Merindu Merbabu

Saat sepertiga malam yang cerah tanpa hujan, Kereta Api Malioboro Ekspres tujuan akhir Yogyakarta telah meninggalkan Stasiun Solo Balapan. Suasana kembali sepi dan hening. Saya berbaring di kursi peron, menunggu pagi sambil memejamkan mata. Menanti kawan seperjalanan dalam pendakian penuh kejutan. Sebut saja ia, Gunung Merbabu.

Gunung bertipe strato ini terletak di wilayah Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang dan Kota Salatiga di Jawa Tengah. Berasal dari kata ‘meru’ (gunung) dan ‘abu’ (abu) yang berada pada ketinggian 3,142 mdpl. Ada 4 jalur pendakian yang lazim dilewati yaitu Thekelan, Cunthel, Wekas dan Selo. Kali ini, saya beserta teman-teman akan mendaki lewat Selo di Kabupaten Boyolali yang terkenal dengan pemandangan Sabana yang luar biasa indahnya.

Di tengah perjalanan menuju basecamp Selo, saya dihadapkan pada dua gunung yang bersanding dengan serasi. Mereka adalah Merbabu di sisi kanan dan Merapi di sisi kiri.  Bagi saya, Merbabu dan Merapi itu saling melengkapi. Jika diibaratkan, Merapi adalah laki-laki yang berani dan gagah perkasa sedangkan Merbabu adalah perempuan anggun dan memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Mereka seperti sudah ditakdirkan untuk bersama.

**

Setelah berbelanja keperluan logistik pendakian di Pasar Cepogo, kami pun bergegas menuju basecamp Selo untuk kembali berkemas dan melakukan registrasi. Pendakian pun dimulai sekitar pukul 10.30 WIB ditemani cuaca cerah. Dari gapura bertuliskan ‘Jalur Pendakian Selo’, semuanya dimulai dengan melangkah.

Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1-Dok Malang menghabiskan waktu sekitar 1 jam dengan ritme jalan santai. Medannya masih bersahabat namun kabut tipis mulai menyelimuti. Vegetasi hutannya masih didominasi dengan pohon-pohon tinggi. Selanjutnya, Pos 1 menuju Pos 2-Pandean yang juga memakan waktu sekitar 1 jam. Ada beberapa titik yang konturnya sudah mulai menanjak daripada ketika menuju Pos 1. Saat perjalanan menuju Pos 3-Watutulis, kabut mulai tebal lalu turun hujan rintik. Ketika sampai di Watutulis, kami pun berteduh sebentar di bawah flysheet yang kami bentangkan sementara sambil menunggu hujan reda.

Saat pendakian saya menuju Gunung Lawu di akhir 2014 silam, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Cantigi, pohon kerdil yang melindungi pendaki gunung. Namun, keberadaannya kalah tersohor dari Edelweiss, sang bunga abadi. Daun Cantigi merah bersinar, cantik, dan merona ketika disinari matahari. Membuat siapapun pasti ingin mengabadikannya lewat lensa dan pandangannya. Saat perjalanan menuju Pos 3, mulai banyak Cantigi bertebaran. Kejutan pertama di Watutulis,  Cantigi tumbuh dilatarbelakangi Merapi yang nampak sangat dekat. Perpaduan yang elok. Kabut perlahan menghilang. Hujan sudah selesai rupanya. Kami harus melanjutkan perjalanan karena sebentar lagi akan sampai pada tahap yang sebenar-benarnya mendaki.

**

Perjalanan Pos 3 menuju Pos 4-Sabana 1 ditempuh dalam waktu sekitar 45- 60 menit dengan medan yang menguras tenaga. Berhubung hujan baru saja reda, tanah yang diinjak pun agak licin dan diperlukan kehati-hatian saat mencari pijakan. Kabut tipis muncul kembali dan menemani pendakian kami hingga sampai pada Sabana 1. Sesampainya di Sabana 1, kami pun mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam. Menu sop ayam, ayam kecap, tahu, tempe dan sambal yang disantap setelah mendaki menjadi menu paling nikmat sepanjang perjalanan ini.

