Sumbing Tanpa Ampun

Cobalah tutup mata sejenak lalu dengarkan apa yang saya perintahkan. Gambarlah pemandangan gunung dengan tangan secara imajiner lalu lihatlah apa yang terjadi. Di beberapa kesempatan, saya melihat banyak sekali persamaan gambar yang dibuat yaitu, dua buah gunung yang di tengahnya dihiasi matahari, lengkap dengan mata, rambut dan bibirnya yang tersenyum, lalu ada rerumputan dan sawah yang di tengahnya terdapat jalan pembatas. Tidak lupa juga ada awan bertebaran yang berbentuk seperti rambut kriwil dan burung yang sejatinya tidak berbentuk seperti yang kita tahu, melainkan persis seperti huruf M pada logo satu restoran cepat saji terkenal di dunia.

Familiar bukan ? Namun, siapa sangka ternyata bentang gunung kembar itu memang ada.

Sindoro dan Sumbing. Sebutlah nama kedua gunung kembar itu. Mereka adalah kakak beradik di tengah gugusan pendakian gunung Jawa Tengah. Apakah hanya mereka saja yang disebut gunung kembar ? Tentu tidak. Gunung-gunung yang berdekatan lokasinya kerap disebut demikian, sebut saja Arjuno-Welirang, Gede-Pangrango, dan Merapi-Merbabu. Untuk yang terakhir disebut, saya lebih percaya kalau mereka adalah jodoh sekufu dalam pergunungan. Lain halnya dengan GePang dan ArWel, begitu singkatan kekiniannya, saya masih mencari info untuk membuat kisah fiksi pergunungan tentang mereka.

Menurut kisah yang beredar di khalayak dan kisah yang saya modifikasi sendiri. Sumbing adalah adik dari Sindoro. Dua gunung yang sifatnya saling bertolak belakang, ada yang keras hati dan ada yang lembut hati. Mereka kerap bertengkar hingga suatu hari ayah mereka marah, sang adik terkena pukulan ayahnya yang menyebabkan bibirnya sumbing. Sang kakak lebih dipercaya dan memiliki tabiat lebih santun kerap dipanggil ‘Ndoro’. Sindoro dan Sumbing, kakak adik yang sering bertengkar namun sebetulnya mereka saling membutuhkan satu sama lain.

Sumbing berada di ketinggian 3,371 mdpl, sedangkan Sindoro sedikit berada di bawahnya di ketinggian 3,150 mdpl. Cukup setara bukan? Namun banyak yang berpendapat bahwa jalur pendakian Sumbing lebih berat daripada Sindoro. Sepertinya memang benar adanya, Sumbing adalah gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Slamet (3,480 mdpl) dan Gunung Semeru (3,676 mdpl). Sumbing memang termasuk gunung yang memiliki medan sangat terjal penuh bebatuan dengan sedikit ‘bonus’ diantara gugusan gunung di Pulau Jawa. Gunung bertipe stratovolcano ini sudah lama tidak aktif namun di puncaknya masih terdapat kawah

Sumbing adalah gunung keempat yang saya datangi dalam rangkaian menuntaskan pendakian enam gunung di Jawa Tengah yang biasa disingkat 3S 2M 1L. Motivasinya, saya hanya ingin mengakhiri apa yang telah saya mulai. Itu saja. Setiap pendakian selalu ditemani dengan orang-orang berbeda. Edisi kali ini terdiri atas 8 perempuan dan 1 laki-laki, sedangkan 3 laki-laki lain janjian bertemu di Watu Kotak. Dengan mendaki bersama berbagai jenis teman, kita belajar untuk bersikap dan memperlakukan orang lain.

