Menuju Puncak Pertama

“ Aku mau triple summit ke Merbabu, Merapi dan Lawu, Insya Allah Desember” kata Masdan, salah satu teman kuliah saya via pesan Whatsapp sebulan lalu. Saya membalas pesannya dengan cepat.

“ Ikut dong ke Lawu, kebetulan dekat dengan Madiun, tempatku sekarang “

“ Oke, dari sekarang rutin jogging dan minum vitamin C ya “

Saya pun mengiyakan dan malah jadi bertanya ke diri sendiri dalam hati “ Yakin nih gue mau ke Lawu ? ”

Sekapur Sirih

Gunung Lawu yang berketinggian 3265 mdpl terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Lawu adalah gunung api yang sudah lama tidak aktif. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang mengeluarkan belerang dan uap air. Tipikal vegetasinya rapat dan puncaknya tererosi. Ada dua jalur yang lazim dilewati oleh para pendaki yaitu Cemorosewu (Jawa Timur) dan Cemorokandang (Jawa Tengah).  Jalur Cemorosewu memakan waktu lebih singkat sekitar 6-7 jam daripada jalur Cemorokandang yang memakan waktu sekitar 8-9 jam untuk sampai ke Hargo Dumilah, puncak tertinggi Lawu. Namun, jalur Cemorosewu memang lebih vertikal daripada jalur Cemorokandang yang lebih landai. Ada satu jalur lagi yaitu Candi Cetho namun jalur ini tidak terlalu banyak dilewati oleh para pendaki.

Sudah sejak lama, Gunung Lawu diyakini sebagai gunung keramat yang sering dijadikan tempat spiritual para tokoh dan negarawan seperti Soekarno, Soeharto, Gusdur hingga SBY. Gunung Lawu dipercayai memiliki sejarah dan mistik yang tinggi. Masyarakat Jawa sangat percaya mitos bahwa puncak Lawu dahulu merupakan kerajaan pertama berdiri di pulau Jawa dan memiliki dunia gaib yang misterius.

Namun demikian, Lawu adalah salah satu gunung favorit para pendaki dan menjadi salah satu dari ketujuh puncak tertinggi di Pulau Jawa. Lawu banyak dikunjungi oleh pendaki terutama saat Malam 1 Syuro yang dianggap sebagai malam keramat. Maka dari itu, banyak warung yang buka saat pendakian ke Lawu, bahkan ada Warung Mbok Yem yang berada di Hargo Dalem dengan ketinggian 3171 mdpl

Perjalanan Dimulai

Masdan, Oki, Reza, Ichsan, Muji, Chorni dan saya berkumpul di Warung Bu Sardi, basecamp Cemorosewu untuk berkemas dan menyiapkan perbekalan untuk mendaki. Sedari siang, hujan sudah mengguyur kawasan Cemorosewu dan sekitarnya. Ya, kami sadar betul bahwa waktu mendaki kami bertepatan dengan musim penghujan. Namun itu tidak menyurutkan niat kami untuk mendaki Lawu. Setelah semuanya siap, kami berangkat sekitar pukul 18.45. Target kami bisa beristirahat di Hargo Dalem dan dilanjutkan besok pagi sudah summit attack. Dari Gapura Cemorosewu, semuanya dimulai dengan melangkah.

Lawu adalah pendakian pertama saya di Pulau Jawa. Sejujurnya saya belum pernah naik gunung yang benar-benar gunung. Namun demikian, pengalaman saya tinggal di Desa Limboro, Majene, Sulawesi yang berlokasi di tengah perbukitan dan gunung mengharuskan saya harus terbiasa berjalan dan mendaki meskipun dengan ketinggian masih  dibawah 3000-an mdpl. Kali ini, saya dihadapkan dengan Lawu yang ketinggiannya di atas 3000-an mdpl. Saya niatkan ini dengan kebaikan, tidak ada maksud aneh-aneh bahkan jahat sekalipun. Saya bersyukur masih punya kawan yang bisa berkumpul dan mengajak saya naik gunung.

