Catatan Kerinduan untuk Madinah Al Munawarroh

(lanjutan) 

Malam menjelang Isya di kota Nabi. Cahaya lampu berpendar semarak dari ruas jalan menemani lalu lalang penduduknya. Angin dingin yang menusuk kulit tidak menyurutkan langkah kaki ini untuk terus melangkah. Mekkah Al Mukarromah sudah lewat beratus kilometer jauhnya. Kini tibalah kami di kota jejak lahir peradaban Islam, Madinah Al Munawarroh.

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia (QS Al Anfal 74)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tiba di Yasrib pada hari Jumat, 12 Rabiul Awal tahun 13 Kenabian. Sejak hari itulah Yasrib dinamakan Madinatur Rasul yang kemudian disingkat dengan nama Madinah. Madinah adalah kota mulia karena kedatangan Nabi pembawa rahmat yang diperintahkan Allah untuk berhijrah dari Mekkah. Di kota inilah, Rasulullah membangun peradaban, menata moral, mereformasi sosial, menggerakkan ekonomi umat yang sehat dan berkeadilan demi meningkatkan kemakmuran dan memberantas kemiskinan. Rasulullah juga menumbuhkan semangat mencari ilmu dan meningkatkan keterampilan hidup segencar meningkatkan iman dan ibadah sehingga membentuk peradaban unggul. Betapa mulianya akhlak sang Nabi kekasih Allah, suri tauladan yang baik bagi seluruh umat sepanjang masa. Allah subhanallahu wa ta’ala telah mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam agar beliau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Risalah Islam yang dibawa Rasulullah diteruskan kepada generasi terbaik umat ini berupa Al Quran dan As Sunnah. Mentaati Allah yaitu dengan mentaati Al Quran dan mentaati Rasul-Nya yaitu dengan mentaati As Sunnah

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman” (QS Al Anfal 1)

20160204_100731
Bangunan Hotel dan Pusat Perbelanjaan tersebar di sekitar Masjid Nabawi
20160204_095736
Sisi Lain Kota Madinah

Sesampainya kami di Hotel Jawharot Asyima. kami bersiap pergi ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat Jama’ Takhir Isya dan Maghrib yang setelahnya akan dilanjutkan menuju Raudhah. Masjid Nabawi memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh masjid lain selain Masjidil Haram yaitu bahwa Rasulullah membeli tanah masjid dengan hartanya sendiri dan dengan tangannya yang mulia,beliau ikut serta dalam pembangunannya. Selain itu, masjid ini termasuk ke dalam firman Allah dalam QS At Taubah 108, ‘Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama lebih patut kamu shalat di dalamnya’. Shalat di Masjid Nabawi lebih baik seribu kali lipat dari shalat di tempat lain kecuali di Masjidil Haram (Muttafaqun alaihi). Seorang muslim juga tidak diperbolehkan melakukan perjalanan ke suatu tempat dalam rangka beribadah kecuali ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

20160203_171958
Tampak Depan Masjid Nabawi. Kubah Hijau adalah Makam Rasulullah shallallahu alaihi wassalam Beserta Para Sahabat
20160203_163316
Lalu Lalang Jamaah Setelah Shalat

Kesan saya terhadap Masjid Nabawi ialah masjid ini begitu cantik, mengagumkan dan modern. Kekhasan yang tidak pernah lepas ialah payung dan kubah nya yang bisa buka tutup secara otomatis.  Betapa indahnya!

