Sebuah Catatan Sejarah dari Sudut Rumah Petak Sederhana

Alkisah terdapat diskusi maha penting dalam sebuah rumah di tengah perkampungan padat Gang Peneleh di Surabaya. Diskusi yang terus mengalir layaknya debit air Sungai Kalimas yang membelah Kota Pahlawan. Begini diskusinya,

“Berapa banyak yang diambil Pemerintah Hindia Belanda dari negeri ini ?”  tanya Soekarno

Tjokroaminoto, induk semangnya menjawab, “VOC mencuri 1,800 Gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag “

Alimin menambahkan, “Petani kita yang memeras keringat harus menahan lapar hanya dengan dua setengah sen per hari”

Kemudian dilanjutkan oleh Musso, “Kita menjadi bangsa kuli diantara bangsa-bangsa“

Tjokro kembali menanggapi, “Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi kepada pemerintah “

 

Itulah salah satu diskusi yang menempa pemuda kala itu seperti dikisahkan Soekarno kepada Cindy Adams, kemudian dimuat dalam Buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ . Di meja makan rumah Gang Peneleh VII No.29-31, terdapat kediaman HOS Tjokroaminoto yang dijadikan tempat indekos para pemuda. Tjokro menularkan ilmu pergerakan modern kepada murid-muridnya. Seperti pesan darinya yang tersohor, ‘Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator’ Di rumah indekos itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya para tokoh pergerakan. Tjokro beserta sang istri, Suharsikin, menampung sekitar tiga puluh pemuda Indonesia dengan biaya ringan di rumahnya. Salah satunya adalah Soekarno yang bersekolah di Hogere Burger School (HBS) Regenstraat, Surabaya. HBS adalah sekolah lanjutan menengah untuk orang Belanda, Eropa dan elite pribumi. Kini HBS difungsikan sebagai Kantor Pos Kebon Rojo, yang berlokasi sekitar tiga ratus meter dari rumah Tjokroaminoto di Peneleh.

20171230_175403
Rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII No.29-31, Surabaya

 

Tak sulit bagi Soekarno, Musso, Alimin dan Kartosoewiryo mencari jawaban atas pertanyaan yang mengusik pikiran dan jiwa mereka akan bangsa ini. Berbagai macam perspektif mereka dapatkan dari Tjokroaminoto yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Sarekat Islam, organisasi terbesar di nusantara kala itu. Rumah Tjokroaminoto tidak pernah sepi dari tamu tokoh pergerakan dan agama.

Di rumah Tjokroaminoto itulah, Musso bertemu dengan Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet yang memiliki kegemaran akan ide sosial demokrat revolusioner. Sejak 1913, Sneevliet datang ke Indonesia dan menetap di Surabaya selama dua bulan. Dalam kurun waktu tersebut, Sneevliet sempat menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Handelsblad dan ia kerap berdiskusi di Gang Peneleh VII bersama murid-murid Tjokroaminoto, terutama dengan Musso.

Adapun para pembaru Islam seperti Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, acapkali pula datang bertamu ke rumah Tjokro. Melalui forum dakwah Ta’mirul Ghofilin yang keberadaannya dibantu oleh Mas Mansyur, Tjokro mengundang Ahmad Dahlan untuk berceramah di rumahnya.

20181104_111858[1]
Sudut Ruang Tamu di Rumah HOS Tjokroaminoto. Dari sinilah diskusi hangat tentang rupa-rupa ide kebangsaan mengalir dari berbagai sudut pandang
Setelah istrinya meninggal pada 1921, Tjokroaminoto pindah kediaman ke Kampung Plampitan yang tidak begitu jauh lokasinya dari Gang Peneleh VII. Di Plampitan pun nyatanya ia tidak bertahan lama. Lima tahun berselang, Tjokro dan keluarga berpindah ke Grobogan , Jawa Tengah. Hingga akhirnya Tjokroaminoto tutup usia kemudian dimakamkan di Yogyakarta. Rumah Tjokro di Gang Peneleh VII sempat ditempati oleh Walikota Surabaya R. Soekotjo dan Soenarjo. Kemudian pada 1996, Walikota Surabaya menetapkan rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya.

20181104_113442[1]
Rumah HOS Tjokroaminoto difungsikan sebagai Museum dalam Rangkaian Surabaya Heritage Walk oleh Pemerintah Kota Surabaya
Haji Oemar Said Tjokroaminoto adalah guru para aktivis pergerakan yang kelak menjadi pemimpin di alirannya masing-masing seperti yang disebutkan sebelumnya. Layaknya hubungan guru dan muridnya, mereka memang dekat. Akan tetapi, jika kita benar-benar menyimak kisah Soekarno, Musso, Alimin, Kartosoewiryo dan aktivis lainnya bahwasanya mereka menemukan pemikirannya dalam perjalanan hidup masing-masing.  Masa bersama Tjokroaminoto hanyalah bagian kecil saja dalam hidup mereka namun bisa jadi bagian kecil itu telah menjadi salah satu fondasi pemikiran yang mereka bawa sepanjang hidup. ‘Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murninya tauhid dan sepintar-pintarnya siasat’ menjadi wejangan tak lekang oleh waktu dari Tjokroaminoto kepada murid-muridnya.

20181104_111957[1]
Para Anak Kos di Gang Peneleh diantaranya Soekarno, Musso, Alimin, Semaun, Darsono dan Kartosoewiryo
Sejarah pun bercerita kembali bahwa Soekarno, Musso, Alimin dan Kartosoewiryo berpisah jalan dengan Tjokroaminoto. Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Musso dan Alimin menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia sedangkan Kartosoewiryo memilih bergerak melalui Darul Islam.

Para anak muda kala itu mendapatkan sosok panutan cerdas nan kharismatik dari seorang Tjokroaminoto. Tidak dapat disangkal, munculnya tokoh progresif dan ideologis negeri ini berawal dari diskusi di tiap sudut ruang dalam rumah petak sederhana milik sang Bapak Guru Bangsa.

IMG_20181105_204244_158-01[1]
JASMERAH! ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!’

Referensi :

 

Kunjungan ke Museum Rumah HOS Tjokroaminoto,  Gang Peneleh VII No.29-31, Surabaya tanggal 4 November 2018

Seri Buku Saku Tempo ; Bapak Bangsa, Tjokroaminoto, Guru Para Pendiri Bangsa. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2017

Seri Buku Tempo ; Bapak Bangsa, Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2015

Seri Buku Tempo ; Orang Kiri Indonesia,  Musso, Si Merah di Simpang Republik. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2015

Pisang Goreng Ter-enak Sedunia dan Tukang Kredit Panci Nyasar

Ini catatan perjalanan saya di tahun 2013. Lima tahun lalu.

Saya butuh pergi. Bukan hanya keinginan tapi sudah menjelma jadi kebutuhan. Saya butuh bertemu dengan orang-orang yang saya tidak kenal sebelumnya. Ke tempat yang belum pernah saya datangi dan membicarakan tentang suatu hal yang baru. Bersiap untuk apa yang sedang dan akan terjadi selanjutnya. Dan saya bersyukur bahwa ternyata saya bisa melakukannya.

Tidak berjodoh itu sederhana. Sesederhana saya berlarian mengejar Matarmaja dari Cikini dengan ojek. Hampir menerobos lampu merah yang durasinya lama, semakin mendramatisasi keadaan. Saya pun terengah-engah di depan Pintu Masuk Jalur Utara Stasiun Pasar Senen dan sesaat pesan masuk di whatsapp bahwa apa yang dikejar sudah berangkat. Baiklah.

Saya bersama Widy, Yora, Rifa dan Anis pun segera mengambil langkah selanjutnya yaitu menuju Terminal Pulogadung. Mencoba mencari peruntungan memakai bus. Sesampainya disana, hal yang selalu menyebalkan bagi saya terjadi. Ya, saya paling tidak suka dengan kelakuan para calo dan banyaknya orang di terminal yang biasa tanya-tanya dan menggiring untuk membeli tiket. Abaikan!

Kami pun menuju loket bus Jurusan Malang via Surabaya. Nama busnya Handoyo dengan tarif Rp 235.000 yang katanya bus eksekutif, dapat makan, selimut dan bantal seperti biasanya. Nyatanya setelah busnya datang dan kami sudah bayar, busnya tidak jauh berbeda dengan Bus MGI Bandung-Depok yang sering saya tumpangi. Tiga jam perjalanan ke Bandung disetarakan dengan delapan belas jam perjalanan ke Surabaya. Rasanya saya kesal bukan main namun inilah bumbu perjalanan. Nikmati saja. Apalagi setelah mendengar bahwa ada penumpang di belakang saya yang diminta membayar Rp 325.000 untuk tujuan yang sama. Sepertinya saya harus lebih bersyukur.

Perjalanan melintasi Pantai Utara Jawa ini dimulai pukul 21.00. Setiap kali melewati Pantura, saya selalu teringat dengan De Grote Postweg (Jalan Raya Pos) yang dicanangkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, H.W Daendels (1808-1811). Jalan yang membujur dari Anyer di barat dan Panarukan di ujung timur Pulau Jawa seolah menjadi saksi simpul sejarah bagaimana sang tangan besi pernah berkuasa di Indonesia.