Saat jam menunjukkan pukul 17.30, langit mulai berubah warna. Saya tertegun dan segera berlari ke suatu titik dimana saya melihat semburat jingga bermunculan, berpadu dengan gumpalan awan dan senja di ufuk barat, segaris dengan Puncak Merapi. Masya Allah! Lukisan Tuhan Maha Sempurna. Di tengah perpaduan warna di langit nan luas, sosok Merapi terhampar sangat jelas , tegak berdiri menghunjam bumi. Setelah momen matahari terbenam paling indah di Pantai Ndana, Rote Ndao yang sukses membuat saya menangis terharu selanjutnya ada momen matahari terbenam paling indah di Gunung Merbabu yang sukses membuat saya merasakan déjà vu dengan semua keindahan yang Tuhan ciptakan tanpa cela.

IMG_7285

Dini hari pukul 03.00, kami pun terbangun dari istirahat singkat namun berkualitas di Sabana 1. Kami akan lanjutkan perjalanan ini sampai puncak. Di tengah kegelapan, suasana begitu ramai dengan para pendaki lain yang akan melakukan hal yang sama. Setelah mengisi energi dengan mie instan, madu dan roti, kami segera melangkah menjauhi tenda menuju puncak.

Gunung Merbabu memiliki tujuh puncak yaitu Puncak 1-Watu Gubug, Puncak 2-Pemancar,Puncak 3-Geger Sapi, Puncak 4-Syarif, Puncak 5-Ondo Rante,Puncak 6-Kenteng Songo dan Puncak 7-Trianggulasi. Namun kami hanya akan mendatangi Puncak Kenteng Songo dan Puncak Trianggulasi sebagai puncak tertinggi Gunung Merbabu di ketinggian 3,142 mdpl.

Perjalanan dari Sabana 1 menuju Pos 5-Sabana 2 memakan waktu sekitar 60 menit dengan medan mendaki namun saat turun mendekati Sabana 2 ada jalan landai sebagai bonus. Selanjutnya dari Sabana 2 menuju Puncak Kenteng Songo memakan waktu sekitar 45-60 menit, medan terus menerus mendaki , hampir tidak ada jalan landai. Tanah pijakan cukup licin sehingga harus berhati-hati. Dibalik semua kesulitan itu, saat kepala menoleh ke belakang, kejutan muncul lagi. Lampu-lampu dari rumah penduduk di Kabupaten Boyolali sangat cantik dari kejauhan. Tanpa sadar, diri ini sudah berada di ketinggian lebih dari 3000 mdpl. Saat mendongakkan kepala ke atas, hati ini berdesir. Gugusan bintang menghiasi langit malam. Saya tercekat dan memandang ke arah yang sama untuk waktu yang lama.

Look at the stars, look how they shine for you

And everything you do, and they were all yellow

Your skin, oh yeah your skin and bones

Turn into something beautiful

Tonight, you know I love you so 

You know I love you so (Coldplay – Yellow)

**

Sayup-sayup suara muadzin terdengar mengagungkan asma-Nya, menyeru umat muslim menunaikan Shalat Subuh. Saat itu pula kaki ini sudah mencapai Puncak Kenteng Songo. Matahari mulai menampakkan wujudnya. Tirai alam ini tersibak perlahan. Benarkah ini yang ada di depan saya sekarang? Lagi-lagi ada dia, pasangan hidup Merbabu yang menjulang megah tanpa ampun. Pantas saja Merapi masih tetap berdiri tegak meskipun seringkali ia memuntahkan material vulkanik. Itu pasti karena Merapi jatuh cinta pada keindahan dan keanggunan Merbabu, sama seperti yang saya rasakan.