Selanjutnya para jamaah diarahkan untuk menuju Raudhah. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda ‘ Antara rumahku dan mimbarku terdapat Raudhah (taman) dari taman-taman surga. Dan mimbarku, diatas telagaku’ (Muttafaqun alaihi) Pendapat mengenai hadis tersebut yaitu bahwa tempat itu kelak akan dipindahkan ke surga dan ibadah di dalamnya akan mengantarkan ke surga. Raudhah menyerupai taman-taman surga karena para malaikat, kaum mukminin dari kalangan manusia dan jin yang duduk di sana banyak melakukan dzikir dan ibadah lainnya (Ta’wil Mukhtaliful Hadis, Ibnu Qutaibah ; at-Tamhid, Ibnu Abdil Barr ; Syarh Shahih Muslim, Nawawi; Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim ; Fathul Bari). Raudhah bagian khusus akhwat hanya dibuka empat kali sehari yaitu setelah shubuh, setelah dzuhur, setelah ashar dan setelah isya sedangkan khusus ikhwan dibuka setiap saat. Tidak mengherankan bahwa untuk masuk dan beribadah di Raudhah harus antre dan bergantian dengan yang lainnya.

20160201_224952
Antrean Jamaah Akhwat untuk Memasuki Raudah
20160203_210552
Menuju Raudhah
20160203_210607
Langit-langit Raudhah
1454587681474
Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu

Akhirnya tiba giliran kami untuk memasuki Raudhah. Alhamdulillah, walaupun kondisi penuh namun Ibu dan saya masih tetap bisa menunaikan shalat sunnah dua rakaat dan bermunajat pada-Nya. Selama di Raudhah, segalanya terasa begitu indah dan damai. Senyum merekah, fisik terasa kuat, rasa kantuk hilang, hati terasa tenang dan gembira. Terlintas di pikiran sambil menggumam, Ya Allah, begitu indahnya semua yang saya rasakan dan lihat ini, benarkah ini masih di dunia ? bagaimana nanti di surga-Mu ? Masya Allah, Allahu akbar. Akal manusia tidak sanggup menandingi ilmu-Nya. Seperti tertulis di QS Fatir 35 ‘ Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya, di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.’ Diriwayatkan Al Baihaqi, Rasulullah bersabda ‘ Di surga tidak ada kepenatan. Semua urusan menyenangkan ‘  Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.

Di sisi kiri Raudhah, terdapat makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, makam Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan makam Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Disyariatkan bagi yang mengunjungi Madinah untuk menziarahi makam Nabi dan kedua sahabatnya sambil mengucapkan salam kepadanya. Assalamualaikaa Yaa Rasulullah, Assalamualaikaa Yaa Abu Bakar, Assalamualaikaa Yaa Umar bin Khattab.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan padanya (QS Al Ahzab 56)

Hari Rabu, 3 Februari 2016 adalah jadwal city tour. Tujuan pertama adalah Masjid Quba, masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah saat berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Dari Sahl bin Hunaif, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda “ Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka baginya pahala umroh” (HR. an-Nasai no.699, Ibnu Majah no.1412, Ahmad 3487, Hakim 312). Setelah menunaikan shalat sunnah dua rakaat di Masjid Quba, kami bertolak ke Jabal Uhud, tempat terjadinya Perang Uhud antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy. Di hadapan Jabal Uhud, terdapat makam para syuhada yang gugur diantaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, Mush’ab bin Umair, Abdullah bin Amr bin Haram, Amrbin Al-Jumuh, Sa’ad bin Ar-Rabi’, Kharijah bin Zaid, An-Nu’man bin Malik, Abduh bin Al Hashas dan yang lainnya. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Aamiin Allahumma Aamiin.

Saat berziarah, disunnahkan untuk mengucapkan salam dan berdoa. Seorang muslim wajib mengikuti sunnah dan tidak melanggarnya dengan melakukan bid’ah yang dapat mencelakakannya karena telah keluar dari sunnah Rasulullah.