Sopir bus malam arah Pantura hampir pasti memiliki keahlian yang sama. Dalam remangnya jalan di malam hari dan lintasan yang kadang lurus, kadang berkelok, mereka (hampir) selalu bisa menyamai rekor pembalap F1. Membuat penumpang tidak bisa tidur dan malah duduk tegang. Lintasan semakin menantang saat melewati Alas Roban di Jawa Tengah yang terkenal dengan curamnya. Bagi yang sudah biasa, tentunya akan tertidur pulas tanpa terganggu.

Kota demi kota kami lalui. Semarang, Demak, Pati, Rembang dan akhirnya kami sampai di Tuban, lewat sudah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Waktu menunjukkan pukul 10.00 lewat dan itu berarti sudah setengah hari lebih kami menempuh perjalanan ini. Badan sudah terasa pegal namun rasa itu kalah dengan antusiasme kami yang sebentar lagi akan sampai Surabaya. Terik siang itu menyambut kami di Terminal Bungurasih. Kami pun berganti bus dan dalam waktu tempuh 2 jam saja, kami tiba di Terminal Arjosari, Malang.

Malang menyambut kami dengan sejuknya udara saat itu. Kami pun bergegas menuju basecamp kenalan kami di Universitas Negeri Malang (UM) untuk beristirahat sejenak karena tepat pukul 00.00 dini hari, sudah ada jeep yang akan mengantar kita menuju Bromo. Kami juga bertemu dengan teman-teman seperjalanan yang sudah sampai lebih dahulu, mereka yang berjodoh dengan Matarmaja. Tidak masalah! Kami bersyukur karena rombongan kami, dari Jakarta, sudah lengkap dan selamat sampai  Malang.

Pak Sutikno, itu nama pengemudi jeep yang akan mengantar kami dari Malang menuju Bromo. Rute yang dilewati adalah Tumpang, Gubuk Klakah, Ngadas hingga Cemorolawang. Waktu tempuh Malang-Cemorolawang adalah 3 jam. Saya pun turun, merasakan dinginnya Bromo dan riuhnya para wisatawan serta penduduk yang ada disana. Suasana masih gelap, belum terlihat sesuatu yang berarti. Ini akan jadi kejutan. Kami pun memulai jalan kaki untuk bisa sampai ke Penanjakan, melihat matahari terbit. Sesampainya di Penanjakan, terlihat sudah lumayan banyak orang. Begitupun dengan pedagang yang menjajakan kopi, pop mie dan pisang goreng. Sambil menunggu matahari terbit, kami pun shalat subuh dan membeli pisang goreng serta kopi. Pisang goreng itu baru diangkat dari penggorengan dengan banyaknya minyak. Namun rasa dingin Bromo mengalahkan panasnya pisang goreng. Entah mengapa saat itu rasa pisang goreng menjadi berkali-kali lipat lebih lezat. Lebih nendang! Saya nobatkan pisang goreng ini adalah pisang goreng terenak se-dunia yang saya nikmati dengan keindahan matahari terbit dari Bromo. Semburat jingga pun muncul dan tirai alam ini seperti terbuka. Puncak Mahameru malu-malu terlihat. Kawah  Bromo diselimuti kabut,begitupun Gunung Batok. Lautan pasir terhampar luas. Pemandangan ini mengalahkan udara dingin yang sedari tadi menusuk. Dingin itu rasa, kalah oleh kesempurnaan alam di depan mata saya.

IMG_2212
Ini pertemuan pertama saya secara langsung_meskipun dari jauh_dengan Mahameru, tahun 2013
20130311_070840
Ilusi Foto

Mobil Four Wheel Drive yang dikendarai Pak Sutikno membawa kami ke kawah Bromo, bukit pasir dan bukit berbentuk gundukan yang lazim dikenal sebagai Bukit Teletubbies. Saya pun berbaring malas di atas hamparan pasir tersebut layaknya tempat tidur pribadi. Suasana sekeliling sepi, hanya ada derai tawa dari teman –teman seperjalanan saya. Saya terdiam, mencoba hening. Meresapi keindahan sekitar. Jeep pun melaju perlahan meninggalkan tempat yang saya sebut surga. Perjalanan ini belum selesai dan akan dimulai lagi. Ya, sekitar jam 10.00, sampailah kami di Malang dan jam 11.30 kembali berangkat menuju surga kedua dalam perjalanan ini.

 

Angkot carteran mengantar kami menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam menuju Pantai Sendang Biru. Melalui Sendang Biru lah kami akan menyebrang ke Pulau Sempu, sebuah wilayah konservasi alam yang di dalamnya ada Danau Segara Anakan dan memiliki luas 877 Ha. Kami berlayar menggunakan kapal seharga Rp 100.000 PP dimana kami akan dijemput keesokan harinya. Waktu tempuh dari dermaga hingga pulau adalah 15 menit. Kami berangkat pukul 15.00 dan memang berencana mendirikan tenda di Sempu. Sesampainya di bibir Pulau Sempu, kami memulai trekking dengan bantuan salah satu teman kami di Universitas Negeri Malang (UM) yaitu Evan.

Trek yang kami lewati untuk menuju Danau Segara Anakan berupa tanjakan dan turunan. Permukaannya licin dan penuh lumpur. Kami kesana bertepatan dengan musim hujan yang membuat lumpur semakin merajalela. Namun, disitulah seninya. Sedari awal di Sendang Biru, kami memang menyewa sepatu khusus trekking anti licin seharga Rp 10.000. Berhubung di Sempu juga tidak ada air tawar, kami membawa 2 dus air mineral 1,5 liter. Berat? Tentu saja. Maka dari itu kami menyewa porter seharga Rp 150.000 untuk membawa carrier berukuran 85 liter yang berisikan hampir 1 dus botol air 1, 5 liter. Oke, untuk bagian yang ini memang agak tidak berperikemanusiaan nampaknya. Carrier itu sangat berat sekali dan sang porter pun sudah jelas-jelas menyatakannya. Mungkin dalam hatinya bilang “ Gila ini orang, gak tau diri banget nyuruh gue bawa air berat begini “ Sadis memang dipikir-pikir. Jujur, kami merasa bersalah. Padahal masing-masing dari kami sudah membawa 1 botol air, bahkan ada yang membawa 2 botol. Namun hebatnya sang porter berjalan duluan dan kembali pun duluan. Luar biasa kekuatan manusia yang satu ini! Saking hebatnya, panci beserta tutupnya yang kami simpan dalam carrier itu sebagai peralatan masak di Sempu nanti bentuknya terkoyak, entah bagaimana bisa.

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam dan jatuh bangun karena lumpur, keahlian saya pun bertambah yaitu bergelantungan dari ranting ke ranting. Dari tepian, saya melihat bayangan hijau toska. Terdengar pula suara ombak menghempas karang. Saya menghela nafas menahan penasaran apa yang akan saya lihat sebentar lagi. Kaki saya pun terhenti, sampailah saya di Danau Segara Anakan.

Rasa lelah terbayar sudah dengan pemandangan menakjubkan depan mata.Kaki menapak di pasir halus, degradasi warna air dari hijau toska ke biru, tebing serta laguna yang melingkupi danau dan karang yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Saya tidak peduli, langsung berjalan mendekati danau. Saya merasa seperti Tom Hanks dalam film Cast Away.

IMG_2611
Semacam ‘Lost Island’

Kami pun mendirikan tenda dan memasak air persiapan makan malam. Yang mendirikan tenda tidak hanya kami melainkan juga ada beberapa tenda lainnya. Setelah memakan bekal yang kami bawa, kami pun membuat api sambil menghangatkan diri dan bercerita. Evan banyak bercerita tentang Sempu dimana dulu Sempu sekarang berbeda dengan Sempu yang dulu. Publikasi keindahan Sempu dan Segara Anakan sudah tersohor sehingga menimbulkan dua sisi mata uang. Satu sisi Sempu jadi tidak seindah dulu, bahkan Evan berkata dulu masih terlihat banyak biota laut di danau. Jalan menuju Sempu pun tidak seperti sekarang yang bahkan lebih parah jika hujan turun. Dahulu jalanannya masih berupa rumput. Keanekaragaman hayati dan hewani pun masih terpelihara dengan baik, ada jenis macan kumbang, monyet serta burung. Namun, jika kita jeli, bukankah taraf hidup masyarakat di sekitarnya meningkat seiring dengan potensi pariwisata? Geliat perekonomian masyarakat di Sendang Biru yang dominan berprofesi sebagai nelayan menjadi semakin maju. Lagi, kenyataan ironi. Ada gula, ada semut. Siapa yang mau kehilangan kesempatan untuk bisa menambah kesejahteraan dari peluang ekonomi yang timbul ? Meskipun ada eksternalitas negatif yang bisa merusak lingkungan. Tentunya peran dari pemerintah setempat sangatlah diperlukan untuk mengatur semua ini.

Pembicaraan pun semakin meluas dengan cerita tentang karakteristik orang dari golongan darah, tempat wisata lainnya di Indonesia dan cerita ngalor ngidul lainnya. Sambil mendengarkan teman-teman dengan serunya bercerita, saya berbaring telentang menatap langit. Saya melihat banyak gugusan bintang. Gemerlap bintang berpadu dengan angin malam serta suara ombak laut selatan menghempas karang. Saya merasa seperti ada dalam planetarium raksasa namun untuk yang ini Tuhan lah yang langsung melukisnya. Pemandangan seperti ini pula mengingatkan saya di lapangan luas depan rumah selama saya tinggal setahun di Desa Limboro, Majene, Sulawesi Barat. Dimana di  atas langitnya sering saya jumpai gugusan bintang dan saya menikmatinya bersama murid-murid saya. Akankah saat ini saya sedang menatap bintang yang sama dengan mereka ? Saya larut dalam pikiran seraya perlahan memejamkan mata. Sesekali saya kembali mengosongkan pikiran, asyik dengan diri sendiri. Tidak ingin berpikir apapun. Hanya ingin membawa kebahagiaan ini meresap ke hati saya. Malam itu menjadi malam dimana saya bisa tidur ternyenyak selama perjalanan ini.