12909424_10208435543706809_1860621649388851919_o
Teman Pendakian Gunung Sumbing

Basecamp – Pos 1 Malim

Azan Dzuhur berkumandang di Desa Garung, titik awal pendakian di Kabupaten Wonosobo. Motor trail modifikasi ala Ojek Sumbing sudah mengantar kami dari basecamp hingga Pos 1 Malim. Jarak 3 km yang waktu tempuhnya 1 jam dipangkas menjadi 15 menit saja dengan harga Rp 25,000, ditambah dengan sensasi wahana ekstrem melintasi jalur makadam yang disisinya terdapat kebun sayuran warga. Pemandangan apik menemani awal perjalanan. Selepas menunaikan shalat di dekat Pos 1, semua dimulai dengan melangkah dengan rute via Garung lama

9603_10208420570972500_603239986957235803_n
Ojek Sumbing yang Melintasi Jalur Makadam

Pos 1 Malim – Pos 2 Genus

Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 berupa tanah padat dengan sedikit menanjak. Medan masih cukup bersahabat. Langkah demi langkah masih aman terkendali. Hanya saja cuaca mendung sudah menemani, seolah awan tinggal menunggu waktu untuk menjatuhkan air. Selepas Pos 2, jalur sudah mulai menanjak dan hujan sudah turun sehingga dibutuhkan kehati-hatian saat mengambil pijakan kaki. Di tengah perjalanan antara kedua pos tersebut terdapat jalur ‘pemanasan’ yang cukup menguras tenaga bernama ‘engkol-engkolan’. Meskipun hujan sudah tersisa dengan gerimis yang awet, tanah semakin licin untuk berpijak. Salah melangkah bisa bahaya. Beban carrier terasa semakin berat. Namun semuanya seperti terbayarkan dengan tersibaknya tirai alam yang terdiri atas kabut, perlahan tersingkap apa yang ada di baliknya, Sindoro menjulang dengan gagahnya.

12108867_10208420573212556_1583924123969867566_n
Diantara Pos 2 dan Pos 3, tempat mendirikan tenda
12920241_10208420572332534_4717435794269506642_n
Engkol-engkolan
535314_10208420571252507_3801475866290472249_n
Jalur Masih Bersahabat, di antara Pos 2 dan Pos 3, sebelum ‘engkol-engkolan’

Jalur Pos 2 ke Pos 3 memang jauh dan panjang. Untuk itulah, atas kesepakatan kelompok dan segala pertimbangan yang ada, kami mendirikan tenda diantara kedua pos tersebut, tepatnya persis setelah ‘engkol-engkolan’. Waktu menunjukkan pukul 18.00, sebentar lagi sudah beranjak Maghrib. Tenda sudah didirikan, logistik makanan dikeluarkan dan kami memasak untuk keperluan perut.

Pos 2 Genus – Pos 3 Seduplak Roto

Konsekuensi yang harus kami terima karena mendirikan tenda masih di sekitaran Pos 2 adalah persiapan summit harus lebih awal karena perjalanan masih jauh. Untuk itulah, kami sudah bergegas sejak Pukul 02.10 untuk melanjutkan perjalanan. Setelah mengamankan barang-barang di tenda, pendakian sesungguhnya dimulai lagi. Dalam gelap ditemani cahaya dari headlamp kami melintasi jalur menuju Pos 3 yang disana ternyata juga sudah penuh dengan tenda para pendaki.

Pos 3 Seduplak Roto – Pestan

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Pestan yang berupa dataran luas. Jika pendakian dimulai dari jalur Garung baru maka titik bertemunya pun akan ada di tempat ini. Pestan sejenis dengan Pasar Bubrah di Gunung Merapi yang bisa menampung puluhan tenda, namun tidak disarankan mendirikan tenda disini karena tidak ada pepohonan ataupun batu besar karena rawan badai dan angin kencang meskipun tetap saja banyak pendaki yang tetap mendirikannya.

Pestan-Pasar Watu

Sesuai dengan namanya, Pasar Watu, seolah-olah cukup menggambarkan banyaknya kumpulan batu yang harus dilewati dan hal tersebut benar adanya. Jalur pendakian semakin menjadi-jadi. Bongkahan demi bongkahan menantang di depan mata. Fisik ini sudah lelah, sesekali menghentikan langkah dan menatap ke belakang lalu tersenyum penuh arti. Pemandangan dini hari itu sangatlah indah. Lampu kota nampak gemerlap di kejauhan, siluet Gunung Sindoro terpampang nyata, di tengahnya terdapat kumpulan awan menyelimuti. Cahaya rembulan seolah menjadi penghangat di tengah cuaca dingin menusuk kulit. Perjalanan masih panjang, kami harus segera melanjutkannya.