20160203_092333
Masjid Quba
20160203_105458
Makam Para Syuhada di Jabal Uhud. Tidak diketahui secara pasti kuburan para syuhada kecuali kuburan Hamzah, paman Rasul dan anak saudara perempuannya, Abdullah bin Jahsy

Setelah dari Jabal Uhud, kami sempat mampir ke Bukit Kurma jika mungkin diantara jamaah mau membeli kurma untuk buah tangan keluarga di Indonesia. Di tengah perjalanan kembali ke hotel, kami melintas di depan Masjid Qiblatain, masjid dengan dua arah kiblat. Pada permulaan Islam, kaum muslimin melakukan shalat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) di Palestina. Pada tahun 2 Hijriah hari Senin bulan Rajab, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sedang shalat dzuhur dengan menghadap ke arah Baitul Maqdis, turun wahyu Allah dalam QS Al Baqoroh 144  ‘Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah tidak sekali-kali lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Sesampainya di hotel, kami pun segera bersiap kembali untuk shalat di Masjid Nabawi dan kembali menuju Raudhah pada malamnya. Ibu saya juga mengajak untuk menjelajah Masjid Nabawi secara keseluruhan dari pintu 1 sampai pintu 39.  Kami juga melintas Ba’qi yang merupakan pekuburan penduduk Madinah. Disanalah para sahabat, istri-istri Rasulullah, para tabi’in , para ulama dan para sahabat Nabi dimakamkan.

20160203_165145
Gerbang Pemakaman Ba’qi
20160203_205438
Terbukanya Kubah Masjid Nabawi
20160203_210547
Tertutupnya Payung Masjid Nabawi

Hari Kamis, 4 Februari 2016, hari terakhir di Madinah. Itu artinya sebentar lagi kami akan kembali ke Indonesia, pulang ke rumah bertemu dengan keluarga dan kembali menjalani rutinitas seperti sediakala. Rasanya memori akan Mekkah dan Madinah masih terus terngiang-ngiang dan seakan tak mau hilang.

Selepas shalat dhuha, Ibu saya mengajak kembali ke Raudhah untuk terakhir kalinya. Setelah dari Raudhah, kami mengeksplorasi perbelanjaan yang mengelilingi Mesjid Nabawi. Tidak lama kemudian, kami harus segera kembali ke hotel untuk bersiap check out, berangkat menuju Jeddah.

Layaknya kota besar yang sibuk, Jeddah begitu gemerlap dan modern. Kami sampai di malam hari selepas isya sehingga kami hanya melintas Masjid Terapung dan Laut Merah serta sempat mampir di Al Balad yang dikenal sebagai pusat belanja di Jeddah.

Perjalanan sembilan hari mengunjungi dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah akhirnya tiba di penghujungnya. Perjalanan yang tidak hanya melibatkan fisik dan harta, melainkan juga hati. Saya mencoba menyimpulkan dengan versi saya yang fakir ilmu ini terhadap ‘benang merah’ dari dua kota suci tersebut. Bahwa di Mekkah seperti saat kita menjalankan Hablum Minallah (hubungan dengan Sang Pencipta) dimana tauhid seorang muslim diuji dan diperlihatkan keesaan Allah subhanallahu wa ta’ala, meneladani kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beserta keluarganya yang lembut, sabar dan ikhlas menerima dan menjalankan segala perintah-Nya, sedangkan di Madinah seperti saat kita menjalankan Hablum Minnanaas (hubungan dengan sesama manusia) dimana terdapat suri tauladan yang baik sepanjang masa yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang menerjemahkan keindahan Islam dalam hubungan sesama manusia, mendidik pribadi berbudi pekerti tinggi, menata sendi masyarakat beradab dan berbudaya karena sejatinya manusia diturunkan ke dunia ini untuk berjihad di jalan-Nya, mengikuti petunjuk Al Quran dan As Sunnah agar selamat di dunia dan akhirat

Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. Ikutilah agama nenek moyangmu (Ibrahim). Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan begitu pula dalam Al Quran ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu, Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong (QS Al Hajj 78)

‘Ya Allah, panggil kami menjadi tamu-Mu untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh, untuk menziarahi kota suci-Mu, Mekkah dan Madinah..’

Subhanallah walhamdulillah walaailahaillallah wallahuakbar

(selesai)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s