Saya terbangun di atas alas dalam tenda yang basah. Ternyata semalam hujan cukup deras. Saya hanya bermodalkan kantong tidur untuk membungkus diri. Setelah sarapan, beres-beres dan mengumpulkan sampah, kami mengabadikan lagi keindahan semua ini dalam kamera. Setelah itu, jam 7 lewat kami mulai perjalanan lagi untuk segera kembali ke Sendang Biru. Menurut saya, perjalanan pulang sedikit lebih menantang dibanding saat datang karena pengaruh hujan tadi malam membuat jalanan berkali-kali lipat lumpurnya.  Untungnya, bawaan kami jadi lebih sedikit tapi kami tetap harus bertanggung jawab dengan sampah yang kami hasilkan. Sampah yang kami kumpulkan dalam kantong plastik transparan besar itu harus kami bawa lagi hingga Sendang Biru.

Sepanjang perjalanan kami tertawa-tawa, beberapa diantara kami ada yang terpeleset dan sepatunya tenggelam dalam lumpur. Bentuk kami sudah tidak karuan. Kotor dimana-mana. Salah satu teman bernama Anis dengan tampilannya yang mendukung dikenai tugas membawa kantong plastik sampah. Melihat itu kami tertawa. Apalagi saat Anis membawa panci yang sudah terkoyak dan menawarkan pada pengunjung yang baru akan menuju Danau Segara Anakan, gayanya sudah mirip tukang kredit panci yang nyasar di tengah hutan. Pengunjung yang baru datang itu seperti terheran melihat tampilan kami yang kotor penuh lumpur dari atas sampai bawah. Hmmm…belum tahu aja mereka, ujar saya dalam hati sambil tertawa geli.

Akhirnya, kami sampai di tepian Sempu dalam waktu tempuh yang konsisten saat kami datang yaitu 2 jam. Hal ini juga tidak terlepas dari bantuan Evan yang memandu kami. Seringkali saya dengar cerita bahwa ada saja yang berjalan hingga 5 jam untuk sampai ke danau. Selanjutnya kami menunggu kapal untuk pulang ke Sendang Biru. Sampai di Sendang Biru, angkot yang akan membawa kami ke Malang juga sudah menunggu. Es degan yang dingin menutup cerita kami di Sempu yang setelahnya angkot yang kami naiki perlahan menjauhi Sendang Biru menuju Malang.

IMG_2575
Posisi Terbang
20130312_080453
The Squad!

Perjalanan ini pun hampir sampai di ujungnya. Sesampainya di Malang, kami bergegas untuk kembali berangkat lagi menuju Stasiun Malang Kota Lama. Mengejar Matarmaja keberangkatan ke Pasar Senen pukul 14.57. Untuk kali ini, saya ingin berjodoh dengan Matarmaja. Keinginan saya pun terkabulkan, Cerita tertinggal kereta tidak berlaku saat itu, malah Matarmaja terlambat datang 1 jam. Kami beruntung telah memesan Matarmaja jauh-jauh hari dengan tarif Rp 51.000 karena sebenarnya mulai 1 Maret 2013, Matarmaja sudah tidak bertarif segitu melainkan sudah mencapai Rp 100.000an lebih, saya kurang tahu persisnya. Karena sekarang KA Ekonomi sudah ditambahkan AC. Jadi, kami menikmati Matarmaja seharga Rp 100.000an lebih dengan hanya Rp 51.000 saja. Pukul 16.00, Matarmaja perlahan meninggalkan Malang. Stasiun demi stasiun terlewati, Blitar, Kediri, Madiun, Solo, Semarang, Pekalongan, Tegal, Brebes, Cirebon dan sampailah kami di tujuan akhir, Stasiun Pasar Senen. Lantas, usai sudah perjalanan ini. Keinginan saya terkabul dan saya mau katakan bahwa jodoh itu juga sederhana. Sesederhana saya bisa sampai ke Bromo dan Sempu, sesuai dengan apa yang saya inginkan.

**Ditulis di Depok, pada suatu malam di tahun 2013

Cerita tentang Pendakian ; Sebuah Solilokui

Saya cinta sekali dengan gunung. Hingga saat saya menulis ini, sudah enam bulan saya lewatkan tanpa kegiatan pendakian. Rasanya rindu memenuhi pikiran dan perasaan saya padanya. Namun, kelak nanti akan datang waktunya, saya akan kembali menjejak. Mendatangi tempat yang hampir tidak pernah membuat saya kecewa.

Setiap pendakian yang saya lakukan selalu punya cerita tersendiri. Cerita yang saya jadikan bahan refleksi untuk diri sendiri dan orang yang saya kasihi. Karena sejatinya, setiap perjalanan punya makna yang berbeda bagi setiap orang. Belajar melihat dunia luar, juga belajar melihat ke dalam diri. Satu hal yang pasti, selalu ada ruang untuk berbagi.

 

Tentang Semeru. Jumat pagi. Awal Mei 2016. Pukul 05.00.

Di tengah perjalanan menuju Mahameru dari Kalimati, saya terpisah dari teman pendakian lainnya. Betul kata orang, Mahameru itu dekat di mata, jauh di dengkul. Berlaku juga untuk puncak gunung lainnya. Saya seperti melihat asap dari Kawah Jonggring Saloka ini sudah seperti sangat dekat tapi dugaan saya salah besar. Saya sudah mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Sangat melelahkan. Pasir Mahameru begitu termasyhur dengan slogan ‘naik satu, turun tiga’. Hal itu yang menyebabkan energi terkuras habis. Rasanya saya mau menyerah. Tapi hati kecil saya berkata, “Ayolah, Luk!” . Saya berusaha menyemangati diri sendiri sambil makan sosis siap saji yang nikmatnya berkali-kali lipat saat itu. Saya memandangi apa yang ada di bawah saya sampai terkesima dibuatnya. Memandangi apa yang jauh namun terasa dekat. Mahakarya sempurna yang Tuhan ciptakan. Saya bermonolog, “Bagaimana saya bisa disini ?” kemudian pikiran saya flashback layaknya urutan pita film.

Disitu saya sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Bahwasanya saat lahir kita sendiri dan kelak mati juga sendiri. Saya takut. Mengingat usia saya dipakai buat apa lalu apa saja yang sudah saya lakukan dan lewati selama hidup. Semua yang pernah dan belum saya gapai. Keinginan dan hajat terbesar saya. Apakah semuanya itu berorientasi dunia ? Apa bekal saya untuk kehidupan nanti ? Saya termenung dan akhirnya menangis. Sepertinya saya masih diberi waktu tapi saya tidak tahu akan seperti apa akhirnya. Yang harus saya lakukan adalah terus berjalan dan berjuang.

Hitung mundur langkah kaki lemah ini sampai di ketinggian 3,676 mdpl. Saya pun ambruk. Pasir dan batu menampar muka. Perlahan saya mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ada sambil menangis sesenggukan. Di titik ekstrem kelelahan, saya sadar bahwa manusia punya batas. Begitu banyak Tuhan menjawab doa saya. Tuhan tidak memberi apa yang saya minta, melainkan apa yang saya butuhkan

20160505_082532

(Mahameru kala itu, Dokumen : Pribadi)

 

Saat di Watu Kotak, Puncak Buntu (3,362 mdpl) kemudian Puncak Kawah (3,371 mdpl) pada akhir Maret 2016

Perjalanan dari Watu Kotak menuju puncak belum habis dengan medan pendakian terjal, tanpa bonus dan bebatuan curam. Satu-satunya hal yang menguatkan hati ini adalah tersebarnya tanaman Cantigi yang saya rindukan. Betapa cantiknya dia. Cantigi yang memiliki filosofi tersendiri bagi saya. Warnanya pun indah, menyejukkan mata. Membuat saya betah lama-lama memandangnya. Cantigi menemani saya sepanjang jalur dari Watu Kotak hingga saya mencapai papan penunjuk arah yang menyatakan Puncak Buntu ke kanan, Puncak Kawah ke kiri. Saya melanjutkan ke kiri, menuju Puncak Kawah. Teman pendaki yang saya temui selama perjalanan tak henti-hentinya saling memberi semangat bahwa sedikit lagi sampai puncak. Definisi ‘sedikit lagi’ yang berbeda bagi setiap orang, sebuah usaha memberikan semangat supaya kita harus tetap melangkah dan menyelesaikan pendakian ini.