IMG_7408

Masih di Puncak Kenteng Songo, samudera awan meliputi hamparan langit. Cantigi dan Edelweiss bertebaran, berpadu dengan sabana yang rumputnya melambai tertiup angin. Dari kejauhan muncul puncak pertama saya dengan malu-malu di balik mentari, sebutlah ia Hargo Dumilah, ketinggian 3,265 mdpl di Gunung Lawu dengan bentuknya yang memanjang. Masya Allah! Saya pernah ada disana, ditemani sahabat paling setia selama pendakian bernama hujan dan saya tidak menyesal pernah melewatinya.

IMG_7413

Perjalanan dilanjutkan menuju Puncak Trianggulasi dengan jarak yang sudah tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan, dari samping terlihat Puncak Syarif dan Puncak Pemancar. Kejutan belum berakhir. Di Puncak Trianggulasi, terlihat dari kejauhan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang berdampingan. Lebih dekat lagi, ada Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Melihat semua ini, bagaimana mungkin para pendaki tidak menobatkan Merbabu sebagai salah satu gunung dengan pemandangan terindah di puncaknya ?

IMG_7526

Matahari mulai meninggi. Kami bergegas untuk turun kembali menuju Sabana 1. Seolah tidak rela dengan perpisahan ini, saya berjalan pelan, menikmati apa yang ada di hadapan saya. Hanya bisa berdecak kagum dan tersenyum. Memandang penuh arti. Rasanya damai sekali. Berat hati meninggalkannya, seolah tidak mau berpisah untuk waktu yang lama.

IMG_7572

So she said what’ s the problem baby ? What’s the problem I don’t know.

Well, maybe I’m in love. Think about it everytime. I think about it. Can’t stop think about it

How much longer it will take to cure this ? Just to cure because I can’t ignore that if it’s love

Makes me wanna turn around and face me but I don’t know nothing but love (Counting Crows – Accidentally in Love)

**

Sesampainya di Sabana 1, kami pun segera memasak dan membereskan tenda. Setelah mengisi energi untuk turun gunung, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Kabut mulai turun lagi diselingi hujan rintik. Tanah pijakan semakin licin. Perlu ekstra hati-hati karena kami akan menuruninya, bisa-bisa malah tergelincir. Perjalanan turun ini memakan waktu sekitar 2,5 jam.  Pukul 13.00, kami sudah sampai lagi di Gapura Jalur Pendakian Selo dengan selamat, tidak kurang suatu apapun.

Terima kasih untuk keluarga Merbabu, Masdan,Vici, Oki, Ojan, Yoga, Wisnu, Hilmi, Rahmat, Ryan, Aden, Laily, Mpit, Ismi, Diah, Muji, Risa, Ade dan Yupi. Betapa menyenangkannya memiliki teman naik gunung yang hebat!

Terima kasih untuk orang tua juara satu seluruh dunia yang selalu menjadi inspirasi untuk segala hal. Mereka yang selalu memberikan kebebasan pada anak-anaknya berpetualang di alam raya ini. Ma..Pa, skor Merbabu kita sama ya, we have been there, done that, at the different time  🙂

Yang terakhir namun paling utama adalah ucapan terima kasih dan rasa syukur mendalam pada Sang Maha Pencipta. Tiada daya dan upaya selain dari-Nya, diizinkanlah raga dan jiwa yang lemah ini untuk melakukan perjalanan, melihat dengan mata sendiri dan mengambil hikmah untuk segala penciptaan-Nya.

Saat kaki menjejak puncak-puncak tertinggi, semakin nyata pula bahwa manusia begitu kecil dibandingkan alam raya ini. Sangat kecil. Tidak pantas untuk berbangga diri. Sungguh, ini tidak hanya perjalanan fisik melainkan juga perjalanan hati. Sekali lagi, berkali-kali lagi, Terima kasih Ya Rabb

Dalam perjalanan pulang, kembali menuju Stasiun Solo Balapan, saya menatap Merapi dan Merbabu yang semakin jauh dari pandangan. Saya berjanji, suatu hari nanti akan saya kunjungi Puncak Merapi, untuk menyampaikan rasa cinta Merbabu padanya.

And I don’t want the world to see me

Cause I don’t think that they’d understand

When everything’s made to be broken

I just want you to know who I am (Goo Goo Dolls – Iris)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s