Menengok Lawu

Akhir pekan di penghujung Oktober 2015, saya berkesempatan mengunjungi basecamp pendakian Gunung Lawu yaitu Cemorosewu di Kabupaten Magetan, Jawa Timur dan Cemorokandang di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jarak keduanya hanya berkisar 200 meter dibatasi oleh gapura pembatas provinsi. Situasi disana termasuk sepi untuk ukuran akhir pekan, hanya ada beberapa petugas yang berjaga. Cuaca panas menyengat ubun-ubun. Papan larangan pendakian terpasang di pintu masuk basecamp. Warung makan dan penginapan di sekitarnya pun sepi pengunjung. Hanya ada orang lalu lalang sekadarnya.

Gunung Lawu yang berada di ketinggian 3,265 mdpl memang kerap menjadi sorotan beberapa waktu belakangan ini. Tentu masih cukup segar ingatan di kepala, delapan pendaki Lawu meninggal dunia di pertengahan Oktober 2015, lima diantaranya adalah warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Diduga penyebabnya adalah kebakaran hutan yang berasal dari api unggun yang belum sepenuhnya padam.

Basecamp Cemorosewu (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorosewu (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Basecamp Cemorokandang (Dok : Pribadi)

Belum cukup musibah itu terjadi, tepat minggu lalu di tanggal 25 Oktober 2015, kebakaran hutan yang awalnya terjadi cukup masif di jalur pendakian akhirnya menjalar turun hingga pemukiman warga di Dusun Cemorosewu, Desa Ngancar, Plaosan.  Jarak kobaran api ke rumah warga terdekat sekitar 10 meter. Kepulan asap pekat sempat terlihat membumbung tinggi diatas pemukiman warga. Kobaran api juga terlihat di lereng perbukitan Lawu bagian selatan dan Jalan Raya Sarangan-Karanganyar sehingga sontak menjadi perhatian warga dan pengendara yang melintas. Tindakan cepat segera dilakukan. Dua unit mobil pemadam kebakaran (PBK) dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Magetan dikerahkan untuk menjinakkan api. PBK juga dibantu dua unit mobil pemadam dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar. Penyemprotan dilakukan dari jarak sekitar 25 meter. Api berhasil dijinakkan setelah mengerahkan delapan unit mobil tanki air yang dipasok dari PDAM Lawu Tirta dan Tanggap Bencana (Tagana) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dengan adanya bencana tersebut, warga memilih untuk mengungsi ke rumah sanak saudara. Pihak Perhutani bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) melakukan evakuasi warga ke wilayah Desa Getasanyar dan Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan.

Api menjalar ke pemukiman warga di Cemorosewu (Dok : Akun Path Pipink Rivia)
Api menjalar ke pemukiman warga di Cemorosewu (Dok : Akun Path Pipink Rivia)

Bencana ini tidak hanya membuat manusia panik, habitat satwa di Gunung Lawu pun ikut turun gunung. Petugas Perhutani bersama komunitas Anak Gunung Lawu (AGL) berhasil mengevakuasi kera liar sewaktu menyisir titik api di perbatasan Cemorosewu dan Cemorokandang. Selain itu, ditemukan pula jejak macan Lawu yang tertinggal di sekitar petak 73, populasi babi hutan dan menjangan di hutan Gunung Lawu. Temuan hewan lainnya yaitu harimau kumbang juga sempat menggegerkan warga. Populasi Jalak Lawu juga mendapat perhatian khusus walaupun hingga saat ini belum ditemukan adanya Jalak Lawu yang terbakar ataupun mati. Diperkirakan burung yang dilindungi dan disakralkan warga setempat itu sudah bermigrasi ke hutan bagian utara.