Saya termenung teringat Cantigi dan rasanya perlu bercerita khusus tentangnya. Betapa istimewanya Cantigi karena untuk menemuinya saja saya harus mendaki gunung. Betapa berharganya Cantigi karena ia tidak bisa saya miliki karena apapun di gunung tidak bisa saya bawa pulang kecuali sampah, barang bawaan dan kenangan. Cantigi (Vaccinium Varingiaufolium) adalah jenis vegetasi yang mudah terlihat di ketinggian minimum 2000-an mdpl sebagai penanda menjelang puncak gunung. Akarnya kuat mencengkeram tanah dan tebing. Ia sering menjadi pegangan pendaki ketika merangkak naik dan turun gunung. Cantigi pula yang menyediakan lantai nyaman untuk bivak serta menghasilkan buah dan pucuk daun yang bisa dimakan saat terdesak. Cantigi juga kuat menghadapi cuaca yang ekstrem dingin dan menepis panas yang menyengat. Cantigi tidak setenar Edelweiss namun justru itulah yang membuat saya jatuh cinta padanya. Cantigi begitu indah pada tempatnya. Dalam diam, Cantigi mengajarkan makna kebermanfaatan yang luas. Tanpa perlu lampu sorot dan usaha keras bahwa dirinya istimewa.

 

Kamis pagi. Pertengahan Juli 2016. Pukul 04.30. Menjelang Subuh di Rinjani

Angin dari sisi barat kencang bertiup, seolah membuat raga ini oleng saat melintas di punggungan gunung menuju Puncak Anjani. Jangan tanya tingkat kedinginannya, seperti menusuk tulang. Beberapa pendaki terlihat bersiap untuk mengumpulkan debu guna memenuhi syarat tayamum. Di tengah langit yang masih cenderung gelap dan perkiraan jam datangnya waktu shalat, azan subuh berkumandang dari aplikasi ponsel. Saat kelelahan menjadi-jadi, manusia diingatkan untuk kembali bersujud di permulaan pagi.

Naik gunung itu capek, lelah, panas, haus dan sebut saja semua kategori ketidaknyamanan. Kalau dipikir-pikir, untuk apa kita susah-susah mendaki ? Berjalan beberapa kilometer jauhnya, menahan bawaan yang berat, dan jauh dari rumah. ‘Sungguh kurang kerjaan’, begitu mungkin pikiran banyak orang.

Kemudian saya merenung dalam perjalanan pendakian ketika itu. Terkadang dalam menjalani hidup, menjalankan rutinitas juga melelahkan. Mengikuti ini itu dan memenuhi harapan orang lain. Keletihan mudah menggerayangi. Terlebih jika kita berharap pada orang lain yang rentan membuat kecewa, termasuk berharap pada orang terdekat sekalipun. Kemudian saya tersadar bahwa semua itu hanyalah dunia. Untuk itu, kita dianjurkan untuk tidak berharap pada manusia. Cukup berharap saja pada Maha Pembolak-balik hati manusia, sang pemilik dunia dan seisinya.

Dunia memang hakikatnya seperti itu. Melelahkan. Bahwa dunia adalah tempat menabung kelelahan untuk istirahat kelak di tempat yang lebih abadi. Pantas saja jika ada seorang kawan yang bertanya, “Kapan seorang manusia itu bisa beristirahat ? Saat ia pertamakali menginjakkan kakinya di surga” Dan pantas saja jika ada seorang bijak yang menasihati rekannya sambil berkata “ Nanti istirahatnya di surga saja ya”

Alam begitu hebat dalam mentransfer kearifannya tanpa berbicara sedikitpun. Bisa kembali ke alam adalah sebuah kenikmatan yang hakiki. Menyadarkan kembali tentang keberadaan manusia seperti setitik debu di muka bumi. Sungguh, kita ini kecil, Kawan. Sekali lagi saya katakan, esensi pendakian gunung layaknya simulasi hidup. Manusia menjalankannya, meraih cita-cita namun tidak terhindarkan dari munculnya banyak rintangan. Kita naik ke puncak tertinggi kemudian turun ke haribaan Illahi. Sebuah perjalanan mencari jati diri, sebagai persiapan untuk kembali.

IMG_9536

(We save Rinjani!,  Dokumen : Pribadi)

Dan saat itu, pemandangan dari Puncak Anjani nampak berkali-kali lipat indahnya. Paduan Danau Segara Anak dan Gunung Barujari tidak pernah gagal memukau siapapun. Dari kejauhan nampak Gunung Agung dan Gunung Tambora di arah yang berbeda. Sebuah keadaan yang tidak setiap hari bisa kita lihat, namun bisa kita kenang selalu.

 

 

 

 

Khalilullah, Penutur Kata yang Baik

Belakangan ini, tayangan berita banyak memuat tentang liputan Ibadah Haji. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia mendatangi kota suci, Mekkah Al Mukarromah untuk mulai bersiap melaksanakan rukun Ibadah Haji. Melihat reportase tersebut, begitu merindunya hati ini melihat Ka’bah yang terpampang lewat televisi. Adakah yang lainnya merasakan demikian ? Beratus mil jauhnya jarak seakan tidak bisa menghadang rasa yang amat-sangat ingin ikut serta di salah satu ibadah dalam Rukun Islam tersebut. Ibadah yang merupakan panggilan langsung dari Allah Maha Pencipta bagi hamba-Nya. Semoga kita termasuk dalam hamba-Nya yang terpanggil dan dimampukan secara fisik serta harta.

 
Salah satu bulan mulia dalam Kalender Islam, yaitu Dzulhijjah, telah datang. Menurut HR. Ahmad , “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih disukai-Nya untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana 10 hari pertama di Bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid”
Berbicara Dzulhijjah tidak terlepas dari kisah kekasih Allah Subhanallahu wa ta’alaa, yakni Nabi Ibrahim alaihissalam. Semasa hidupnya, Ibrahim mempunyai banyak harapan yang ia tuangkan dalam berbagai lantunan doa. Ada empat harapan Ibrahim yang termuat dalam doanya dan harapannya menjadi harapan kita semua yang harus diperjuangkan.

 
Pertama, harapan untuk dirinya. Ibrahim sangat berharap dirinya bebas dari kemusyrikan (menyekutukan Allah), “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala’ (QS. Ibrahim:35). Sayyid Quthb dalam tafsirnya berujar bahwa doa ini menampakkan adanya kenikmatan lain dari nikmat-nikmat Allah yakni nikmat dari dikeluarkannya hati dari berbagi kegelapan dan kejahiliyahan. Demikian pentingnya iman dalam diri sehingga menjadi prinsip bagi seorang Muslim.

 
Kedua, harapan untuk keluarga. Mulai dari orang tuanya. “Dan ingatlah di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan ? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata’ (QS. Al-Anam:74). Hingga anak keturunannya, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk dalam orang-orang shalih. Maka, Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Tatkala, anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, lalu Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu. Anaknya menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat: 100-102). Ibrahim sangat berharap keluarganya, terutama ayahnya, meninggalkan perkara menyekutukan Allah meskipun pada akhirnya hidayah Allah yang menentukan. Kisah ayah dan anak, Ibrahim dan Ismail adalah ujian yang nyata dan mereka mampu melewatinya. Kedua hamba Allah tersebut memperlihatkan kepatuhan total kepada-Nya bahwasanya Allah sangat mustahil berlaku dzalim terhadap hamba-Nya. Setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan yang manusia tidak pernah mengetahui sebelumnya. Sampai akhirnya sebelum perintah tersebut dilaksanakan oleh Ibrahim, Allah menurunkan kebesaran-Nya dengan menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya kurban yang dilakukan pada Hari Raya Haji.

 
Ketiga, harapan untuk masyarakat, baik saat itu maupun hingga masa yang akan datang. Bahkan, Ibrahim meminta kepada Allah agar suatu saat nanti, akan diutus seorang Rasul sekalipun dirinya telah tiada. “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan al-Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (QS. Al-Baqoroh; 129). Dengan segala kuasa-Nya, Allah mengabulkan doa tulus dari Ibrahim dengan mengutus Muhammad shallallahu alaihi wassalam sebagai penutup para Nabi dalam waktu ribuan tahun kemudian. Mengetahui hal tersebut, maka pantaskah manusia berputus asa dari meminta dan berdoa kepada Rabb-Nya ? Sungguh, Allah Maha Mengetahui kapan doa yang kita panjatkan akan dikabulkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah manusia wajib berusaha dan bertawakal.

 
Keempat, harapan untuk bangsa dan negara. Kecintaan Ibrahim kepada umatnya semakin terlihat saat ia berdoa tidak hanya untuk dirinya, keluarga, dan masyarakat melainkan juga untuk bangsa dan negaranya. “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri (Mekkah) ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah pun berfirman, ‘Dan kepada orang-orang yang kafir pun, Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS. Al-Baqoroh:126).
Nabi Ibrahim memberikan tauladan, inspirasi dan pelajaran yang tiada habisnya. Ibrahim adalah bapak para Nabi, ulul albab yang cerdas dan rasional. Ibrahim mencari Tuhan dengan ilmu dan rasionalitas sehingga sampai pada keyakinan yang sangat kuat. Ibrahim adalah hamba yang selalu bersyukur kepada Allah atas segala anugerah dan mengajarkan pada manusia lain bahwa Allah Maha Mengabulkan doa. Ibrahim adalah sosok yang sangat taat dan selalu menjadi garda terdepan dalam menyambut perintah Allah, beliau memiliki prinsip sami’naa wa atha’naa (kami dengar dan kami taat) dan senantiasa berpegang teguh dalam hukum Islam yang menjadi landasan hidup. Ibrahim adalah pekerja keras, tidak henti-hentinya bekerja, berdakwah dan tidak putus asa dalam berdoa. Ibrahim juga menempatkan pendidikan pada tempat yang sangat penting untuk menyiapkan generasi emas yang kuat sebagai penopang kejayaan umat di masa depan. Sebagai pemimpin yang peduli kepada masyarakat, negeri dan masa depan umat manusia, Ibrahim meyakini bahwa kecerdasan spiritual berupa hikmah dan kebijaksanaan adalah sangat penting dalam menciptakan karya besar, berbuat kebaikan yang banyak, yang bermanfaat bagi satu generasi ke generasi berikutnya. “Dan ingatlah hamba-hamba Kami, Ibrahim, Ishak dan Yaqub mempunyai karya-karya yang besar dan pengetahuan yang tinggi” (QS. Sad:45) . Ka’bah adalah karya Nabi Ibrahim dan dalam karya tersebut tersimpan energi Ibrahim yang sangat besar. Dekat dengan Ka’bah seperti dekat juga dengan Ibrahim. Karya besar dan jasa-jasanya selalu dikenang dari generasi ke generasi.