Perjalanan dari basecamp Cemorosewu menuju Pos 1 kami tempuh dalam waktu 1 jam dengan medan yang masih cukup ramah.  Hanya 10 menit saja kami beristirahat di pos ini. Perjalanan pun dimulai lagi menuju Pos 2 sekitar pukul 20.00. Ketika menuju Pos 2 , saya mulai mencium bau belerang namun memang tidak terlalu kentara. Jalannya berbatu besar-besar dan sudah lumayan tersusun rapi. Namun treknya sudah tidak ada ‘bonus’ lagi. Terus vertikal  dan mendaki. Pendaki yang belum pernah naik gunung sebelumnya sudah mulai akan merasakan ngos-ngosan jika tidak membiasakan menjaga fisik sebelumnya. Ditambah dengan hujan yang semakin deras. Cuaca sangat dingin. Kondisi seperti itu yang harus kita jalani dengan terus melangkah. Jika banyak diam, justru dingin akan lebih sangat terasa menusuk.

Kondisi kesehatan salah satu kawan yaitu Chorni ternyata tidak terlalu fit. Sementara ini masih di tengah perjalanan menuju Pos 2. Sudah hampir 1 jam kami belum sampai. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan rombongan pendaki yang mau turun. Salah satu diantara mereka berkata “ Kalau cuacanya begini terus, jangan dipaksakan, ini udah ada yang dievakuasi “ katanya sambil menunjuk kawan di belakangnya yang sedang menggendong pendaki lain. Glek. Saya menelan ludah dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya bisa ? . Saya cepat-cepat menghapus pikiran negatif. Kami pun berterima kasih atas sarannya dan kembali melanjutkan perjalanan.

Masih di tengah perjalanan menuju Pos 2, Masdan pun bicara

Kalau jalan kita begini terus, kita gak akan nyampe. Gini aja, aku sama Oki duluan. Kami dirikan tenda, masak air anget buat kalian biar bisa langsung istirahat. Reza di depan, Muji di belakang. Tadi katanya di Pos 2 rame, banyak orang, ga ada tempat. Jadi kayanya kita akan buka tenda di perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3. Atau semoga aja di Pos 3. Kalian panggil namaku yang kenceng, kalo aku gak bales kalian jalan terus sampai kita ketemu”

***

Kami melepas kepergian Masdan dan Oki yang segera bergegas. Saya lihat Chorni sangat berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk melangkah. Trek sudah tanpa ampun. Pos 2 belum terlihat batang hidungnya. Meskipun sudah pakai jas hujan, celana saya basah membuat udara dingin mudah sekali menghantam. Akhirnya sampailah kami di Pos 2 yang sudah seperti pasar kaget di kegelapan malam karena saking banyaknya orang yang berkumpul. Total waktu tempuh kami adalah 2,5 jam dari Pos 1 ke Pos 2. Melihat situasi yang sangat ramai oleh tenda, kami sangat yakin bahwa Masdan dan Oki tidak akan mendirikan di Pos 2. Kesimpulan itu yang mengharuskan kami agar terus berjalan menuju Pos 3.

Pukul 23.00 kami bergegas ke Pos 3. Perjalanan masih harus dilanjutkan meskipun rasa kantuk dan capek menyerang. Sepanjang perjalanan,  beberapa kali kami berteriak memanggil nama Masdan, tidak ada jawaban balasan, tenggelam pula oleh suara hujan. Chorni sudah sangat pucat, Reza dan Ichsan pun sempat memejamkan mata untuk tidur. Begitupun Muji yang sangat berusaha untuk bisa mendaki. Salut untuknya karena sehari sebelum ke Lawu, dia menempuh Merapi.

