selama perkuliahannya pasti tidak mudah namun nyatanya ia berhasil melewatinya

Aku sangat bangga padanya. Berkali-kali lagi, aku terinspirasi dari orang-orang Limboro, desa tempatku belajar tentang kehidupan dalam rentang waktu usiaku. Masih sangat jelas di ingatanku, suatu sore hari di empat tahun lalu, gadis manis itu datang ke tempatku dan menceritakan segala kegelisahannya. Namun, hari ini aku kembali tersadarkan bahwa akan selalu ada pelajaran dari setiap orang yang kutemukan. Tuhan sungguh Maha Mendengar! Nayla mengajarkan apa arti mimpi dan usaha yang dilakukannya. Limboro bangga punya Nayla. Demikian pula diriku, aku pun bangga pernah mengenalnya.

 

Sukses mulia selalu, Dek Nayla 🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s