 
Dalam Q.S Asy-Syuara : 78-83, Ibrahim berkata,
Dia yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku
Dan yang memberi makan dan minum kepadaku
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku
Dan yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku kembali
Dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat
Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh

 
Betapa lembut dan menenangkannya pujian dan doa Ibrahim pada Allah. Hal-hal baik akan selalu dikenang. Bagi pelakunya akan menghadirkan kebahagiaan dan Allah akan membukakan pengabulan doa. Ibrahim tidak menyia-nyiakannya, lantas beliau berdoa “ Dan jadikanlah aku tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian” (QS. Asy-Syuara 84). Doa-doa Nabi Ibrahim adalah hasil tutur kata baik dan lembut dari sosok khalilullah, kekasih Allah subhanallahu wa’taala.

 
Hikmah kehidupan Nabi Ibrahim tidak pernah usang untuk dikaji dan ditarik pelajaran. Dalam kaitannya dengan doa Nabi Ibrahim, pelajaran berharga adalah soal meninggalkan kenangan kebaikan. Soal merancang proyek kebaikan agar menjadi buah tutur kata yang baik bagi orang yang datang kemudian. Kisah Nabi Ibrahim dan keturunannya benar-benar menjadi pelajaran bagi manusia agar menjadi hamba Allah yang memiliki tauhid lurus, bersih dan kuat.

 
Salaamun a’laa Ibraahiim. Selamat sejahtera bagi Ibrahim.

 

(Sebagian redaksional tulisan seperti disadur dari Majalah Yatim Mandiri dan Majalah Nurul Hayat Edisi September 2016)

Namanya Nayla

Limboro 2012,  empat tahun yang lalu.

Sore hari yang sejuk di sebuah desa yang terletak di Sulawesi Barat. Sebutlah ia Limboro Rambu-rambu. Sejauh mata memandang dari tempatku berdiri saat itu , terdapat lapangan sepak bola yang luas, dipadupadankan dengan bukit hijau dan langit biru. Dari kejauhan kulihat seorang gadis lebih muda dariku, yang selanjutnya kuanggap sebagai adik, datang ke rumah Bapak Kepala Dusun alias rumah tempat tinggalku untuk sementara selama setahun periode mengajarku di desa itu.

Saat itu aku sedang bermain bersama anak-anak. Ya,hanya dengan berkumpul bersama sambil bercerita tentang apapun, kami sangat bahagia. Ada saja yang mereka ceritakan, dari mulai cerita tentang sekolah hingga cerita hantu sekalipun yang tersohor di desa kami.

Gadis muda itu masuk ke dalam rumah sambil tersenyum  manis. Belakangan kutahu bahwa Nayla, nama gadis itu, adalah kakak dari Mujib, salah satu muridku di kelas 5 SDN 19 Limboro. Nayla menyapaku hangat. Kami pun bercerita tentang banyak hal

Saat itu yang kutahu bahwa Nayla ingin melanjutkan kuliah namun ada hal yang mengganjal hatinya terkait biaya. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun silam dan ibunya yang berjuang membesarkan enam  anaknya dengan cara berdagang.

Mendengar ceritanya, aku pahami bahwa Nayla adalah salah satu anak Limboro yang berkemauan untuk berprestasi dan melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Aku kagum pada semangatnya. Melihat keadaan itu, aku mencoba untuk memotivasinya bahwa ada jalan keluar untuk masalah biaya kuliah.

Ketika aku berkuliah di Universitas Indonesia, salah satu dosen Makroekonomi pernah berkata di depan kelas. Kata-kata yang kuingat hingga saat ini, “ Jangan pernah berpikir bahwa sekolah itu harus bayar “ Hal itulah yang aku coba sampaikan pada Nayla. Dia terlihat ragu tetapi kucoba yakinkan bahwa ia tetap harus berjuang. Langkah pertama yang jelas harus ia lakukan adalah memastikan hendak lanjut kuliah dimana dan fakultas apa

Masih teringat jelas juga dalam cerita Nayla padaku bahwa ia ingin melanjutkan studi Ilmu Hubungan Internasional. Untuk lokasi kuliah, ia memilih tempat kuliah yang juga berada di provinsi yang sama. Di Majene, ada salah satu perguruan tinggi yang saat itu posisinya sedang berproses menjadi universitas negeri, namanya Universitas Sulawesi Barat atau yang disingkat menjadi Unsulbar. Pilihan telah ditetapkan. Saatnya Nayla bekerja keras untuk meraih impiannya. Untuk kesulitan biaya, ada salah satu jalan yang bisa dicoba yaitu mencari beasiswa. Namun, kembali lagi bahwa Nayla harus mengikuti dulu tes masuk perguruan tinggi dan mendapatkan fakultas yang diinginkannya. Hari itu setelah kami bercerita panjang lebar, aku membekali Nayla dengan kumpulan soal yang bisa ia kerjakan sebagai latihan untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi.

 

Semoga kamu berhasil, Dek

***

Beberapa waktu lamanya aku sangat jarang bertemu Nayla. Aku tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Mungkin ini karena kesibukanku ataupun kesibukannya yang barangkali lebih sering berada di Majene, sekitar 45 km jauhnya dari desa kami. Ya, saat itu memang lebih baik Nayla berada di Majene untuk mendapatkan akses informasi yang lebih banyak dikarenakan desa kami, Limboro, adalah desa yang tidak terdapat sinyal operator telekomunikasi sehingga kami lebih sering terlambat menerima info apa yang terjadi di kota.

Hingga suatu hari saat aku sedang mengajar di kelas, kudapatkan berita bahwa kakaknya Nayla meninggal di Majene karena sakit. Pantas saja tidak kulihat Mujib, adiknya Nayla yang kuajar di kelas 5. Ia juga tidak datang ke sekolah. Aku bergumam, barangkali selama ini Nayla di Majene untuk menjaga kakaknya mengingat ibunya sibuk untuk berdagang. Ah, rasanya aku ingin segera ke Majene untuk menemui Nayla.

Tiba di akhir pekan dimana aku bisa pergi ke kota. Aku datang menghampiri kediamannya bersama temanku sesama pengajar bernama Ipeh. Saat itulah aku kembali bertemu Nayla. Kulihat ia begitu lelah, entah apa yang sedang dipikirkannya. Aku coba menghiburnya dan memeluknya erat, layaknya adikku sendiri.

Hari demi hari berganti. Tiba saatnya aku harus pergi meninggalkan Desa Limboro dan kembali ke tempat asalku di Jawa. Yang aku tahu saat itu Nayla belum bisa ikut tes masuk perguruan tinggi. Entah bagaimana kabar Nayla, hilang begitu saja bagaikan mitos. Menurut keluarganya, Nayla lebih sering tinggal di Majene. Hingga detik-detik terakhir aku meninggalkan Majene, aku tidak bertemu dengannya.

Nayla, semoga kamu baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun

 

Hari ini, 4 Juni 2016

Secara tidak disengaja, aku melihat berita di salah satu media sosial. Masya Allah, ternyata ada cerita tentang Nayla yang hampir sudah tidak kudengar lagi kabarnya. Begitu kubuka tautan berita resmi dari portal Universitas Sulawesi Barat itu, aku membacanya dengan seksama. Jujur, aku sempat terkejut dengan kabarnya. Gadis yang kukenal itu telah mencapai mimpi yang ia idam-idamkan selama ini. Nayla lulus di  Jurusan Ilmu Hubungan Internasional  FISIP Universitas Sulawesi Barat dengan predikat cumlaude dan tentunya menjadi wisudawan terbaik di sela-sela kesibukannya berorganisasi sebagai Ketua Himpunan. Aku yakin perjalanan selama perkuliahannya pasti tidak mudah namun nyatanya ia berhasil melewatinya

Aku sangat bangga padanya. Berkali-kali lagi, aku terinspirasi dari orang-orang Limboro, desa tempatku belajar tentang kehidupan dalam rentang waktu usiaku. Masih sangat jelas di ingatanku, suatu sore hari di empat tahun lalu, gadis manis itu datang ke tempatku dan menceritakan segala kegelisahannya. Namun, hari ini aku kembali tersadarkan bahwa akan selalu ada pelajaran dari setiap orang yang kutemukan. Tuhan sungguh Maha Mendengar! Nayla mengajarkan apa arti mimpi dan usaha yang dilakukannya. Limboro bangga punya Nayla. Demikian pula diriku, aku pun bangga pernah mengenalnya.