Sedangkan saya ? Ya, saya pun sudah sangat lelah dan kedinginan. Di tengah kegelapan, saya berdoa meminta kekuatan pada-Nya.Asupan energi berupa madu pun saya lahap. Ayo, Luk.. Ini belum Pos 3, Luk! Belum seberapa! Lawu punya 5 pos! Lirik lagu Aku Bisa, AFI Junior pun saya nyanyikan dalam hati “ Aku bisa, aku pasti bisa, ku harus terus berusaha “ Lagu favorit saat di pelatihan dan penempatan Indonesia Mengajar dulu.

Sekitar 1,5 jam, akhirnya kami sampai di Pos 3 dan langsung bertemu dengan Masdan serta Oki. Mereka sudah mendirikan 2 tenda. Saya, Chorni dan Muji pun segera masuk tenda dan beres-beres. Sebelum tidur, kami sempat makan Indomie dan susu jahe. Suatu perpaduan yang istimewa di ketinggian 2800 mdpl. Sebelum tidur, Masdan berpesan bahwa kita akan summit attack pukul 04.00. Masih ada Pos 4, Pos 5 dan Hargo Dalem sebelum sampai Hargo Dumilah. Tiba waktunya agar kami benar-benar beristirahat karena kami sudah menempuh lebih dari setengah perjalanan.

Hawa Dingin Menusuk

Jarum jam menunjukkan pukul 03.00, saya membuka mata namun sebetulnya saya tidak benar-benar tidur sejak pukul 01.30 dari briefing terakhir. Di saat itulah, saya benar-benar merasakan kedinginan yang hebat. Belum pernah saya rasakan seperti ini sebelumnya. Hujan mengguyur tenda dengan derasnya. Saya merasa seperti ada aliran air dalam sleeping bag yang membungkus badan dan itu membuat kedinginan yang rasanya seperti perih. Saya terduduk , mencoba mencari cara untuk mengurangi dingin ini. Tangan saya sudah mati rasa. Saya melihat Chorni dan Muji seperti tidak bermasalah kedinginan seperti saya.

“Chor..Ji..kalian gak kedinginan  ? “ tanya saya perlahan.

Mereka hanya jawab dengan seadanya. Saya pun terdiam lagi. Rasa perih itu terus menyerang . Saya buka sarung tangan dan kaos kaki. Semakin mati rasa. Saya merasakan sakit di bawah tenggorokan seperti dihantam benda keras. Saya meraba pelan bagian leher dan merasa sangat lemah.  Sempat terbersit di saat seperti itu “ Apakah ini akhir hidup gue ? “ Saya tidak bisa menjawab, terus mengucap nama-Nya.

Saya mengumpulkan kekuatan untuk keluar tenda, saya rasa saya harus memaksa diri untuk bergerak. Saya mengajak Chorni keluar, menemani saya untuk buang air kecil. Dinginnya luar biasa ketika di luar tenda. Saya dan Chorni melangkah pelan, bergegas kembali masuk tenda. Di dalam, saya paksakan untuk tidur. Saya mendekatkan diri ke teman-teman saya, menutup ritsleting sleeping bag dan memaksa untuk memejamkan mata.

***

Samar-samar saya mendengar suara Masdan, “Mau ikut muncak ga? Tapi kita tidak akan dapat sunrise, di atas kabut, hujan gak berhenti “ Saya terbangun pukul 06.00. Saya tahu bahwa rencana kami meleset untuk summit attack pukul 04.00. Di luar sudah terang namun hujan masih terus turun. Saya bersyukur, ternyata saya masih hidup dan saya sedang tidak mimpi.

“ Aku gak ikut, Mas” kata Chorni di sebelah saya

Saya langsung tersadar bahwa saya harus berusaha lagi untuk sampai puncak.

“Ji, ke puncak! Yuk !  Kita udah sampe sini.. Chor kamu baik-baik ya, istirahat aja” kata saya. Muji mengangguk dan segera bersiap. Chorni pun kembali berbaring.

Perjalanan pun dimulai lagi. Dari Pos 3, kami melangkah menuju Pos 4. Sayang, Chorni tidak bisa bergabung. Namun jika pilihan itu lebih baik untuk Chorni, kami mempersilakannya.