1689926_10208420582852797_2917296210111091377_n
Pemandangan antara Pasar Watu dan Watu Kotak, seperti Sabana Gunung Merbabu via Selo

 

***

Saya bersama Kak Ibad dan Kak Winda tiba di Pasar Watu dengan rombongan pendaki lain yang tidak kami kenal. Ya, kami terpisah cukup jauh dengan rombongan sendiri yang masih di belakang. Di tengah kelelahan itu, kami mengikuti saja apa yang dikatakan orang untuk belok ke kanan. Yang saya pahami saat itu, ada dua jalur ke kanan dan kiri, dua-duanya bisa sampai ke puncak, hanya saja jalur ke kiri lebih lama karena memutar, sedangkan jalur ke kanan lebih singkat namun cukup mendaki. Puncak yang dituju saat itu adalah Puncak Buntu. Lazim disebut demikian karena adakalanya satu gunung memiliki lebih dari satu puncak, seperti halnya Gunung Merbabu yang memiliki tujuh puncak. Kami pun ikut ke jalur kanan dengan asumsi lebih cepat sampai.

Tapi nyatanya inilah awal dari kesalahan itu.

Dalam kegelapan, saya menelusuri jalur curam penuh batu dengan bermodalkan cahaya headlamp yang semakin redup. Tanjakannya tanpa ampun, terus begitu hingga kami bertemu dengan rombongan lain yang berbalik arah. Puncak Buntu sudah dekat, kata saya dalam hati

Alhamdulillah, sampai!

‘Balik, balik. Udah gak ada jalan. Salah’, kata seorang teman pendaki.

‘Hah! Maksudnya ?’ tanya saya masih belum mengerti.

‘Iya, salah. Ini udah jurang, buntu’

‘Jadi, maksudnya kita udah sampe Puncak Buntu kan? Tinggal ke Puncak Kawah kan?’ , tanya saya lagi

‘Pokoknya kita balik lagi, ini udah mentok dan bukan Puncak Buntu’, sambung yang lain

Saya cuma bisa bengong sambil makan bekal roti yang nikmatnya berkali-kali lipat saat itu. Saya dan Kak Winda pun jadi rombongan paling belakang, kembali menelusuri jalur curam bebatuan, namun kali ini dengan kondisi turun gunung. Kekuatan dengkul bermain disini. Cahaya headlamp semakin redup. Kak Winda tidak memakai headlamp ataupun membawa senter. Ah, ternyata headlamp saya rusak padahal baru saja ganti baterai, kekuatan penerangannya tidak secerah biasanya. Untung saja di dini hari itu masih ada cahaya bulan menemani. Kondisi badan ini sudah lelah, kaki harus tegak menopang hingga akhirnya ada lubang dalam batu yang lolos dari penglihatan hingga satu kaki ini masuk di dalamnya, Headlamp terlempar dan mati seketika.

Astagfirullah…

Paha saya sakit terjepit batu. Saya berusaha bangkit dengan sisa-sisa tenaga. Kak Winda masih di belakang saya. Saya baik-baik saja, sakitnya hanya sementara, kami harus segera turun kembali ke Pasar Watu. Sudah jelas, kami salah ambil jalur. Setelah dicermati lagi rutenya, untuk sampai puncak, dari Pasar Watu kami harus bertemu dulu dengan Watu Kotak. Di persimpangan Pasar Watu, hanya ada tanda panah jelas-jelas ke kiri sedangkan kami ambil ke kanan. Ah, ternyata kami dapat jackpot! Bukan Puncak Buntu yang kami temui. Perjalanan belum berakhir.

1517663_10208420575252607_2114385386123948546_n
Tanjakan Terjal dan Curam khas Gunung Sumbing

Pasar Watu – Watu Kotak

Azan Subuh terdengar sayup berkumandang mengingatkan kami untuk segera menunaikannya. Kami sudah kembali lagi ke Pasar Watu untuk melanjutkan ke Watu Kotak. Sungguh, pendakian ini terasa semakin berat. Jalur pendakian ini mirip dengan pendakian Gunung Ciremai via Linggarjati yang didominasi bebatuan, hanya saja Sumbing memiliki jalur lebih panjang dan menanjak.