 

Sukses mulia selalu, Dek Nayla 🙂

 

Sumbing Tanpa Ampun

Cobalah tutup mata sejenak lalu dengarkan apa yang saya perintahkan. Gambarlah pemandangan gunung dengan tangan secara imajiner lalu lihatlah apa yang terjadi. Di beberapa kesempatan, saya melihat banyak sekali persamaan gambar yang dibuat yaitu, dua buah gunung yang di tengahnya dihiasi matahari, lengkap dengan mata, rambut dan bibirnya yang tersenyum, lalu ada rerumputan dan sawah yang di tengahnya terdapat jalan pembatas. Tidak lupa juga ada awan bertebaran yang berbentuk seperti rambut kriwil dan burung yang sejatinya tidak berbentuk seperti yang kita tahu, melainkan persis seperti huruf M pada logo satu restoran cepat saji terkenal di dunia.

Familiar bukan ? Namun, siapa sangka ternyata bentang gunung kembar itu memang ada.

Sindoro dan Sumbing. Sebutlah nama kedua gunung kembar itu. Mereka adalah kakak beradik di tengah gugusan pendakian gunung Jawa Tengah. Apakah hanya mereka saja yang disebut gunung kembar ? Tentu tidak. Gunung-gunung yang berdekatan lokasinya kerap disebut demikian, sebut saja Arjuno-Welirang, Gede-Pangrango, dan Merapi-Merbabu. Untuk yang terakhir disebut, saya lebih percaya kalau mereka adalah jodoh sekufu dalam pergunungan. Lain halnya dengan GePang dan ArWel, begitu singkatan kekiniannya, saya masih mencari info untuk membuat kisah fiksi pergunungan tentang mereka.

Menurut kisah yang beredar di khalayak dan kisah yang saya modifikasi sendiri. Sumbing adalah adik dari Sindoro. Dua gunung yang sifatnya saling bertolak belakang, ada yang keras hati dan ada yang lembut hati. Mereka kerap bertengkar hingga suatu hari ayah mereka marah, sang adik terkena pukulan ayahnya yang menyebabkan bibirnya sumbing. Sang kakak lebih dipercaya dan memiliki tabiat lebih santun kerap dipanggil ‘Ndoro’. Sindoro dan Sumbing, kakak adik yang sering bertengkar namun sebetulnya mereka saling membutuhkan satu sama lain.

Sumbing berada di ketinggian 3,371 mdpl, sedangkan Sindoro sedikit berada di bawahnya di ketinggian 3,150 mdpl. Cukup setara bukan? Namun banyak yang berpendapat bahwa jalur pendakian Sumbing lebih berat daripada Sindoro. Sepertinya memang benar adanya, Sumbing adalah gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Slamet (3,480 mdpl) dan Gunung Semeru (3,676 mdpl). Sumbing memang termasuk gunung yang memiliki medan sangat terjal penuh bebatuan dengan sedikit ‘bonus’ diantara gugusan gunung di Pulau Jawa. Gunung bertipe stratovolcano ini sudah lama tidak aktif namun di puncaknya masih terdapat kawah

Sumbing adalah gunung keempat yang saya datangi dalam rangkaian menuntaskan pendakian enam gunung di Jawa Tengah yang biasa disingkat 3S 2M 1L. Motivasinya, saya hanya ingin mengakhiri apa yang telah saya mulai. Itu saja. Setiap pendakian selalu ditemani dengan orang-orang berbeda. Edisi kali ini terdiri atas 8 perempuan dan 1 laki-laki, sedangkan 3 laki-laki lain janjian bertemu di Watu Kotak. Dengan mendaki bersama berbagai jenis teman, kita belajar untuk bersikap dan memperlakukan orang lain.

12909424_10208435543706809_1860621649388851919_o
Teman Pendakian Gunung Sumbing

Basecamp – Pos 1 Malim

Azan Dzuhur berkumandang di Desa Garung, titik awal pendakian di Kabupaten Wonosobo. Motor trail modifikasi ala Ojek Sumbing sudah mengantar kami dari basecamp hingga Pos 1 Malim. Jarak 3 km yang waktu tempuhnya 1 jam dipangkas menjadi 15 menit saja dengan harga Rp 25,000, ditambah dengan sensasi wahana ekstrem melintasi jalur makadam yang disisinya terdapat kebun sayuran warga. Pemandangan apik menemani awal perjalanan. Selepas menunaikan shalat di dekat Pos 1, semua dimulai dengan melangkah dengan rute via Garung lama

9603_10208420570972500_603239986957235803_n
Ojek Sumbing yang Melintasi Jalur Makadam

Pos 1 Malim – Pos 2 Genus

Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 berupa tanah padat dengan sedikit menanjak. Medan masih cukup bersahabat. Langkah demi langkah masih aman terkendali. Hanya saja cuaca mendung sudah menemani, seolah awan tinggal menunggu waktu untuk menjatuhkan air. Selepas Pos 2, jalur sudah mulai menanjak dan hujan sudah turun sehingga dibutuhkan kehati-hatian saat mengambil pijakan kaki. Di tengah perjalanan antara kedua pos tersebut terdapat jalur ‘pemanasan’ yang cukup menguras tenaga bernama ‘engkol-engkolan’. Meskipun hujan sudah tersisa dengan gerimis yang awet, tanah semakin licin untuk berpijak. Salah melangkah bisa bahaya. Beban carrier terasa semakin berat. Namun semuanya seperti terbayarkan dengan tersibaknya tirai alam yang terdiri atas kabut, perlahan tersingkap apa yang ada di baliknya, Sindoro menjulang dengan gagahnya.

12108867_10208420573212556_1583924123969867566_n
Diantara Pos 2 dan Pos 3, tempat mendirikan tenda
12920241_10208420572332534_4717435794269506642_n
Engkol-engkolan
535314_10208420571252507_3801475866290472249_n
Jalur Masih Bersahabat, di antara Pos 2 dan Pos 3, sebelum ‘engkol-engkolan’

Jalur Pos 2 ke Pos 3 memang jauh dan panjang. Untuk itulah, atas kesepakatan kelompok dan segala pertimbangan yang ada, kami mendirikan tenda diantara kedua pos tersebut, tepatnya persis setelah ‘engkol-engkolan’. Waktu menunjukkan pukul 18.00, sebentar lagi sudah beranjak Maghrib. Tenda sudah didirikan, logistik makanan dikeluarkan dan kami memasak untuk keperluan perut.

Pos 2 Genus – Pos 3 Seduplak Roto

Konsekuensi yang harus kami terima karena mendirikan tenda masih di sekitaran Pos 2 adalah persiapan summit harus lebih awal karena perjalanan masih jauh. Untuk itulah, kami sudah bergegas sejak Pukul 02.10 untuk melanjutkan perjalanan. Setelah mengamankan barang-barang di tenda, pendakian sesungguhnya dimulai lagi. Dalam gelap ditemani cahaya dari headlamp kami melintasi jalur menuju Pos 3 yang disana ternyata juga sudah penuh dengan tenda para pendaki.

Pos 3 Seduplak Roto – Pestan

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Pestan yang berupa dataran luas. Jika pendakian dimulai dari jalur Garung baru maka titik bertemunya pun akan ada di tempat ini. Pestan sejenis dengan Pasar Bubrah di Gunung Merapi yang bisa menampung puluhan tenda, namun tidak disarankan mendirikan tenda disini karena tidak ada pepohonan ataupun batu besar karena rawan badai dan angin kencang meskipun tetap saja banyak pendaki yang tetap mendirikannya.

Pestan-Pasar Watu

Sesuai dengan namanya, Pasar Watu, seolah-olah cukup menggambarkan banyaknya kumpulan batu yang harus dilewati dan hal tersebut benar adanya. Jalur pendakian semakin menjadi-jadi. Bongkahan demi bongkahan menantang di depan mata. Fisik ini sudah lelah, sesekali menghentikan langkah dan menatap ke belakang lalu tersenyum penuh arti. Pemandangan dini hari itu sangatlah indah. Lampu kota nampak gemerlap di kejauhan, siluet Gunung Sindoro terpampang nyata, di tengahnya terdapat kumpulan awan menyelimuti. Cahaya rembulan seolah menjadi penghangat di tengah cuaca dingin menusuk kulit. Perjalanan masih panjang, kami harus segera melanjutkannya.

1689926_10208420582852797_2917296210111091377_n
Pemandangan antara Pasar Watu dan Watu Kotak, seperti Sabana Gunung Merbabu via Selo

 

***

Saya bersama Kak Ibad dan Kak Winda tiba di Pasar Watu dengan rombongan pendaki lain yang tidak kami kenal. Ya, kami terpisah cukup jauh dengan rombongan sendiri yang masih di belakang. Di tengah kelelahan itu, kami mengikuti saja apa yang dikatakan orang untuk belok ke kanan. Yang saya pahami saat itu, ada dua jalur ke kanan dan kiri, dua-duanya bisa sampai ke puncak, hanya saja jalur ke kiri lebih lama karena memutar, sedangkan jalur ke kanan lebih singkat namun cukup mendaki. Puncak yang dituju saat itu adalah Puncak Buntu. Lazim disebut demikian karena adakalanya satu gunung memiliki lebih dari satu puncak, seperti halnya Gunung Merbabu yang memiliki tujuh puncak. Kami pun ikut ke jalur kanan dengan asumsi lebih cepat sampai.

Tapi nyatanya inilah awal dari kesalahan itu.