Alasan yang Menguatkan

Memang waktu paling baik untuk mendaki adalah malam hari karena selain para pendaki bisa mengatur waktu untuk bisa sampai ke puncak saat matahari terbit. Alasan lainnya adalah kalau malam tidak terlalu terlihat medan jalur pendakian yang kadang membuat putus asa. Tentu saja kalimat terakhir adalah kalimat subjektif. Dikarenakan sudah terang, saya melihat jelas bagaimana kami mendaki dan trek dari Pos 3 ke Pos 4 yang –lagi-lagi- tidak ada ‘bonus’ dan terus mendaki. Kalau begini, lebih baik saya tidak lihat trek vertikal pendakian daripada terlalu jelas seperti itu. Kabut begitu tebal terutama di sisi kanan kami berjalan. Jalurnya sudah mulai menyempit. Terlihat cantigi dan edelweiss banyak tersebar. Rupanya begitu cantik dan menyejukkan mata.  Akhirnya kami sampai di Pos 4 dengan waktu tempuh 1 jam. Sedikit lagi, ujar saya dalam hati. Kami hanya lewat, tidak menunggu lama-lama untuk bergegas ke Pos 5

Perjalanan Pos 4 ke Pos 5 adalah perjalanan antar pos paling singkat yaitu 30 menit saja. Di Pos 5 dengan ketinggian 3117 mdpl, ada 2 warung. Kami pun beristirahat sebentar untuk makan gorengan dan minum susu jahe. Di warung itu, ada rombongan pendaki yang juga sedang beristirahat. Saya sempat bertanya pada penjual warung itu

 “Mas, itu anaknya di bawa naik ? Umur berapa ? ” tanya saya sambil menunjuk bocah kecil yang sedang menggambar dengan asyiknya di bawah meja tempat menjajakan gorengan  tanpa merasa kedinginan “

Iya Mbak, ini masih sekolah PAUD, umur 5 tahun. Sering kok kalo lagi libur ikut naik ke atas. Kadang digendong, kadang jalan sendiri. Kalau saya bawa barang dagangan, biasanya 5 jam naiknya ” kata Mas Penjual Warung di Pos 5 dengan lancar.

Saya pun bengong kagum. Luar biasa. Berarti apa yang saya jalani ini biasa bagi mereka, tidak ada apa-apanya. Saya merasa terpecut semangat kembali. Kata para pendaki lainnya, jalur Pos 5 ke Puncak sudah tidak banyak mendaki. Kami temukan juga ada petilasan di dekat Sendang Drajad, salah satu tempat yang dianggap keramat. Di dekat situ pun ada warung juga. Kami tidak perlu khawatir dengan urusan perut selepas kami nanti turun dari puncak.

Selanjutnya kami segera bergegas sementara di atas angin semakin kencang dan hujan mengguyur lebat. Saya melangkah sambil bermonolog. Ada dua alasan yang menguatkan saya dalam menempuh perjalanan ini.  Sekitar tiga puluh tahun lalu, ayah dan ibu saya pernah lewat jalur ini, menuju Hargo Dumilah. Saya tahu saya akan kuat juga untuk bisa seperti mereka. Itu alasan pertama yang menjadi inspirasi saya. Saya membayangkan mereka sewaktu muda menempuh apa yang saya tempuh sekarang. Seberat-beratnya medan yang ada, semua bisa dilewati. Alasan kedua yang menguatkan saya, di perjalanan menuju Puncak Lawu ini, saya seperti melihat murid-murid sewaktu di Majene menyemangati saya. Teringat ketika kami pergi ke Gunung Tibung yang menjadi batas Kabupaten Majene dan Polewali Mandar, saya sudah capek luar biasa namun tidak demikian dengan murid-murid. Ingatan saya kembali ke dua tahun lalu. “Ibu Luluk capek ? Mau istirahat, Bu ? “ tanya mereka sambil lihat saya yang sedang mengatur nafas. Saya tersenyum sendiri. Dua alasan yang menguatkan, membuat saya terus melaju.