Tiba di Watu Kotak, langit mulai terang. Tempat tersebut dinamakan demikian karena terdapat batu berukuran besar seperti kotak di tengahnya. Terdapat area untuk mendirikan tenda namun hanya cukup 1-2 tenda saja. Tadinya, rencana optimis rombongan kami akan mendirikan tenda di Watu Kotak. Ternyata baru jam 06.00 kami bisa sampai sana. Benar-benar pendakian yang luar biasa.

12377811_10208435534906589_6083869960844784975_o
Bersama Teman Mapala UNTAR
12523972_10208420583092803_3600257480203035691_n
Dekat Watu Kotak

 

Watu Kotak – Puncak Buntu (3,362 mdpl)– Puncak Kawah (3,371 mdpl)

Perjalanan dari Watu Kotak menuju puncak belum habis dengan medan pendakian terjal, tanpa bonus dan bebatuan curam. Etape ini semakin menjadi-jadi. Satu-satunya hal yang menguatkan hati ini adalah tersebarnya tanaman Cantigi yang saya rindukan. Betapa cantiknya! Saya selalu suka Cantigi daripada Edelweiss. Cantigi yang memiliki filosofi tersendiri bagi saya. Warnanya pun indah, menyejukkan mata. Membuat saya betah lama-lama memandangnya. Cantigi menemani saya sepanjang jalur dari Watu Kotak hingga saya mencapai papan penunjuk arah yang menyatakan Puncak Buntu ke kanan, Puncak Kawah ke kiri. Saya melanjutkan ke kiri, menuju Puncak Kawah. Teman pendaki yang saya temui selama perjalanan tak henti-hentinya saling memberi semangat bahwa sedikit lagi sampai puncak. Definisi ‘sedikit lagi’ yang berbeda bagi setiap orang, sebuah usaha memberikan semangat supaya kita harus tetap melangkah dan menyelesaikan pendakian ini.

12472460_10208420576852647_5286904771415544702_n
Cantigi Bertebaran
12919675_10208420576612641_8684922438374624918_n
‘Sedikit Lagi’ Sampai Puncak

Di Ketinggian 11,060 kaki, 3,371 mdpl

Angin kencang menyambut di bawah hangatnya sinar matahari. Cantigi semakin bertebaran. Kawah Sumbing yang luas tepat berada di depan saya. Tak ketinggalan, Gunung Sindoro terlihat jelas dan sangat dekat. Betapa rindunya saat-saat seperti ini. Duduk diam menikmati kesyahduan alam. Segala kelelahan terbayarkan. Cuaca di gunung memang tidak bisa diprediksikan. Jika lain waktu mengunjungi Sumbing, maka akan jelas juga terlihat gunung-gunung lain seperti Prau, Merapi, Merbabu, Lawu, Andong dan Ungaran. Saat saya disana, hanya sang kakak yang terlihat jelas dengan keadaan sesekali tirai alam menutup wujudnya. Suatu hal yang akan sangat saya rindukan. Sindoro seperti melambai-lambai, meminta untuk didaki. Insya Allah, sampai ketemu secepatnya, Sindoro!

535267_10208420578812696_5028435155637444355_n
Gunung Sindoro dari Puncak Kawah Gunung Sumbing

20160326_091822[1]
Kawah Gunung Sumbing
20160326_083555[1]
Cantigi di Puncak Sumbing
Jika disusun gambaran rangkaian perjalanan kurang lebih seperti tertera di bawah ini, namun semuanya tergantung dari ritme dan kecepatan mendaki setiap orang, yaitu :

Pos 1 – Pos 2                                                                        50 menit

Pos 2 – Pos 3                                                                        1 jam 10 menit

Pos 3 – Pestan                                                                    30 menit

Pestan – Pasar Watu                                                        1 jam 30 menit

Pasar Watu – Watu Kotak                                              2 jam

Watu Kotak – Puncak Buntu – Puncak Kawah        1 jam

Total perjalanan naik gunung 7 – 9 jam. Untuk turun gunung kurang lebih menghabiskan waktu 4-5 jam.

Mengutip Tantyo Bangun dari National Geographic,’ Di titik-titik ekstrem kelelahan, disitulah kita tahu batas keberadaan manusia di dunia ’. Setiap pendakian selalu mengajarkan demikian, terlebih pendakian ke Sumbing kali ini. Terima kasih Sumbing untuk pendakiannya yang berkesan 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s