Dalam kegelapan, saya menelusuri jalur curam penuh batu dengan bermodalkan cahaya headlamp yang semakin redup. Tanjakannya tanpa ampun, terus begitu hingga kami bertemu dengan rombongan lain yang berbalik arah. Puncak Buntu sudah dekat, kata saya dalam hati

Alhamdulillah, sampai!

‘Balik, balik. Udah gak ada jalan. Salah’, kata seorang teman pendaki.

‘Hah! Maksudnya ?’ tanya saya masih belum mengerti.

‘Iya, salah. Ini udah jurang, buntu’

‘Jadi, maksudnya kita udah sampe Puncak Buntu kan? Tinggal ke Puncak Kawah kan?’ , tanya saya lagi

‘Pokoknya kita balik lagi, ini udah mentok dan bukan Puncak Buntu’, sambung yang lain

Saya cuma bisa bengong sambil makan bekal roti yang nikmatnya berkali-kali lipat saat itu. Saya dan Kak Winda pun jadi rombongan paling belakang, kembali menelusuri jalur curam bebatuan, namun kali ini dengan kondisi turun gunung. Kekuatan dengkul bermain disini. Cahaya headlamp semakin redup. Kak Winda tidak memakai headlamp ataupun membawa senter. Ah, ternyata headlamp saya rusak padahal baru saja ganti baterai, kekuatan penerangannya tidak secerah biasanya. Untung saja di dini hari itu masih ada cahaya bulan menemani. Kondisi badan ini sudah lelah, kaki harus tegak menopang hingga akhirnya ada lubang dalam batu yang lolos dari penglihatan hingga satu kaki ini masuk di dalamnya, Headlamp terlempar dan mati seketika.

Astagfirullah…

Paha saya sakit terjepit batu. Saya berusaha bangkit dengan sisa-sisa tenaga. Kak Winda masih di belakang saya. Saya baik-baik saja, sakitnya hanya sementara, kami harus segera turun kembali ke Pasar Watu. Sudah jelas, kami salah ambil jalur. Setelah dicermati lagi rutenya, untuk sampai puncak, dari Pasar Watu kami harus bertemu dulu dengan Watu Kotak. Di persimpangan Pasar Watu, hanya ada tanda panah jelas-jelas ke kiri sedangkan kami ambil ke kanan. Ah, ternyata kami dapat jackpot! Bukan Puncak Buntu yang kami temui. Perjalanan belum berakhir.

1517663_10208420575252607_2114385386123948546_n
Tanjakan Terjal dan Curam khas Gunung Sumbing

Pasar Watu – Watu Kotak

Azan Subuh terdengar sayup berkumandang mengingatkan kami untuk segera menunaikannya. Kami sudah kembali lagi ke Pasar Watu untuk melanjutkan ke Watu Kotak. Sungguh, pendakian ini terasa semakin berat. Jalur pendakian ini mirip dengan pendakian Gunung Ciremai via Linggarjati yang didominasi bebatuan, hanya saja Sumbing memiliki jalur lebih panjang dan menanjak.

Tiba di Watu Kotak, langit mulai terang. Tempat tersebut dinamakan demikian karena terdapat batu berukuran besar seperti kotak di tengahnya. Terdapat area untuk mendirikan tenda namun hanya cukup 1-2 tenda saja. Tadinya, rencana optimis rombongan kami akan mendirikan tenda di Watu Kotak. Ternyata baru jam 06.00 kami bisa sampai sana. Benar-benar pendakian yang luar biasa.

12377811_10208435534906589_6083869960844784975_o
Bersama Teman Mapala UNTAR
12523972_10208420583092803_3600257480203035691_n
Dekat Watu Kotak

 

Watu Kotak – Puncak Buntu (3,362 mdpl)– Puncak Kawah (3,371 mdpl)

Perjalanan dari Watu Kotak menuju puncak belum habis dengan medan pendakian terjal, tanpa bonus dan bebatuan curam. Etape ini semakin menjadi-jadi. Satu-satunya hal yang menguatkan hati ini adalah tersebarnya tanaman Cantigi yang saya rindukan. Betapa cantiknya! Saya selalu suka Cantigi daripada Edelweiss. Cantigi yang memiliki filosofi tersendiri bagi saya. Warnanya pun indah, menyejukkan mata. Membuat saya betah lama-lama memandangnya. Cantigi menemani saya sepanjang jalur dari Watu Kotak hingga saya mencapai papan penunjuk arah yang menyatakan Puncak Buntu ke kanan, Puncak Kawah ke kiri. Saya melanjutkan ke kiri, menuju Puncak Kawah. Teman pendaki yang saya temui selama perjalanan tak henti-hentinya saling memberi semangat bahwa sedikit lagi sampai puncak. Definisi ‘sedikit lagi’ yang berbeda bagi setiap orang, sebuah usaha memberikan semangat supaya kita harus tetap melangkah dan menyelesaikan pendakian ini.

12472460_10208420576852647_5286904771415544702_n
Cantigi Bertebaran
12919675_10208420576612641_8684922438374624918_n
‘Sedikit Lagi’ Sampai Puncak

Di Ketinggian 11,060 kaki, 3,371 mdpl

Angin kencang menyambut di bawah hangatnya sinar matahari. Cantigi semakin bertebaran. Kawah Sumbing yang luas tepat berada di depan saya. Tak ketinggalan, Gunung Sindoro terlihat jelas dan sangat dekat. Betapa rindunya saat-saat seperti ini. Duduk diam menikmati kesyahduan alam. Segala kelelahan terbayarkan. Cuaca di gunung memang tidak bisa diprediksikan. Jika lain waktu mengunjungi Sumbing, maka akan jelas juga terlihat gunung-gunung lain seperti Prau, Merapi, Merbabu, Lawu, Andong dan Ungaran. Saat saya disana, hanya sang kakak yang terlihat jelas dengan keadaan sesekali tirai alam menutup wujudnya. Suatu hal yang akan sangat saya rindukan. Sindoro seperti melambai-lambai, meminta untuk didaki. Insya Allah, sampai ketemu secepatnya, Sindoro!

535267_10208420578812696_5028435155637444355_n
Gunung Sindoro dari Puncak Kawah Gunung Sumbing

20160326_091822[1]
Kawah Gunung Sumbing
20160326_083555[1]
Cantigi di Puncak Sumbing
Jika disusun gambaran rangkaian perjalanan kurang lebih seperti tertera di bawah ini, namun semuanya tergantung dari ritme dan kecepatan mendaki setiap orang, yaitu :

Pos 1 – Pos 2                                                                        50 menit

Pos 2 – Pos 3                                                                        1 jam 10 menit

Pos 3 – Pestan                                                                    30 menit

Pestan – Pasar Watu                                                        1 jam 30 menit

Pasar Watu – Watu Kotak                                              2 jam

Watu Kotak – Puncak Buntu – Puncak Kawah        1 jam

Total perjalanan naik gunung 7 – 9 jam. Untuk turun gunung kurang lebih menghabiskan waktu 4-5 jam.

Mengutip Tantyo Bangun dari National Geographic,’ Di titik-titik ekstrem kelelahan, disitulah kita tahu batas keberadaan manusia di dunia ’. Setiap pendakian selalu mengajarkan demikian, terlebih pendakian ke Sumbing kali ini. Terima kasih Sumbing untuk pendakiannya yang berkesan 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan Kerinduan untuk Madinah Al Munawarroh

(lanjutan) 

Malam menjelang Isya di kota Nabi. Cahaya lampu berpendar semarak dari ruas jalan menemani lalu lalang penduduknya. Angin dingin yang menusuk kulit tidak menyurutkan langkah kaki ini untuk terus melangkah. Mekkah Al Mukarromah sudah lewat beratus kilometer jauhnya. Kini tibalah kami di kota jejak lahir peradaban Islam, Madinah Al Munawarroh.

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia (QS Al Anfal 74)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tiba di Yasrib pada hari Jumat, 12 Rabiul Awal tahun 13 Kenabian. Sejak hari itulah Yasrib dinamakan Madinatur Rasul yang kemudian disingkat dengan nama Madinah. Madinah adalah kota mulia karena kedatangan Nabi pembawa rahmat yang diperintahkan Allah untuk berhijrah dari Mekkah. Di kota inilah, Rasulullah membangun peradaban, menata moral, mereformasi sosial, menggerakkan ekonomi umat yang sehat dan berkeadilan demi meningkatkan kemakmuran dan memberantas kemiskinan. Rasulullah juga menumbuhkan semangat mencari ilmu dan meningkatkan keterampilan hidup segencar meningkatkan iman dan ibadah sehingga membentuk peradaban unggul. Betapa mulianya akhlak sang Nabi kekasih Allah, suri tauladan yang baik bagi seluruh umat sepanjang masa. Allah subhanallahu wa ta’ala telah mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam agar beliau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Risalah Islam yang dibawa Rasulullah diteruskan kepada generasi terbaik umat ini berupa Al Quran dan As Sunnah. Mentaati Allah yaitu dengan mentaati Al Quran dan mentaati Rasul-Nya yaitu dengan mentaati As Sunnah

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman” (QS Al Anfal 1)

20160204_100731
Bangunan Hotel dan Pusat Perbelanjaan tersebar di sekitar Masjid Nabawi
20160204_095736
Sisi Lain Kota Madinah

Sesampainya kami di Hotel Jawharot Asyima. kami bersiap pergi ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat Jama’ Takhir Isya dan Maghrib yang setelahnya akan dilanjutkan menuju Raudhah. Masjid Nabawi memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh masjid lain selain Masjidil Haram yaitu bahwa Rasulullah membeli tanah masjid dengan hartanya sendiri dan dengan tangannya yang mulia,beliau ikut serta dalam pembangunannya. Selain itu, masjid ini termasuk ke dalam firman Allah dalam QS At Taubah 108, ‘Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama lebih patut kamu shalat di dalamnya’. Shalat di Masjid Nabawi lebih baik seribu kali lipat dari shalat di tempat lain kecuali di Masjidil Haram (Muttafaqun alaihi). Seorang muslim juga tidak diperbolehkan melakukan perjalanan ke suatu tempat dalam rangka beribadah kecuali ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

20160203_171958
Tampak Depan Masjid Nabawi. Kubah Hijau adalah Makam Rasulullah shallallahu alaihi wassalam Beserta Para Sahabat
20160203_163316
Lalu Lalang Jamaah Setelah Shalat

Kesan saya terhadap Masjid Nabawi ialah masjid ini begitu cantik, mengagumkan dan modern. Kekhasan yang tidak pernah lepas ialah payung dan kubah nya yang bisa buka tutup secara otomatis.  Betapa indahnya!