Gunung Lawu bertipe stratovolcano dan berstatus gunung api ‘istirahat’. Menurut Wikipedia, Lawu diperkirakan terakhir meletus pada tanggal 28 November 1885. Fenomena kebakaran hutan yang terjadi tahun ini di Lawu dipercaya sebagai siklus ‘bersih-bersih’ 18 tahun. Kebakaran hebat di Lawu terjadi terakhir kali di tahun 1997 sebelum kembali lagi seperti pada tahun 2015 ini. Seperti yang dikutip di Radar Lawu, Kepala Resor Polisi Hutan Sarangan, Kholil menjelaskan bahwa daun cemara dan pinus, yang merupakan vegetasi di Lawu, terus berjatuhan dan mengering. Secara ilmiah, daun dua jenis pohon tersebut sulit hancur dalam jangka waktu 7-10 tahun dan tidak lantas menjadi kompos lalu bersatu dengan tanah meskipun sudah berguguran bertahun-tahun. Tumpukan daun kering tersebut mudah terbakar saat musim kemarau. Selain itu didukung pula dengan tiupan angin dan hawa panas sehingga membuat api cepat sekali menjalar. Kandungan minyak juga terdapat pada dedaunan pohon cemara dan pinus yang menjadi faktor pendukung api menyala bertambah ganas. Api merambat melalui celah-celah bebatuan yang banyak terdapat di selatan Gunung Lawu. Petugas pemadaman mengaku kesulitan untuk memadamkan api yang berada di celah bebatuan karena sulit terjangkau. Total luas hutan yang terbakar mencapai sekitar 160 Ha dari total 1,116 Ha.

 

Pucuk Gunung Lawu yang terlihat di Jalan Raya Sarangan-Plaosan, Magetan. Terlihat kepulan asap tipis yang tersamarkan oleh awan (Dok : Pribadi)
Pucuk Gunung Lawu yang terlihat di Jalan Raya Sarangan-Plaosan, Magetan. Terlihat kepulan asap tipis yang tersamarkan oleh awan (Dok : Pribadi)

Saat ini, sudah lebih dari dua minggu berlalu, tak ada lagi api besar berkobar di area Gunung Lawu seperti sebelumnya. Yang tertinggal sekarang hanya hamparan abu dan pohon cemara serta pinus kering. Kepulan asap memang masih terlihat tetapi dipastikan sudah tidak berbahaya. Namun, sisa kebakaran membuat dataran itu menjadi kawasan panas. Warga setempat mulai mengevakuasi pipa jaringan air bersih yang meleleh karena panas. Mereka juga membuat pipa darurat secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih menggantikan pipa yang meleleh. Pihak Perhutani, TNI, POLRI, warga dan relawan masih terus mengawasi pergerakan api yang mungkin terjadi.

Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)

 

Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorokandang (Dok : Pribadi)
Penutupan jalur pendakian Lawu melalui Pos Cemorosewu (Dok : Pribadi)

 Bagi saya, Lawu adalah gunung spesial. Pendakian pertama saya di Pulau Jawa akhir tahun 2014 silam tentu meninggalkan kesan mendalam. Kondisi Lawu yang saya lihat sekarang ini sangat kontras dengan Lawu saat 27-28 Desember 2014. Pendakian saya kala itu ditemani hujan angin tiada henti. Kabut dan cuaca dingin yang menusuk menjadi kawan perjalanan. Hal itu sungguh menjadi pengalaman tak terlupakan. Alam memang memiliki cara sendiri untuk mendidik manusia. Jika nanti sudah tiba waktunya, Gunung Lawu dan gunung lainnya pun akan siap kembali membuka diri. Para gunung akan menyambut para pendaki dengan kesederhanaannya yang kerap menjadi candu untuk terus kembali lagi dan lagi. Semoga manusia dimanapun memiliki kesadaran untuk tetap melindungi bumi yang dipijaknya. Salam lestari!

Pendakian Lawu ditemani hujan, 27-28 Desember 2014 (Dok : Pribadi)
Pendakian Lawu ditemani hujan, 27-28 Desember 2014 (Dok : Pribadi)
Sampai di Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu, 28 Desember 2014 (Dok : @Masydan)
Sampai di Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu, 28 Desember 2014 (Dok : @Masydan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s