Puncak Pertama

Kami sampai di dua persimpangan. Ternyata ada jalan pintas menuju Hargo Dumilah dengan jarak tempuh lebih sebentar dan tidak perlu melewati Hargo Dalem. Namun memang  medannya menanjak lagi. Kami memutuskan untuk lewat situ. Kata orang cukup dengan 10 menit saja. Sedikit lagi sampai puncak, tekad saya dalam hati.

Masya Allah, Allahu akbar! Pelan-pelan, seperti hitung mundur, akhirnya saya sampai di tempat tujuan. Di ketinggian 3265 mdpl, tugu Hargo Dumilah berdiri gagah. Saya lepaskan jas hujan dan saya rasakan angin kencang di Puncak Lawu. Saya terduduk dan meraba tanahnya. Saya tidak bisa lihat pemandangan di bawah kecuali kabut. Saya tidak bisa merasakan apapun kecuali hawa dingin menusuk persendian. Air mata saya menetes, bercampur dengan air hujan. Suatu perasaan yang sulit saya deskripsikan. Lawu terasa sangat spesial dengan segala ceritanya. Dia puncak pertama saya. Selalu ada kesan untuk cinta pertama.

Perjalanan Pulang

Tidak lama kami ada di Hargo Dumilah karena kami mau sarapan dulu sebelum kembali ke Pos 3. Tentu saja sarapan pecel di ketinggian lebih dari 3000 mdpl dan setelah mencapai puncak menjadi sensasi tersendiri. Setelah makan, kami bergegas turun menuju Pos 3 untuk menghampiri Chorni dan kembali membereskan segala sesuatunya untuk bersiap turun kembali ke basecamp Cemorosewu.

Sekitar pukul  11.30 kami meninggalkan Pos 3. Sepanjang jalan turun, saya bertemu dengan banyak orang yang mau mendaki. Lawu memang benar-benar menjadi salah satu tujuan favorit. Meskipun hujan deras dan tidak berhenti sejak kemarin, jalur pendakian tidak pernah sepi. Kami menempuh perjalanan turun dengan waktu kurang lebih 3 jam.

Akhirnya perjalanan ini terselesaikan. Perjalanan bersama yang pastinya punya makna berbeda bagi tiap pendakinya. Salut untuk teman saya, Masdan yang merampungkan Triple Summit (Merbabu, Merapi, Lawu) dalam waktu 3 hari berturut-turut tanpa jeda. Sesungguhnya saya semakin yakin bahwa jika kita berkeinginan kuat, kita pasti bisa untuk mendapatkannya, termasuk mendapatkan puncak yang kita tuju.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih untuk Masdan, Oki, Reza, Ichsan, Muji dan Chorni yang telah menemani dan membantu pendakian kali ini.

Terima kasih untuk orang tua dan murid-murid saya di Limboro, Majene yang menjadi inspirasi saya untuk melawan rasa capek dan putus asa

Terima kasih pada sahabat sejati yang selalu menemani pendakian kami ini, tiada lain dia adalah hujan yang tidak pernah berhenti

Terima kasih untuk Allah SWT yang mengizinkan saya untuk mengalami semua ini. Alhamdulillah, tidak kurang suatu apapun

Sampai ketemu di puncak-puncak selanjutnya

*Pagi ini di Madiun, tanggal 29 Desember 2014, saya bergegas ke kantor diantar oleh ayah saya dengan menggunakan motor. Di tengah perjalanan, dari kejauhan saya melihat Gunung Lawu menjulang kokoh. Ada kuncup puncak yang terlihat lebih tinggi di atasnya. Saya yakin itu Hargo Dumilah. Ada perasaan yang berbeda saat saya melihatnya. Saya tersenyum dan berkata dalam hati, saya pernah ada disana.

2014-12-29 08.39.52

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s