Selanjutnya para jamaah diarahkan untuk menuju Raudhah. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda ‘ Antara rumahku dan mimbarku terdapat Raudhah (taman) dari taman-taman surga. Dan mimbarku, diatas telagaku’ (Muttafaqun alaihi) Pendapat mengenai hadis tersebut yaitu bahwa tempat itu kelak akan dipindahkan ke surga dan ibadah di dalamnya akan mengantarkan ke surga. Raudhah menyerupai taman-taman surga karena para malaikat, kaum mukminin dari kalangan manusia dan jin yang duduk di sana banyak melakukan dzikir dan ibadah lainnya (Ta’wil Mukhtaliful Hadis, Ibnu Qutaibah ; at-Tamhid, Ibnu Abdil Barr ; Syarh Shahih Muslim, Nawawi; Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim ; Fathul Bari). Raudhah bagian khusus akhwat hanya dibuka empat kali sehari yaitu setelah shubuh, setelah dzuhur, setelah ashar dan setelah isya sedangkan khusus ikhwan dibuka setiap saat. Tidak mengherankan bahwa untuk masuk dan beribadah di Raudhah harus antre dan bergantian dengan yang lainnya.

20160201_224952
Antrean Jamaah Akhwat untuk Memasuki Raudah
20160203_210552
Menuju Raudhah
20160203_210607
Langit-langit Raudhah
1454587681474
Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu

Akhirnya tiba giliran kami untuk memasuki Raudhah. Alhamdulillah, walaupun kondisi penuh namun Ibu dan saya masih tetap bisa menunaikan shalat sunnah dua rakaat dan bermunajat pada-Nya. Selama di Raudhah, segalanya terasa begitu indah dan damai. Senyum merekah, fisik terasa kuat, rasa kantuk hilang, hati terasa tenang dan gembira. Terlintas di pikiran sambil menggumam, Ya Allah, begitu indahnya semua yang saya rasakan dan lihat ini, benarkah ini masih di dunia ? bagaimana nanti di surga-Mu ? Masya Allah, Allahu akbar. Akal manusia tidak sanggup menandingi ilmu-Nya. Seperti tertulis di QS Fatir 35 ‘ Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya, di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.’ Diriwayatkan Al Baihaqi, Rasulullah bersabda ‘ Di surga tidak ada kepenatan. Semua urusan menyenangkan ‘  Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.

Di sisi kiri Raudhah, terdapat makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, makam Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan makam Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Disyariatkan bagi yang mengunjungi Madinah untuk menziarahi makam Nabi dan kedua sahabatnya sambil mengucapkan salam kepadanya. Assalamualaikaa Yaa Rasulullah, Assalamualaikaa Yaa Abu Bakar, Assalamualaikaa Yaa Umar bin Khattab.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan padanya (QS Al Ahzab 56)

Hari Rabu, 3 Februari 2016 adalah jadwal city tour. Tujuan pertama adalah Masjid Quba, masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah saat berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Dari Sahl bin Hunaif, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda “ Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka baginya pahala umroh” (HR. an-Nasai no.699, Ibnu Majah no.1412, Ahmad 3487, Hakim 312). Setelah menunaikan shalat sunnah dua rakaat di Masjid Quba, kami bertolak ke Jabal Uhud, tempat terjadinya Perang Uhud antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy. Di hadapan Jabal Uhud, terdapat makam para syuhada yang gugur diantaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, Mush’ab bin Umair, Abdullah bin Amr bin Haram, Amrbin Al-Jumuh, Sa’ad bin Ar-Rabi’, Kharijah bin Zaid, An-Nu’man bin Malik, Abduh bin Al Hashas dan yang lainnya. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Aamiin Allahumma Aamiin.

Saat berziarah, disunnahkan untuk mengucapkan salam dan berdoa. Seorang muslim wajib mengikuti sunnah dan tidak melanggarnya dengan melakukan bid’ah yang dapat mencelakakannya karena telah keluar dari sunnah Rasulullah.

20160203_092333
Masjid Quba
20160203_105458
Makam Para Syuhada di Jabal Uhud. Tidak diketahui secara pasti kuburan para syuhada kecuali kuburan Hamzah, paman Rasul dan anak saudara perempuannya, Abdullah bin Jahsy

Setelah dari Jabal Uhud, kami sempat mampir ke Bukit Kurma jika mungkin diantara jamaah mau membeli kurma untuk buah tangan keluarga di Indonesia. Di tengah perjalanan kembali ke hotel, kami melintas di depan Masjid Qiblatain, masjid dengan dua arah kiblat. Pada permulaan Islam, kaum muslimin melakukan shalat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) di Palestina. Pada tahun 2 Hijriah hari Senin bulan Rajab, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sedang shalat dzuhur dengan menghadap ke arah Baitul Maqdis, turun wahyu Allah dalam QS Al Baqoroh 144  ‘Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah tidak sekali-kali lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Sesampainya di hotel, kami pun segera bersiap kembali untuk shalat di Masjid Nabawi dan kembali menuju Raudhah pada malamnya. Ibu saya juga mengajak untuk menjelajah Masjid Nabawi secara keseluruhan dari pintu 1 sampai pintu 39.  Kami juga melintas Ba’qi yang merupakan pekuburan penduduk Madinah. Disanalah para sahabat, istri-istri Rasulullah, para tabi’in , para ulama dan para sahabat Nabi dimakamkan.

20160203_165145
Gerbang Pemakaman Ba’qi
20160203_205438
Terbukanya Kubah Masjid Nabawi
20160203_210547
Tertutupnya Payung Masjid Nabawi

Hari Kamis, 4 Februari 2016, hari terakhir di Madinah. Itu artinya sebentar lagi kami akan kembali ke Indonesia, pulang ke rumah bertemu dengan keluarga dan kembali menjalani rutinitas seperti sediakala. Rasanya memori akan Mekkah dan Madinah masih terus terngiang-ngiang dan seakan tak mau hilang.

Selepas shalat dhuha, Ibu saya mengajak kembali ke Raudhah untuk terakhir kalinya. Setelah dari Raudhah, kami mengeksplorasi perbelanjaan yang mengelilingi Mesjid Nabawi. Tidak lama kemudian, kami harus segera kembali ke hotel untuk bersiap check out, berangkat menuju Jeddah.

Layaknya kota besar yang sibuk, Jeddah begitu gemerlap dan modern. Kami sampai di malam hari selepas isya sehingga kami hanya melintas Masjid Terapung dan Laut Merah serta sempat mampir di Al Balad yang dikenal sebagai pusat belanja di Jeddah.

Perjalanan sembilan hari mengunjungi dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah akhirnya tiba di penghujungnya. Perjalanan yang tidak hanya melibatkan fisik dan harta, melainkan juga hati. Saya mencoba menyimpulkan dengan versi saya yang fakir ilmu ini terhadap ‘benang merah’ dari dua kota suci tersebut. Bahwa di Mekkah seperti saat kita menjalankan Hablum Minallah (hubungan dengan Sang Pencipta) dimana tauhid seorang muslim diuji dan diperlihatkan keesaan Allah subhanallahu wa ta’ala, meneladani kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beserta keluarganya yang lembut, sabar dan ikhlas menerima dan menjalankan segala perintah-Nya, sedangkan di Madinah seperti saat kita menjalankan Hablum Minnanaas (hubungan dengan sesama manusia) dimana terdapat suri tauladan yang baik sepanjang masa yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang menerjemahkan keindahan Islam dalam hubungan sesama manusia, mendidik pribadi berbudi pekerti tinggi, menata sendi masyarakat beradab dan berbudaya karena sejatinya manusia diturunkan ke dunia ini untuk berjihad di jalan-Nya, mengikuti petunjuk Al Quran dan As Sunnah agar selamat di dunia dan akhirat

Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. Ikutilah agama nenek moyangmu (Ibrahim). Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan begitu pula dalam Al Quran ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu, Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong (QS Al Hajj 78)

‘Ya Allah, panggil kami menjadi tamu-Mu untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh, untuk menziarahi kota suci-Mu, Mekkah dan Madinah..’

Subhanallah walhamdulillah walaailahaillallah wallahuakbar

(selesai)